Bentang Kenangan KKN (Hari 13-15)

Bentang Kenangan KKN (Hari 13-15)

KKn 5

Hari ketiga belas: Sabtu, 14 September 2012

Bangun, mandi, dan keramas. Aku jalan2 keliling kampung sambil minum air mineral bermerk Total + ngemil jajanan+beli kopi nescafe, beli bubur ayam, santai, makan dengan suir ayam rica2, lalu kedatangan Euis dan Azis, anak-anak prodi Biologi dari kelompok lain.

Kami memakan makanan jajanan Kubang Jero; gemblong, kalo di kita kayak getuk, tapi asin dan pake kelapa. Kurang sesuai dengan seleraku. Aku lebih suka kue yang satunya lagi, gulungan kacang ijo yang dilapisi tepung tipis. 

Dzuhur, aku sholat di mesjid dengan Euis juga. Setelah itu, aku main badminton. Lalu Fuji dan Teh Enah ada yang ngjemput, mereka pulang pake mobil kijang. Kami lalu makan bengkuang pleus sambal kacang buatan Teh Nena. Teh Irna datang bawa banyak makanan. Aku makan roti golden sambil nonton film ma Ayohan dan Teh Lissy yang ternyata tidur. Film ‘perempuan liar’ tak ramai dan kurang kusuka.

Aku udahan aja dan memilih ngobrol via telepon ma inoy yang galau krn pacarnya. Aku lalu mandi, ngobrol2, sholat magrib dan isya berjamaah. Ba’da sholat, aku ke tempat kemping, yang seperti pasar malam. Rame banget! Orang, kedai makanan dan kendaraan berdesakan di bahu jalan. Begitu memasuki lokasi, api unggun tengah menari-nari. Aku menuju ke tenda terlebih dahulu. Bertemu Aca dan Eka dari Cihaur.

contoh laporan kkn, kkn ugm, tentang kknAku dan teh Lissy pun mendampingi anak2 cewe, Grup Kenanga, untuk pensi. Urutan tampil mereka ke- 13. Mereka seperti kelelahan dan lapar. Kami beli aja martabak dan minuman mineral gelas dari kocek pribadi. Pensi kelompok lain menggunakan kaset dan alat-alat musik modern, padahal dalam peraturan, hal itu dilarang. Oh ya, pembawa acara yang memandu pertunjukan itu, kalau kata anak zaman sekarang ‘Gaje’. Ketika peserta unjuk kebolehan, dia ada bergabung dan terkesan merecokinya. Berlenggak-lenggok, ikut memainkan alat musik, berbicara untuk berkomentar atau apapun itu, yang membuatku ingin segera melihat anak2 tampil dan pergi. Sungguh garing.

Akhirnya, merekapun tampil, menampilkan karyaku; Puisi berantai berjudul ‘Untuk Sahabat’ dengan campuran lagu di dalamnya. Bagus, walo gak sesuai harapan karena Elva dijemput pulang. Namun beruntung, ada yang mengganti menghapal bait bagiannya. Pulang, nyari2 mie ayam. Pada habis, akhirnya cuma membeli dan makan martabak manis.

Hari keempat belas: Minggu, 15 September 2012

Seperti biasa aku bangun, mandi, sholat, cuci piring dan jalan2 keliling kampung. Pulang-pulang, makan dan pergi ke tempat kemah dengan A Akmal. Kami bebenah dan bongkar2 tenda. Aku, tepatnya hanya melihat dan mengobrol dengan anak-anak. Saat pengumuman kelompok ‘tergiat’, SD-ku tak juga masuk.

“Udah biasa, Kak. Paling SD tuan rumah sama SD-SD tertentu,” tutur Hendrik.

Kami pun pulang dan nyantai, tidur, sholat lalu main badminton. Sementara yang lain tengah membungkus doorprise buat acara nanti malam. Aku pun makan mie yang dimasak Teh Herni. Nikmat! Mungkin karena faktor lapar. Hehehe… karena gerah luar biasa, aku pun mandi lalu menonton film Sang Pemimpi. Belum juga selesai, maghrib telah tiba dan kamipun sholat berjamaah, pleus isya. Usai sholat, kami menonton bareng film SP di baldes. Anak-anak, ibu-ibu dan perangkat desa pada datang. Sambil lesehan dan tiduran di baldes, kmi mnikmati kebersamaan itu.

Pas pulang pesertanya tinggal dikit, hadiah doorprise pun malah dibagikan dgn cuma2, padahal aku udah susah payah membuat soal2nya. Ah, tapi apa. Ekspresi kegirangan anak-anak selalu berhsil mnghiburku.

Hari kelima belas: Senin, 16 September 2012

Bangun, mandi, sholat cuci piring, masak nasi dan main badminton. Yang sering menemaniku main adalah Teh Tina, Teh Herni, Irna, A Indra, A Dudi dan Teh Lissy + A Yohan yang sering cepat capek. Hehe… sementara Teh Tuti hanya duduk sambil memijit HP atau merekam permainan kami. Merasa capek, kamipun istirahat. Nia yang baru pulang belanja ke pasar bilang,

“Ke warung yuk, Dian?”

“Bukannya udah ke pasar?”

“Lupa, kemiri gak terbeli!”

“Sabun cuci?”

“Oh ya, itu juga lupa!”

Aku menurut.

“Nih,” A Indra memberi uang, “Nitip yang dingin-dingin.”
Aku mengerti, yang dia maksud itu Big Cola. Kami ke warung belanja kemiri, sabun cuci dan big colanya AIndra, bakwan jagung dan biasa, serta tahu isi.

“Ini mah dari kocek Ia, Dian. Gak mau ganggu uang program. Hehehe…”

Kami sarapan, ngobrol2, makan dengan tempe kecap, dan nyeduh indocafe, sedangkan yang lain ngcat gapura. Lumayan kesal, akupun searching permainan matematika dan main badminton lagi. Ketika sedang asyik bermain, Teh Tina memanggil,

“Itu murid-muridmu nyamper, Dian!”

“Mau ngapain, Teh?”

“Katanya ngaji.”

“Ih yang ngajat ngaji mah Teh Enah?!”

“Sama kamu aja, pan Enah lagi mudik?!”

Fiuh… aku tak enak dengan semangat anak-anak. Buru2, akupun mandi dan siap-siap. Masih jam setengah 3. Sementara aku tak tahu mengaji itu mulai dari jam berapa. Akupun berangkat ke mesjid. Anak-anak telah dating. Sebagian tengah mengerumuni abang-abang penjaja jajanan.

‘Loh, kalau ngaji mulainya jam berapa?”

“Nanti, Kak. Sholat ashar berjamaah dulu sama Pak Ekot.”

Jyah… kalau jadwalnya ba’da ashar, kenapa jam setengah 3 udah pada nyamper? Tentu, dalam hati saja aku menggerutu. Akupun balik lagi ke rumah, kebetulan karena haus juga. Kebetulan Teh Herni memasak mie dan nawarin, yaudah nimbrung saja dan segera menyantapnya. Ashar berkumandang.

Akupun mengajar ngaji. Perdana. Kesan pertamanya menyenangkan. Anak-anak yang kuajari adalah kelas 2, kelas yang belum pernah kusinggahi sebelumnya di sekolah. Namun mereka menyambut dan antusias. Malah seperti kebanyakan anak yang lain, mereka tak ragu-ragu untuk bermanja-manja atau merajuk ini-itu. Pulang2 jam 5, makan. Solat mgrib berjamaah. Les yang entah kenapa membuatku malas. Tapi mata anak-anak tetap terang, memijarkan semangat yang benderang. [#RD]

*Catatan 01 November 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *