12-12-2012

12-12-2012

12 12 2012

Tanggal ini istimewa. Istimewa karena keunikannya. Unik karena moment ini akan sangat lama lagi kita jumpai. Aku mafhum atas tanggapan orang yang bising akan tanggal ini.

Dari pagi, kubuka fesbuk. Hampir semua akun di jejaring sosial itu menggaungkan 12122012. Fenomena, mereka bilang. Tak hanya angkanya yang cantik, orang-orang juga mengaitkannya dengan sebuah suku yang mendadak tenar. Ya, suku maya. Kebetulan kalender mereka yang super canggih itu akan berakhir pada 21 Desember mendatang, banyak spekulasi datang. Dan, yang santer dibicarakan yaitu k i a m a t. Entahlah, mungkin karena 12122012 itu jatuh pada Jumat, orang-orang menduga kalau hari itulah kiamat.

Kiamat. Melafalkan katanya ada getar tersendiri. Bagaimana tidak, kitab suci Alqur’an menerangkan peristiwa akhir zaman itu dengan singkat, namun amat sangat mengerikan. Semua planet beradu, gunung-gunung meletus, air meluap, orang-orang seumpama kertas yang terbakar dan diapung-apungkan, bangunan reyot sampai megah roboh, tempat hiburan menjeri-jerit, hati-hati manusia kalut, semuanya. Semua serba mengerikan. Aku tak punya kata-kata tepat untuk melukiskannya. Bergidik.

Lalu orang-orang menggaungkan kiamat. Sebagian malah melakukan persiapan ekslusif jelang hari itu. Di berita-berita, kulihat mereka membangun bola-bola anti bencana, apartemen super kuat, rumah bawah tanah lengkap dengan cadangan makanannya, dst, dst, dst. Kurasa, mereka memang unggul secara pengetahuan namun minim secara iman. Ketakutan dan ketidakberdayaan mereka menegaskan keyakinan, bahwa ada kekuatan maha besar lain yang mengendalikan hidup-kehidupan. Dan, kita tak bisa menghindar. Tak ada tangkisan terbaik untuk segala takdir, kecuali beramal baik dan menyerahkan hidup-mati kepada-Nya.

Adapula yang ‘memanfaatkan’ momen langka ini sebagai hari lahir atau perkawinan. Banyak pasangan berbondong-bondong mengajukan momen sacral sekaligus bahagia tersebut. Tak ayal, media melaporkan banyak operasi Caesar yang dilakukan hari itu. Hm, kalau belum waktunya lahir namun telah ‘dipaksa’ keluar, tentu sangat disayangkan. Kasian saja, bayi yang siapa tahu masih betah, malah didorong untuk segera keluar, memekarkan senyum orang tuanya. Mereka bangga, anaknya lahir dalam waktu yang langka.

Berbeda dengan nuansa bahagia tersebut, di lingkungan rumahku malah ada yang meninggal. Seorang perempuan muda menghembuskan napas terakhirnya. Tepat ketika ia ‘pulang’, dunia mengucurkan gerimis. Orang-orang berdatangan ke rumahnya, mencoba mengalirkan simpati. Beberapa waktu kemudian, ketika hendak disemayamkan, dunia menumpahkan cahaya.

Setiap hari, tak hanya hari yang dianggap istimewa, memang dipenuhi kabar suka dan duka. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *