Amanat “Kesiapan Hidup”

Amanat “Kesiapan Hidup”

kesiapan hidup

Sensasi pagi seperti ini akan segera usai. Maka hal terbaik apa yang bisa kulakukan selain menikmatinya dalam-dalam???

Aku rasa, momen hiruk-pagi serta upacara bendera sudah mulai aus dimakan masa. Detik demi detiknya memang telah lantang menggaungkan aroma perpisahan. Ya, perpisahan atas semua kegiatan PPL ini. Aku serasa memiliki energy lain untuk makin bersemangat ke sekolah.

Energi itu cukup pula membawaku pergi ke sekolah lebih pagi, tidak mepet dari biasanya. Rutinitas seperti menunggu kendaraan di pinggir jalan, naik angkutan umum (berbaur dengan anak-anak sekolah dengan berbagai label, identitas dan karakter, ibu-ibu yang telah atau akan ke pasar, guru-guru, pegawai, warga yang memiliki keperluan dan orang-orang yang hendak berikhtiar lainnya), menyerahkan ongkos yang bikin supir pleus kondekturnya girang, menyeberangi jalan, berjalan berduyun-duyun dan saling salam-sapa. Sungguh, momen-momen itu akan kurindu. Sama halnya kerinduanku dengan masa SMA dulu.

Berbeda dari sebelumnya, atau mungkin karena aku ‘berhasil’ membujuk waktu, hari ini aku baru ditemani oleh rekan-rekan dari prodi Biologi saja (kecuali Ina yang memang tidak akan masuk). Namun syukurlah, tak lama kemudian rekan-rekanku yang lain datang. Kecuali ketuanya, adik beliau ternyata masuk Rumah Sakit dan memerlukan perhatian lebih, tentunya.

Di kantor, kami menghangatkan tubuh dan suasana dengan obrolan-obrolan ringan sampai berat. Dan namanya juga mengobrol dengan teman, se-serius dan se-berbobot apapun topiknya, tetap saja ‘relaxing’ dan ‘joyful’. Sesekali tawa kami berderai. Di sela-sela itu, beberapa anak OSIS mengambil peralatan upacara. Aku jadi teringat sesuatu,

“Mungkinkah petugas upacara sekarang itu anak OSIS? Duh… Aku jadi takut gak bisa menyaksikan X6 deh!”

Lalu kemudian, bel pertanda upacara dimulai telah berbunyi. Beberapa siswa (khususnya kelas X dan XI) dengan sigap memasukki lapangan upacara. Guru-guru yang bertanggung jawab dalam bidang kesiswaan pun segera turun tangan, ikut mengatur barisan. Perasaanku, semuanya berjalan begitu lama. Kami yang memang selalu menunggu peserta upacaranya rapi, malah masih bisa bersantai dan membicarakan banyak hal. Masih ada barisan peserta upacara yang kurang kondusif. O, mereka adalah kelas XII.

Tak lama kemudian, kami pun masuk lapangan. Baru saja aku mengutarakan keluhanku bahwa kemungkinan aku tak dapat menyaksikan X6 menjadi petugas upacara, mataku langsung menangkap sosok Danny yang menjadi pembawa teks pancasila. Syukurlah… aku bisa menyaksikan X5 dan X6 menjadi petugas dalam agenda rutin hari Senin.

Kali ini tak ada ‘partner’-ku untuk berdiri di barisan depan. Maka akupun mengambil barisan kedua, di belakang yang berdiri gagah untuk menjalankan tanggung jawab sesuai posisinya. Pembawa acara dipegang Cindy, pengibar benderanya Nurul, Novi ‘Sofhi’ dan Dewi, pemimpin upacaranya Dicky, guru-guru laki-laki. Namun begitu, aku masih sangat jelas menatap adik-adik didikkupembaca UUD 1945 Siska, penjemput Pembina Usep, pembaca doanya Septian, namun pemimpin oubade (lagi-lagi) memang dari petugas Paduan Suara Smansaka.

Ketika upacara belum dimulai, Pak Maman maju ke podium dan meraih mikrofon,

“Kelas XII mohon segera berbaris dengan kondusif. Gara-gara kalianlah, upacara ‘molor’ sekitar 20 menit.”

Acara pun dimulai. Upacara berjalan lebih khidmat dari biasanya. Suara kasak-kusuk yang khas disembulkan barisan peserta nyaris tak terdengar. Seperti yang kulakukan terhadap X5, akupun mencoba memperhatikan dengan detail kinerja petugas upacara X6. Cindy segera memandu upacara dengan sangat baik. Dicky, menurutku kurang ‘lepas’. Padahal karakter suaranya bisa lebih dioptimalkan untuk mendukung posisinya sebagai pemimpin upacara. Walau demikian, ia memiliki wibawa sebagai seorang pimpinan.

Selanjutnya acara vital dari upacara yaitu pengibaran bendera merah-putih. Nurul, Novi dan Dewi berjalan tegap dan seirama. Lalu mereka bertiga ‘diuji’ kekompakan lagi ketika hendak mengibarkan bendera. Sempat terjadi insiden kecil di mana benderanya masih terkait begitu Nurul hendak membentangkan bendera. Katrolnya terlihat ‘sulit’. Entahlah, mungkin karena tiangnya memang baru, sehingga perlu penyesuaian. Namun bagaimanapun, mereka adalah 3 tokoh penting dalam upacara. Pengendalian mental, tidak panik berlebih dan bertindak sigap sangat cukup menjadi alasan bahwa aku dan yang lainnya patut mengagumi mereka. Well done, Dear!

Selanjutnya pembacaan pancasila dan UUD 1945. Well… Aku kagum terhadap Siska, Sofhi X5 dan Tika X3 yang berhasil membacakan UUD 1945 dengan baik. Mereka mampu mengendalikan intonasi walau mesti membacakan teks panjang tersebut dengan lantang, apalagi di depan ratusan orang.

Berikutnya adalah amanat. Kali ini yang menjadi pembinanya adalah Bapak Kepala Sekolah, Pak Maryanto. Mengingat amanat-amanat beliau dalam upacara yang lalu-lalu, aku jadi menunggu topic-topik dari beliau. Sebelumnya beliau memuji peserta upacara yang memang khidmat. Tak lupa beliau juga ucapkan terima kasih kepada petugas upacara. Sungguh apresiasi sederhana namun berpengaruh besar!

“Topik amanat kali adalah ‘Pentingnya Ikhtiar dalam Menggapai Impian’. Setinggi apapun cita-cita kita, kalau tidak disertai ikhtiar itu omong kosong!” Beliau membuka amanat.
do more
“Contoh kecil ketika kita amat pengin memakan buah mangga dari pohon yang ada di depan kita. Jika tak ada ikhtiar, maka tak mungkin mangga tersebut tersedia begitu saja. Kita perlu melakukan sesuatu untuk meraihnya. Bisa dengan memanjat, menggunakan bamboo, melemparinya, dsb.

Banyak alumni yang mengeluh kepada Bapak tentang beratnya tugas kuliah, beratnya bekerja, beratnya mencari pekerjaan dst. Ketika Bapak ulik latar belakangnya, mereka adalah sosok-sosok yang semasa sekolah kurang berikhtiar dalam belajar, sehingga mereka ‘kaget’ ketika menerima tenggung jawab yang lebih berat di masa mendatang.

Beda lagi dengan beberapa alumnus lain yang malah bilang, cukup menikmati apa yang dihadapinya kini. Nah jelaslah… Zaman yang makin pesat, persaingan yang makin ketat serta kebutuhan hidup yang terus melonjak bukan menjadi alasan kita menggapai impian tanpa ikhtiar. Yang bilang hidup makin sulit atau biasa-biasa aja itu tergantung kesiapan pribadi masing-masing. Terlebih lagi nanti kita akan berbaur dengan masyarakat serta menghadapi berbagai problem yang ada di dalamnya.”

Selanjutnya beliau memberi ‘petuah’ khusus kepada kelas XII. Aku baru tahu kalau paket UN sekarang sejumlah 30. Itu artinya 1 siswa memiliki 1 soal yang berbeda. Ckckck… Walau aku termasuk orang yang kurang setuju akan system UN, namun tentu ada itikad baik dari pemerintah dan sekolah untuk menerapkannya. Sangat kumaklumi begitu melihat anak-anak kelas XII tertunduk, merenungi serta memikirkan banyak hal, mungkin. Aku juga pernah berada dalam posisi mereka. Sama-sama ‘galau’ dan ‘menggantung’. Hhh… amanat Bapak Kepsek terbilang cukup singkat. Beliaupun menyudahi amanatnya.

Tak terasa telah sampai pada doa dan pengumuman-pengumuman. Ada kabar baik ketika pengumuman. Kali ini tak ada kelas kotor, semuanya bersih. Yang terbersih kedua dipegang XII IPA 3 dan terbersih pertama masih diraih XII IPA 1. AKu jadi ingat XII IPA 1, zamanku; L E G E N T S 1. Wuih… masih keren kayak angkatan sebelumnya, ternyata. Hehehe…

Selanjutnya guru-guru melakukan ‘briefing’, kelas XII berkumpul dan kelas X dan XI masuk kelas. Sementara praktikan PPL yang tidak ‘diasuh’ ketuanya malah mengobrol dan poto-poto. Tapi wajar, kan? Kami hanya ingin mengabadikan sesuatu yang akan menjadi kenangan. Heuheu… [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *