Cerita Perjalanan Survey KKN

Cerita Perjalanan Survey KKN

cerita perjalanan survey KKN

06 Agustus 2012…

Bismillaah…

Aku dan kelompok 6 KKN (Kuliah Kerja Nyata) sepakat untuk melakukan survey ke Desa Kubang Jero, Kec. Bandarharjo Kab. Brebes.

Kami menduga, pasti dibutuhkan waktu agak lama untuk mencapainya. Pertama, nama daerah tersebut asing dan memang bukan bagian dari kabupaten kami. Kedua, tak ada satupun diantara kami sudah hapal lokasi. Ketiga, karena ketidaktahuan itulah, kemungkinan besar kami akan menyasar dahulu. Atau paling tidak, kami akan banyak bertanya di jalanan.

Benar saja, ketika di suatu pertigaan (menuju Losari), seseorang meneriakiku dan seorang kawan,

“Lurus!”

Tapi begitu melihat pasangan boncengan di depan belok kanan, kami hanya mengekori. Orang yang meneriaki lurus pun, kulihat lewat kaca spion, berada di belakang. Pasrah saja, ah….

Namun baik aku maupun kawan seperboncenganku, merasa ada keraguan untuk melaju. Teman-teman yang lain pun begitu. Mereka menyalip kami, menepi, lalu mengutarakan kesangsian masing-masing. Aku dan kawanku pun berinisiatif untuk menanyakan arah kepada seorang warga. Bapak-bapak.

“Maaf, Pak, mau tanya. Arah ke Bandarhajo ke mana, ya?”

“Uh, luruuus saja…”

“Dari sini ke mana?”

“Belok kiri ampe mentok pasar, ambil kanan. Luruuus….”

Setelah mengucapkan terima kasih, kami memberi tanda berupa acungan jempol. Taman-teman yang lain, 6 motor, membuntuti kami. Kami mendapati pertigaan. Aku hanya menuturkan arah sesuai petunjuk bapak-bapak yang tadi. Belok kiri.

Aku melihat ke sekitar. Syukurlah motor yang kutumpangi tidak terlampau ngebut, dengan begitu aku bisa menelusupi kehidupan di jalanan. Bagaimanapun, di jalanan… Jika kita melaju bagai dipecut waktu, maka tak ada yang dipangku kecuali tamparan angin dan tinjuan debu. Aku ingin membaca rasanya, menyelami pesona-pesonanya.

Sesekali kutengok ke belakang, memastikan motor-motor yang membuntuti berjumlah enam. Nah tibalah di sebuah pasar. Kebetulan, suasananya begitu ramai. Para pedagang dan pembeli berdesakan. Mereka tumpah, hampir menusuk badan jalan. Sementara kendaraan yang lalu-lalang amat bergam. Motor, truk pengangkut tebu, mobil pribadi, truk terbuka, mobil box, becak, pejalan kaki, dsb. Seketika, panas menyempurnakan peluh. Aroma dan hawa yang menyebalkan ini mesti kami telan dalam waktu cukup lama. Macet panjang!

Dan, ketika kami terlepas dari jebakan memuakkan itu, aku menghirup udara sepuasnya. Menghibur suasana sialan barusan. Namun… lagi-lagi, teman-temanku menyalip. Mereka menepi dan mendongakkan kepala. Aku sedikit terkesiap. Ya ampun, ini mah berputar arah!

Aku celingukan, mencari warga untuk bertanya. Yep! Ada dua orang pemuda. Kami menghampiri mereka dan menanyakan arah Bandarharjo.

“Wah, masih jauh… “

Aku yakin, hatiku dan kawanku pengendara motor, sepakat mengangguk. Emang masih jauh, Kang!

“Padahal jalannya lurus lurus aja, kok. Gak banyak belokan. Tapi Aa dan teteh udah salah belok. Harusnya di pertigaan sana (telunjuknya diarahkan ke sembarang arah, tapi menandakan arah yang jauh sekali) Aa dan Teteh lurus aja, jangan belok kanan. Udah lurus, lurus terus… Jauh deh pokoknya!”

Aku menggeram. Ada penyesalan juga ketika mesti membuntuti saja. Dan, apa kesimpulan kedua pemuda ini menyuruh kami untuk berputar arah dan melewati pasar super ramai itu lagi? Ya ampun!!!

Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali ke kerumunan 6 motor lain yang tengah menepi. Kamipun menyampaikan kesalahan belok. Namun tiba-tiba adu mulut tak terelakkan.

“Saya bilang juga lurus! Kok belok kanan sih?”

“Nih pan petanya ada di saya. Udah saya catet arahnya dari Paman,” celoteh yang perempuan.

“Masa kita balik lagi ke pasar?”

“Heh, jauh kali kalo kita mesti ke sana lagi. Lama di pasarnya! Panas!”

“Yang di depan itu, yang hapal dong! Biar gak nyasar!”

“Tadi ada yang bilang lurus, tapi tiba-tiba ada yang belok.”

“Siapa sih yang di depannya?”

Kami benar-benar tak mengikuti sebuah pepatah China yang intinya, “daripada menyalahkan keadaan, lebih baik mencari jalan keluar”.

Ketika kami diam sendiri, pasangan boncengan laki-laki, membimbing ke sebuah gang. Sepertinya perumahan. Kami hanya mengekori. Di sana, mereka bertanya pada beberapa bapak-bapak. Aku tidak begitu jelas menangkapnya. Lamat-lamat yang bisa kuserap hanya, “Lurus teruuus!!!”

Setelah terlihat kesepakatan, pasangan boncengan laki-laki itupun membimbing kami kea rah lain. Kami memasuki rel kereta api. Di sana kami berkumpul dulu dan memastikan jumlah motor ada 7. Setelah menunggu kereta melintas, satu persatu diantara kami pun melewati rel tersebut. Tak lupa kami cemplungkan receh atau uang seribuan kepada dua penjaganya.

Diam-diam, kukagumi juga cara ‘dingin’ pasangan laki-laki itu. Mereka, tanpa bergabung untuk saling tuding, malah berinisiatif mencari jalan pintas. Tanpa melewati pasar itu, kami bisa juga sampai pada jalur yang semestinya. Seperti yang dikatakan orang-orang, jalanannya memang lurus. Panjang dan jauh. Ah, semilir angin merayap-rayap genit di pipi. Aku mencoba menikmati panas dan angin yang beradu-adu di mukaku.

Ketika melintasi symbol perbatasan, kami bersorak girang. Bagaimanapun, ia menjadi salah satu tanda kami akan lekas sampai. Di jalanan, kami larut akan penghayatan masing-masing. Tak kudiamkan kepalaku. Kutoleh kanan kiri, mencoba menemukan dan membaca apapun yang ada di sana. Bersama waktu, aspal-aspal itu kami lalui. Dalam sebuah belokan, seolah memiliki kesamaan naluri, kami terlebih dahulu menepi. Berembuk, atau bertanya.

Sampailah kami di sebuah perempatan. Kami belok kanan. Bandarharjo, kami datang…

Kukira jalan yang akan kami tempuh hanya sekedar hitungan menit lagi. Namun, tidak. Aku dapat merasakan waktu yang begitu lama. Kami tak kunjung sampai. Jalanan yang lurus ini seolah tak berpangkal. Kulirik kanan kiri. Plang demi plang menymabut kedatangan kami.Kubaca satu persatu. Beberapa nama desa sudah cukup dikenal telinga. yep! Nama-nama desa itu akan menjadi hunian teman-teman kelasku yang lain, yang pernah mereka ujarkan.

Dalam diam dan telisik angin, aku merencanakan diri untuk mengunjungi desa teman-temanku yang nyatanya berjejer itu. Ah, sebentar lagi, mungkin. Jalanan lurus itu cukup ramah udara. Di tepian kami, sawah terhampar. Orang-orang lalu lalang. Via motor, sepeda mapun jalan kaki. Duh, angkutan umum sepertinya sesuatu yang langka. Mungkin hanya 3 kali kulihat, angkot-angkot sesak yang lewat. Jika saja ada inisiatif dari pemerintah, mungkin jalanan panjang ini bisa dijadikan trayek angkutan. Sayang…

Jalanan yang kami lewati tidaklah sebagus jalan yang ada di kabupaten sendiri. Kondisinya tidak rata. Lubang-lubang tak lagi bersembunyi di sisi. Mereka bermunculan di tengah jalanan. Jadi ketika kecepatan tengah dinaikkan, bisa-bisa kami terjebak dan terpental-pental, layaknya bola basket yang dipermainkan pemainnya.

Ya ampun, seperti ini ya jalan yang mesti kulewati untuk mencapai tujuan. Panjang dan tak gampang. Meski hanya lurus dan sedikit belokan, tetap saja tak mudah kami menemukan kelancaran. Kondisi yang dilengkapi dengan hawa panas, apalagi dalam keadaan puasa (bagi yang menjalaninya), menjadi ujian tersendiri. Berat dan berpeluang menggoyahkan.

Aku yakin, kami tak sendiri. Pasti ada rekan-rekan lain yang melintasi jalanan ini, yang mengeluh, yang kepanasan, yang merasa jengkel, yang nyasar, yang penasaran akan waktu sampai atau perasaan kesal lain. Lagipula, bicara soal panas, kutengok segala sisi. Di hamparan sawah itu, banyak ibu-ibu dan bapak-bapak tengah mengais kekayaan tanah. Kuperhatikan sawahnya gersang. Tanahnya pecah-pecah. Mungkin tengah paceklik. Mungkin mereka ke sawah hanya untuk memanen tanaman lain, cadangan nafkah atau penyangga hidup keluarga.

Kami memasuki kawasan yang cukup ramai. O, rupanya pasar. Bangunannya sederhana, tidak seperti pasar-pasar lain. Kebetulan kami melintasi kawasan itu saat jam pulang anak-anak sekolah (Bisa dibayangkan, matahari tengah semangat-semangatnya memancarkan terik pada bumi!). Jadilah motor kami berdesakkan dengan mereka. Namun tak ada diantara mereka yang menumpangi motor, kecuali guru-gurunya. Mereka hanya berjalan kaki dan mengayuh sepeda. Ada yang sendiri dan banyak pula yang berboncengan Aku jadi iri. Betapapun, masa putih biru dan sepeda juga ada dalam hidupku. Dan, itu menyenangkan!

Di pasar itu kami berhenti dulu. Temanku mem-potokopi berkas-berkas survey yang mesti diisi. Aku sendiri berteduh di sebuah warung sembako. Setelah meminta ijin untuk ikut menghindari terik surya, kuperhatikan sekitar. Pelan-pelan kutajamkan telinga, mendengar percakapan anak-anak sekolah, pedagang dan beberapa pengunjung pasar. Alhamdulillah, mereka pun berbahasa sunda. Hanya saja, kedai-kedai makanan tetap terbuka. Mungkin telah menjadi sesuatu yang biasa bagi mereka. Meski di bulan puasa, tempat makanan tetap buka. Bahkan selalu saja ada pengunjungnya.

Kami melanjutkan perjalanan. Jalanan yang timbul tenggelam itu mulai mengecil. Udaranya sedikit lebih sejuk. Namun kata tanya tetap bergelantungan dalam pikiran, “Kapan sampai?”. Sepertinya kami telah masuk desa-desa lain, yang lebih di dalam. Banyak perempatan di sana. Beberapa diantaranya menyediakan petunjuk, nama-nama desa yang asing dan belum tersentuh telinga.

Jalanan yang menyempit namun sejuk itu terus menuntun kami. Mungkin sekitar 3km dari pasar, kami berhenti. Terkesiap juga aku melihat plang yang paling kami incar:

Selamat Datang di Desa Kubang Jero- Kecamatan Bandarharjo-Kabupaten Brebes.

Di perempatan desa itu, tak banyak warga yang kami jumpai. Rumah-rumah di sana sederhana. Kata ibu, orang-orang sana tak menomorsatukan rumah. Malah ada beberapa rumah yang nampak telah lapuk. Catnya pecah, kondisinya tak menggugah selera untuk menempatinya. Aku bergidik. Sampai akhirnya 2 bocah SMP terlihat. Mereka nampaknya akan menghindari kami, kalau kami tak berseru, memanggil-manggil.

“Kantor kepala desa di mana, Dek?”

“Kantor kepala desa?” mereka saling menatap.

“Bale desa, Dek?”

“Oh, ke sana…” (sambil menunjuk ke kiri)

Kami menuruti telunjuk bocah itu sambil menyempatkan diri mengucapkan terima kasih. Arah yang ditunjukkan kedua bocah itu membuat kami terhenti. Di sebelah kiri kami, nampak bangunan Sekolah Dasar. Sedangkan di kanan, ada mesjid kecil dan balasi desa atau mungkin kantor PKK. Kami memasuki kawasan itu. Tanpa disuruh, masing-masing turun. Sebagian menyeruak ke arah WC mesjid, berteduh di sebuah pohon dan memasuki mesjid untuk sekedar menyelonjorkan kaki.

Hawanya lebih panas dari kabupaten sendiri. Tetapi ketika memeasuki mesjid, kesejukannya menyambut ramah. Begitu nyaman. Akhirnya kami bisa duduk atau terlentang. Atas nama lelah, kami hanya bersandaran pada tembok sambil mengobrol ringan. Membicarakan perjuangan di jalanan! Sementara beberapa bocah, laki-laki dan perempuan nampak berdatangan ke mesjid. Mereka menenteng alqur’an, mukena atau perlengkapan ibadah lainnya.

Sambil ditemani alunan ayat Alquran yang mereka bacakan, kami meluruhkan peluh. Waktu itu, jam belum menunjukkan waktu sholat dzuhur. Mungkin sekitar 30 menitan lagi. Dan, O, cukup agamis juga suasananya. Kami tenang. Namun, setelah beberapa lama akhirnya kami tersadar belum masuk ke balai desa serta memohon ijin untuk rehat.

Usai memanjakan badan, satu persatu diantara kami memasuki balai desa. Sayang, Pak Kades tengah tiada. Beliau tengah bertugas ke daerah Tegal. Namun beruntung, kami disambut pegawai desa yang begitu ramah. Mereka welkam. Kami digiring masuk dengan sambutan yang cukup antusias.

Di dalam balai desa yang sederhana itu, kami mengobrol tentang Kubangjero, lagi-lagi tentang perjalanan untuk mencapainya, serta maksud tujuan kami datang. Sikap khas warga desa, mereka begitu ramah dan siaga. Suasananya pun tak terlampau formal. Mereka sesekali mengundang canda dan tawa. Aku cukup puas dengan hasil perjalanan panjang itu. Akhirnya, mereka menyuruh kami untuk sholat dan istirahat dulu, baru melanjutkan rencana. Kami menuruti.

Kami kembali ke mesjid, membiarkan tubuh yang panas itu larut dalam kesejukannya. Sambil menyandar pada tiang-tiang mesjid, kami mengobrol lagi. Kali ini tentang program KKN serta tempat tinggal.

“Duh, moga aja yang punya rumahnya baik.”

“Moga banyak air di sini.”

“Moga WC-nya di dalam.”

“Jangan rumah kosong, dong!”

“Kita satuin aja, cowok-cewek, takut kenapa-kenapa.”

“Moga dapet yang tingkat, biar gampang ngumpulnya!”

“Moga gratis!”

Tak lama, adzan berkumandang. Nampak para pegawai pemerintahan desa itu memasuki mesjid. Mereka dan beberapa bocah menunaikan ibadah sholat berjamaah. Sedangkan aku dan dua teman wanitaku tetap di sisi luar mesjid. Karena tak puasa, kami pun leluasa melumat permen dan meneguk minuman yang kubekal. Ah, segarnya… Entah apa jadinya jika aku tengah puasa?!

Sholat telah usai. Energi yang terkuras telah cukup terisi oleh rehat ala kadarnya. Kamipun bergerak mengikuti Pak Johan. Beliau memapah kami menuju sebuah rumah yang bersebelahan dengan mesjid. Kami dipersilakan masuk. Nampak seorang bapak-bapak memakai kopiah, koko dan sarung tengah duduk lalu menyambut kami. Satu persatu menciumi punggung tangan beliau.

“Silakan masuk. Maaf kalau kurang bagus…”

“Ini rumah kalian, nanti. Gimana?”

Mataku dan teman-teman mengitari penjuru rumah itu. Temboknya bagus, catnya tak mengelupas, ubinnya keramik, kursinya bersih, keadaanya lumayan luas dan rapi. Kami sedikit terperangah, secepat ini kami memperoleh tempat tinggal yang nyaman dan sesuai harapan? Alhamdulillaah…

“Alhamdulillaah… kami setuju aja, Pak. Tapi apa Bapak dan keluarga gak keberatan?”

“Bapak ngalah. Bapak dan istri pindah saja ke sebelah untuk sementara. Gampang!” tutur bapak-bapak berbaju muslim itu sambil menunjuk sebuah rumah lagi, di pinggir rumahnya, “itu rumah adek Bapak, kok?!”

“Aduh, jadi ngerepotin. Nanti kami memakai perlatan rumah Bapak juga.”

“Iya, gak apa-apa. WC juga ada 2. Silakan saja.”

“Kompornya?”

Si Bapak mengernyit, “Cuma satu. Jadi bawa aja ya, takut kurang.”

“Iya deh, Pak… Ng… Di sini panas ya, Pak?”

“Belum panas segini mah… Belum kayak di Brebes. Bagi kalian mah panas, ya? Kalau Bapak ke Kuningan, Bapak gak lepas dari jaket loh?! Dinginnn!”

“Hehehe… Iya, Pak. Makanya pas kami ke sini, panas banget!”

“Pasti di Kuningan banyak kolam, ya? Kalau di sini gak ada kolam. Jadi kalau kalian bawa bibit ikan, susah memeliharanya.”

“Oh… memang sekarang lagi musim apa di sini? Tadi kami lihat, di sawah cukup ramai. Lagi panen, ya?”

“Panen panas. Gak kok, lagi paceklik. Sawah juga kering.”

“Memang air di sini susah ya, Pak? Dari mata air apa PDAM?”

“Gak, ah. Kalau masalah air, kami masih sanggup kok. Kecuali beberapa di Bandarharjo. Desa A, B, C dan D (menyebutkan nama-nama desanya). Kalau di sana, pasti repot airnya.”

Aku berucap syukur sekaligussedih, mengingat salahsatu dari desa tersebut akan menjadi hunian seorang teman sekelasku. Aku menetapkan diri untuk tidak memberitahunya. Bagaimanapun aku tak tega. Biarlah dia dan kelompok KKN-nya sendiri yang survey dan mendapati keadaan lapangan yang sebenarnya.

Seorang bocah perempuan datang, merajuk ke pangkuannya.

“Anak Bapak, ya? Siapa namanya, Neng?” celetuk sa;lahsatu diantara kami.

Yang menjawab malah Pak Johan, “Bukan. Ini mah keponakannya. Beliau dan istri belum punya anak. Ga tau nih, perut istrinya sih gendut, tapi belum berisi… ckckck…” Pak Johan cekikan, sementara bapak-bapak berkopiah itu mengulum senyum, tertunduk dan tak berani beradu tatap dengan kami.

“Bapak seneng ada mahasiswa di sini.”

“Makasih, Pak. Sambutannya ramah sekali.”

“Kebetulan Bapak mengadakan program Baca Tulis Alquran. Kalau sendiri, kerepotan. Kan nanti ada kalian, jadi bisa membantu.”

“Oh, insya Allah, Pak.”

“Mm… Mudah-mudahan dengan kedatangan kalian, keponakan Bapak mau kuliah. Sekarang dia udah keluar SMK, tapi gak mau kuliah. Siapa tahu pas liat kalian, dia jadi lebih gampang untuk melanjutkan sekolah.”

“Oh… Memang gimana pemuda di sini, Pak?”

“Kalian liat sendiri. Jarang ada pemuda, kan? Mereka merantau…” Bapak itu memperbaiki posisi duduknya, membuatnya nyaman.

“Masyarakat di sini masih awam akan agama dan pendidikan. Bagi mereka, setelah melanjutkan kuliah sampai SMP atau SMA, yang laki-laki langsung ke kota, bekerja. Yang perempuan, ya nikah. Hanya segelintir yang jadi mahasiswa. Makanya moga kalian bisa menyentuh mindset mereka dan mau juga maju berkembang.”

Kami hanya mengangguk-angguk mendengarkan buncahan harapan dari bapak-bapak itu. Nampak sekali matanya menyala, memijarkan semangat dan keseriusan akan kedatangan kami. Tiba-tiba pundak kami serasa ditindih sesuatu. Kami telah diberi sambutan dan fasilitas yang baik, maka semestinya kami member mereka sesuatu yang diharapkan. Atau minimal, kami tidaklah mengecewakan!

“Mm… Dana untuk rumah ini bagaimana, Pak?”

“Ah, Bapak gak akan membahas itu ah… Biar, gimana kalian, gimana baiknya saja. Bapak juga pernah ada dalam posisi kalian, kok. Dulu Bapak juga KKN, terus dapat relawan buat rumah. Rasanya senang sekali. Moga kalian juga begitu. Oh ya, dulu juga ada mahasiswa yang KKN di sini. Dari UNES dan UGM. Bapak senang ada mahasiswa di sini!”

“Iya, kami juga sangat senang, Pak. Makasih banyak…”

Obrolan berlanjut. Tentang keadaan Kubangjero. Tentang penduduk dan tabiatnya yang masih awam, tentang 4 RW-nya, tentang 2 dusunnya, tentang ke-20 RTnya, tentang hutan alam yang dulu 5H menjadi 1H saja, tentang lapangan olahraganya, tentang mesjid, tentang jumlah sekolah, tentang pemudanya, dsb.

“Nah, mari sekarang kita datangi RW-RW-nya, bersilaturahim dengan mereka,” ajak Pak Johan akhirnya, setelah tak ada lagi topic perbincangan yang mesti dikupas.

Kami berdiri dan serentak membuntuti beliau. Kami diajak menuju rumah ketua RW. Di sana, kami hanya menyampaikan maksud serta tujuan. Pak Johan bilang, dengan cara ini, diharapkan masyarakat sudah tak lagi asing dan langsung menerima kedatangan kami. Sang RW yang gondrong dan beristri orang Bandung itu, menyambut dengan antusias. Beliau pun perhatian, menanyakan apakah kami sudah memperoleh tempat tinggal atau belum, lalu berapa akan tinggal, serta sesekali membicarakan keadaan desa kebanggaannya.

Jamuan telah usai. Kami melanjutkan perjalanan. Di tengah-tengah jalan itu, seringkali kami berpapasan dengan orang-orang yang sekedar lalu-lalang maupun ibu-ibu yang berkerumun membahas sesuatu. Kami menyapa mereka, menyalami mereka dan sesekali mengobrol singkat, menyampaikan siapa kami dan tengah apa kami. Di sana kami menemukan banyak sekali pepohonan. Mayoritasnya pohon nangka dan buah jambu air. Duh, segarnya…

Di depan suatu warung, salah seorang teman laki-laki menghampiri,

“Mau ngasih amplop gak sama Pak Johan?”

Kami yang perempuan berpikir sejenak. Setelah mempertimbangkan pelayanan dan sambutan beliau, kamipun sepakat untuk melakukannya. Aku dan beberapa teman perempuan menepi dulu ke sebuah warung. Sementara yang laki-laki terus saja membuntuti Pak Johan, menuju RW selanjutnya. Kami membeli dua lembar amplop. Lalu salah seorang temanku bilang,

“Duh, aku mau pingsan nih! Buka aja gitu?”

“Kamu udah gak kuat? Kan nanti kita bakal ngelakuin perjalanan jauh lagi. Pas pulang?”

“Kita buka yuk, Dian?”

“Dia mah emang lagi gak puasa,” yang lain yang menjawab.

Aku menyunggingkan senyum, mengingat tadi telah meneguk minuman.

“Ya udah, yuk beli minuman di warung itu. Tanyain gih, ada apa enggak?” seru yang lain, wajahnya memang nampak begitu pasi.

Ketiga temanku membeli 3 botol air mineral. Geli juga melihat dan mendengar mereka membacakan doa buka puasa.

“Allohumma laka shumtu Wabika aamangtu Wa’alaa rizqika afthortu, Birohmatika, Yaa arhamarroohimiin…”

Mereka mereguk minuman bagai orang yang baru sekali menemukan air. Tanpa kusangak, kutoleh di depan ada dua bocah perempuan tengah mengamati kami. Mungkin mereka cekikikan karena tengah menertawai kami yang telah resmi batal puasa semua.

Kulihat bibir mereka telah segar. Dengan mantap, kami melanjutkan perjalanan dan bergabung dengan Pak Johan.

“Lama amat?!”

Tanpa komando, kami hanya nyengir.

Memasuki rumah RW yang telah cukup tua itu, sambutannya kembali hangat. Beliau hanya memakai kolor dan kaus singlet. Sementara ada beberapa anak dan dua ibu-ibu tengah telentang sambil menonton televisi. Mereka beralaskan bantal dan tak berselimut. Begitu melihat kami, salah seorang ibu-ibu itu mengambil kipas angin besar dan menyalaknnya.

Wusss…

Kepenatan kami sedikit terhibur. Sayangnya, aku menangkap sang RW mengapit sebatang rokok. Minuman gelas pun berserakan di sana. Ckckck…

Kunjungan dan pengenalan telah usai. Melihat langkah kami telah gontai, Pak Johan bilang, 2 RW juga cukup. Kamipun sepakat untuk kembali ke balai desa. Di depan mesjid, beberapa teman yang tak ikut menyambangi rumah para ketua RW. Rupanya mereka tengah mendata apa-apa yang diperlukan untuk mengisi berkas survey. Kebetulan data-data tersebut mesti dikirim ke dosen pembimbing kami, Bu Ika.

Kami hanya mengobrol, membicarakan desa yang akan menjadi tempat tinggal selama sebulan, lalu berfoto. Sementara ketua kelompok kami tengah berbincang dengan Pak Johan dan koleganya. Kamipun mendiskusikan jumlah dana yang akan diberikan sama Pka Johan.

“30 ribu aja.”

“Iya deh… Pinjem dong yang bawa uang lebih!”

“Nih,” (menyodorkan 50 ribu selembar)

“Ada yang punya kembaliannya?”

“Udah 50 ribu aja, kasian udah muter-muter nemenin kita.”

“Kan nanti pas ke sini kita ngasih lagi? Udah, jangan terlalu besar.”

“Kan nanti apa-apa sama beliau. Biar beliaunya senang dan kita dapat kemudahan gitu.”

“Ngasihnya gimana? Tuh ada kepala dusun di sana…”

“Kasih aja, cuek. Nanti juga kalau dibagi-bagi.”

Ketua kami bergabung. Nampaknya obrolan mereka telah selesai. Setelah melirik jam, kamipun berpamitan dan menyelipkan amplop sebagai tanda terima kasih.

Sempat terjadi perdebatan mengenai arah pulang yang akan diambil. Melewati Cibingbin atau jalan Ciledug lagi. Setelah diskusi dan pertimbangan, akhirnya jalur yang diambil adalah Ciledug. Kami belum bisa menerima resiko untuk nyasar lagi, sebab matahari telah membungkukkan badan. Kami akan melakukan perjalanan dalam keadaan petang.

Bismillaah…

Meski kami telah melewati jalanan itu, tetap saja kami saling waspada dan berdiskusi menegai belokan demi belokan yang mesti diambil.

“Tadi lewat sini gak, ya?”

“Eh belok ke mana lagi nih?”

Begitulah. Merayap sambil disirami cahaya senja cukup menyenangkan juga. Setidaknya, langit tak begitu terik. Cahayanya tidak terlampau menyengat dan membulirkan keringat. Karena lelah serta apa yang dicari telah ditemukan, kami memelankan laju perjalanan. Aku menikmati jalanan lagi, meresapi wilayah yang kan kutumpangi. Kusembulkan ucapan syukur ketika mengingat fasilitas dan respon warga serta aparat desanya.

Di sebuah belokan, aku dan kawan satu motor dijegal. Kami diminta menepi. Mereka rupanya ingin beristirahat sejenak. Gurat-gurat kelelahan begitu kencang terbaca di wajah mereka. Alhasil beberapa laki-laki pun terpaksa membatalkan puasa mereka. Diam-diam, kuhitung perjalanan kami yang kurang lebih 100-an km. Jumlah itu cukup menjadi alasan seorang musafir untuk berbuka, yakni 85 km. Kami mencoba saling memaklumi.

Aku turun dan melepaskan helm. Ah, sejuknya… Seketika, udara yang ramah menyeruak, mengipasi dahi dan kepenatan kami. Entah kebetulan atau memang temanku yang tahu keadaan, pemandangan di sana sangat indah. Kami diapit oleh tebing-tebing yang menjulang dengan pepohonannya yang hijau segar. Sementara di sisi kiri, mengalir sungai yang begitu dalam dan cukup bersih. Kami pun tak menyia-nyiakn kesempatan untuk berfoto, mengabadikan sebagian perjalanan yang cukup menguras segalanya.

Photo-0059

Mulanya kami berniat untuk berkumpul dulu di kampus 1 dan mengevaluasi hasil survey. Namun beberapa diantara kami keberatan dan meminta rapat itu dilaksanakan di sana juga. Sang ketua mengalah. Evalusi itupun dilakukan. Dalam terpaan angin, kami mengelupas apa-apa yang bisa kami bahas. Sekitar 20 menit kami menyelonjorkan kaki, membasuh lelah dan berdiskusi. Kamipun sepakat untuk langsung pulang ke rumah masing-masing. Kami, melanjutkan perjalanan.

Aku dan kawanku paling terakhir. Dalam perjalanan, sesekali kami mengobrolkan banyak hal. Terutama tentang rasa syukur atas sambutan masyarakat yang cukup antusias. Kami pun saling mengingatkan kemudahan yang didapat setelah sebelumnya mendapati perjalanan yang cukup pelik dan hampir menyulut perdebatan panjang.

Perjalanan yang membuihkan lelah itu berakhir dengan rasa pegal sekaligus puas. Ah, semoga program KKN kami lancar dan dapat diterima masyarakat sekitar. Amiin… [#RD]

Kuningan, 11 Agustus 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *