Apa sih Istimewanya, Kamu?

Apa sih Istimewanya, Kamu?

apa sih hebatnya kamu

Nah, bagaimana perasaan kita ketika ditanya demikian? Apa senang? marah? atau malah bingung? ^_^

Entah apa maksud dari Si Penanya, yang pasti isi paling jujurnya hanya dia dan Tuhan yang paham. Ya terus terang saja… pertama kali membaca pertanyaan dari akun fesbuk yang asing itu, aku serasa ditodong tantangan dengan kesan menyepelekan. Sebenarnya pertanyaan tersebut lengkapnya seperti ini:

“Maaf ya, xxxx (panggilan untukku). Aku heran sama xxxx. Apa sih istimewanya xxxx sampai2 dia ngebet banget sama xxxx?”

Memang, percakapan tersebut didominasi oleh pertanyaan-pertanyaannya. Sayang sekali, tiap jawaban yang aku lontarkan (menurutku) selalu direspon negatif. Kalau jawabanku singkat, dia bilang “Bohong”, “Gak usah pura2”, dst. Kalau panjang, dia komen lagi, “Berputar-putar”. Selalu saja pemahaman kami berseberangan.

Padahal… aku bisa saja menjawab, “It’s not your business” alias “Ini bukan urusanmu”. Tapi awalnya yang cukup baik, membuatku sedikit mencoba bersikap hangat. Terlebih, nama perasaan yang ia bawa cukup menarik simpatik. Aku juga berpikir sangat sederhana; selama aku tahu jawaban dari apa yang ia tanyakan, kenapa tidak?

Kembali ke pertanyaan awal. (Tadinya) ingin sekali aku menyemburkan kalimat-kalimat sebagai luapan kejengahan. Tapi, hhh… Sedikit beruntung, hal itu urung kulakukan. Sisi baik dalam hati meng-ultimatum: Kata-kata buruk akan menjadi kesan terburuk. Jadi, kuputuskan saja untuk sesegera mungkin menutup layar fesbuk dan ‘meniriskan’ emosi.

Barulah beberapa waktu kemudian, aku menjawab (semoga tidak menyakitinya):
“Wah kalo itu bisa tanya dia aja.”

Setelah dipikir-pikir… dia memang benar, “Apa sih istimewanya Kamu?”
Atau, jika aku ganti dan bicarakan pada diri sendiri, “Apa sih istimewanya aku?”

Pertanyaan itu lambat laun membawaku pada suatu kesadaran akan ketidaksempurnaan seorang manusia. Sialnya… kadang sedikit jabatan bagus, kesuksesan, prestasi, pencapaian, kekayaan, bakat, popularitas atau hal-hal baik yang Tuhan anugerahkan telah mengkabuti pandangan kita. Merasa hebat lah, punya kedudukan lah, reputasi lah, keren lah, dst. Tanpa terasa, kabut itu meng-amnesia-kan siapa kita – makhluk biasa, yang memiliki waktu kelahiran dan kelak akan bertemu dengan waktu kematian. Kesuksesan, jabatan, harta dsb tak berguna lagi.

“Apa sih istimewanya aku?”

Setinggi apapun kedudukannya, semelimpah apapun hartanya, sejelita apapun fisiknya, sekuat apapun raganya… semuanya tak abadi untuk dimiliki dan dibanggakan. Iya, siapalah kita tanpa Tuhan. Saking kerdilnya, seluruh manusia akan kembali bersemayam di bawah tanah – sesuatu yang bahkan diinjak-injak alas kaki kita. T_T

Tuhan yang Maha Tahu betapa bermanfaatnya pertanyaan semcam itu – Apa sih istimewanya kamu (aku)? [#RD]

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *