Bentang Kenangan KKN (Hari 19-21)

Bentang Kenangan KKN (Hari 19-21)

kkn 7

Hari Ke-sembilan belas

Bangun, dan ternyata aku haidh. Usai mandi dan memakai pembalut, aku mencuci piring, menanak beras dan masak air. Setelah itu, kuminum ‘good day’ dan Cracker Roma. Sementara Teh Herni memintaku untuk mengantar ke rumah Teh Engkur (di depan posko) untuk menumpang mandi,

“Kamu mah suka nganter mandi, tapi kamunya gak pernah mandi di sini. Kenapa sih, Dian?” Tanya Teh Engkur sambil menuangkan ‘aron’ ke plastic untuk dijual, masing-masing seharga Rp 500.

“Aku mah gak ngantri sih mandinya, Teh! Hehehe…” jawabku sambil memakan aron yang Teh Engkur suguhkan.

“Eh Teh… enak yah Si teteh, bapak sama Dedek Iren mah ngumpul.”

“Iya, tadinya mah merantau. Tapi udah ah di sini aja ngejual mie-telor. Lumayan, kecil tapi terus-terusan. Gak jauh lagi. Paling di SD atau sekitar pemukiman.”

Ketika sedang dibicarakan, datanglah suaminya Teh Engkur.

“Nih,” Dia menyodorkan buah sarikaya padaku, sepertinya baru dipetik.

“Hahaha… si bapak mah ngasih Cuma satu?! Ya udah buat nanti siang ya, Dian. Jangan dimakan sekarang.”

Aku dan si bapak sama-sama tersenyum. Tak lama Teh Herni keluar dari bak mandi. Begitu melihat jam, kami segera bersiap2 ke sekolah. Penampilanku telah rapi. Begitu ke luar, datang tukang bubur. Aku ingin membelinya, namun panggilan tugas untuk mengajar lebih nyaring terngiang. Ketika hendak melangkah ke sekolah, kulihat anak-anak SD tengah senam.

“Ng-bubur aja dulu, yuk?!” ajak Teh Herni yang langsung dijawab dengan anggukan kepala olehku dan Teh Tuti.

“Mengajar di SD memang perlu asupan energy yang ekstra!” kelakarku.

Selang beberapa menit, kamipun mengajar. Di sekolah, aku diberi hadiah oleh kelas 3 (desi, putri, oom, afika, sindi, devi, tesa), kelas 4 (hentika, laili, mila, fini) dan kelas 5 (firda). Di kelas, akupun mendata tim futsal, mengumumkan kelompok cerdas cermat, dan berfoto.

Pulang-pulang, perut terasa lapar. Aku dan teman-temanpun makan sop ayam. Khusus untukku, tanpa ayamnya. Yah, aku memang kurang suka ayam dengan bentuk kuah atau tidak garing. Hehehe… malah, memakan sop-nya pun kulakukan demi menghargai rekan-rekan yang telah memasaknya saja. Kumakan juga jambu dari ci tete Engkur, lalu tidur yang tak enak, cuci piring, masak air, nasi, mandi, makan mie, masak tempe terigu, dan ngangetin sop.

Hari Ke-Dua Puluh:

Aku bangun dan beraktifitas sebagaimana biasa. Tak terasa, telah 10 hari terakhir saja…

“Main, yuk?” ajak Teh Herni.

“Ke mana?”

“Ke temenku deh, di Cikakak. Kalau bisa, sekalian ke ATM.”

“Hayuk!”

Setelah proses transaksi, aku berhasil menggaet motor A Agus. Kami pun pergi ke Cikakak. Poskonya pinggir jalan, mudah dijangkau.

“Cikakak mah kota, yah?” Aku celingukan di posko Cikakak, memandang jalanan yang ramai dan pinggirannya yang padat, menawarkan pilihan.

“Iya… mau apapun serba ada, hehehe…” kata Teh Epi.

“Kita mah mau es krim aja mesti ke sini.”

“Es krim? Ada di depan. Belanja? Ada di pinggir. Baso deket. Apalagi kalau Malam Minggu, di depan suka ada pasar malam dadakan. Rame pokoknya mah!”

“Es kelapanya juga dekat, murah dan enak!”

“Es kelapa?” Aku dan Teh Herni tersenyum dan menyusun rencana yang sama.

Tak lama, Nova SMS:

“Lagi dimana?”

Kujawab, “Posko Cikakak.”

Selang beberapa menit, Nova dan Ayohan telah ada di muka. Hanya sebentar mereka masuk dan bergabung, kami pamit keluar. Aku dan Teh herni hendak ke ATM, namun tutup.

“Beli es kelapa aja dulu, yuk?” ajakku pada mereka semua. Aku tersenyum pada A Yohan.

Kedai es kelapa yang pinggir jalan tak sulit kami temukan. Kami membeli 4 bungkus. Aku tersenyum lagi pada A Yohan, “12 ribu, A!”

“Tekor gue kalo ada Si Dian mah!” A Yohan bilang sambil merogoh dompet dan memberikan selembar 20 ribuan padaku. Kami hanya tertawa.

“Nyari kedai bakso, yuk?!” Aku menawarkan. Nova dan Teh Herni senyum-senyum saja penuh minat. Sementara A Yohan merengut.

“Kira-kira di mana, yah? Di sini mah pada gak enak…” Teh Herni bilang.

“Bukan tak enak, tapi gak sesuai selera aja, Teh… Maklum, beda lidah,” ujarku.

“Hayuk lah ke tempat yang enak!” komando Nova.

“Di mana, Nov? Deket, gak?”

“Deket, di Baso Super.”

Aku dan Teh Herni hanya membuntuti Ayohan dan Nova. Perasaan tak sampai-sampai? Desa Tiwulandu dan desa Cigadung tempat Nova bernaung pun sudak lewat. Jangan-jangan ke Banjar?

Benar saja, mendekati pasar Banjar, kami berhenti di Baso Super. Pinggir jalan. Kedainya lumayan ramai pengunjung. Baksonya pun lumayan mengobati kerinduan rasa bakso yang biasa kami santap. Ketika asyik menikmati bakso dan es kelapa muda, Anti menelepon, bertanya kabar.

Baksopun habis.

“Kasirnya di depan, A!” kataku pada A Yohan.

Hahaha… semua tertawa.

“Wah, pemerasan ini mah!” komentar A Yohan sambil berjalan menuju kasir.

“Eh ada brownis! Beli, ah… buat makan sama buat orang di rumah,” kata Teh Herni yang lalu membeli beberapa potong brownies.

Sebelum pulang, kami mampir ke Desa Cigadung. Di sana ada Teh Uni dan Agam, orang2 yang kukenal. Kami ngobrol2 dan disuguhi minuman merah bersoda, tidak mencapai segelas penuh. Sembari ngobrol, Teh Uni mendelik pada brownies yang kami bawa. Alhasil, brownies itupun kami santap saja. Minuman milikku pun habis diseruput oleh banyak mulut. Dasar! 😀

Jelang maghrib, kami pulang. Di tengah jalan, aku ketemu Sarah dan teman-teman kelompok Desa Banjarharjo. Seolah dia adalah teman lama yang tak pernah bertemu, kami berpelukan hangat. Diapun mengajakku untuk foto2 di gapura Desa Pende. Aku menurut saja.

Kami melanjutkan pulang ke rute masing2. Di tengah jalan, aku dan Teh Herni mengisi bensin dan membeli semacam kecimpring manis pedas. Begitu sampai rumah, A Akmal telah berdiri di muka,

“Aduh, udah dari mana ini? Bikin khawatir saja?”

“Hahaha… Udah ngukur Banjarharjo, A!”

Yang lain segera membuka kecimpring yang kami bawa. Mereka membeli bakso dan mie ayam. Aku sendiri sangat merasa kenyang, dan hanya ngemil makanan-makanan kecil yang tersedia saja.

Hari Ke-Dua Puluh Satu:

Bangun dan kembali beraktifitas. Pagi yang segar. Aku, Teh Herni dan Teh Lissy jalan-jalan pagi. Kami berusaha menapaki inci per inci dari desa persinggahan tersebut. Semua perempatan telah kami jejakki. Begitu melewati jembatan dan sebuah mushola, aku teringat sesuatu,

“Ke rumah Bu Nunung, yuk?!”

“Di sebelah mana?”

“Katanya sih dekat mushola, yak pasti gak jauh…” kataku sambil berjalan menghampiri seorang warga dan menanyakan letak rumah Bu Nunung.

“Dari mushola, ke kiri aja. Ada rumah besar, nah di situ…”

Usai berterima kasih, kami melanjutkan perjalanan. Di depan rumah besar yang dimaksud warga, aku melihat Pak Sekdes yang merupakan suami dari Bu Nunung tengah duduk dan meneguk kopi,

“Hey, Dek… Ke sini dulu, mampir!”

Tanpa disuruh pun, kami mampir. Si bapak ke dalam sebentar, sepertinya memanggil Si Ibu yang tak lama kemudian dating,

“Eh kalian… baru sempat ke gubuk Ibu sekarang…”

“Gubuk apaan, Bu? Besar gini…”

“Hahaha… Tapi penghuninya Cuma dua. Sepi…”

“Emang pada ke mana?”

“Dua anak cewe ibu udah di luar kota. Yang kerja, yang kuliah…” tutur Bu Nunung sambil mempersilakan kami duduk dan memohon ke belakang dulu.

“Lagi jalan-jalan, ya? Udah mengelilingi desa?” tanya Si Bapak.

“Iya, Pak. Desa ini gak terlalu besar juga, ternyata. Semuanya udah disinggahi. Hehehe…”

“Iya emang desa ini mah kecil.”

“Jadi ngurus desanya juga gampang ya, Pak?”

“Gampang kalau mau ngurus mah… hahaha…”

Kami tak berkomentar selain ikut tertawa. Tak lama Si Ibu datang dengan teh manis dan se-toples ‘raginang’.

“Sarapan dulu, nih… Cuma ada ini, gak punya apa-apa…”
Kenangan saat kkn, saat kuliah, kkn saat kuliah, cerita kkn waktu kuliah, KKN Uniku
“Aduh gak usah repot-repot, Bu…” kata kami, basa-basi. Padahal aku sudah tergiur dengan kepulan asap teh yang mirip dengan teh suguhan sekolah. Oh, mungkin Bu Nunung inilah yang selalu membuatnya? Aroma teh, rasa, kadar manis dan kehangatannya memang khas. Nikmat dan pas!
Tak lam, kamipun tak segan-segan menikmati itu semua. Teh Lissy dan Herni terus-terusan memakan raginang yang mereka puji-puji,

“Renyahnya…”

“Enak, gurih…”

Aku mencobanya sepotong, membilas rasa penasaran akan kenikmatan raginang yang mereka deskripsikan. Hehehe… Sekitar jam setengah 8-an, matahari meninggi dan kami pamit undur diri.

Di rumah, kupangkas waktu dengan mengetik soal-sola LCC. Adapaun soal-soal itu berasal Matematika yang kubuat, Bahasa Inggris bikinan Teh Lissy, IPS bikinan Teh Tina dan Enah, Biologi bikinan Teh Tuti dan Herni serta PAI yang dibuat A Akmal. Aku mengetik ditemani segelas teh Sosro celup hangat dan beberapa biji biscuit Roma Kelapa. Agak siang, Teh Nena datang dengan banyak makanan. Beliau membaginya pada Ibu Kinah dan Engkur.

Aku mendapat hadiah dari Windi kelas 4. Berupa boneka beruang tengah memeluk bantal berbentuk ‘love’. Boneka pink yang lembut itu begitu wangi. Aku memeluknya begitu hendak tidur siang. Ketika aku tengah di dapur, dating Ansori,
“Ada martabak tuh di depan!”

“Martabak apa?”

“Manis…”

“Ih, pengin…”

“Ayo atuh ngambil, keburu habis…”

“Males…”

Ansori yang mengerti segera ke depan, lalu balik lagi dengan 3 potong martabak manis. Nikmat sekali! [*]

*Catatan 05 November 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *