Bentang Kenangan KKN (Hari 10-12)

Bentang Kenangan KKN (Hari 10-12)

KKn 4

Hari kesepuluh: Rabu, 11 September 2012

Aku bangun cukup siang. Aku dan Teh Tuti ke mesjid untuk sholat, meski mentari telah nampak. Pas pulang, ada kabar kalo gak ada. Aku galau… nena yang bukan piket, tp bersih2. Rupanya dia, bu yusi, nia dan bunila mau mudik. Qta bahagia. Aku mandi agak siang, cuz memang jadwalnya habis istirahat. Kami dsuguhi teh hangat dan kudapan lainnya kyk biasa. Rasanya tehnya akn selalu kurindu. Enak, suer! Aku mengajar kelas 4, tentang preposition. Mereka cukup lola, tp lama2 ngerti juga. Harus super sabar.

Lalu bu cuci bertany, “ada berapa orang?” aku jawab 7 eh 9 orang. Istrhat kedua bu cuci bilang, “ayo makn karedok dulu” aku bilang tanggung, nanti aja pas pualng. Aku tak sengaja melihat Jeki mnggambar macan, gajah dan iring2an burok. Kusuruh aja dia menggambr di papan tulis white board, yang kemudian ditiru siswa. Sengaja kulakukan sebagai apresiasi an mitvasi.

Aku sempatkan berfoto dengan mereka. Lalu dtg byusi dan menyuruhku makan. Maka kamipun makan ketoprak banjar yang pedas namun lontongnya enak, dan tak kuhabiskan semuanya krn pedas. Pulang, santai…ngbrolin cwo dengan teh nila yang berulangkali bilang,” cewe itu mesti materialistik!” pas asar, membina pensi pramuka dan penampilan lain yang mesti ada gerakannya. Lumayan menghibur.

Hari kesebelas: Kamis, 12 September 2012

Alhamdulillaah, kumandang sholawat sebelum subuh selalu berhasil membangunkanku. Dalam suasana yang masih terbilang hening itu aku bisa pup+nyuci piring dan baju dan mukena+mandi+menjemur dengan leluasa. Karena hari ini aku piket, kurencanakan saja untuk menghabiskan waktu di rumah. Beruntung, setrikaan yang seabreg itu dikerjakan Teh Enah. Beliau menyetrika sampai agak siang, saking banyaknya. Pakaian yang kujemur subuh pun sudah kering dan kusempatkan saja untuk disetrika, termasuk jaket KKN.

Kenang kenangan saat kkn, singkatan kkn, kkn adalah, tips ketika kkn, acara ultah kkn

anak-anak di lokasi KKN

Denger2, orang LPPM mau memonitor. Kamipun mengisi jurnal kegiatan harian KKN. Kolom yang tersedia hanya 19, sedangkan kegiatan kami tentu saja 27 hari. Setelah itu kami makan2, ngobrol2, dan aku mencoba membuat konsep cerdas cermat. Siangnya nonton film, lalu Teh Nena dan Nia datang, rumah rame lagi. Tak lama, datang pula Teh Herni. Hanya saja, A Agus dan A Yohan yang pulang.

“Bikin bolu, yuk?!” ajak Nia.

Tak lama ada kabar, kebetulan Dhea ultah. Kami pun sepakat membuat bolu dengan si ibu untuk memberi sedikit surprise kepada Dhea. Aku, Nia dan Teh Enah membantu proses pembuatannya, tepatnya melihat dan memperhatikan saja sambil menunggu kalau-kalau si ibu membutuhkan sesuatu, semisal sendok.

“Semenjak kecelakaan, Ibu teh sakit kakinya,” Si Ibu membuka obrolan sewaktu ia meringis hendak bangkit.

“Kapan kecelakaannya, Bu? Di mana?”

“Udah lama, ih… waktu naik motor, di Pende. Malah ibu gak bisa jalan sebulan. Sakit…”

“Ya ampun, ada-ada aja…”

“Iya, pan Si Bapak hampir mau nonjok orangnya. Udah mencak-mencak bawa golok lagi?! Padahal yang nabrak itu mantan Kades…”

“Itu saking sayangnya Si Bapak sama Ibu…”

Si Ibu tersipu. Tak terasa, magrib tiba. Aku sholat berjamaah dan ngobrol2 dengan Anti, Laili dan Ida kelas 4. Tentang bebene (pacar) masing2; Haris, Saif dan Susanto yang dipanggil Susan. Lucu. Ketika mereka menutupi muka karena malu, tawaku berderai2. Anti bilang,

“Ka, Ida ngajak janjian di sawah sama Susan.”

“Tapi Susannya menolak, hadeuh…” Laili menambahkan.

Ida hanya senyum2 getir sambil protes “Nggak!”

Aku bilang, “Ah, ngajak janjian kok di sawah? Kayak Novi dan Rival saja!” (gosip yang dulu sempat mereka ceritakan).

Mereka tertawa. Leli bilang, “Janjian mah d perempatan, Ida!”

Anti menimpali, “di mall aja. Eh, mall sih apa, Kak? Kayak gimana, ya? Ada water park kali, ya?”

Hahaha… semuanya tertawa, termasuk aku. Pulang dari mesjid, les. Entah kenapa, pesertanya turun. Baru aja mulai dan aku tengah memberikan ‘opening’, selebrasi ultah Dhea udah dilakukan. Tentu konsentrasi anak2 pecah, aku biarkan saja. Toh tak lama, normal lagi.

Aku melanjutkan pelajaran. Lega rasanya melihat bibir mereka melukiskan huruf ‘0’ tanda paham akan sebuah pengajaran. Usai les, Teh Herni ngajak nonton film Korea, Wedding Dress. Aku dan teman2 antusias. Tp krn suasana rumah begitu ramai, maka acara nontonnya dprediksikan akan kacau jika memang tontonnya mellow, tak sesuai dengan kondisi rumah. Kami nonton za film horor. Aku sendiri takut jika harus terbayang2 penampakan anehnya. Maka kupilih tidur, berdekatan dengan Fuji. Tak lama, Irna mengapitku.

Aku tidur cukup nyenyak, tapi aku terbangun d pertengahan malam begitu mendengar anak2 cowo. mereka masih mengobrol. Mau tak mau, aku menguping. Obrolan mereka tentang…. anak kambing yang baru dilahirkan. Konon kabarnya ari2 sang kambing diincar Neng Kun2 (Kuntilanak). Jadi itu alasannya kenapa cwo masih mengobrol dan terdengar ‘panas’!

Hari kedua belas: Jumat, 13 September 2012

Bangun pas adzan, akupun menyuci piring dan mandi. Setelah itu aku bersih2 diluar. Tak lama ada ibu-ibu menjajakan makanan, tepatnya nasi kuning dan lengko.

“Beli, yuk?!” ajaknya. Aku tak menolak.

Kamipun memakan nasi kuning seharga Rp. 2000, minum teh manis, dan makan roti+mentega. Kebetulan SD libur karena sebagian siswanya kemah. Suasana sekolah begitu dingin dan hening.

Tak lama, AAkmal menyuruhku untuk ikut ke lokasi kemah. Dia berangkat duluan untuk melihat kondisinya terlebih dahulu. Selang beberapa menit, datang SMS darinya,

“Eh nanti aja ke sininya, sekarang mah lagi bikin tenda dulu.”

Oh, Ya sudah aku duduk saja sambil makan melon, terus nonton wedding dress. Lumayan sedih dan sempat membuat mata berkabut. Kami menonton sambil ngemil dan minum Big Cola yang dibeli Aindra. Di tengah2 acara nonton, Teh Lena dan Dedek Ahal nelpon, kuurai dulu rasa rindu. Cukup lama. Tapi kemudian aku lanjut lagi nonton. Ceritanya sedih, apalagi kalo nontonnya fokus tanpa dicampur dongengya Teh Nena. Hehehe… Aku tertidur, tapi hanya sebentar. Bangun, bersih2 mesjid dan luarnya. Aku sendiri memilih menyapu di dalam.

Maghrib tiba, kami berjamaah dengan nyaman karena asri dan bersih. Aku dan teman-teman bergosip tentang seksualitas. Tak terasa, telah Isya. Kami berjamaah, les, tidur. Tengah malam sempat terbangun dan Ansor berseru layaknya pembina pramuka,

“Bangun… Bangun… Piket..”

Teh Enah yang terus ngelindur dan tidur di sisi kiriku sewot. Apalagi ketika Ansor mematikan lampu,

”Sia, paehan ku aing!” (Kubunuh kamu!)

Ansor dengan cepat menyalakan lampu. Kulihat Teh Enah telah terlelap lagi 😀 [#RD]

*Catatan 01 November 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *