BENTANG KENANGAN KKN (Hari 25-27)

BENTANG KENANGAN KKN (Hari 25-27)

KKn 9

Hari ke-dua puluh lima: Kamis, 27 September 2012

Geliat tubuh makin hari makin terasa nikmatnya. Tubuh seolah mulai beradaptasi dengan udara. Hari ini Kamis. O, aku piket! Seperti biasa aku mandi, mencuci piring dan menanak nasi.

“Eh kita piket ya, Dian?” tanya Nia yang sebenarnya gak perlu kujawab. Hehehe… Jadwal piketku, Senin dan Kamis, memang selalu berbarengan dengan Nia. Aku beres2 dapur, sedangkan Nia memasak bihun dan menggoreng telur dadar. Ah enaknya piket bareng dengan si pinter masak… masih pagi, kami udah makan berat. Alhamdulillaah…

Untuk mengisi waktu, aku mencuci baju dan mukena. Aku lumayan semangat untuk ‘packing’ lebih awal menjelang pulang. Makanya tak kubiarkan pakaian kotor tetap ada. Hehe…

Siangnya Lomba Cerdas Cermat babak semifinal. Aku begitu bangga ketika membacakan dan mendapat respon jawaban yang tepat dari anak2. Mereka begitu kompetitif, terlihat jelas sewaktu mengisi soal matematika babak lemparan dan rebutan yang menuntut kecepatan dan ketepatan. Ibu2 dan penonton lain tak kalah ikut berseru2, memandang berbinar kepada para peserta yang berjuang keras mengasah pikiran dan ingatan. Cara2 cepat matematika yang kuajarkan ketika bimbel mereka terapkan.

“Ih berhitungnya cepet banget! Mereka hebat!” komentar A Akmal sewaktu beberapa peserta yang juga murid bimbel-ku, seperti Hentika, Heni, Darmawan, dsb, menjawab soal matematika dengan mudah usai pembacaan soal. Sementara dia masih berkutat dengan pulpen dan kertasnya, ikut menghitung namun kalah cepat. Aku sendiri, terkekeh saja 😀

LCC pun selesai. Giliran lomba puisi. Aku ikut mengkoordinir bersama Fuji dan Irna. Kamipun menuju sekolah SDN Kubang Jero,

“Kak,” Hentika menyapaku.

“Iya, Anti?”

“Ssst… Jangan bilang2, ya?!”

“Kenapa?”

“Banyak peserta lomba puisi yang curang, Kak,” katanya setengah berbisik.

“Curang gimana?”

“Itu… mereka ada yang ngambil dari buku2 dan SMS2 gitu…”

“Mereka itu siapa, Anti?”

“Ya, mereka… nanti juga kakak tau,” jawabnya setengah berbisik.

Dari ucapannya, aku menyimpulkan jika Anti ingin aku hati2 dan tak langsung memvonis hasil puisi tanpa mencari keaslian pembuatannya.

“Kak, kunci SD-nya gak ada?!”

“Yah…” seruku, Fuji dan Irna.

“Di teras mesji aja, gimana?” usulku.

“Ih takut ganggu?! Nanti takut anak2 pada rame, terus ngotorin mesjid, Dian…” Irna menyanggah.

“Di bale desa aja atuh, tapi mesti dibersihkan dulu…” Fuji menyarankan.

Aku dan Irna setuju,

“Yuk atuh, lesehan ya lesehan lah…”

Anak2 mengikuti kami, ramai-ramai. Lomba puisi pun berlangsung cukup tertib. Penonton lombanya banyak, namun mereka tak berkesempatan untuk bersorak dan bertepuk tangan. Mereka hanya diam dan mengamati para peserta, dengan kertas penanya. Lomba bertema keluarga, alam dan persahabatan pun selesai.

Seperti biasa, aku bermain sepeda. Kali ini ‘peserta pit2an’ makin banyak. Hamper di setiap jalan yang kami lewati banyak anak2, laki2 maupun perempuan, berseru,

“Ikut, Kak?!”

Aku mengangguk saja. Mereka pun membuntuti. Iring-iringan pengkayuh sepeda makin mengular. Makin lama makin panjang. Ada yang sendiri, ada pula yang boncengan.

“Kalian gak capek?” Aku bertanya pada pasangan boncengan Sri dan Elva.

“Nggak, Kak.”

“Kan gentian?! Hehehe…”

Aku memposisikan diri di barisan paling belakang, berlagak seolah2 mengawasi mereka. Hehehe… dan benar saja, pasangan boncengan Sri dan Elva sering berhenti, meminta rehat. Ada pula pasangan boncengan Edah dan Tria yang berhenti karena sandal Tria nyelip di jari2 sepeda. Hadeuh… namun keriangan ‘konvoi’ tetap berlangsung. Kami keliling desa Sukareja dan Pende. Warga yang ada pun tersenyum2, seolah ikut ceria memandang tawa kami. Heu…

Begitu kami putar balik ke Desa Kubang Jero, di sebelah kanan balai desa, Hentika yang sedang mengontrol sepeda mini-nya berseru,

“Kak Dian!”

Kulihat Hentika bersama anak2 yang lain, yang tak ikut bersepeda, “Hai…”

“Sini dulu, Kak?!”

Aku berhenti, “Ada apa?”

“Ini,” Anti memberikan bungkusan, seperti kado, “Dari Ipeh, Fenny dan Novi… buat kakak. Tapi merekanya pada malu untuk ketemu langsung…”

“Ya ampun, makasih… Ipeh, Fenny, Novi! Makasih…” aku berseru pada mereka yang ada di belakang Hentika, malu2, hendak lari sambil menderaikan tawa.

“Yah kok lari?! Haha…”

“Mereka kan malu, katanya…”

“Kak Dian!!!” seru anak2 lain yang tengah menunggangi sepeda. Ada Elva, Sri, Firda, Ilmi, Dinda, dkk.

“Iya…” kukayuh sepedaku lagi.

“Ikut, Kak…” pinta Hentika.
“Hayuk…”

Kami bergabung dengan rombongan pit2an untuk meneruskan perjalanan, giliran mengelilingi desa sendiri.

“Kami kira kakak ke mana?!”

“Eh apa itu, Kak?”

“Emang Kakak ulang tahun, ya?”

“Dari siapa, Kak?”

Mereka mencecarkan banyak pertanyaan. Hentika yang berjalan beriringan denganku yang kebanyakan menjawab,

“Kado kenang2an dari Ipeh, Fenny dan Novi.”

Tak terasa cahaya petang telah membasuh desa. Sambil memonggok tawa dan binary mata, kami pulang. Duh, suasana dipastikan akan membuat mataku berkabut jika mengenangnya. Sebagian anak malah membuntutiku ke posko.

“Kak, buka dong kado dari Ipehnya…”

“Nanti aja, deh…” godaku.

“Yah, pengin tahu, Kak…” mereka merajuk. Makin lama, anak2 laki2 maupun perempuan makin berkerumun.

“Hm, enak kali ya kalo makan mangga…” Aku mengalihkan tema pembicaraan.

Mereka menengadah, mengikuti mataku yang memicing kea rah buah mangga yang besar. Namun tak lama, mereka memintaku lagi untuk membuka kado. Akupun menyerah… sambil melambat-lambatkan tangan untuk membukanya dan membuat anak2 merasa jengkel karenanya, akupun berhasil melucuti kertas pembungkus kadonya.

Isinya adalah boneka kangguru lucu yang sedang memegang boomerang. Terselip surat di dalamnya. Surat tentang ‘larangan’ untuk menghilangkan surat serta kado tersebut, pernyataan cinta dan rasa terima kasih, serta doa2. Aku selalu sukses dibuat terharu dengan kata2 lugu, apalagi dari hasil kosakata anak2 itu. Heu…

Anak2 lain yang mengerumuniku ikut membaca dan mengucurkan pujian demi pujian akan kelucuan sang boneka. Rasa penasaranku dan mereka pun terjawab sudah. Kami lalu mengobrol2 sebentar. Lalu,

“Kak Dian!” Hendrik berseru dari dahan pohon mangga.

“Itu… Itu… yang itu…” anak2 perempuan dari bawah pohon menunjuk2 mangga yang mereka rasa ‘pantas’ untuk dipetik.

“Hey, hati2…” seruku.

“Katanya Kakak pengin mangga…”

Aku terperangah. Ucapanku beberapa menit yang lalu hanyalah candaan, namun usaha mereka telah terlanjur berlangsung. Hendrik pun turun digiring anak2 laki2 dan perempuan.

“Gak ada pisau, gak apa2 dibanting aja, Kak?”

“Iya, Kak… Biar manis loh…”

Aku menuruti saja. Mangga yang terpecah-belah itu kami makan bersama2. Daging buahnya asam, namun kebersamaannyalah yang manis.

Detik merambat menit lalu jam. Matahari telah pulang dan layar malam digelar. Malam Jumat ini, sesuai kesepakatan, akan diadakan ‘acara’ dengan Si Bapak.

“Yang tidur duluan, nanti tau2 pindah tempat aja. Hahaha…” begitu ‘ultimatum’ A Dudi.

“Mala mini semua begadang!”

Namun sebelumnya, kami mengadakan ‘masak2’ ayam.

“Nasinya se-gimana ya, Dian?” Nia meminta usulan.

“10 kaleng susu saja, Ia. Kan kita mau makan2 sama Si Bapak dan keluarga juga.”

Dia menuruti saja. Aku yang mencuci dan menanak berasnya. Sempat ada insiden ketika seseorang hendak memasak nasi, saringan pancinya ambruk. Nasi yang belum matang itupun ‘berenang’. Namun beruntung, anak2 yang di dapur sigap dan ‘menjaga rahasia’. Hehehe… Nasi yang lembek pun tetap enak dimakan dalam kebersamaan.

Makan2 usai. Piring2, gelas, wadah dan remah dibereskan. Kami lalu duduk melingkar dengan Si Bapak, Ibu dan Si Aa yang kami duga adalah adik Si Bapak/Ibu.

“Bapak cuma mau ngobrol2, merekatkan kedekatan. Kan dengan ngobrol, rasa canggung suka pudar. Bapak udah anggap kalian sebagai keluarga, makanya pengin aja ngobrol2 lebih intim. Apalagi ini saat2 terakhir! Ya… kita sharing dan tanya-jawab aja,” begitu sambutan Si Bapak.

AAkmal selaku perwakilan menanggapi positif sambutan Si Bapak dengan kata2 normatifnya.

“Gini nih, sekarang bapak mau tanya… Makan untuk hidup, apa hidup untuk makan? Gimana, Akmal?”

“Hidup untuk makan, Pak.”

“Ada yang setuju dan bisa ngasih alasannya?”

“Kalo hidup untuk makan, kesannya kita hidup untuk mencari kenikmatan saja, Pak. Kesannya kita mengejar ambisi saja, gitu. Jadi lebih baik makan untuk hidup,” Teteh Lissy menambahkan.

“Hidup untuk makan, Pak. Soalnya hidup memang bertujuan untuk itu. Kalau gak makan, ya gak hidup,” A Frengki berbeda pendapat.

“Tapi menurut Bapak, lebih bijak Akmal dan Lissy deh… Kalau kita makan, lalu hidup, pasti setelah hidup pengin ada aktivitas. Nah aktivitas itu mesti yang baik, yang sesuai ridho Allah SWT. Pasti dengan begitu, hidup kita punya tujuan.”

“Nah ngomong2 tujuan hidup, apa sih tujuan hidup kamu, Herni?”

“Hm… Pengin sukses dan membanggakan orang tua,”

“Iya kita punya tujuan hidup, kan? Ada yang umum juga khusus. Yang umum misalnya mencari ridho Allah SWT. Tujuan semua orang mestilah seperti itu. Sedangkan yang khusus ya kembali ke pribadi masing2, kayak Herni tadi. Membahagiakan orang tua, membikin bangga orang2 terdekat, dst.

Orang2 terdekat… jika suatu saat nanti kalian udah beristri/bersuami, kira2 kalau suami menjadi rival ibumu gimana, Dian?” pertanyaan Si Bapak cukup mencekatkan tenggorokan.

“Gimana dulu masalahnya, Pak…”

“Maksudnya gimana?”

“Ya memang dalam agama kita diperintahkan menuruti apa kata suami, tapi kalau memang masalahnya suami dalam posisi salah, ya ibu yang dibela mah…”

“Hm…” Bapak mengangguk-angguk.

“Nah kira2 gimana biar orang tua dan pasangan kita tuh rukun, Ansori?”

“Saya mah bakal adil sama ibu dan istri, bakal transparan…”

“Hm… Bapak mah selalu mendidik istri agar hormat sama orang tua. Begitulah kewajiban suami, mendidik istrinya sepanjang waktu. Mengingatkan, membimbing… Bapak juga berusaha menghormati orang tua istri. Dan ingat, jangan sebut mereka sebagai mertua. Mereka adalah orang tua! Hh…Alhamdulillaah… Lihat Si Ibu,” Si Bapak mengarahkan ibu jarinya kepada Si Ibu yang tersipu-sipu,

“Dia waktu mudanya kurus. Si Ibu pas keluar MTs, langsung Bapak nikahi. Berat badannya sekitar 45 kg. sekarang udah 14 tahun, lihat aja gendut seperti itu. Hihihi… padahal yang diwariskan orang tua bapak bukan harta, tapi surat alfatihah dan penerapannya.”

Kami melongo.

“Tanpa harta yang berlimpah pun, kita bisa mencecap kanyamanan hati. Itulah bukti kalo harta memang penunjang kebahagiaan, namun bukan penjamin kebahagiaan.”

Kami mengangguk-angguk. Antara kagum dan kantuk.

“Uh Bapak suka gregetan sendiri dengan anak2 zaman sekarang… Hm, jika orang2 udah menjalankan aturan Tuhan, pasti betapa luar biasanya Indonesia, ya?”

Kami masih mengangguk-angguk.

“Nia? Tina?”

Yang dipanggil tak menyahut. Rupanya mereka telah ‘tepar’ di ruang tamu. Hehehe…

“Hm… teori2 agama sering kita dengar. Namun ya begitu, kita cuma menghapalkan, tanpa mengamalkan… Ng… kira2 dari mendidik dan mengajar, lebih berat yang mana?”

Kami sepakat berseru, “Mendidik, Pak.”

“Iya betul. Karena salah didikan, kadang anak2 kita jadi Bengal, tukang maling bahkan korup. Padahal daripada maling, mending minta secara terang2an, toh…”

Uapan demi uapan mulai menjalar. Mataku dilemma. Kadang merah karena bulir2 dari uapan yang panjang, kadang berbinar2 menatap sekaligus mendengar untaian kata2 super dari Si Bapak.

“Hhh… Pokoknya kita teh jangan saling melupakan. Bapak, saking selalu bersama kalian, udah menganggap keluarga. Kalian juga pasti sama, sudah menganggap satu sama lain sebagai keluarga, kan?”

Kami mengangguk-angguk.

“Begitulah, kadang2 kesetiakawanan itu lebih besar dari persaudaraan. Tak jarang, teman yang sudah sangat dekat itu melebihi saudara kandung.”

Acara tersebut usai, giliran Teh Nena yang bertanya dan curhat ini-itu (Bahan curhatan tentu dirahasiakan demi keamanan. Hehehe…)

“Duh Si Nena mah ceritanya teh Acong lagi, Olay lagi,” gerutu A Dudi yang disambut tawa oleh kami.

“Tidur… Tidur…” Ansori meramaikan.

Aku sepakat. Setelah ke kamar kecil, aku, Teteh Lissy, Teteh Herni dan Teteh Tuti pun memutuskan ke kamar,

“Hey, dengerin dulu aku curhat?” pinta Teteh Nena.

“Jyaaaahhh…” Aku lari ke kamar. Begitu melihat jam, O ow! Jam 2!!!

Hari ke-dua puluh enam: Jumat, 28 September 2012
Meski tidur larut malam, entah kenapa adzan subuh masih berhasil mengusikku. Akupun bangun, mencuci baju dan sarung bantal. Anak2 masih pada tidur. Ansori bangun pun hanya sekedar ke kamar mandi. Aku yang memang masih lumayan ngantuk dan sedang tidak sholat menelentangkan diri lagi. Kami baru benar2 terjaga jam setengah 9-an,

“Nasgor… Nasgor… Nasgor tuh!” Teteh Lissy berseru2 padaku dan semuanya.

Aku yang masih sempoyongan mengikuti saja. Kami malah makan dalam keadaan bangun tidur, tanpa jeda apapun. Hadeuh…

Hari itu tak ada kegiatan, selain santai2. Agak siang, datang A Roni dari sukareja untuk mengundang perpisahan. Kami pun mengobrol-ngobrol di teras depan.

“Dian! Dian!” Nia memanggil-manggil. Suaranya maskin nyaring. Dia mendekat.

“Ada apa?”

“Ke si Ibu, yuk? Ngasih uangnya…” Nia setengah berbisik.

Aku pun berjalan beriringan dengannya menuju rumah adik Si Ibu. Si Ibu tak ada. Hanya da adiknya yang tengah menyusui Dedek Chacha. Kami pun mengutarakan maksud dan lengsung memberikan uang untuk belanja keperluan snack.

Aku dan Teteh Herni berniat meminjem motor ke ayohan, dia sudah setuju. Namun begitu hendak bicara dan mengambil kuncinya, dia malah tidur. Udah aja aku pinjam motor sama A Agus. Kami hendak Ke Ketanggungan. Tapi sebelum itu kami mampir ke Desa Cigadung untuk meminjam helm. Di sana ada ibu kosnya,
“Mau ke mana, emang?”

“Ke Ketanggungan. Ngomong2, lewat mana ya, Bu? Hehehe…

“Dari sini ke pasar Banjar, terus ke kiri, terus melewati Kersana deh… terus… aja!”

“Oh makasih, Bu.”

Kami pun menurut,

“Jangan lupa yang seger2, Dian!” pekik Nova sambil cekikikan.

Aku mengangguk-angguk saja. Dari pasar Banjar, belok kiri, ke ATM BRI tapi tutup,

“Ke BRI yang dekat di RS dulu, Mba…”
Usai mengambil uang dari ATM yang dimaksud, motor berjalan lagi. Luruuus…. Belok kanan, luruuus…. lagi. Di kanan-kiri banyak toko2 oleh2 khas Brebes, termasuk rumah makan yang mayoritas menawarkan sate atau olahan dari daging kambing muda serta teh-eh poci. Di pinggir jalan kami berhenti, melihat-lihat bawang.
“Berapa?”
“8ribu. Yang super (menunjuk ke arah teh yang besar) 9rb.”
“Bisa dikurangi?”
“Paling 7.500.”

“5 kg aja deh, Mas,” Teh Herni menyetujui.
Kami berjalan lagi dan mampir ke Toko Dian 2,

“Berapa, Mas?”

“2.500”

“Bisa kurang?”

“Yaudah, 2.400”

“Oke, Mas. 30 butir saja.”

“Teh poci?”

“25ribu.”

“Ya udah beli satu.”

Aku dan Teteh Herni membawa oleh2 tersebut dengan tenangnya. Tak lupa kami beli beli juga minuman. Pocari sweat untukku dan Mizone untuk Teteh Herni, dan 2 botol Big Cola yang tak kami buka. Kami melanjutkan perjalanan, tapi kami mampir dulu ke mesjid untuk menunaikan sholat ashar. Nama mesjidnya ‘Darussalam’. Kami tak langsung pulang, melainkan ke Desa Cigadung dulu, membawa 2 Big Cola untuk Nova dan Teteh Uni. Mereka senang. Hehehe…

Pulang2, hari telah gelap. Sebelum ke posko, kami mampir dan mengisi bensin dulu. Teteh Herni sempat kebingungan menyalakan lampu motor A Agus. Setelah bertanya pada tukang bensin tersebut, kami pun paham akan cara menyalakannya. Hehehe
Pulang2, telah ada Teteh Nila dan Bunda Yusi,

“Dari mana aja, Say?” tanya Teteh Nila sambil cipika-cipiki.

“Biasa Teteh, ngebolang…”

“Tuh lapis legit,” Bunda Yusi menawarkan. Kami mencobanya. Aku mandi dan sholat maghrib, namun tentu ketinggalan untuk berjamaah di mesjid.

“Bentar amat sih jalan-jalannya,” Teteh Tuti berkomentar begitu kami menyusulnya ke mesjid untuk sholat isya. Aku dan Teteh Herni tertawa saja.

Hari ke-dua puluh tujuh: Sabtu, 29 September 2012
Bangun, kuhirup udara desa dengan sepuasnya. Aroma perpisahan selalu menyeruak. Aku melakukan aktivitas biasa. Agak siang, kami makan bubur.

“Nanti mah mau berpisah ya, Mang?”

“Iya, Neng…”

Si Mang bubur yang selalu kehabisan mangkok memang ramah dan tentu akan kami rindu.

“Beli berapa mangkuk, Dian?” tanya Teteh Tina.

“Tiga, eh empat sama Teteh Lissy…”

“Belum 30 ribu, ya?”

“Emangnya kenapa?”

“Nih ada jatah dari Teteh Nila buat beli bubur, 30 ribu.”

“Asyiik!!” seruku senang. 30 ribu bisa untuk 10 mangkuk bubur ayam.

Sambil makan bubur, kami mengobrol banyak hal. Yang sedang menjadi topik obrolan adalah persiapan untuk lomba tradisional nanti sore. Aku yang bukan koordinator santai saja. Kewajibanku mengkoordinir LCC telah rampung. Hehehe…

“Lomba tarik tambang buat ibu2 gimana nih?” tanya A Akmal.

“Kenapa?”Aku balik bertanya.

“Tambangnya gak ada.”

“Lha, belum dicari ke Pak Marja?”

“Gak ada euy…”

“Yah…”

“Kita cancel aja atuh?”

“Cancel? Siapa yang mau menghadapi ibu2nya?”

“Saya. Emang ada berapa yang daftar?”

“35 orang.”

“Hah???” serentak yang ada di rumah terperangah.

“Alat belum ada, udah nentuin lomba?!” komentar Bunda Yusi.

“Kan mencari tali tambangnya mendadak sih, Bunda…”

“Siapa sih yang usul tarik tambang? Orang talinya gak ada juga?! Ih takut ngecewain…”

Suasana tiba2 memanas. Apalagi sewaktu A Akmal ‘didesak’ untuk mencarinya,
“Hayuklah kita cari, Frengki!”

Aku dan anak2 perempuan lain, juga A Dudi duduk2 saja di teras,
“Ambil buah atuh, Dud…” pinta Teteh Nila.

A Dudi menurut. Kamipun memakan buah yang masih agak mentah itu dengan bumbu ala kadarnya. Aku hanya mencicipi saja. Tiba2 datang Mang Udin,

“Neng ini Mamang udah nyari tali tambang, Cuma dapat yang pendek2 ini, tapi lumayan bisa disambung…”

Kami sumringah, termasuk A Akmal dan A Frengki yang tak lama kemudian pulang. Siang menjelang sore telah tiba…

Lomba tradisional, dari mulai balap kelereng, joget balon, memasukkan kayu ke dalam botol serta tarik tambang ibu2 digelar dengan meriah dan sukses. Hanya saja ketika masih lomba joget balon, aku dan Teteh Herni pergi ke Desa Cigadung, makan bubur kacang ijo yang kami bagi pula ke Nova dan Teteh Uni, lalu ke ATM Banjar.

Malamnya perpisahan. Kusuruh pemenang juara MTQ, Maya, untuk membaca Al qur’an. Beruntung dia bersedia. Acara yang dibawa oleh Teteh Lissy dan Ansori berlangsung meriah. Sambutan demi sambutan meluncur. Kami tak lupa memberi hadiah kenang2an yang telah disediakan kampus, plang nama2 RT, serta peta desa yang dikerjakan A Dudi dan rekan2 dari fakultas Kehutanan. Kerja yang rumit dan keren!

Pembacaan puisiku oleh Teteh Lissy dan Shinta kelas 5 begitu apik. Teteh Tina juga menyumbangkan pembacaan puisi dari puisi yang ia ciptakan sendiri. Kulihat sekitar, menjejaki wajah2 yang akan sangat menggaungkan kerinduan; anak2, Si Ibu dan keluarga, aparat desa, masyarakat, dan semua lingkungan desa yang menentramkan. Mataku tak sengaja melihat kerumunan anak2 SD yang sedang tertunduk sambil menghalau airmata yang hampir jatuh. Begitu melihatku, mereka berusaha tersenyum. Senyum yang getir.

Saat yang paling ditunggu tiba, yakni pembagian hadiah.

“Silakan Kak Dian ngasih hadiah dan sambutan buat para pemenang…” Teteh Lissy mengarahkan acara.

Aku yang sedikit kaget, naik saja ke panggung, memberi hadiah dan sambutan yang singkat. Ada rasa bangga mengalir ketika melihat mata2 anak2 yang membarakan semangat. Juara2 lomba puisi menerima hadiah yang aku serahkan. Bukan tanpa alasan. Aku memilih Darmawan sebagai juara pertama karena puisi Ibu-nya berhasil menyentuh sisi-sisi hati. Dia juga jujur kalau puisinya terinspirasi dari beberpa lagu tentang ibu. Namun sisi kepolosan kata2nya sebagai anak2 tetap tercermin. Juara 2, Sri. Aku melihat keaslian karyanya tentang alam indonesia. Betapa tema yang jarang diambil itu malah ia buat. Kepekaannya itulah yang menjadi keunggulan tersendiri. Lalu, Yopi. Aku melihat keindahan dalam puisi tentang bunga miliknya. Namun memang, ada ‘sentuhan orang lain’ di sana. Hanya saja, kami apresiasi improvisasinya. Heu…

Setelah itu, aku kembali ke kerumunan penonton. Mengobrol dengan anak2, menenggak Teh Pucuk yang dibelikan teteh Tina dan menyapa anak2 KKN dari kelompok lain.

“Kak Dian!” Dhea, keponakan Si Ibu, memanggil.

“Iya!”

“Minta foto kita berdua waktu di pantai…”

Aku menurut saja, “Anak2 pada senang dengan acara ini. Masyarakat juga antusias, soalnya anak2 KKN kemarin gak sedekat dan semeriah ini dengan anak2 dan masyarakat…” komentar Bundanya Dhea. Aku tersenyum saja.

Acara hiburan berupa pentas tari dari anak2 SDN Kubang Jero, dangdutan dan joget bareng. Aku yang menyadari perut kosong lebih memilih ngemil dan tertawa-tawa saja melihat aksi teman2. Di sela2 acar itu, datang berbagai SMS dari anak2 SD dan SMP. Tentang ucapan selamat tinggal, ungkapan terima kasih dan kata2 lain yang menyembulkan haru.

“Boleh gak kita pelukan untuk yang terakhir, Kak? Kapan?”

Aku mengernyit membaca salahsatu SMS tersebut. Padahal anak yang meng-sms tersebut ada diantara kerumunan penonton. Kuperhatikan dia tengah tertunduk terus dan sesekali melancipkan sudut matanya, menatapku. Kupalingkan pandangan, tak mau terlalu larut dalam susana perpisahan yang tak mampu kutunda dan halang. Ini memang sudah waktunya…

Di tengah gegap gempita acara perpisahan, ada peristiwa yang membuat dadaku berdesir. Jantungku meletup-letup. Takut.

“Ada yang meninggal?” semua orang bertanya-tanya.
Aku menghampiri kerumunan Bapak2 dan Ibu2.

“Iya ada yang meninggal, Neng.”

“Di mana rumahnya?”

Mereka menunjukkan rumah yang jaraknya dekat balai desa, dari depan ke sisi kanan. Tepat di jalan yang biasa dilewati untuk menuju warung langganan.

Aku dan beberapa teman masuk ke rumah duka. Di sana ada Bapak2 yang telah tua dengan tatapan yang redup serta keadaan tubuh yang ringkih digerogoti penyakit. Mataku segera mengembun menatap pemandangan itu. Orang2 di sekitarnya menghembuskan asma2 suci, sementara yang lain meluapkan kesedihan dengan cucuran airmata. Kudengar diluar, ada perempuan yang memaki-maki kami karena seolah bersenang-senang diatas duka mereka. Aku berulang-ulang bilang atas ketidaktahuan kami. Rekan yang lain ada yang mengatakan hal sama. Kami meminta maaf dan pemakluman yang amat dalam kepada keluarga yang ditinggalkan.

“Bagaimana ini, Bapak?” tanya kami pada Pak RT.

“Tenang aja. Jangan dipikirkan.”

“Beneran kami tidak tahu. Kami sungguh gak enak dan merasa bersalah…”

“Sebenarnya Pak Yanto udah sakit keras cukup lama. Udah jadi kebiasaan kalo beliau ngdrop. Tadinya dikira gak bakal sampai sekaratul maut seperti ini,”

Pak Kepala Dusun menyambung, “Kami mau ngasih tahu kalian, sama2 gak enak lagi ada acara perpisahan. Namanya juga perpisahan, akhir… dan gak akan terulang, jadi kami gak mau ngerusak acara.”

“padahal gak apa2 ingatkan kami…”

“Ya udah nanti saya bantu bicara, yang jelas kalian udah kemari dan besok disarankan takziah lagi…”

Setelah ‘ditenangkan’ sementara, kamipun pulang memangku duka dan penyesalan. Tepatnya, rasa tak enak. Aku begitu takut. Apalagi tak lama kemudian, terdengar kabar bahwa Pak Yanto sudah benar2 pergi.

“Makin hening aja deh desa!” kata Teteh Engkur.

“Iya, udah mah anak KKN pulang, ada yang meninggal lagi…” tambah Bu Kinah.

Kami masuk dan duduk bersama terlebih dahulu,
“Silakan satu persatu mengatakan sesuatu, entah unek2 atau apa. Saya sendiri… tak ada kata yang lebih indah dari ucapan terima kasih dan maaf untuk kalian…” tutur A Akmal. Kemudian beliau ‘mengomentari dan mengungkapkan rasa terima kasih’ kepada kami, satu per satu kami disebutnya.

Lalu giliran kami. Satu persatu dari kami berbicara, meluapkan apapun dengan diakhiri permintaan maaf dan ungkapan terima kasih. Terlihat jelas mata-mata kami basah. Aroma perpisahan semakin tajam, airmata pun datang tanpa undangan. Tak terkecuali laki2, mereka ikut terisak.

“Saya… Walaupun digebukin gak pernah nangis. Tapi kalo susananya seperti ini, nangis saya nih…” kata A Dudi terbata-bata, menahan airmata yang memberondong keluar.
Takut sekaligus letih mendera. Aku dan rekan2 memilih tidur, meredakan rasa menyesal dan peluh untuk bekal energi esok pulang. Kami tidur lumayan lelap.

Hari ke-dua puluh delapan: Minggu, 30 September 2012
Aku bangun dengan semangat. Begitu juga teman2 lain. Kami begitu sigap membereskan ini-itu. Rumah, kamar, dokumen2, peralatan pribadi, alat2 mandi, baju2 kotor, dst. Aku sendiri tidak membawa seluruh barang2ku ke rumah. Ada beberapa yang sengaja kutinggalkan di rumah, siapa tahu berguna dan terkenang. Hehehe…

“Elf menjemput jam 9-an…” demikian informasi terkhir yang kami terima. Kami makin siaga saja. Membereskan dan menimang-nimang siapa tahu ada barang yang kelupaan diangkut. Aku sendiri membersihkan halaman, mengumpulkan serpih demi serpih sampah yang berserakan. Sementara HP-ku terus melolongkan ucapan2 perpisahan dari anak2. Mayoritas dari mereka membubuhkan simbol kesedihan, semacam: 

Setelah beres, kami mengumpulkan barang2 di luar. Kami sendiri berkumpul di luar dengan perlengkapn pulang yang mantap. Sebelum itu, Si Bapak dan keluarga berfoto bersama kami. Beliau juga memberi sambutan. Intinya, kami semua telah menjadi saudara dan pantang bagi sesama saudara untuk saling lupa. Lagi2, bulir bening mengalir dan remuk di pipi2 kami.
Aku keheranan dengan anak2 yang terus2an SMS, namun tak terlihat.

“Kalian di mana?”

“Kami di SD, Kak. Kakak plis jangan pulang…”

“Nyamper, dong. Kita pamitan dulu…”

“Malu, Kak.”

“Gak apa2, ke sini aja…”

Usai melakukan salam perpisahan kepada Bapak dan keluarga serta tetangga sekitar, kami berkumpul untuk mendiskusikan sisa uang. Setelah sepakat untuk melakukan cash back sebagian, aku pun menukarkan sejumlah uang, seadanya, sambil pamitan ke para pemilik warung dan isi ulang galon.

Begitu pulang menuju posko, telah ada Rafi, Didi, Puji dan Jaka. Mereka menyalami kami. Nampak mata mereka menyiratkan jejak airmata, merah dan sendu.

“Ini buat kaka…” Rafi menyodorkan boneka yang ia tulisi ‘Rafi… Rafi… Ka Dian… Ka Dian…’

Dadaku agak sesak, namun kucoba menenangkan diri dan mengelus boneka itu, “Makasih, Rafi…”

Elf datang, barang2 diangkut. Aku duduk di depan, memuaskan mata untuk memandang desa persinggahan lebih lama. Elf berjalan, sebagian warga desa dan keluarga si bapak serta anak2 melambai-lambaikan tangan,

“Hati-hati…”

“Selamat jalan…”

“Jangan lupa ke sini lagi, ya…”

Elf berjalan melewati Desa Kubang Bungur. Rupanya dengan jalan tersebut, kami lebih cepat sampai memasuki jalan besar. Suasana serta hawa desa, tanahnya yang kering dan abu, hamparan kebun jagung, celoteh anak2, dan apapun itu perlahan tertinggal jauh di belakang. Selamat tinggal…

Gapura-gapura selamat jalan dan selamat datang menghampiri mataku, bergantian. Semuanya bagai tirai2 yang membukakan mana itu kenangan, mana itu masa depan. Akhirnya kami pun tiba di kampus, berpamitan dan pulang…

Terima kasih, Waktu… Kau papah kami pada keluarga, ilmu dan pengalaman yang baru!!!

Alhamdulillaah… usai sudah kutulis kegiatan KKN-ku di Desa Kubang Jero, Kec. Banjarharjo, Kab. Brebes, Jateng. Kutulis sekaligus kupahat kenangannya di blog ini. Adapun penulis telah melakukan revisi atas kegiatan KKN ini, sehingga tidak semua detail kegiatan dan ucapan ditulis serta dipublikasikan. Hehehe… Jika ada kebaikan, silakan diserap. Jika tidak, tertawakan dan abaikan saja 😀

Namun doaku akhirnya, semoga pahatan kenangan yang membentang ini memberi sekerat manfaat. Amin… ^_^ [#RD]

*Catatan 09 November 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *