Amanat “Tentang Waktu”

Amanat “Tentang Waktu”

tentang waktu

Senin, 11 Februari 2013

Pagi ini, lagi-lagi, aku ‘memendam’ keinginan untuk berangkat awal. Selain cukup bosan dengan ketergesa-gesaan, aku ingin lebih ‘khusyuk’ menikmati hiruk-pikuk pagi. Bukankah kenikmatan itu lebih afdhol jika diresapi dalam suasananya santai? Hehehe… Maklum juga, minggu-minggu sekarang bisa dikatakan sebagai ‘minggu-minggu jelang PPL usai’. Jadi sebelum momen ini berstatus kenangan, tak ada salahnya jika kita bikin berkesan, kan?

Sayang duaributigabelas sayang, aku malah kesiangan. Aku memang bangun pagi, namun tidak bisa dikatakan ‘well prepared’. Keputusanku untuk mengganti tas, membuatku sedikit kelabakan dalam menyiapkan apa saja yang perlu dibawa dan ‘popping it’ ke dalam tas. Terlebih lagi, aku yang memang menggunakan jasa transportasi umum, kurang bisa memprediksikan betapa jasa tersebut sangat diminati di Senin pagi. Alhasil, mentari muda mulai mengangakan sinarnya sewaktu aku ‘lolos’ berangkat. Sempat terpikir olehku untuk tidak ikut upacara saja, toh sebenarnya jadwalku itu jam ke 4-5. Tetapi, aku menetapkan hati,

“Hey, kamu sedang belajar menjadi guru yang baik dan benar!”

Syukurlah aku bisa sampai ke sekolah, tepat ketika anak2 sedang memperindah barisan. Yaaa walaupun satpam sekolah yang murah senyum itu sempat mencandaiku, 😀

“Ayo, Bu. Lari, Bu!”

Tanpa menurutkan komando beliau, aku hanya berjalan cepat, merespon candaan dan segera bergabung dengan rekan-rekan PPL. Teh Itha dari PE kedengaran memanggil-manggilku sewaktu kami hendak baris. Sudah kuduga, aku diminta berdiri di barisan depan (lagi). -__-‘

Upacara sekarang di-handle oleh anak2 kelas X4. Dari hari ke hari, semakin rapi. Barisan peserta upacara pun tidak lagi mendengung. Mungkin cuacanya ‘cloudy’ gitu, jadi kami sedikit merasa lebih nyaman. Upacara pun dimulai. Kali ini aku terkesan dengan sang pemimpin upacara. Suaranya ‘berat’ dan terkesan gagah dalam memberi komando. Ketika pengibaran bendera merah putih, petugasnya begitu tegap dalam melangkah. Kudengar juga tim oubade sekarang begitu bagus. Walau awam, namun dalam hati aku berkomentar,

“Kayak suara 1 suara 2.”

Rupanya, Pak Guru Sejarah di pinggirku juga berkomentar demikian. Sama seperti minggu lalu, bendera dan lagu kurang sinkron sedikit. Namun suasana begitu khidmat, sehingga ketika sang Pembina upacara, Ibu wali kelas X4 menyampaikan amanatnya, tak terdengar keluhan atau teguran untuk para peserta upacara.

Amanat beliau adalah sesuatu hal yang sering digaungkan, namun selalu menarik untuk dibahas berulang-ulang. Memang topic tersebut mampu jadi ‘alarm’ kita dalam melaksanakan apapun. Ya, topiknya seputar ‘Betapa berharganya waktu!’ Sebenarnya aku sedikit tersindir. Bagaimana tidak, hampir saja aku kehilangan momen upacara hanya gara2 ‘time management’ yang buruk. Hehehe

Dalam amanatnya yang cukup singkat itu, beliau memaparkan bahwa kita mesti mempergunakan waktu sebaiknya. Aku yang selalu kebagian piket bareng beliau sering mendapati anak2 yang kesiangan. Konsekuensinya, mereka ketinggalan satu jam pelajaran. Entah dihukum mengambil absen, membersihkan kantor/TU, menyapu halaman, dst. Kata beliau,

“Sayang sekali. Satu jam pelajaran yang semestinya digunakan untuk mengais ilmu, malah terbuang gara-gara keteledoran sendiri dalam mengatur waktu.”

Lanjut beliau lagi,

“Kalau kita menyia-nyiakan waktu, berarti kita termasuk golongan orang yang merugi. Sebab, waktu yang telah berlalu tak akan bisa kembali lagi.”

Sambil mendengarkan beliau, aku mengangguk-angguk. Kepalaku serasa dibentur-benturkan, betapa selama ini banyak detik-detik yang tercecer percuma. Hum….

Lalu, beliau juga menasehati kelas XII agar lebih focus belajar demi menghadapi Ujian Nasional. Apalagi beliau menambahkan, “Di sekolah itu ada fasilitas ‘pemantapan’. Gunakanlah itu untuk memantapkan UN-mu. Rugi sekali kalau izin yang tidak perlu atau bahkan sengaja bolos sama-sekali.”

Hhh, ujian tersebut memang manjadi momok yang mengerikan bagi siswa. Aku lihat para siswa kelas XII menujukan perhatiannya penuh pada sang Pembina. Ketika Pembina mengutarakan harapan kelancaran dan kesuksesan UN, mereka mengucapkan ‘aamiin’ berulang-ulang. Duh, jadi ingat masa lalu. Semuanya memang terasa capek, membingungkan. Betapa pada masa itu kita menggantungkan harapan untuk lulus. Namun usaha maksimal sangat memungkinkan hasil yang optimal, bukan?

Upacara itu berlangsung cepat, kurasa. Selanjutnya, kami melakukan ‘briefing’. Ya seputar piket, kelncaran KBM, ‘masalah internal praktikan’, sampai saling sharing. Sebenarnya perbedaan mewarnai kinerja dan kebersamaan kami. Konflik-konflik kecil meletup-letup. Namun tentunya, semua itu juga terjadi untuk mendapatkan resolusi yang terbaik.

Tak berlangsung cukup lama, kini praktikan terpecah pada prodinya masing2. Bukan berarti terbentuk ‘geng’, namun kami memang diskusi seputar materi. Prodi Bahasa Inggris lebih memilih berkumpul di ‘saung’, kecuali aku. Aku menuju kantor, hendak menemui guru pamong. Tetapi melihat beliau sedang mengobrol, aku merasa tidak enak. Akhirnya aku bergabung dengan praktikan yang tengah jaga. Obrolan demi obrolan pendek tercipta.

Oh ya, ada seorang siswa laki-laki yang kuperhatikan ternyata sangat sering menyalamiku dalam waktu lama. Dia bukan seseorang yang aku ajar. Seingatku dia mulai melakukan ‘salam’ semenjak 23 Januari 2013. Hampir setiap aku ada jadwal, entah itu anak datang dari mana, dia menyalamiku kurang lebih 2-4 kali sehari. Yang kadang bikin aku kesal, ketika aku tengah berembuk dengan rekan2 PPL, dia hanya menyalamiku saja dan melintas begitu saja. Apalagi ketika aku jaga/piket. Sampai2, aku jadi hapal namanya dari papan nama di sakunya dan belakangan kutahu, dia adalah anak kelas XII. Hm, ada2 saja.

Time (1)

Jelang memasuki kelas, aku konsultasi dengan Bu Hj.Iin. Beliau hanya meminta RPP-ku. Aku bilang,

“Bu, teman2 dari PBI pengin masuk ke kelas. Boleh, kan?”

“Boleh, buat dokumentasi juga.”

Ya, aku memang selalu menawarkan kepada teman2 agar melihat ‘penampilanku’ di kelas. Hari itu, mereka 4 orang, memang sangat berminat untuk masuk. Terlebih lagi Uus menawarkan diri menjadi ‘penjepret’ keadaanku di kelas. Hehehe… Selain agar mereka tahu suasana kelas yang kuajar, aku pun merasa ‘siapa tahu’ dapat kritik dan saran dari mereka. Itu, tentu akan sangat berguna! [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *