Amanat “Tentang Kebebasan”

Amanat “Tentang Kebebasan”

tentang kebebasan

Senin, 04 Februari 2013

Hari ini adalah hari ke-enam mengajar sebagai praktikan PPL di SMAN 1 Kadugede. Seperti yang sebelum-sebelumnya, aku kembali berbaur dengan hiruk-pikuk suasana pagi; Menanti angkutan umum, berdesakkan, menyeberang menuju sekolah dengan ramai-ramai, dst. Nikmat sekali!

Hari itu aku sempat bertemu dengan Novi, teman sekelasku di kampus. Melihatnya, aku sempat diingatkan akan k u l i a h. Duh, jika boleh memilih lebih nyaman melaksanakan tugas PPL ketimbang menghadapi tugas2 akhirnya yang bervariasi. Mungkin karena PPL telah banyak menyajikan realitas administrasi pendidikan dan kegiatan belajar-mengajar. Sehingga, aku tak lagi berkutat dengan teori, melainkan terjun langsung dalam ranah dunia edukasi. Mungkin.

Tiba upacara. Aku masih bertahan di barisan depan. Jadi, panas dan pegal tak lagi jadi pengganjal. Hari itu yang jadi petugas upacara adalah kelas X3 (Senin kemarin tidak jadi, sebab ada gundukan pasir di lapangannya). Suasana sekarang agak berbeda dari sebelum-sebelumnya. Entah kenapa, aku rasa barisan peserta upacara begitu bergemuruh. Di minggu-minggu awal, aku sempat berkomentar kepada seorang teman kalau peserta upacaranya rapi dan khidmat, namun temanku balik komentar,

“Itu karena kamu ga di dalam barisan. Coba kalau kamu masuk barisan, pasti rame!”

Kali ini, memang dari luar barisan pun terdengar dengung obrolan peserta upacara. Tak terasa, urutan demi urutan upacara berlangsung lancar. Ketika pengibaran bendera, 3 petugasnya perempuan semua. Menurutku, langkah mereka itu terbaik dari semua petugas sebelumnya. Hanya saja, ada insiden kecil ketika bendera hendak dikibarkan – Hampir saja terlipat, namun dengan sigap sang petugas memperbaikinya, “Bendera siap!” serunya, begitu lantang.

Tim oubadenya lumayan lepas, namun timing antara oubade dengan bendera kurang sinkron. Hm, terlepas dari itu semua, mereka tetap hebat. Apalagi ketika pembacaan UUD 1945, ternyata yang membacanya adalah seorang gadis yang merupakan tetanggaku. Lagi2 aku beropini, dia adalah pembaca UUD 1945 yang sangat baik.

Tiba amanat Pembina upacara. Bapak Kepala Sekolah. Sebelum beliau mengucap salam, terlebih dahulu beliau memicingkan mata ke arah peserta upacara. Masih diam. Lalu, terdengar bunyi ‘ssst…’ dari ‘pelosok’ barisan peserta upacara. Alih2 mengingatkan, malah suasana gemuruh masih bertahan. Akhirnya, Pak Kepsek menegur barisan yang menurut pandangan beliau sangat mengganggu. Suasana mulai senyap. Malah tegang, kurasa. Bapak Kepsek diam lagi, mungkin berusaha mengendalikan diri, lalu membuka salam.

“Dari Senin ke Senin, setiap Pembina upacara selalu menyinggung tentang kedisiplinan kalian. Bagaimana sejenak meluangkan waktu untuk menghargai jalannya upacara bendera. Dan sekarang Bapak merasa berdosa jika kalian masih tidak disiplin. Bukan apa2, semua ini dalam rangka menjalankan tugas kami sebagai pendidik. Semua cara telah kami upayakan, dengan cara apa lagi kami harus mendidik kalian? Hm, terpaksa sedikit keras, jika kalian masih seperti ini,” beber beliau sambil sesekali menegur barisan yang terlihat mengobrol.

“Amanat sekarang bersifat incidental. Karena ada hal kecil yang membuat psikologis kita kurang nyaman, maka Bapak akan menjadikannya sebagai topic upacara hari ini, yaitu tentang k e b e b a s a n.” beliau menuturkan. Hm, topiknya cukup menggamit perhatian.
freedom
“Pada dasarnya, semua makhluk hidup itu bebas. Hewan mau lahir, tumbuh, makan, menjadi besar, b e b a s. Tumbuhan juga mau tumbuh, mekar, layu, b e b a s. Begitupun manusia, kecil, tumbuh, anak2, remaja, besar, dewasa, b e b a s. Bedanya, bebasnya manusia adalah bebas bertanggung jawab. Hewan mau be-a-be di sini (lapangan upacara) bebas-bebas aja. Kalau kita? Bebas sih, tapi apa bedanya dengan hewan?”

Kami tertawa.

“Sekarang bayangkan kalau petugas pengibar bendera mengibarkan bendera, pembaca UUD 1945 membaca UUD 1945 dan Bapak menyampaikan amanat secara bersamaan? Teratur tidak???”

“Tidak….” seru kami.

“Padahal bebas-bebas aja kami mau melakukan itu. Tapi semua ada waktunya. Kami punya tanggung jawab masing-masing, kapan mesti mengibarkan bendera, kapan mesti membaca UUD 1945 dan kapan mesti menyampaikan amanat. Kita bebas, tapi bertanggung jawab. Begitu pula dengan kalian. Bebas kok mau membicarakan suatu hal, tapi ada waktunya. Dan, upacara bukanlah waktu yang tepat!”

“Semestinya kamu belajar dari pengalaman. Senin sebelumnya ada diantara kamu yang ditegur, sekarang malah diulangi lagi. Dan tentu, ditegur lagi. Lebih keras, malah. Pasti kamu semua sudah tahu pepatah tentang ‘siapa saja yang melakukan kesalahan yang sama, lalu menerima akibat buruknya, adalah orang bodoh’. Bisa disimpulkan sendiri… Sekedar mengingatkan, manusia itu punya keunggulan dari binatang. Pertama, kita punya akal atau rasio. Kalau kalian terperosok ke dalam lubang yang sama, berarti ada yang kurang baik dalam rasio kalian. Ya, karena kalian sudah tahu akibat dari A adalah B. Akibat dari tidak disiplin adalah ditegur. “

Amanat beliau, meski terbilang incidental, namun sangat tertata. Diam2 aku mengagumi cara beliau mengkomunikasikan pesan. Padahal apa yang kutulis ini banyak yang tak tersampaikan. Ini hanya cuplikan2 dari amanat beliau yang amat panjang. Sampai2 kepalaku panas sebelah, karena memang matahari masih bertengger di sebelah timur. Teman2 praktikan PPL-ku pun saling melirik, secara implicit mengeluhkan panas dan pegal.

“Dan sebetulnya kalau kalian tidak menggunakan rasio, secara tidak langsung kalian menurunkan harga diri sendiri. Contohnya sekarang, yang ribut Bapak tegur, pasti kalian merasa malu sebab Bapak telah membuat harga diri kalian jatuh. Tapi sesungguhnya itu karena dari diri kalian sendiri. Yang kedua, yaitu rasa. Andai kalian yang berdiri di sini dan menyampaikan amanat upacara , terus peserta upacaranya ikut-ikutan berbicara, Bagaimana perasaan kalian? Di mana rasa menghargai para peserta upacara tersebut? Begitulah, manusia memiliki rasa yang tak dimiliki oleh makhluk lainnya.”

Aku yang berhadapan langsung dengan petugas upacara ‘mencurigai’ sang pemandu oubade untuk pingsan. Sering kudapati dia memperbaiki kerudung atau memegang kepala karena kepanasan. Dan, bug! Benar saja, ada yang pingsan. Namun dugaanku meleset. Yang pingsan justeru sang pembaca UUD 1945. Suasana sempat terusik. Beruntung, teman2 petugas upacara dan anggota OSIS dengan sigap mengevakusinya. Pak Kepsek memberhentikan penyampaian amanatnya sejenak, lalu,

“Sudah. Sudah ada yang menangangi. Yang ketiga yaitu kehendak atau cita-cita. Silakan tanyakan kepada hewan, kepada ayam contohnya. Apa mereka memiliki cita2 jika sudah besar nanti ingin memiliki bulu yang bagaimana, jambul yang bagaimana, dsb. Atau daun pohon kersen, apa punya cita2 suatu hari nanti daunnya ingin seperti daun pohon mangga, dsb. Tidak, kan? Sedangkan kita, manusi memiliki kehendak atau cita2. Sekarang ini, kamu sedang dalam proses pencapaian cita2 tersebut. Di sini juga kamu sedang dididik agar berkarakter baik.

Demikianlah dalam hidup… Kita mesti belajar untuk belajar atau learning to learn, serta belajar untuk melakukan atau learning to do dan belajar untuk hidup bersama atau learning to live together. Seperti sekarang, kita hidup bersama di lingkungan sekolah. Tahu aturannya, tahu bagaimana pergaulannya, tahu bagaimana prosedurnya, tidak mengedepankan ego. Hm, pasti Bapak yakin omongan Bapak ini mengandung ‘kepahitan’ bagi diri kalian. Tapi percayalah, ini semua adalah obat demi membuatmu berubah ke arah yang baik,” pungkas beliau.

Aku melonggarkan otot-otot yang lumayan menegang. Tiba acara pengumuman2. Sang Guru Bilogi sekaligu Lingkungan Hidup maju ke podium, mengumumkan juara kebersihan. Kali ini berbeda, beliau mengabsen satu per satu kelas X1 sampai kelas X9, XI IPA 1-4, XI IPS 1-5, XII IPA 1-3 dan XII IPS 1-4. Satu persatu beliau menyebutkan status kelasnya; bersih atau tidak. Terakhir beliau beberkan kelas terkotor dan kelas terbersih. Masing2 ‘juara’, melalui KM-nya, menerima bendera. Peserta upacara ke,bali bergemuruh.

Aku dan kawan praktikan PPL lalu menuju mushola. Ah, dingin dan damai menyeruak…. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *