Cerita Mini; Fire in The Winter

Cerita Mini; Fire in The Winter

“Emma Campbell, Sir?” Aku mengulangi nama itu kepada bos yang berkebangsaan Irak. Duda rupawan itu mengangguk tegas, “Layani customer-mu dengan baik…” ucapnya dengan mata berbinar.

Jujur, sehabis subuh tadi aku mencari pemilik nama itu. Sahabatku, Larry, memberitahu kalau sosok tersebut rutin datang ke “No Name Mosque” di ibukota Michigan itu, tempat aku dan kawan-kawan muslim sholat. Hanya saja aku tidak se-teliti Larry yang sering bilang,

“Diantara deretan jamaah mesjid ini, terselip seorang bidadari!”

Kini kehadirannya yang bagaikan tungku api bagi Larry, juga berlaku bagiku. Entah, suara dan tatapannya begitu menghangatkan hati. Sehingga salju Detroit-pun tak lagi mampu membuat tulangku ngilu.

Pertemuanku seminggu lalu di Sadam’s Bakery menjadi nasib baik sekaligus sial. Waktu itu semua karyawan sibuk melayani pelanggan untuk sarapan. Sedangkan Larry, lututnya lemas saat melihat wanita yang ia sebut sebagai ‘angel’ itu,

“Dia… Dia wanita yang kumaksud, Ben!”

Aku tidak sanggup mengelak dari gambaran keindahan yang sering Larry gemborkan. Dengan agak kikuk aku melayani new customer itu. Biasanya aku menghindari pembeli wanita, namun untuk kali ini keadaanlah yang memaksa. Memang… mata biru, kerudung abu, leggings dan trench coat yang ia kenakan makin mempercantik senyumnya. Lagipula aku telah lama tidak menemukan laju jantung terpacu secepat itu,

“ Astaghfirullaahal ‘adziim…” berkali-kali aku mengusap mata yang nakal. Lafadz itu kadang manjur menyentil tatapanku yang lama. Ah… gelitik wajah sang lady adalah ujian terberat saat ini!

Coklat hangat, club sandwich atau double-decker, kue jelly doughnut dan jelly roll telah dibungkus,
“Bismillaah…”
Entahlah, itu pengantarku bertugas atau bertemu Emma. Aku hanya mengayuh BMX-nya dengan semangat.

Sesampainya di rumah Emma…

“Yes… I’m sorry?” suara Emma menyulam mulutku. Dengan gemetar, aku menyodorkan pesanan. Lalu segera berbalik badan sambil mengkomat-kamitkan istighfar.

“Wait!”

Deg…

Aku menarik nafas dan menoleh. Emma tersipu, “Sampaikan salamku pada bosmu, yaa…”

Seketika tenggorokanku mengerang. Rupanya ada api yang menjalari hati. [#RD]

***

Kuningan, 11 Juni 2012

Dee Ann Rose

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *