Bentang Kenangan KKN (Hari 1-3)

Bentang Kenangan KKN (Hari 1-3)

tolong-menolong

Hari Pertama: Senin, 03 September 2012

Jika dikata-katakan, jujur saja, tak ada kata yang ‘pas’ jelang keberangkatan ke lokasi KKN. Semuanya kulakukan dengan niat menjalani prosedur kampus saja. Pagi itu, tanggal 03 September 2012, aku dan kawan-kawan berangkat pada pukul 9-an. Aku, Teh Herni dan A Yohan memilih berangkat lewat elf, sedangkan yang lainnya ada yang memakai mobil pribadi serta motor. Mulanya sempat ada yang menawarkan tumpangan mobil pribadi untuk peserta KKN perempuan, namun aku prediksi mobil tersebut akan sesak. Menurutku, kurang menyenangkan jika berdesakan di mobil dalam kondisi panas serta perjalanan cukup jauh.

Dari gerbang, satpam mengarahkan telunjuk ke kanan. O, jalan Cibingbin. Kuperhatikan gelagat sang sopir. Dia menuruti arah itu. Kepala dan matanya awas menengok kaca spion, memastikan ada mobil lain yang membuntutinya, serta terus memicingkan mata menatap mobil lain telah di depan. Ponsel miliknya pun tak lepas ia genggam. Beberapa kali ia berhubungan dengan rekan sesama sopir, kurasa. Menanyakan jalan, arah, royalti, ciri-ciri elf, dsb.

desa tempat KKN, Tips menghadapi KKN, KKN di desa, Kenang-kenangan saat KKN

KKN

Teh Herni dan A Yohan memilih tidur. Aku sendiri terjaga dari awal hingga sampai. Tak ingin rasanya aku melewati penelusuran jalan ke lokasi KKN-ku itu. Kunikmati semua panorama yang dihantarkan perjalanan. Memahami petunjuk jalan, keadaan cuaca yang gerah, tulisan ‘Selamat Jalan’ dan ‘Selamat Datang’ di gapura-gapura, orang-orang, tanaman, dsb. Kata sang sopir, kita mesti berhenti di kecamatan masing-masing dulu untuk pembukaan. Jujur, aku malas. Beruntung, ketika hendak menuju kecamatan, ada seorang pria memakai baju dinas khas aparat desa. Beliau menawarkan diri untuk menjadi penunjuk arah ke Kubang Jero. Kami pun mengikuti. Di tengah jalan, ada pria lagi, lebih tua. Belakangan kutahu, dialah Kepala Desa Kubang Jero, Pak Tisnan. Sekitar 2 jam-an, kami sampai di depan bale Desa Kubang Jero.

Sambutan aparat desa sangat ramah. Namun Pak Carik atau sekdes-lah yang mendominasi obrolan. Pak Kades-nya hanya sesekali menambahkan sambil terus menyembulkan asap rokok dari bibir abu-nya. Tak lama, kami dan sang sopir disuruh untuk membereskan barang-barang serta istirahat di rumah persinggahan, tepatnya rumah Pak Maskat/Ibu Kinah.
“Silakan sekarang istirahat aja. Besok pada maen ke sini, pengin tau nama, fakultas serta program masing-masing peserta KKN,” ucap pak Sekdes, sampai akhirnya aku dan Teh Herni keluar, menyusul A Yohan dan sopir yang ternyata telah parkir di depan rumah.

Aku agak tercenung membayangkan waktu untuk mengabdi sekaligus mengais ilmu selama kurang lebih satu bulan di desa orang. Cuacanya mulai menampakkan diri. Panas dan kerontang. Malah daun-daun pun jarang goyang. Angin yang berhembus seakan enggan menghantarkan kesegaran.

Perlahan, teman-temanku yang lain berdatangan. Kami saling membantu mengangkut barang-barang, mengatur tata letaknya, beres-beres, dsb. Kegiatan selanjutnya hanya istirahat, menyantap cemilan dan menyambangi ibu-ibu serta warga lainnya yang mungkin penasaran dengan ‘kegaduhan’ kecil di rumah Pak Ekot (sapaan akrab bagi Pak Maskat). Selain udaranya panas, ciri lain yang tak lepas dari desa tersebut adalah pemakaian Basa Sunda yang berbeda, baik secara kosa kata maupun logatnya. Ah ya, daerah perbatasan ini unik karena pemakaian bahasanya didominasi oleh sunda, sedangkan jawa malah tidak dimengerti atau dipakai sama-sekali. Warganya ramah dan terkesan cukup religius, terutama bapak-bapaknya.

Mayoritas dari kami menyatakan ‘tidak betah’. Aku sendiri merasa tidak betah dengan cuacanya, belum keseluruhan. Acara hari pertama hanya pendekatan internal saja. Saling sapa dan senyum. Malam harinya, barulah diadakan briefing perdana. Di sela-sela obrolan yang mestinya serius itu, tercetuskan beberapa banyolan yang makin mengakrabkan hati dan mengahangatkan suasana. Briefing pertama yang lumayan panjang. [*]

Hari Kedua: Selasa, 04 September 2012

Bangun tidur agak siang, sebab sedang ‘halangan’. Yang kuingat, aku bermimpi berbaur dengan anak-anak. Semula aku agak memikirkan artinya, namun lama-lama kuabaikan saja. Sekitar jam setengah 8-an, ketua kelompok, A Akmal, memintaku membeli ATK. Ditemani A Yohan, kami pun menunaikannya. Kami membeli pulpen, spidol, amplop, map, steples, kertas 1 rim, dst, sekitar 100-an ribu, termasuk kartu perdana XX dengan kode Tegal seharga Rp. 6000. Pulang-pulang langsung makan.

Rombongan KKN

Usai makan, kami ke bale desa. Sesuai rencana, kami memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan program yang ditawarkan untuk Desa Kubangjero. Pak sekdes yang menyambut sekaligus mendominasi obrolan, berbeda dengan Kades-nya. Setelah selesai, kami mampir ke SDN Kubangjero. Di SD, kami disambut oleh perwakilan kepala sekolah. Beliau perempuan berusia 56 tahun bernama Cristiani, asal Bantul. Beliau seorang katolik dengan gaya rock n roll. Obrolan kami seputar permohonan untuk ikut mengajar, melaksanakan program FKIP. Orbrolan kami sambung-menyambung ke tema lain, termasuk tentang saran beliau untuk memisah tempat tinggal antara perempuan dan laki-laki. Tapi itu berat, sebab tak ada lagi rumah untuk singgah, lagipula kami rasa kami akan menjaga diri apalagi situasi rumah berdempetan dengan tetangga, termasuk dengan rumah yang didiami Pak Ekot (rumah adiknya).

Obrolan memanjang ke arah desa itu sendiri, tentang kekurangan desa dan tentang warganya yang kritis. Sementara laki-laki yang seperti guru sekaligus asistennya itu terus mengunyah permen karet (belakangan kutahu namanya Pak Bambang, wali kelas 5). Kata Bu Kris (sapaan akrab beliau), yang melanjutkan sekolah itu kebanyakannya anak-anak pegawai. Mayoritas yang cewe nikah, dan cowo merantau. Tempatnya jauh2, biasanya di luar pulau Jawa, seperti Kalimantan dan Sulawesi. Biasanya menjadi kuli bangunan atau pembuatan jalan.

Siangnya berbaur dengan ibu-ibu. Sengaja kami geletakkan camilan berupa makaroni dan kripik pisang, namun mereka seperti enggan. Kami membicarakan budaya, kegiatan-kegiatan dan desa itu sendiri. Mereka diam-diam memperhatikan logat bicara kita, terutama saat Teh Nena yang bicara. Mereka tidak tertarik saat bahasa kita terdengar intelek, menggunakan Bahasa Nasional dan membicarakan keunggulan Kuningan yang secara tidak langsung meng-under estimate daerah mereka sendiri. Mereka kemudian makin antusias ketika diberi teh botol yang dibeli aindra. Mereka kegirangan dan saling memanggil untuk berbagi minuman tersebut. Obrolan kami makin hangat, terbuka dan ‘nyambung’. Rumah mereka berdekatan dan hampir serupa. Ternyata mereka semua saling bersaudara.

Sorenya kami melatih pramuka, tentang PBB dan semaphure. Jelas nampak raut tegang dalam wajah anak-anak. Aku dan rekan-rekan mencoba mencairkan suasana. Usai ‘ngaso’ (istirahat), kami masuk kelas. Di kelas, aku menemukan secarik kertas dengan sebait puisi:
“Ya Tuhan aku cinta dia. Aku ingin dia selalu ada di hatiku. Aku akan selalu menyanyanginya sepenuh hatiku. Ya Tuhan nyatakanlah doaku ini.” (Runaita dalam buku tulis matematika kelas 6)
Aku hanya menggeleng-geleng.

Hari Ketiga: Rabu, 05 September 2012

Pagi-pagi. Bangun dan mandi. Kuseduh susu coklat. Lalu menyempatkan pup dan ngobrol2. Kami makan acar, orek tempe dan sop kambing yang tentu tak kumakan. Kami ke SD, meminta materi pelajaran. Wali kelas 4, Bu Cuciyati bilang, “Duh… Jadi pengin muda lagi melihat kalian!”
Adapun materi Bahasa Inggris kelas 4 “Part of House”, kelas 5 “Telling Time” dan 6 “Degrees of Comparison”.

anak-anak di lokasi KKN

Lalu, ke posyandu untuk menimbang bayi, tp pesertanya dikit. Kata ibu2 pengurusnya, kecuali kalo diberi sembako, pasti banyak. Sedangkan waktu itu hanya diberi biskuit bayi dan malah dijadikan camilan oleh ibu2 kadernya. Terus ke rumah, ngobrol2 sampai A DS memelorotkan celana AS dan bokongnya telihat di depan kami semua. Aksi itu menjadi bahan tertawa yang panjang . Jelang jam 3 mengajar pramuka, tentang tali-temali dan pahlawan nasional. Aku yang membimbing tebak2an foto pahlwan dengan mengajarkan ‘toss’ ala Uli (teman semasa SMA). Seru!

Pas mau magrib, temanku, Uji, pengin es krim. Jadilah Ayohan mengajakku untuk membelinya. Dia menjajaniku conello mocha dalam wadah. [#RD]

*Catatan 12 Oktober 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *