30 Langkah Jadi Seorang Penulis untuk Pemula (Bagian 1)

30 Langkah Jadi Seorang Penulis untuk Pemula (Bagian 1, Langkah 1-10)

langkah jadi penulis untuk pemula 1

“Satu-satunya cara untuk jadi penulis adalah menulis.”

Begitulah kata seorang penulis senior. Tipsnya simpel, cuma menulis. Namun dibalik satu kata itu, tersimpan ke-kompleks-an sendiri. Nyatanya, menulis tak sesederhana menggoreskan tinta dan menyelesaikannya. Meski demikian, kegiatan menulis tetap menjadi magnet. Banyak orang yang menyukai dan mengklaimnya sebagai hobi, minat atau bahkan profesi.

Ayo penulis pemula, tunjuk tangan! (Udah tunjuk tangan duluan). He he he

Sebagai penulis pemula, daku pun mengalami suka dan senangnya menulis. Lho, duka-nya mana? Duka dalam menulis, menurut daku, terjadi jika kita menulis dalam keadaan tidak ikhlas. Namun jika kegiatan menulis itu berangkat dari dasar hati, insya Allah segala rintangannya bisa menjelma jadi keni’matan. Heuheu

Nah bagi pemula seperti daku, mari terus belajar menapaki dunia kepenulisan dengan langkah-langkah berikut. Jom!

 

Satu, Tulis Saja

Penyakit penulis pemula, kadang-kadang bingung banget pas mau mengawali tulisan. Duh pertamanya apa, ya? Kata-kata yang bagus gimana, ya? Dst. Menurut guru-guruku di manapun mereka berada, tugas kita hanya menulis saja (dulu) sampai selesai. Soal Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), kesalahan ketik, koherensi, dst, bisa dievaluasi belakangan. Asal, kita sudah punya bahan apa yang hendak dituliskan. Apakah mau fiksi, non fiksi atau coretan-coretan biasa macam diary.

Dua, Kuasai Teknologi

Awal-awal daku ikut kegiatan menulis di dunia maya, sempat bingung dengan apa itu meng-attachment file di email, margin, jumlah kata, dokumen docx atau rtf, dst. Malangnya, hampir semua perlombaan menulis telah menetapkan ketentuan teknis tersendiri. Makanya waktu itu daku merasa wajib untuk terus belajar, sebab biasanya panitia lomba menulis akan menyeleksi ketentuan teknisnya terlebih dahulu.

Namun tak perlu galau-balau juga, banyak yang bisa kita tanyai, kok. Om Google, orang-orang sekitar, rekan-rekan sesama penulis amatir, penulis yang lebih senior atau panitia lombanya. Jika tidak sibuk, panitia lomba menulis yang baik akan selalu meluangkan waktu untuk menjelaskannya.

Tiga, Jangan Terpaku pada Genre yang Kita Inginkan

“Kamu genre-nya apa, Dian?” seorang sahabat dumay pernah bertanya demikian.

Aku cukup kelabakan, sebab selama ini tulisanku tidak ‘dipaku’ pada satu genre. Apakah aku akan seperti Ayu Utama? Dee Lestari? Asma Nadia? Atau, siapa? Sebab aku pernah nulis komedi, horror (walau gagal), romance, artikel, dst. Padahal aku pribadi tertarik pada tulisan detektif dan metro pop gitu. #lha! -_-‘

Akhirnya, daripada bingung, aku pun tak membatasi tangan untuk menuliskan berbagai genre tulisan. Ada event menulis FTS atau fiksi mini, aku ikut. Ada event menulis cerita komedi, aku ikut juga. Insya Allah lama-lama genre yang cocok bagi kita akan mengerucut sendiri. Ibaratnya, seorang penulis pemula perlu proses mencari jati diri juga.

Empat, Jadi Pelajar Abadi

“Longlife Education” nyatanya tak jadi moto pendidikan Jepang aja. Kita pun bisa menerapkannya. Seperti penulis pemula, ada saja hal-hal baru yang perlu dipelajari, dikaji, dibedah, ditelaah, etdah! Tentunya belajar menulis, membaca banyak hal, update teknologi, tanda baca, EYD, penerbitan, publikasi, dst. Namun, kegiatan belajar tersebut tak akan berubah jadi beban selama kita senang-senang aja menanggapinya.

Lima, Ikuti Pelatihan, Bedah Buku atau Acara-acara Kepenulisan

Naas bagi daku yang bermukim di kota kecil, acara-acara kepenulisan masih sangat jarang. Dulu saja pernah menjadi panitia Bedah Buku Ayat-Ayat Cinta. Subhanallaah… ketemu sama penulisnya, Kang Abik, pleus dapat ilmu dan tanda tangan pula! Selain memang menambah pundi-pundi ilmu, kegiatan-kegiatan macam itu bisa juga mendongkrak semangat. Kalau saja menemui banyak kesempatan, aduhai senangnya!

Enam, Join dengan Komunitas atau Grup Kepenulisan

Karena minimnya kegiatan kepenulisan di dunia nyata, daku pun “merantau” ke dunia maya. Di sanalah daku bisa berjumpa dengan orang-orang “senasib” sekaligus “rumah-rumah” yang menampung minat daku itu. Di fesbuk misalnya, fasilitas grup sangat membantu hobi kami. Ada bejibun grup yang sudah sangat berjasa bagi daku, salah satunya adalah Grup Untuk Sahabat (UNSA).

Banyak yang membuat daku tertarik untuk jadi anggota aktif grup UNSA. Grup yang dipelopori oleh Dang Aji Sidik atau Uncle DAS (demikian kami memanggil beliau) rutin mengadakan event menulis, temanya unik-unik, tak ada pungutan apapun, tak memiliki track record buruk, ramah, tak pandang senioritas, nyaman untuk dijadikan media sharing dan belajar dst. Poko’e joget, poko’e joget, eh, poko’e thank you very much!

Tujuh, Jalin Hubungan dengan Penulis atau Editor

Selain menjajaki grup-grup kepenulisan, daku pribadi banyak meng-add penulis-penulis ternama. Dikonfirmasi syukur, tidak juga tak apa-apa sebab daku masih bisa “mengikuti” mereka. Karena status-statusnya keren, daku ikhlas kasih me-like. Namun lama-lama ingin lebih dari sekadar nge-like. Tentu saja awalnya ragu-ragu untuk memberi komentar apalagi se-privat mengirim pesan.

Daku pernah mengalami dua respon utama; diabaikan dan dilayani. Penulis senior juga manusia, ada yang kurang memiliki waktu untuk melayani penulis pemula seperti daku, ada juga yang amat rendah hati, ramah dan meluangkan waktu untuk berinteraksi. Daku tak bisa melupakan bisa berkomunikasi dengan Mbak Rahmadiyanti “Dee” Rusydi (elit FLP pusat, siapa sih yang tak kenal beliau?), bahkan beliau mengirim novel juga. Dan, tak menyangka juga seorang Sitok Srengenge (terlepas dari kasus yang sempat membelitnya) bela-belain membalas inbox daku.

Dari mereka daku belajar, tak hanya soal teknis menulis, melainkan bagaimana itu attitude seorang penulis. Mereka itu senior dan tenar, namun tak mengenakan dua jubah itu ketika menghadapi penulis amatir yang ingin belajar kayak daku. Terharu, pokoknya!

Delapan, Ikuti Perlombaan Menulis

Pertama sekali mengikuti lomba menulis puisi dan dapet nominasi, itu amat sangat membahagiakan. Seperti ada api yang menyulut semangat daku. Terus menyala, berkobar, duar! duar! #eh, main api apa pistol, sih? He he he

Padahal apresiasinya sebatas e-piagam, yang secara materi tidaklah seberapa, namun ada  sensasi dan prestise tersendiri kala kita menyabet juara. Bahkan karena indie, para pemenang malah dianjurkan membeli bukunya. Awalnya terdengar aneh, namun lama-lama mafhum juga. Dakung, dulu belum memiliki rezeki lebih sehingga hanya puas bersenang-senang karena namaku ada di dalam buku itu. Heu… Namun dari sanalah, rasa penasaran dan mental kompetitif lebih terasa lagi. Ingin terus mengikuti lomba, tidak saja mengejra hadiahnya, melainkan juga mengukur kemampuan diri. Gak perlu juara pertama, yang terpenting kita produktif. Sepakat ‘kan, Bro-Sist?

Sembilan, Go Publik

Jika dulu tulisan seorang penulis bisa dinikmati via media massa saja, sekarang banyak media yang bisa digunakan untuk menyebarluaskan tulisan-tulisan tersebut. Fesbuk, twitter, blog, dst. Daku yang awalnya amat tidak pede membuat “note” dan meng-share-nya ke publik, lama-lama mesti melakukannya juga. Bagaimanapun, tulisan kita tak bisa melulu dinikmati sendiri. Perlu orang lain juga untuk membaca dan mengevaluasinya. Minimal lewat media sosial atau blog pribadi, syukur-syukur bisa tembus media massa dan penerbit.

Sepuluh, Pandai Bersyukur

Menjadi penulis atau orang yang tertarik terhadap kepenulisan adalah anugerah tak terhingga, khususnya buat daku. Betapa hobi ini amat sangat menguntungkan tanpa pamrih. Kasarnya, tak sekolah khusus menulis atau membayar seminar dan workshop kepenulisan mahal-mahal pun, manfaat menulis bisa kita manfaatkan. Bahkan saat tak ada keuntungan secara finansial yang kita raup dari manulis, namun kita akan sangat berat menanggalkannya begitu saja dari kehidupan. So, segala puji bagi Allahs Swt. atas ni’mat ini. [#RD] ~Bersambung ke bagian 2 (11-20) ~

Referensi ide:
– jaringanpenulisindonesia.blogspot.com (Endik Koeswoyo)
– penulishebat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *