Bentang Kenangan KKN (Hari 16-18)

Bentang Kenangan KKN (Hari 16-18)

KKN 6

Hari keenam belas:

Bangun, cuci piring, mandi, keramas, masak air dan menanak nasi dengan Teh Herni serta Teh Tuti. Ternyata nasi bekas kemarin masih ada dan banyak. Aku hendak membuangnya ke belakang. Kebetulan di sana ada kandang ayam, kambing dan sapi. Jadi kelaupun kami membuang nasi, ayam-ayam siap menyantapnya. Begitu aku hendak membuangnya, Teh Herni mencegah,

“Teteh goreng aja nasinya…”

“Tapi tanggung, Teh.”

“Tanggung gimana?”

“Kalaupun dimasak semua, tapi kayaknya gak kebagi semua deh…”

“Iya, Teh. Jangan digoreng, ah. Daripada gak semua kebagi, nantinya gimana,” tambah Teh Tuti.

Tapi namanya juga Teh Herni, dia keukeuh dengan keputusannya. Segera saja dia memotong-motong bawang dan cabe, serta menyuruhku mengambil telur. Entah kenapa, aku nurut saja. Hehehe

Teh Hernipun membuat nasi goreng, sedang aku siap-siap menanak nasi. Begitu aku ke gudang, ternyata persediaan beras masih sangat banyak, sekitar 1 kwintal kurang. Alhamdulillaah… tenyata perkiraan untuk membekal beras masing-masing 5 kg sungguh tepat. Lebih baik berlebih daripada kekurangan.

“Itu gimana ya beras masih banyak?” tanya Pak Ketua.

“Iya biarin buat Si Ibu.”

“Eh, kita bagi-bagi aja lagi sisanya, bawa pulang.”

“Ih ribet atuh! Kecuali dibagi-bagi buat warga sini.”

“Tapi kalo gak kebagi semua bisa masalah?!”

“Ya udah tinggalin aja di sini. Buat Si Ibu. Terserah Si Ibunya mau membagikan lagi kek, di makan kek, dijual atau apalah…” begitulah keputusan dari diskusi kecil mengenai beras.

Hari tujuh belas:

Bangun, bantu cuci piring, solat, masak air dan nasi. Rencananya mau main badminton, tapi raketnya Cuma satu. Kemungkinan raketnya dipinjam anak-anak SMP. Akhirnya aku dan teman-temn pun ngobrol2 di bale sambil minum susu coklat dan biskuit roma.

Sementara di dapur, anak-anak lagi pada masak. Akupun masuk, bergabung dan ngobrol2. Tak lama, aku Lalu siap2 dandan dan menunggu masuk sekolah jam 9.15. Sedangkan Teh Herni belum mandi dan aku mesti nunggu dulu. Mungkin dia terlalu santai dan tak menyadari menit per menit yang berlarian. Padahal Bu Sona udah nanyain apakah aku akn masuk atau tidak. Kamipun segera berangkat, berbarengan dengan masaknya ayam dan ati bumbu kecap. Kami hanya menelan ludah dan tetap berangkat. Aku mengajar di kelas 4 tentang date dan hari2 besar. Butuh waktu dan penjelasan lama serta berulang-ulang untuk menerangkan dan membuat mereka paham.

Sengaja kupakai tanggal lahir mereka untuk memudahkan daya ingat akan penulisannya. Sementara hari-hari besar, kupakai hari kemerdekaan, sumpah pemuda, pramuka, lahirnya pancasila, dst.

Hari 18:

KKN, Tips KKN, Tips Menghadapi KKN, perkuliahan, KKN saat kuliah

Dee Ann Rose

Bangun dan menunaikan kewajiban sebagai piket. Usai itu, akupun mengajar Bahasa Indonesia pada jam pertama sama Teh Lissy di kelas 4. Tetapi tiba2 ga jadi. Mereka ternyata telah berkostum baju olahraga dan bersiap ke lapangan. Kamipun masuk ke kelas 5 sajalah sambil lihat Teh Tuti dan Teh Herni mengajar Matematika tentang faktor prima dan menentukan KPK dan FPB.

Saat istirahat, aku mendapat hadiah dari wawan dan putri berupa boneka anjing dan semacam gantungan boneka; lucu dan tanpa kukira. Kemudian kami dkasih coto ayam. Ternyata pihak sekolah mesti membeli dulu ke pasar Banjar. Jaraknya kurang lebih 10 km dari desa. Rasanya enak dan pedasnyapun pas! Kamipun pulang.

Rencananya aku akan main ke desa temanku, Nova, di Cigadung. Tetapi gak jadi karena dia mesti ke madrasah. Ya sudah… hari itu kebetulan menjadi hari les komputer perdana. Uniknya, aku mengumumkan atau mensosialisasikan les komputer serta menginformasikan waktunya seyelah ashar. Namun anak-anak tersebut malah datang pukul 2. Alhasil, merekapun mesti menunggu di posko sampai pada waktu yang telah ditentukan. Les diadakan di ruangan SDN Kubang Jero. Aku sendiri tak ikut, sebab takut anak-anak merasa bosan dan memang urusan komputer bukanlah spesialisasiku.

Tak terasa, maghrib tiba dan kamipun sholat berjamaah. Kami mengobrol dengan ibu-ibu di mesjid, sambil menunggu ‘kentrong’ isya (Kentrong adalah istilah ketika beduk dibunyikan sebagai tanda waktu sholat telah tiba). Dominan kami mengobrolkan tentang Kuningan. Begitu bubar sholat, di jalan ada ibu2 bilang sambil mengelus-elus pundakku,

“2 bulan lagi dong di sininya, Neng… Biar anak2 gak kehilangan.”

Aku ‘speechless’. Entahlah… waktu itu aku hanya senyum-senyum saja. Pulang ke rumah, Les. Aku minum dulu. Begitu menuju teras depan, ternyata anak-anak lesku ‘diambil alih’ oleh Fuji dan Teh Enah. Aku sangat bersyukur telah ada yang mengisi kewajibanku. Namun kesal juga, sebab aku mesti menganggur. Beruntung ada tawaran ‘pekerjaan’ dari Pak Ketua,

“Bikin kelompok LCC, yuk?”

“Hayuk!” Aku menyetujuinya.

Sambil menenteng ‘Big Cola’, aku dan Pak Ketua duduk di teras, membelakangi anak-anak yang tengah belajar dengan Fuji dan The Enah. Sesekali anak-anak melirik padaku. Dugaanku, mereka bertanya-tanya tengah apa aku? Kenapa aku tak mengajar les?
Well, pembagian kelompok Cerdas Cermat susah-susah gampang.

“Kamu tahu kan mana anak-anak yang menonjol, dan mana yang biasa?” tanya Paketu.

“Ya… ada yang tahu, ada yang enggak.”

“Ya udah kita acak dulu. Kalau dalam satu kelompok semuanya pinter, kamu bantu acak, ya…”

Setelah menempatkan masing-masing anak dengan banyak pertimbangan, akhirnya terbentuklah 13 kelompok, masing-masing 3 orang. Jumlah total 39 orang yang mengikuti LCC.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *