Cerpen; Si Perjaka Beranak Dua

Cerpen; Si Perjaka Beranak Dua

Menurutmu pengejaran cita dan cinta tak ubahnya sebagai kegiatan menunggu ketiadaan. Namun bukan berarti semuanya dikejar dengan sampai tak sampai. Justru karena moment pengejaran dan penggapaian itu berharga, maka pertimbangan dan persiapan selalu kau bawa. Semua itu kau racik sebagai lentera perjalanan menuju terwujudnya impian. Begitu, dilema boleh jadi dipastikan selalu ada. Ia serupa soal-soal pilihan ganda yang dikucurkan Tuhan, dengan option-nya yang banyak, tetapi masing-masing memiliki kelemahan dan keuntungan tersendiri untuk dipilih.

Terkadang persoalannya begitu simple, tapi ada pula yang begitu rumit hingga kita merasa begini salah begitu salah. Diluar semua itu, harus kita ingat bahwa Tuhan memberi soal yang berbeda-beda kepada makhluknya. Maka jika kita terbagi soal nomor dua, berarti Tuhan mempercayakan kita untuk menyelesaikan soal tersebut. Sedang orang lain ada yang diberi nomor tiga, empat, atau lima. Maka itulah kadar kepercayaan Tuhan kepada mereka. Meski tak menutup kemungkinan untuk sama. Begitu kira-kira prinsip hidup yang selama ini kau reguk.

Di malam tanpa kunjungan bintang itu, kau bercerita tentang sebuah pelayaran cinta. Katamu, kau terdampar di lautan yang lengang. Sendirian kau meringkuk dalam sebuah biduk. Di sana kau pijakkan kaki dengan sigap, meski ombak senantiasa merambat. Katanya, kau juga memiliki sekoci untuk memantapkan destinasi hati. Masih sendirian. Terus berfikir sebelum salah menapak langkah dan akhirnya terkilir. Banyak pertanyaan yang kau undang dan kau jawab sendiri. Hati dan fikiranmu senantiasa bercengkrama. Dalam pekat dan terang, kata tanya senantiasa bergelantungan,

Haruskah aku melanjutkan perjalanan?
Tapi… bisakah aku ikhlas bertahan?
Atau, haruskah aku menceburkan diri dan bergabung dengan riak ombak?
Tentu, dengan mengkaramkan isi hatiku juga?
Namun, mampukah aku menanggung penyesalan paling menyesakkan setelahnya?

Beruntung hatimu masih bisa dikemudikan dengan tenang. Di lautan lapang itu kau susuri rambu-rambu. Pasti ada, apalagi jika kau pinta. Maka tanpa memenggal asa, kau senantiasa mengunjungiNya. Yah, dalam rangkul kebingunganlah kau memohon sepucuk petunjuk.

“Tahukah kamu, itu adalah badai terbesar!” serumu malam itu juga. Kau menoleh padaku, “Tapi aku menghadapinya berdua!” Kau makin mendekatkan diri. Kalau saja malam-malam sebelumnya kau melakukan itu, tentu aku sudah menghindar atau bahkan wajahmu kutampar. Namun malam itu begitu istimewa. Terlalu sayang melewatkan tangga ceritamu.

“Berdua, hatiku dan bayang-bayangmu…” bisikmu pelan. Aku ingin sekali meresponmu dengan berkotak-kotak kata yang kususun dalam hati. Tetapi malah linangan airmata yang mengeja perasaan haruku. Hingga aku tak sempat berucap apapun. Apalagi setelah kau menyambutku dengan hangatnya peluk, seakan-akan ia membekap semua gundah yang terlanjur tumpah.

Kau melanjutkan cerita lagi, “Apa kamu mau masa depanmu padam, Niko?” respon ayahmu ketus setelah mendengar isi hatimu. Nada bicaranya menyiratkan bahwa ia tidak khawatir kau akan berbuat nekad. Tapi jauh dalam palung hatinya, teronggok rasa cemas yang amat sangat. Terutama apabila kau tidak menurutinya. Kau sendiri, ingin rasanya membombardirkan alasan-alasan akan maksud baikmu itu. Siapa tahu untaian kata-katamu mampu membuatnya faham. Namun urung. Kau teringat akan posisinya yang mulia. Maka waktu itu, kau cukup tak menjawabnya. Sementara hatimu mendesiskan sesuatu,

“Tuhan, hanya Kau yang bisa mengukur keikhlasanku…”

Belum lagi sosok perempuan tempat kau kucurkan segala pujian. Seseorang yang sebisa mungkin titahnya tak ingin kau bantah. Meski ia sering menanggapi rencanamu dengan diam, tapi kebisuannya mengantarkan bisikan kalau dia sependapat dengan Bapak. Hanya saja mungkin Ibu lebih menghargaimu dan cukup mewakilkan kegundahannya pada mulut Bapak. Tetapi, urusan semacam ini jelaslah beda.

Adilkah jika menentukan jalan hidup tanpa restu orang tua disebut sebagai durhaka?

Kecamuk pertanyaan itu menggaung dalam hari-harimu. Pikiranmu pening. Di satu sisi kau memaklumi. Mereka berpendapat demikian bukan tanpa alasan. Kekecewaan dan penolakan mereka kau terjemahkan sebagai arti dari perhatian dan kasih sayang. Maka kau putuskan untuk tidak menanggapi dulu apa yang mereka utarakan, tepat setelah kau mencurahkan rencana itu.

Kau membiarkan semuanya berjalan sampai bosan. Meski kau sendiri, ternyata masih menyibukan diri dengan perenungan dan pertimbangan. Disela-sela itu, tak jarang beberapa kerabat dan teman dekat menghampiri untuk sekedar melemahkan tekadmu. Kau begitu mereka disuruh oleh Ibu atau Bapak. Sebab kedua orang tua sendiri menjadi enggan menguak kemurunganmu. Lagi-lagi kau tidak memutuskan nasib pasti rencanamu; dilanjutkan atau tidak. Kau lihat Ibu dan Bapak semakin gusar menghadapi anak tunggalnya sering terdiam. Sepulang mengajar dari kampus kau tak banyak bicara seolah-olah merelakan saja disapu waktu.

Sampai suatu hari ada seorang sahabat berkunjung. Dialah satu-satunya sahabat penampung curhat sejak kau masih sekolah. Namun kesibukan pernikahan membuatnya agak merenggangkan segala urusan. Setelah semuanya selesai, barulah kau dipertemukan kembali. Sungguh, pertemuan dengan sahabat lama itu sangat melegakan. Segala beban bisa kau titipkan dipundaknya yang selalu terlihat kekar dalam pandangan. Apalagi kau begitu mempercayainya. Bagaimanapun, ia bagian dari perjalanan hidupmu sampai akhirnya sama-sama menapaki kepala tiga.

Mula-mula pembicaraannya menyangkut pendidikan, pekerjaanmu di kampus, pekerjaannya di kantor, prestasi, masa-masa sekolah dan hal-hal yang bersifat futuristik. Lama-lama bisa kau rasakan sahabatmu itu membelotkan haluan. Persis yang dilakukan oleh kerabat dan teman-teman dekat sebelumnya.

“Udah punya calon belum, Nik?”

Kau tersenyum simpul. Dihisaplah udara sebagai pengendali nada jawaban yang sedang kau persiapkan. Sebab sudah tidak aneh jika kau mengatakan nama dan status calonmu, lawan bicaranya akan menganga. Percaya tidak percaya.

Merasa kesal dengan kediamanmu, sang sahabat berkata, “Aku punya kenalan. Adik tingkat sewaktu kuliah. Fresh graduated, sholehah, pinter, dan kayaknya…”

“Aku sudah punya calon,” potongmu dingin. Kau memasang paras kurang suka akan tingkah sahabatmu yang seolah-seolah sedang menawarkan barang untuk dijual. Mungkin ia menyadarinya. Iapun seketika menghentikan pembicaraan. Lalu memandangmu dan berusaha lebih sabar menunggu jawaban itu.

“Aku menjalin hubungan dengan Atit…”

“Atit? Atit teman kita? Yang…” tanya sahabatmu seumpama orang tersedak dengan tiba-tiba. Akhir kalimat ia gantungkan. Tenggorokannya terlanjur tercekat. Dan entah untuk ke berapa kali kau memaklumi tanggapan berlebihan itu, “Iya, Atit yang kini menjanda dan memiliki dua anak.”

Kau mendengar sahabatmu menghembuskan udara dengan berat, “Jadi sampai sekarang Kau masih mengharapkannya?”

Kau mengangguk tanpa dibumbui rasa ragu. Wajar saja jika kebanyakan orang mengatakan Atit zaman sekolah dengan Atit sekarang itu berbeda. Kau juga mengakuinya. Namun satu hal yang tak kuasa kau tolak, yaitu kau tetap mencintainya. Perasaan pada Atit dulu dan sekarang tak berkurang.

Dulu kau tak mampu menyambangi rumahnya. Orang tua Atit tentu akan memintamu untuk segera menikahinya, sementara kuliahmu saja sedang gencar-gencarnya menyedot biaya. Mujur bagi Si Ridwan yang secara fisik dan mental lebih siap darimu, merenggut hati Atit dan keluarga. Mereka menikah tepat didepan airmatamu.

Luka itu kau jadikan bekal untuk menaklukan cita-cita. Kau sangat berharap kehidupanmu di kota merubah khayalanmu tentang Atit. Namun, waktu berpendapat lain. Cita-cita memang kau genggam sementara wajah wanita itu tetap berkelebatan. Mau tak mau, siksaan akan jauhnya harapan kembali mencambuki hati.

Kau mendengar Atit kurang bahagia, apalagi semenjak kedua orang tuanya tiada dan Ridwan yang memutuskan menjadi TKI ke Qatar. Tidak hanya itu, jiwamu yang sesak seakan dipenuhi oksigen yang banyak ketika mendengar Atit telah bercerai. Seketika itu, kau pulang. Setelah permohonan mutasimu terkabulkan, kau memutuskan untuk tinggal di kampung halaman.

“Bagaimana jika aku menjadi suamimu, Atit? Apa kamu setuju?”

“Hanya itu saja?”

“Maksudmu?”

“Kau hanya ingin menjadi suamiku, tanpa mau menjadi ayah bagi kedua anakku yang masih kecil?”

Kau membisu malu. Sesekali kau beristighfar. Atit sudah tidak sendiri. Ia bersama buah hatinya dan Ridwan. Jika kau ingin mengambilnya, tentu harus kau bawa pula kedua anaknya itu. Bukan darah dagingmu. Tetapi status mereka akan berubah menjadi anakmu juga.

“Tentu, Atit. Tentu!”

“Lalu ibu bapakmu? Sahabat-sahabatmu? Status sosialmu? Banyak rintangannya, Niko!”

“Tapi kamu sendiri, mau kan?” Kau menyelidiki hati sang pencuri hati. Ia tersipu. Tidak nampak kesan penolakan di wajahnya. Ia hanya tertunduk seperti menahan airmata. Diusapnya ubun-ubun bocah lima dan tiga tahunan yang sama-sama duduk di kursi. Kau membayangkan jika Atit resmi menjadi istrimu, tentu kan kau elus juga bocah-bocah itu. Tanpa canggung mereka akan menaiki punggungmu dan bermanja-manja sambil merajuk memanggilmu, “Ayah… Ayah….”

Tepukan tangan sahabatmu membangunkan lamunan,

“Apa kau sudah mantap?”

Kau tidak lekas menjawab. Wajah Atit dan kedua bocah itu terpotret dihadapanmu. Mereka seperti slide yang ditayangkan berulang-ulang. Tak lama kemudian, anggukanmu lebih kau pertegas lagi. Sahabatmu itu terbatuk kecil, “Aku rasa kau masih ragu, Niko…”
Kau mendelik, sahabatmu melanjutkan ucapannya, “Kalau kau sudah yakin, kenapa tidak segera kau nikahi?”

Mendengar itu kau tersenyum simpul, “Aku sedang memantapkan keikhlasanku dan keluargaku. Aku masih menunggu restu Bapak juga Ibu.”

Sahabatmu terdiam. Ia tertunduk agak lama. Dan ketika kepalanya kembali mendongak, matanya telah berkaca-kaca memantulkan pengaguman sekaligus rasa haru, “Kalau begitu, aku yang akan menyampaikan ini kepada Bapak dan Ibumu,” jawabnya sambil berdiri hendak berpamitan. Kau kaget mendengar perkataan sahabatmu yang penuh kerelaan itu. Apalagi ketika didepan pintu ia sempat memicingkan mata padamu, “Kau, pintalah restuNya! Semoga diridhoi….”

Kau hanya terangguk-angguk meresapi tepukan tangan sahabatmu diatas pundak. Kata-katanya adalah doa yang teralirkan dalam urat-urat kehidupan. Kau ucapkan ‘amin’ berulang-ulang.

***

Kau kini terlelap dengan nyenyak. Jelas terlihat gurat-gurat lelahmu belakangan ini. Hingga ketika kau bercerita tentang sebuah pelayaran cinta, kau menguap dengan payahnya. Matamu terkatup tepat saat bagian akhir dari cerita itu. Tak apa, aku bisa menjawabnya. Bagian akhir itu adalah incaranmu, Aku dan anak-anakku. Yah, kami!

Diluar kudengar orang-orang sibuk membereskan sisa kebahagiaan kita. Merapikan kursi, janur kuning, sound system dan semacamnya. Sedangkan malam kemarin perasaanku tidak karuan. Banyak pikiran-pikiran buruk meringkuk dalam otakku. Tapi setelah ijab kabul itu, tak bisa kulukiskan perasaan ringanku.

Akupun ikut mengantuk. Kuusap anak-anak kita yang terpejam diantara ibu dan ayahnya. Tepatnya diantara kita, Niko. Titik-titik airmataku tak sengaja menetes di dahi mereka. Aku sungguh bahagia. Tanganku menggapai wajah letihmu. Aku juga mengusap rambutmu hangat. Dengan jahil aku bergumam,

“Detik ini, kau adalah perjaka beranak dua… “

Aku menyandarkan segenap kegalauanku. Diatas nyamannya bantal, aku tak jemu-jemu menatapmu. Rasa ingin berlama-lama menikmati suguhan senyummu terkalahkan juga oleh lelah. Aku melafalkan doa untuk keluarga mungil kita. Dan, sebelum menuju mimpi-pun aku mendelikmu. Di dunia tanpa sadar itu, lagi-lagi, aku ingin memandangmu,

“Selamat malam, Suamiku sayang…” [#RD]

***

Kuningan, November 2011
Dee Ann Rose

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *