BENTANG KENANGAN KKN (Hari 22-24)

BENTANG KENANGAN KKN (Hari 22-24)

KKN 8

Hari ke-dua puluh dua: Senin, 24 September 2012

Hari ini adalah hari terakhir mengajar di SD. Kami semua mengikuti upacara hari Senin. Kami berbaris diantara siswa/I kelas 1 dan 2. Satu persatu Bapak Kepala Sekolah, Pak Ekot dan A Akmal selaku Pak Ketua memberikan sambutan. A Akmal juga menyerahkan hadiah kenang-kenangan pada sekolah. Kami lalu bersalaman dengan seluruh siswa. Aroma sedih menjalar. Aku hanya berusaha menegarkan hati dengan mencoba tertawa, bercanda dengan teman2 serta anak2. Ketika bersalaman itu, ada anak kelas 3, Putri, yang baru kusadari ternyata sering memelukku, baik itu ketika mengajar atau mengobrol di luar. Sambil menyalami punggung tanganku, dia memelukku dengan erat. Sementara teman-temannya yang lain yang sedang antri malah agak tersendat.

Usai acara salam-salaman itu, kami disuruh masuk kantor. Di sana kami disuguhi teh manis, aci goring dan bakwan. Sambil menyeruput segelas besar the manis, dadaku berdesir. Betapa semua ini akan menjadi kenangan, yang pasti kurindukan!
Dari kaca jendela, anak-anak mengintip. Aku menghampiri. Jaka memberiku boneka doraemon. Teman-temanku yang lain keluar.

“Berfoto, yuk?!”

Kami semua setuju. Sambil dikoordinir Pak Bambang, kami berfoto dengan kelas 3, 4, 5 dan 6. Aku pun menyempatkan untuk berfoto dengan anak-anak dan ibu/bapak guru secara personal. Kucuri-curi waktu untuk mendokumentasikan wajah dan kenangan-kenangan tentang mereka. Kamipun pulang.

Di rumah, Wawan dan Rafi datang. Mereka menemuiku saat istirahat,
“Ini buat kakak lagi,” Wawan menyodorkan boneka. Aku menerimanya dengan sukacita.

Siangnya A Akmal mengajakku menyebarkan pamphlet lomba dan sosialisasi vertikultur.

“Udah deh nanti aja ama aku, Teh Lissy, Teh Herni dan Teh Tuti.”

Sambil menenteng kertas2, kami menuju balai desa. Matahari tengah semangat-semangatnya menari di atas kepala. Kami memutuskan untuk menunggu teriknya reda. Kami pun bermain sepeda di depan balai desa. Ada 2 sepeda tergeletak. Kami memakainya bergantian. Anak-anak kelas 3 yang tengah istirahat kedua, pada nyamper. Mereka mengerubuti kami. Teh Tuti mengacung-acungkan pamflet vertikultur dan berseru,
“Nih kasihkan ke bapak, ibu, atau saudara yang udah besar, yah? Baca gitu…”

Ah ya, vertikultur yang menjadi salahsatu program anak fakultas kehutanan itu bisa sedikit dijelaskan sebagai berikut:

Vertikultur dapat diartikan sebagai teknik budidaya tanaman secara vertikal sehingga penanaman dilakukan secara bertingkat. Teknik budidaya ini tidak memerlukan lahan yang luas, bahkan dapat dilakukan pada rumah yang tidak memiliki halaman sekalipun. Pemanfaatan teknik vertikultur ini memungkinkan untuk berkebun dengan memanfaatkan tempat secara efisien. Secara estetika, taman vertikultur berguna sebagai penutup pemandangan yang tidak menyenangkan atau sebagai latar belakang yang menyuguhkan pemandangan yang indah dengan berbagai warna.
Alat dan Bahan yg diperlukan
1. Bahan: Bahan yang dipergunakan untuk program ini adalah benih sayuran, kayu, media tanam siap pakai, pasir malang, pupuk kandang, sekam bakar, kompos, pasir ladu, polybag, kawat, pralon, talang air, tutup talang, plastik kecil, pot.
2. Alat: Alat yang digunakan adalah paku, gergaji, sendok semen, laptop, LCD, solder, sprayer, bak semai, tang, cutter, palu, meteran, gunting.
Hasil yang Didapat
1. Lahan kurang produktif yang ada di desa menjadi lebih produktif karena aplikasi teknik vertikultur.
2. Kebutuhan rumah tangga dapat dihemat karena berkurangnya pengeluaran akibat kebutuhan akan sayur yang sekarang dapat diambil dari hasil kebun sayur warga sendiri.
3. Aplikasi verikultur meningkatkan nilai estetika karena model yang ada sangat bervariasi dan bernilai seni tinggi dari bentuk yang paling sederhana, sampai bentuk yang rumit sekalipun.
4. Vertikultur dibuat untuk mengoptimalkan potensi pekarangan, terutama di sekitar daerah hunian atau perumahan agar senantiasa hijau dan tidak gersang.
Selain berfungsi untuk penghijauan, vertikultur juga memiliki fungsi seni dan ekonomi. Rancang bangun dan media vertikultur dapat dibuat bervariasi sesuai lokasi dan kesukaans, sesuai kreasi. Pemilihan tanaman dapat disesuaikan dengan permintaan pasar atau kebutuhan pemiliknya, atau bisa juga untuk konsumsi pribadi sehingga menghemat pengeluaran.

Mereka berebutan seolah sedang memperebutkan saweran permen. Karena terlalu rebut dan takut mengganggu, aku pun berseru pada mereka untuk segera masuk kelas saja.

“Lagi istirahat, Kak!”

“Nanti ada Pak Dartim, lho?!”

Mereka pun pergi. Tapi hanya sebentar, mereka telah berlarian kembali. Sambil terengah-engah mereka berseru,

“Pak Dartimnya belum ada, Kak!”

“Ih, kakak bohong…”

“Kakak jangan bohong, dong?!”

Kami lalu mengelilingi desa sebentar dengan sepeda. Yang kugunakan sepertinya sepeda lipat,

“Ini sepeda siapa, Dek? Tau, gak?”

“Oh, ini mah sepeda Pak Kades, Kak!”

Glek!!!

“Kalau yang dipakai Teh Herni?”

“Milik Pak Eman.”

Sepeda-sepeda yang ternyata milik aparat desa, kami simpan pada tempatnya. Kamipun menyebar pamflet dengan berjalan kaki. Sebelum itu, kami membeli perbekalan dulu. Yang paling utama, tentulah minuman. Sembari menempel-nempelkan pamflet lomba, kamipun mengobrol dengan warga yang bertanya atau menjelaskan sekilas tentang vertikultur. Tak lupa, kami dokumentasikan juga kegiatannya. Kebetulan A Akmal SMS,

“Jangan lupa difoto.”

Sebagai kesepakatan bersama untuk main pit2an (Sepeda2an), kamipun menunaikannya. Susah payah kami kumpulkan sepeda milik anak-anak. Sementara Teh Herni enak, telah dipinjami sepeda oleh Pak Eman. Aku sendiri lebih memilih sepeda Fitri, bocah yang sedang belajar iqro di mesjid. Usai meminta izin dan mendapat senyumnya, kami memacu sepeda. Milikku paling kecil dan pendek,
“Cape atuh sepedanya kayak gitu mah, Dian…” semua teteh-tetehku berkoomentar demikian.
A Akmal datang sambil menunggangi sepeda agak tinggi milik Teteh Engkur,

“Yang ini aja, Dian…”

“Nah iya, yang itu saja…” timpal yang lain.

“Nggak, kakiku gak menapaki jalan.”

“Udah dipinjemin dari Si Ibu.”

“Takut, nggak ah…” Aku keukeuh. Sepeda itupun dikembalikan lagi ke Si teteh yang hanya tertawa melihat sepedaku yang ‘unyu’.

Kami melanjutkan perjalanan, hendak ke Desa Sukareja. Kebetulan ada beberapa teman yang kami kenal di sana. Sempat ada perdebatan tentang arahnya. Aku yang melihat petunjuk, langsung memacu pedal. Teteh-tetehku mengekori. Sesampainya di posko tersebut, ada yang menyambut. Wajahnya asing. Teh Tuti bertanya,

“Iisnya ada?”

“Iis?”

“Iis, anak biologi?”

“Kalau A Roni, ada?” serobotku melihat orang tersebut mengernyitkan dahi.

“Roni? Oh… ya udah, masuk aja dulu, yuk…”

Kami duduk dan meluruskan kaki di teras depan. Tak lama, ada beberapa orang datang.

“Dewi?” seru Teh Lissy.

“Wey, ini teh dari desa apa, yah?”

“Kubang Jero. Dewi mah kan…?”

“Pende.”

Jyah… pantesan gak ada Iis atau A Roni. Nyatanya kami salah desa! Beruntung ada yang kenal. Obrolan pun lancar. Setelah puas ngobrol, kami menuju Desa Sukareja. Barulah di sana ada Iis dan A Roni. Ketika kami ke sana, tengah ada perlombaan dance. Sambil istriahat, kami menikmati pertunjukan yang diadakan di depan rumah itu. Kami juga disuguhi kudapan dan minum. Ah… cukup menyenangkan.
Namun lama-lama matahari mulai berpamitan. A Yohan pun meneleponku,
“Pada di mana?”
“Sukareja.”
“Lagi dangdutan, ya? Berisik banget?!”
“Nggak.”
“Cepet pulang. Anak-anak nyamper!”
“Bentar atuh,”
“Eh mereka pada nangis.”
“Bohong?!”
“Beneran!”
Kami langsung pergi dengan terburu-buru. Di jalan, kami sempatkan membeli jajanan untuk sang empu sepeda. Sesampainya di rumah, benar saja banyak anak2.
“Beneran ada yang menangis, Dek?”
“Nggaaak…”
“Kurang asin!” gerutuku dalam hati.
Anak-anak pada senang menerima jajanan la kadarnya dari kami. Diam2, main sepeda di desa membuat kami ketagihan juga! 😀

Hari ke-dua puluh tiga: Selasa, 25 September 2012
Subuh tiba, matakupun terbuka. Usai mandi (cuaca panas menimbulkan hawa kurang nyaman begitu bangun tidur, super keringetan!), aku melakukan kegiatan biasa; memasak air dan menanak nasi. Hari ke-23 yang memang telah lepas dari kewajiban mengakibatkan kebingungan tersendiri, untuk melakukan apa. Namun begitu ingat akan perlombaan, aku pun segera mengetik soal2 LCC, dengan harapan pekerjaan itu bisa segera selesai. Kebetulan soal-soal yang ‘disetorkan’ Teh Tina, Enah, Herni, Tuti dan Lissy telah siap sedia.

Aku baru ‘ngeh’, tak ada soal Bahasa Indonesia!

“Gimana nih, Ji?” Aku menetaskan keluhanku pada Fuji, anak Bahasa Indonesia.

“Duh, dikira Fuji mah udah sama A Indra?!”

“Yah, dia juga gak nyetor apa-apa. Gimana ya kalo misal Pak Ketua nanya?!”

“Ya udah, nanti Fuji bilang sama Aindra, ya…”

Aku melanjutkan mengetik. Kubagi-bagi soal menjadi beberapa amplop, khusus untuk babak penyisihan, semi-final dan final. Lalu memecahnya menjadi sesi lemparan da rebutan. Khusus untuk final, ada sesi wajib juga. Lumayan pegal, namun memekarkan senyum begitu semuanya gerak dan tugas-tugaspun tercicil. Malah, soal IPS yang dikumpulkan Teh Tina dan Enah amat banyak, lebih dari cukup. Tak ayal, soal2 tersebut kusimpan saja sebagai cadangan kalau2 diperlukan. Ketika mengetik, datang A Akmal,

“Soal-soalnya pelajaran apa saja?”

“IPA, IPS, Bahasa Inggris, dan Matematika,” jawabku yang lalu sadar tak menyebutkan Bahasa Indonesia.

“Kok 4? Kurang satu atuh…”

Kena aku!

“PAI masukin, yah? Biar saya deh yang bikin soalnya,” katanya kemudia sambil mengambil pulpen dan selembar kertas HVS.

Aku tersenyum lega sembari kembali mengetik soal-soal. Begitu kulihat Fuji, sambil berbisik, kusampaikan saja kabar gembiranya,

“Gak usah buat soal, Ji!”

Tanpa komando, dia langsung mengajakku ‘toss’. Dasaar! 😀

Sekitar jam 1, datang ‘gerombolan’ anak2 SD kelas 3. Mereka bermaksud mendaftarkan diri untuk ikut perlombaan tradisional, semacam balap kelereng, memasukkan paku ke dalam botol dan joget balon. Antusiasme mereka menjalarkan semangat tersendiri untuk melakukan pelayanan terbaik. Meski mereka begitu gaduh, rewel dan cari perhatian, kucoba untuk menempatkan diri, menghantarkan kenyamanan.

Usai kutulis nama dan jenis lomba yang mereka ikuti, mereka rupanya tak beranjak. Aku diajak ngobrol ke sana-kemari (sementara teman2 KKN yang lain sedang telentang di kamar atau ruangan lain). Yah, aku nikmati saja alurnya. Bocah-bocah itu membicarakan banyak hal, mencoba-coba sepatu-sandal yang ada di depan, bercanda atau mencampurkan bahasa daerah yang sesekali kutanyakan arti versi Bahasa Indonesianya.

Merasa jenuh, kupinta mereka bermain ‘jajagongan’ (permainan tradisional ini pernah kulihat dimainkan anak kelas 1 dan 2 di sekolah. Setelah kutanyakn, ternyata namanya ‘jajagongan’. Jadilah kupinta mereka memainkannya. Beruntung, mereka malah berjingkrak-jingkrak dan segera ‘suit’ untuk menentukan klompoknya).

Permainannya mirip permainan karet yang dipegang dua orang, lalu para pemain melewatinya. Makin lama, makin tinggi. Hanya saja, ‘jajagongan’ memakai kaki sebagai penentu tinggi-rendahnya medan yang mesti dilangkahi. Permainannya pun berkelompok. Tak lama, datang anak kelas 3 lain bernama Shindy. Dia membawa kado untuk pengajar bimbel-nya, Teh Lissy. Jadi, aku ada alasan untuk ‘meninggalkan’ mereka. Kebetulan aku memang hendak mandi, membasuh kegerahan yang tak terperi 😀

Ketika Teh Lissy keluar dan menyambut Shindy, kamipun ‘aplusan’,

“Kakak mau mandi dulu,” kataku berasalan. Teh Lissy yang semula merengut, kutimpuk saja dengan tawa :DD

Usai mandi, anak-anak tersebut masih ada. Sengaja aku tidak keluar dan hanya berdiam di kamar, bergabung dengan yang lainnya. Lama-lama suara mereka reda. Namun setelah itu, suasana teras rumah kembali ramai oleh anak-anak cowok yang hendak technical meeting lomba futsal. Padahal jadwal TM yang ditetapkan koordinator, Ansori dan Aindra adalah ba’da asyar, namun baru juga jam setengah 3-an mereka telah bermunculan.

“Ada berapa kelompok yang ikut?” tanya Aindra padaku. Kebetulan meskipun aku bukan koordinator lomba futsal, anak2 malah menghubungi dan daftar padaku.

“Ada 7, tapi takut ada yang daftar lagi, atau timnya berubah. Banyak yang menghubungi ini-itu, tapi tak sempat kucatat.”

Aku, Aindra dan Anshori kembali mendata dan mengelompokkan tim. Semua sepakat bahwa tim2 itu telah final, tanpa pergantian. Atas ide Aindra dan Ansori, kami menamai masing2 tim dengan klub2 sepak bola luar negeri, misalnya Chelsea, MU, Barcelona, Real Madrid, Arsenal, Juventus, dsb. Anak2 cukup senang dengan nama masing2 dan cenderung menerimanya, apapun nama grup mereka.

Namun begitu urusan jadwal pertandingan atau siapa lawan siapa, aku mundur. Aku memilih keluar menuju warung,

“Mau ke mana, Dian?” tanya Irna yang sedang menyetrika, termasuk baju dan celanaku.

“Warung. Nitip?”

“Hehehe. Indomilk 4. Coklat2, stroberi 2. Ini uangnya,” Dia menyodorkan uang seratus ribu. Aku ke warung ditemani Teh Herni. Warungnya melewati mesjid. Di depan mesjid, okasinya luas dan strategis dijadikan lahan bermain anak2. Di sisi kanannya balai desa, sedang di sisi kirinya sekolahan. Benar2 pas! Melihat sepeda anak2 yang berjajar, ‘naluri’ pit2-an kami muncul. Kamipun meminjam sepeda. Aku sendiri meminjam pada anak2. Sang empunya, cewek, tersenyum2 saja. Kupacu sepeda itu menuju warung.

“Nih Neng, spedanya kaka pinjem dulu, boleh?” Aku menyodorkan sedikit jajanan pada sang pemilik speda yang sedang mengaji di mesjid.

Di mengangguk, “Boleh, Kak…”

Aku mengemudikan sepeda ke rumah terlebih dahulu, memberikan pesanan Irna. Kupacu lagi sepedaku keliling kampung,

“Ikut, Kak!” Afika, murid kelas 3, membuntutiku dengan sepedanya yang lebih tinggi dariku. Hehe… dia tak sendiri. Rupanya dia ditemani Rohaeni. Kamipun bermain sepeda. Keliling kampung, melewati pemakaman dan pohon-pohonnya yang berbaris lurus. Dari pemakaman, Teh Herni yang ada di depanku hendak belok kanan.

“Mau ke Kubang Bungur, Kak?” tanya anak2.

“Iya coba, yuk? Jalannya gimana ya di sana?”

“Tapi Kak, anak laki2 daerah itu terkenal usil?”

“Ih udah ah belok sini aja,” tanpa menunggu persetujuan, aku membelokkan sepeda ke kiri.

Kami susuri jalanan dan memilih jalan yang rata. Aku mencari-cari jalan yang kurasa belum kulewati.

“Kalo lurus itu ke mana, Afika?”

“Itu mah buntu,”

“Ke Cidangdeur aja, Kak?!” usul Rohaeni.

“Belok kanan, yah?”tanyaku yang langsung dijawab anggukan oleh mereka, sebab belok kiri sama artinya dengan menuju desa Sukareja atau Pende.

“Di mana posko Cidangdeur, yah? Samperin, yuk?!” kata Teh Herni.

“Gak ada anak KKN di sini mah,” responku sambil rehat dengan anak2 di sebuah panggung, mungkin pos kamling atau tempat bersantai. Kuseruput air mineral yang langsung menyiram tenggorokan.

“Pasti ada, orang masih Banjarharjo?!”

“Belum denger, ihk…”

Menyadari hari telah petang, kami sudahi saja acara sepedanya.

“Silakan Afika sama Eni di depan kaka…”

Mereka menuruti saja,

“Jalan mana, Kak?”

“Ke kiri yang deket jembatan aja langsung, biar deket…”

Mereka berhenti sejenak, “Tapi jalannya bergelombang, Kak. Gak apa2?!”

“Gak apa2 deh, jalan pintas…” jawabku santai.

Namun… buset… jalan di langkah awal memang tak seberapa rusak, namun di tengah2, banyak ranjau yang menanti dengan siap. Berkali-kali aku menahan agar tak terpental dari sepeda. Tetapi jalanan rusak yang ditaburi bebatuan cukup besar itu usai. Jalan selanjutnya mulus dan lurus. Anak2 pun menuju arah rumah masing2.

Di depan posko ada penjual siomay. Kami membelinya. Cukup dengan dua ribu, satu porsi siomay sudah halal singgah di perutmu. Hehehe

Malam harinya, aku betul2 ngebut dan focus mengetik serta mengelompokkan soal dalam amplop masing2, menuliskannya, serta menyelesaikan semuanya. Sementara yang lain sibuk membungkus hadiah untuk lomba, termasuk semacam parsel untuk lomba tarik tambang ibu2. Dengan berbagai bentuk dan tulisan, mereka berkreasi. Yang terlibat adalah Nia, Teh Nena, Teh Lissy Teh Herni, Teh Tuti, Teh Enah dan Irna. Usai memasukkan soal dalam amplop masing2, aku ikut2 membantu, tepatnya melihat-lihat saja, sebab semua pekerjaan hampir selesai.

Hari ke-dua puluh empat: Rabu, 26 September 2012
Pagi dan nuansa subuh di Desa Kubang Jero makin pilu kudengar. Mungkin kalo diibaratkan, aroma perpisahan akan nuansa fajar seperti itu akan pudar. Diakhiri waktu. Ada dilema tersendiri sebenarnya; bahagia karena hendak ke rumah tercinta, sekaligus sedih karena mesti terpisah dengan desa persinggahan yang nyaman.

Pagi itu aku berinisiatif untuk memfotokopi daftar hadir mengajar di SDN Kubang Jero. Aku pun mengajak Teh Herni,
“Kebetulan, aku juga pengin banget es buah…”

“Yuk cari ampe pramuka, Teh. Hahaha…” (‘pramuka’ adalah nama jalan kampusku)

“Hahaha… Moga aja di sini juga ada.”

“Kalo gak salah, aku pernah baca di mana gitu. Ya udah nanti cari aja lagi.”

Kamipun bergegas meminjam motor dan bersiap-siap hendak berangkat.

“Mau ke mana, Dian?” tanya Nia.

“Fotokopi daftar hadir mengajar, Ia.”

“Uangnya? Gak mau?”

“Oh… dari anggaran, ya? Hehehe… lupa, sini atuh ah…”

“Bentar,” Nia ngeloyor, mungkin mencari dompet.

“Nih,” Dia menyodorkan sejumlah uang, “Sekalian beli 2 kertas parcel ke Toko Pelangi, ya…”

Setelah meng-iyakan perintah Nia, aku kembali menuju Teh Herni yang telah siap dengan motor. Kami berangkat ke pasar Cikakak dan memfotokopi daftar hadir tersebut. Usai itu, kami mencari es buah. Tak ada satupun kedai es buah yang berhasil kami tangkap. Akhirnya kamipun beli es kelapa muda. Aku tetap memilih memakai gula merah, sedangkan Teteh Herni gula putih,

“Kok kurang manis, terus lebih enak yang dulu, yah?!” Teteh Herni berkomentar.

Di kedai tersebut ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang terlibat suatu obrolan,

“Udah ada yang datang?”

“Siapa?”

“Itu, yang kampanye cabup-cawabup?”

“Iya, lumayan ngasih salam tempel.”

“Terima aja.”

“Ya iyalah, terima aja. Nanti udah kepilih mah, boro2 inget buat ngasih salam tempel ke warga. Haha…”

“Hahaha… Iya bener…”

Kemirisan dari obrolan itu kuseruput, berbarengan dengan regukan es kelapa muda dan kelapanya yang cenderung tak lagi muda 😀

Kami balik lagi ke pasar untuk membeli plastik parcel. Ketika melihat-lihat, aku terpikir untuk memberi sesuatu kepada Hentika dan Darmawan. Mereka adalah siswa/I yang paling dekat denganku. Aku tiba2 merasa perlu memberi sesuatu pada mereka. Saat itu mataku tertuju pada note dan pulpen. Entah kenapa, aku ingin pemberianku nanti memberi isyarat bagi mereka untuk ‘menulis’ (usai pulang ke kampung halaman, Hentika menelepon. Sewaktu aku menanyakan note pemberianku itu, dia menjawab, “Note-nya udah penuh dengan puisi buat kakak.” Ya ampun… :’) ). Aku pun membeli semacam note bergambar spiderman untuk Darmawan dan Winny the Pooh untuk Hentika. Penanya sama, hanya beda warna. Biru dan pink. Setelah mendapat itu semua, kami pulang.

Kebetulan, pas pulang waktunya makan. Kamipun makan. Setelah makan, aku dan Teh Tuti ke sekolah untuk bertemu Bapak Kepala Sekolah,
“Dian mau minta regalisir jadwal mengajar kita, ya?”
“Iya, Teteh.”
“Sekalian yuk, teteh mau nganterin undangan buat besok penyuluhan RPP berkarakter di kecamatan.”

Di halaman sekolah, guru2 yang sedang duduk2 menyambut kami. Anak2 pun bersorak menanyai kami,
“Kaka mau mengajar lagi, ya?”
“Nggak, Dek,” Aku dan Teteh Tuti menjawab, kompak.

Pulang dari sekolah, aku mandi dan mempersiapkan acara Lomba Cerdas Cermat babak penyisihan. Kami sempat dibuat bingung oleh ketidaksediaan bel. Atas usul A Akmal, kami pun menggunakan mainan anak2, semacam gamelan mini untuk dijadikan bel. Tak hanya itu, hambatan lain yang sempat menunda lomba tersebut adalah pengunduran diri sejumlah anak dan keengganan sebagian anak dalam kelompoknya. Aku berusaha membuat pengertian untuk tidak memilah-milih teman atau rekan kelompok yang memang tekah diacak sebelumnya. Beruntung, semuaitu teratasi. LCC pun terlaksana dengan antusiasme luar biasa. Peserta begitu kompetitif, penonton bersorak dan tertib, kamipun semangat bukan main.

LCC selesai, dilanjut dengan lomba futsal. Anak2 seolah tergiring ke lapangan. Baik peserta maupun penonton sama antusias dan ramainya. Aku sendiri memilih main sepeda (kupinjam sepeda punya Rafik). Aku ditemani oleh Teteh Herni, Teteh Tuti, Edah serta Tria. Kami keliling kampung, ke Sukareja dan Pende. Di perjalanan, teteh Herni mengeluh terus karena sepedanya yang pendek menimbulkan rasa pegal lebih cepat. Aku yang udh biasa, enjoy aja. Hehehe

Pulang2, Teteh Herni ‘aplusan’ dengan Teteh Lissy dan Irna. Untuk kedua kalinya dalam satu senja itu kami keliling kampung, ke Desa Sukareja dan Pende. Pulang2, telah kubawakan jajanan untuk Rafik. Bocah laki2 yang tampan itu kegirangan. Aku sendiri jajan bakso bakwan dengan teteh Tuti. Petang itu kami makan dengan ayam suir. Aku memutuskan untuk mandi (lagi), karena gerah luar biasa. Dikarenakan masih suasana ba’da maghrib menjelang isya, aku mandi ditunggu Teteh Herni dan Teteh Tuti. Setelah itu anak2 cowo ribut hendak menghadiri acara perpisahan di Desa Pende.

“Ke rumah Pak Carik (Sekretaris Desa) yuk, Dian?” ajak A Akmal. Aku belum menjawab, “Tapi pengin ada satu cowo lagi euy!”

“Udah aja aku sama Teteh Herni dan Teteh Tuti.”

“Oh iya deh…”

Kami berempat mendatangi rumah Pak Carik yang merupakan suami Bu Nunung (walikelas 1 da 2 di SDN Kubang Jero). Kebetulan sewaktu acara rapat, beliau mengurus snack. Nah, kamipun berencana untuk konsultasi masalah snack untuk acar perpisahan nanti. Rencananya mau makan2, tapi menurut pertimbangan Pak Carik lebih baik pakai snack biar lebih simple. Kami setuju saja.

Di sana ada Pa Carik, Bu Nunung dan Pak Dartim. Kami mengobrolkan sangat banyak hal. Bercerita, berbagi atau skedar tukar pendapat dengan ditemani teh manis dan raginang. Minuman coklat kemerah-merahan itu, sekali lagi, pasti akan kurindu. Hm… Pokoknya seru!

Namun inti dari maksud kunjungan kami disampaikan oleh Bu Nunung,

“Karena Bu Kinah juga suka mengurus snack, jadi konsultasi aja dulu ke beliau. Kan gak enak, kalian tinggal di rumah beliau, tapi pas urusan beginian malah ke ibu. Ibunya juga kebetulan mau ke Semarang. Jadi selain waktunya bentrok, gak enak juga…”

Kami setuju saja. Setelah cukup malam, kami pulang. Rumah masih sepi. Oh, mungkin anak2 masih di Desa Pende, begitu pikir kami. Begitu memasuki rumah,

“Tega ih kalian, ninggalin kami berdua, pelanga-pelongo di sini, bukannya ngasih tau dulu mau keluar…” Teh Enah memberondong, disusul Fuji yang menambah-nambahkan. Kami semua hanya cengengesan. [#RD]

*Catatan 09 November 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *