Mini Novel; Hantu Goreng (Bagian 4/5)

Mini Novel; Hantu Goreng (Bagian 4/5)

mini novel hantu goreng 4

 

“Rencananya mau gimana?” tanya Pak Haji.

“Cari tempat, pinjem modal – walau Mimih melarang utang – terus belanja, …”

“Begini saja,” Pak Haji menyembulkan solusi, “Ambil barang dari sini,…”

“Belum berani, Pak,” kataku, “Terlalu riskan buat pemula kayak saya, lagipula,”

Pak Haji terkekeh, “Saya belum selesai ngomong, Sil,” katanya bikin aku malu, “Niru para pegawai negeri masa kini aja. Mereka bisa mencairkan gaji duluan demi mobil atau rumah. Kenapa enggak, kamu juga cairkan gajimu dari sini. Bedanya, gajimu itu berupa barang untuk dijual? Gimana?” tohoknya, padahal aku hendak melanjutkan ‘lagipula saya rasanya gak mau bergerak di tekstil, melainkan makanan’.

“Tapi…” Aku yakin, aku masih ragu-ragu.

“Baiklah,” Pak Haji berlagak seperti bisa membaca pikiranku,

“Detailnya begini. Kamu angkut barang-barang yang bisa kamu jual. Soal harga dan pembayarannya, ya saya tinggal potong gajimu tiap bulan,” tuturnya dan tetiba kepalaku merasa gatal.

Aku mengangguk dan tersenyum, pasrah hendak diarahkan pada jalur bisnis sepertinya. Beliau lalu menginterogasiku, di mana aku akan buka usaha, kapan waktuya dan bagaimana permulaannya.

Aku langsung teringat Pasar Darma – yang selalu kulintasi kala berkunjung ke Objek Wisata Darmaloka. Setahuku, di sana hanya ada toko tekstil tunggal. Itupun pasti kecil-kecilan dan tidak lengkap. Aku yakin, peluang tekstil amat besar di sana.

“Kalau begitu, jangan dulu sewa kios di sana,” saran Pak Haji, “Buka lapak tiap hari pasar dulu. Pelajari respon masyarakatnya. Kalau mereka membeli bahkan datang kembali, itu bagus. Mereka berarti suka sama barang, kualitas, pelayanan sama harga yang kamu tawarkan. Dan, Pasar Darma bakal cocok jadi tempat bisnis kamu, Sil.”

“Aamiin,” Aku mengucapkannya sambil mengusap wajah, “Terima kasih, Pak.”

Alhamdulillah atas nikmat semangat ini, Tuhan.

***

Aku tak mau momen bergairah ini lenyap begitu saja. Segera, aku dan Ben berkunjung, mempelajari Pasar Darma. Hari pasarannya itu Selasa-Jumat. Suasanya cukup ramai. Banyak pedagang dadakan, baik itu yang mobile maupun stay. Termasuk nanti aku!

Pengamatan tempat sudah kami telusuri, aku menghadapi beberapa opsi. Namun atas saran Ben, aku memilih menyewa sebidang tempat di depan kios perkakas yang kurang terurus. Perwakilan dari pemilik asli kiosnya menghargai Rp. 10.000 untuk sekali pasaran. Harganya cocok!

Menurut Ben, harga segitu cukup murah. Mungkin karena memang pasarnya tidak besar. Lagipula di pilihan tempat lain, lokasinya kurang menarik. Yang satu berdekatan dengan pedagang ikan air tawar, dan yang satunya lagi bakal tetanggaan dengan toko tekstil tunggal di sana. Pasti memicu konflik, sekecil apapun itu.

“Jadi, tiap Sabtu subuh kita akan belanja ke TG?” tanya Ben ketika kami dalam perjalanan pulang, terperangkap berdua dalam mobil Panther-nya, “Buat kamu, siap!”

“Gak harus rutin, Ben,” Aku merasa gak enak, “Kamu ‘kan punya urusan juga, bisa cemburu tuh burger!”

“He he he ya sudah,” Ben nampak berusaha memahamiku, “Tapi kalo kamu butuh teman, donatur, bahkan pacar sekalipun,” Ben memastikan kesiap-sediaan dirinya, “Call me, Sil!”

Aku jadi bingung. Ben sudah sebaik dan setotal ini padaku, tapi belum ada juga pucuk-pucuk cinta yang berbunga. Rasa sayangku padanya tak ubahnya seperti rasa sayangku pada Koko dan A Akmal. Tak lebih, tak seperti pada A Fatih atau Sahbudin dulu. Eh, Sahbudin. Gimana kabarmu?

***

Aku bukan tak butuh Ben, melainkan tak ingin terus-terusan merepotkannya. Aku juga tak ingin terlalu banyak berhutang budi dan harta padanya. Lama-lama ada rasa takut tersendiri, kalau-kalau Ben menyuburkan harapannya padaku, sementara aku tak kuasa menjanjikan apa-apa.

Alhasil, pada hari perdana aku memutuskan berjualan sendiri di Pasar Darma. Kuputuskan untuk dagang seminggu sekali dulu, yakni pada Jumat saja sebagai hari libur di Toko BT. Di pasar itu kubayar retribusi pasar, dana keamanan, dana kebersihan dan para peminta-minta yang rutin hadir. Tak lupa, aku juga memperkenalkan diri dan bercakap-cakap dengan para tetangga. Ada yang penjual tahu-tempe, baju-baju jadi, sandal, dan penjual molen yang selalu dikerubuti pelanggan.

“Kunci dari bisnis makanan cuma meyakinkan pembeli kalau produk kita itu halal dan baik,” Pedagang molen membocorkan tipsnya, “Jangan ragu-ragu untuk tunjukkan proses dari ‘belakang layar’ sampai penyajian,” lanjutnya lagi, pantesan gerobak molennya bernama ‘Molen Live’. Memang dari membuat adonan, memotong pisang, menggulung sampai menggorengnya itu terlihat secara ‘live’ oleh konsumen.

Banyak orang lalu-lalang, namun aku merasa tak perlu menyeru ‘kain!’, ‘kain!’. Mereka ada yang cuek, lirik-lirik, bisik-bisik, menghampiri, lihat-lihat, tanya-tanya dan sebagian ada yang membeli. Alhamdulillaah!

“Di sini banyak penjahit, Yu, bahkan pemilik toko tekstil di sini juga seorang penjahit,” seseorang memberi info dan memanggilku ‘Yu’ atau ‘Ayu’, dikiranya aku ini orang Jawa, “Bedain harga jual ke penjahit sama ke kalangan umum. Kalau harganya damai, dijamin semua penjahit bakal jadi pelanggan setiamu, Yu.”

Bekal info itu sangat berarti bagiku. Tapi ngomong-ngomong, gimana cara membedakan tukang jahit sama bukan?

Aku menerapkan trik pribadi saja. Para penjahit biasanya mengalungkan meteran kain, paham ukuran kain lebar atau engkel, memiliki pengetahuan dasar harga kain, mengerti bahan kain dan sebagian ada yang kakinya bergetar, mungkin karena keseringan menggunakan mesin jahit.

Keberuntungan ada dalam genggaman. Sebab, proses awal berdagang berjalan dengan sangat lancar. Padahal banyak orang tergelincir dalam keputusasaan saat langkah awalnya dijegal dengan ujian.

***

Aku sudah memanfaatkan laba dagang untuk sekolah Koko dan A Akmal. Jika keperluan Koko bisa ku-handle dengan mudah, maka tuntutan A Akmal lebih menantang. Terlebih dia sudah masuk semester akhir. Ada uang untuk dosen pembimbing, buku-buku referensi, warnet, kertas, print-an, sidang skripsi dan terakhir, wisuda. Tapi tak apa. Aku setuju pendapat Mimih, aset berupa ilmu yang bermanfaat tak bisa ditukar dengan apapun di dunia ini.

“Aa masih jadian sama cewek peminta tas itu?” tanyaku pada A Akmal, ketika beliau melaporkan surat tagihan kampus terakhir. Memang, semenjak insiden penipuan yang A Akmal lakukan, aku semakin memperketat permintaan bayaran.

“Kalau masih jadian sama dia, Aa gak akan bisa fokus ngerjain skripsi, sidang sampe lulus sekarang, Sil,” jawabnya, “Aa minta maaf soal yang dulu-dulu.”

“Kenapa emang, A?” Aku simpatik, kepo, sekaligus ingin mempertahankan sikap terbukanya. Beliau dan aku memang dekat, tapi jarang membicarakan privacy.

“Dia ternyata masih sangat cinta sama mantannya yang kaya-raya,” tutur A Akmal sendu, “Aa sih bisa nerima dia, sematre dan secerewet apapun. Tapi kalau sudah mendua? Aa gak bisa tolerir. Tuhan saja gak sudi diduakan, apalagi manusia, ‘kan?” sambungnya, dramatis.

“Ya udah sih, A,” Aku sok menasehati, “Jangan larut dalam kesedihan. Move on dan buktikan kalau hidup masih baik-baik aja tanpa dia.”

Mungkin ini rezeki kami sekeluarga. Kami semakin harmonis dan usaha dagangku sedang dalam trend positif. Indikasinya; pelangganku membludak, barang daganganku selalu terjual banyak, banyak pesanan, omzet membengkak dan aku berkeinginan untuk buka Selasa-Jumat, bahkan kalau tak ada ikatan utang dengan Pak Haji, aku ingin berdagang saja ketimbang jadi karyawan.

A Akmal mengacungkan jempol lalu mengusap kepalaku. Aku jadi ingat A Fatih. Entah sekarang dia di mana, sama siapa dan sedang berbuat apa. Aku pegal juga terus-terusan menumpukkan harapan padanya, lebih melelahkan dibanding jadi karyawan dan berdagang.

“Aa lagi ngincer dua hal; pekerjaan sama seseorang,” suara A Akmal larut dalam pusaran lamunanku. Aku hanya tersenyum dan tak berkomentar apapun.

***

Si Mas becak tak membiarkanku menjinjing barang. Ada dua plastik besar berisi kain batik, drill seragam sekolah, dan ospor putih-pramuka. Belanjaanku terbilang berkurang. Akhir-akhir ini memang banyak yang melabrakku. Ada yang komplain serat kainnya kayak strech mark, bolong dan warnanya pudar. Setelah dipikir-pikir aku sadar, membeli kain kiloan ibarat membeli kebo dalam karung!

Dengan sigap Si Mas becak membopong plastik dan menemaniku menunggu kendaraan kopayu, sejenis bus yang mengantarkanku ke Terminal Cirebon. Aku memang sudah menjadi pelanggannya. Jasanya begitu memuaskan, jadi aku tak segan membayarnya lebih. Bahkan kami sering menyenandungkan back song sebuah reality show kemanusiaan bersama-sama:

Lihatlah dan bukalah mata hatimu

Melihatnya lemah, terluka…

mini novel hantu goreng 4 1
Sesampainya di terminal, seorang kernet bus menghampiri. Hampir tiap Sabtu kami bertemu. Tak ayal, kami tak melakukan negosiasi lagi. Aku tinggal memberi uang Rp 12.000 dan beliau hapal betul, Pasar Darma adalah tujuanku.

Kini aku sudah terbiasa menolak Ben dan pergi belanja sendiri. Rutenya simpel. Pagi-pagi setelah sholat subuh, aku langsung meluncur ke Terminal Cirendang. Dari sana aku naik bus Kuningan-Jakarta; Luragung Jaya, Batara, Setia Negara, dkk. Bus yang melintasi jalan tol itu membawaku selama ± 1,5 jam menuju Pasar Tegal Gubug.

Belanjanya pun tak lagi memakan waktu lama. Sebab aku tak lagi mondar-mandir mencari penjual yang pas di hati, atau negosiasi sana-sini. Aku sudah memiliki pedagang langganan. Hanya saja waktu pulangnya yang agak menguras. Betapa tidak, bus kopayu tak lewat jalan tol!

Sampai di Pasar Darma. Seorang kuli panggul mengangkut barang-barangku ke dalam kios perkakas. Aku memang memilih menyewa spasi tempat ketimbang membawa pulang barang-barangnya. Selepas itu, aku segera menyetop angkot enol satu. Kebetulan masih jam duabelas, masih ada waktu untukku otewe ke Toko Barokah Textile, mandi, makan, sholat, meluruskan kaki dan mengatur napas.

“Makin rame aja ya, Neng?” tanya Mang Sopir begitu aku masuk.

Aku sedikit terhenyak, namun begitu melihat wajah Si Mang dan mengenalinya sebagai angkot langganan, aku tersenyum, “Iya alhamdulillaah, Mang.”

“Kenalin puteri Mang, Neng,” Si Mang melirik seseorang lewat kaca mobilnya. Tak ada orang lain kecuali seorang perempuan berjilbab pink legam.

“Rilanti,” Dia menjulurkan tangan, “Panggil aja Enti. Aku teh pedagang tekstil di Pasar Darma juga, tapi gak selaris kamu,” lanjutnya, menurutku tendensius.

“Silma,” kusambut tangannya, “Atau Sil, jangan Mak,” sambungku, lalu baru sadar kalau memang sosok di hadapanku merupakan salah satu pelanggan Toko Barokah Textile.

“Kerja di Toko BT, ‘kan?” tanyanya, mungkin baru ngeh aku ini siapa,”Jualan juga? Hebat euy! Bahkan bisa sampai mengalahkan pribumi di pasarnya sendiri!”

Dadaku dag-dig-dug. Keadaan tidak seimbang. Aku gadis imut yang dihimpit bapak-anak. Maka, yang kubisa hanya mesem-mesem.

“Jualan boleh aja ya, Neng,” Si Mang nimbrung, “Dimana aja, kapan aja,…”

“Ya, asal gak ngerusak harga pasaran,” serobot Rilanti, “Neng tahu sendiri, BT menjual ospor putih Rp 14.000 ke pedagang dan Rp 17.500 ke umum. Kok tega-teganya sih jual Rp 15.000 di Pasar Darma? Apa emang sengaja pengin tekor asal kesohor?”

Sesuatu menyulut darahku sampai terasa mendidih. Tapi yang kubisa hanya melonggarkan botol minuman pengganti ion tubuh, dan menenggaknya sampai tak tersisa. Tak hanya hati, perut pun terasa sangat tak nyaman.

“Mmm, emang gak capek, Neng?” tanya Si Mang, yang kemudian cukup bisa meredakan goncangan hatiku. Aku jadi urung mendebat Rilanti.

“Kalau nurutin rasa capek, udah dari dulu aku berhenti, Mang,” jawabku sambil mengeratkan kembali tutup botol minumannya, dan keadaan perutku masih begitu janggal, “Ini semua demi kebutuhan, Mang, bukan popularitas atau jadi kesohor. Maklum, ayah udah enggak ada. Mana punya dua saudara yang sekolah lagi?!” lanjutku lalu kuremas botol itu, seolah-olah tengah kujambak rambut Rilanti. Dan, kuniatkan akan membuangnya ke tempat sampah, “Sedangkan, Mimih cuma pedagang cakwe kecil-kecilan. Untungnya paling cukup buat makan,” jelasku dengan bibir mulai gemetar. Kugigit bibir, kutahan tangis agar tak jadi mengalir.

“Kalian memang anak gadis yang super,” puji Si Mang yang tertuju padaku dan anaknya sekaligus, “Teh Enti juga pagi jualan, kalau Senin sampai Jumat siang, kerja di lembaga kursus. Hummm, kalian teh emang senasib.”

“Senasib kumaha, Mang?” protesku dalam hati.

“Teh Enti punya Bapak, aku enggak. Teh Enti kuliah, aku enggak,” kataku.

Jawabanku diladeni angin. Baik Mang Sopir maupun Rilanti bungkam. Entah mereka kasian atau justeru bersikap ‘bodo amat’.

***

Tepat di depan toko BT, angkot menepi. Aku dan Rilanti sama-sama turun. Bedanya, aku memberi uang sebesar Rp 6.000, sedang dia hanya membayarnya dengan mencium tangan.

“Jam berapa Bapak mesti jemput?” tanya Si Mang, yang kucuri dengar.

“Belanjanya cuma dikit kok, Pa,” jawab Rilanti, “Lagipula Si Aa mau jemput.”

Dua mata bapak-anak itu menyadari keberadaanku. Aku pun pura-pura bersiul sambil melangkah memetik jari. Arahku membelot sejenak ke gerai Ben’s Burger. Kurasa aku maag, sehingga pengin minta obatnya. Barangkali ada. Pengin juga mendapat perhatiannya. Pasti ada. Selain itu, memang ada pemandangan menarik; seorang gadis nampak berselisih paham dengan pemiliknya yang botak menyilaukan. Mungkin burgernya kurang pedas? Atau, si gadis pura-pura kehilangan dompetnya?

“Eh, sayang,” sapa Ben ketika aku mendekat.

Aku sempat celingukan, tapi kemudian paham kalau dia sedang meng-skenario-kan sesuatu. Sementara gadis di samping Ben, yang wajahnya serasa familiar, begitu muram. Sesaat setelah aku mendekat, dia beranjak. Jika iya dia menyukai Ben, pasti perasaannya pecah-pecah. Bukankah tak ada yang lebih buruk ketimbang rasa kehilangan, rindu tak terjawab, penyesalan yang dalam dan cinta yang tertolak?

“Dia mantanku,” kata Ben begitu kami tinggal berdua,”Ngajak balikan terus. Tapi aku udah kepalang sakit. Dia milih cowok lain, yang berpendidikan tapi kere. Dan sekarang aku lagi ngebuktiin, kalo pilihannya itu salah dan dia bakal menyesal.”

“Deu! sok gak butuh gadis cantik!” seruku, apa aku cuma jadi pelampiasan?.

“Tuhan itu gak pelit, gak ciptain kecantikan dengan limited edition,” jawab Ben kalem,”Lagipula udah bosan, maksudku, dia itu susah diatur. Terus gak bisa liat cowok yang lebih keren, yang statusnya mahasiswa dan gampang dirayu. Main ninggalin gitu aja. Aku juga bisa lah!”

“Dia itu…” ingatanku mendapat titik terang, “Cewek matre, ya?” Aku baru sadar kalau wajahnya ada dalam ponsel A Akmal!

Ben tertawa, “Aku memang suka tipikal cewek matre!”

“Ben?” mataku memicing, “Aku kesinggung.”

“Lho?! Emang iya,” tegasnya, “Cewek matre di sisi lain memacu kita, para cowok, untuk terus berusaha, tegar dan pantang menyerah!” Ben berapi-api, “Apalagi zaman sekarang! Level pendidikan gak menjamin kejayaan seseorang. Ibarat kata, kalau cewek punya modal tampang, kita juga punya modal uang. Kayak kamu nih, lama-lama bakal kagum dan gak mau kehilangan aku juga. Ha ha ha.”

“Uang itu bisa habis dan kecantikan itu bisa terkikis, Ben, tapi tidak dengan cinta dan kebaikan kita, kataku dalam hati. “Lha, padahal aku sendiri memuja harta?”

Obrolanku dengan Ben berlangsung tidak menyenangkan. Aku memang tak menampik, begitu menggilai dan mendambakan materi. Namun begitu beradu pandangan dengannya, kurasa materi bisa menampilkan sisi sadisnya dan bisa begitu membahayakan. Seperti kata Miladya dulu, uang tak se-powerfull yang kita pikirkan. Ah, rasanya perutku makin sakit dan aku pengin mundur belajar mencintai Ben. [#RD]

(B E R S A M B U N G)

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *