Bentang Kenangan KKN (Hari 4-6)

Bentang Kenangan KKN (Hari 4-6)

KKN 2

Hari Keempat: Kamis, 06 September 2012
Aku dibangunkan oleh alunan solawat jelang adzan subuh. Mengagetkan, kalo usia itu tak lama. Karena ingat bahwa Kamis itu piket, aku segera bangun menuju dapur. Di sana ada Nia yang tengah mengupas labu siam. Di sekitarnya ada potongan tempe dan magic com yang telah siap. Aku segera mencuci gelas dan piring sisa semalam. Lalu aku bergabung dengan Nia yang telah membuat adonan tepung untuk tempe dan mengupas kentang untuk djadikan sambal goreng. Kukupas dan memotongnya dadu. Aku mandi besar.

Dzuhur, aku ke mesjid. Balik ke rumah, sebagian besar anak2 pada tidur. Aku sendiri amat gerah dan tak nyaman. Di kamar, aku hanya membolak-balikan buku panduan KKN, melihat nama dan lokasi KKn teman2 sekelasku. Kudengar Ansori memasak nasi lengko. Jelang ashar, kami makan. Lalu aku piket dan mandi besar lagi soalnya ada bercak hitam di CD-ku. Aku piket dan nyuci piring lagi. Aku menelentangkan diri di tengah2 anak2 cewe yg sedang tidur, mlihat2 buku panduan lagi. Jelang magrib, aku begitu semangat menuju mesjid. Yasinan, lalu ngbrol2 dengan anak2 SD dan MTs, sekalian mengajak mereka untuk les. Sholat isya, Hentika (yang akrab dipanggil Anti) dan Laili kelas 4 menghampiriku, berdiri berdampingan untuk sholat denganku.

Usai pulang, mereka datang. Ada yang membahas Matematika, Fisika, TIK, Bahasa Indonesia dan Inggris. Aku sendiri mengajar membaca kepada Dede Iren (kelas 1 SD) dan Dhea (SMA), tentang If Conditional, bersama Teh Lisias. Kemudian berlanjut pada Anti, tentang bagi gapit atau bagi kurung. Anti bilang sambil menunjuk ke depan,

“Itu rumahku, Kak! Bilik, deket!”

Mataku menuruti tuntunan telunjuk kecilnya lalu tersenyum. Kuajari dia tentang bagi kurung tersebut, termasuk tentang perkalian cepat 10 dan 11. Dia begitu antusias. Malah dia meminta ‘tambahan waktu’ ketika jam les telah usai. Kulihat mata bocah itu berbinar. Aku pun tidur dengan nyaman.

Hari Kelima: Jumat, 07 September 2012
Aku dibangunkan seruan seruan subuh. Anehnya aku cepat terlelap lagi. Jam setengah 6, aku baru bangun. Aku solat. Melihat gelas dan piring yang berantakan, kucuci. Lagipula kasian yang piket cewe cuma seorang, mengingat kedua cewe lainnya pulang sebab harus bekerja. Setelah itu, mandi dengan Teh Tuti. Hari itu, mendadak aku dan Teh Herni ke sekolah padahal jadwal B. Inggris jam 9. Sengaja sih, agar kami bareng minta ijinnya mengingat ini adalah hari pertamaku mangajar.

Kami masuk ke kelas 5. Mereka antusias. Jadwal mereka B. Indo. Aku, Teh Herni dan A Dudi mengajar kata-kata tanya dan menulis rangkuman dari sebuah percakapan. Kesan pertamaku murid2nya penurut, takdzim, dan aktif. Aku senang, tapi lama2 haus dan lapar juga. Dengan mengajak dan berhutang pada Teh Herni kami ke ‘kantin ala kadarnya’. Kami reguk teh gelas dan 2rb-an piscok kecil2 yang alot dan tidak telalu enak namun dimakan juga karena lapar.

“Ayo neng, cobain jajanan KJ. Kenalan2…” begitu sambutan ibu2 kantin.

Tp kemudian datang ibu guru, Bu Cuciyati. Beliau meminta kami segera ke kantor yang ternyata di sana telah ada kudapan. Ada juga teman2 kami yang lain. Di depan meja ada gelas teh manis panas yang besar, kue roma kelapa, bakwan sayur dan jagung serta kacang asin. Sambutan guru2 sangat hangat.

Usai istirahat, aku dan Teh Herni masuk kelas 3. Karena sekat antara kelas terbuka, banyak anak2 kelas 4 yang nongol. Akupun masuk kelas 4 untuk ‘mengamankan’. Perkenalan yang asyik dengan mereka. Akupun mengajar IPS tentang wilayah perairan (laut, selat, teluk, dsb). Tak lama, ada Teh Enah masuk. Aku kembali ke kelas 3 menemani Teh Herni. Kulihat di papan tuls ada 20 daftar benda di kelas. Aku mengernyit. Kupikir itu terlalu banyak dan rumit bagi mereka. Tp Teh Herni bilang ‘gak apa2’ melulu. Aku menurut.
kerja lapangan, kkn, praktek kkn saat kuliahTernyata kelas 3 bisa dikatakan sebagai kelas neraka. 45 siswanya aktif, meluap2, dan punya rasa ingin tau yang tinggi. Aku ajari saja nyanyian “This is a window, dst” serta permainan bisik-berbisik. Sampai ketika kami keluar, tenggorokanku kerontang. Tp ketika pulang, mereka mnciumi punggung tanganku sambil mengucapkan salam, mengajak toss dan bilang “Isukan dui nya, Ka!” (Besok lagi ya, Kak!) Mereka berebutan. Aku serasa pahlawan saja.

Di rumah, aku istirahat. Tak lama, datang telpon dari ibu dan kakak. Setelah itu, aku ikut membina pramuka, sholat maghrib, mengajar mengaji, ngobrol sama anak2 beserta ibu2. Pulang, bimbel dan mengajar anak kelas 5, tentang bagi kurung.

Hari Keenam: Sabtu, 08 September 2012
Kumandang subuh membangunkanku. Namun niatku untuk sholat berjamaah di mesjid urung kulakukan setelah kutengok segala arah semuanya masih merem. Tapi aku bangun dan bangkit. Kulihat Aindra tengah sholat. Aku pun mandi dan sholat. Melihat cucian piring yang banyak, kucuci saja. Lama2 semua bangun. Kebanyakan dari mereka menanyakan ‘kamu piket?’ Aku menggeleng, lagi dan lagi. Hm, menurutku ribet juga kalo mesti menunggu piket. Aku ikhlas, insya Allah…

Aku pun mandi dan bernagkat ke sekolah jam 7. Kuisi kelas 7, tentang keluarga. Kusuruh mereka menulis nama ayah, ibu dan saudara /kakka atau adik. Sebagian besar sudah lancar, itupun karena keluaran PAUD ato TK. Bu Nunung selaku wali kelas bilang,

“Yang keluaran TK/PAUD itu membantu sekali.”

Sementara yang tidak bisa ada yang menangis, yang tak mau nulis, yang mesti didampingi ibu, dst. Harus sabar, telaten dan penuh perhatian. Istirahat. Disuguhi kudapan lalu menikmatinya dengan Teh Herni sambil berdiskusi tentang materi B Inggris untuk kelas 3. Kami pilih buah2an. Seeperti biasa mesti sabar. Kelas 4 melihat2. Segera saja ‘kurapikan’.

Kata mereka, “PKN, bu!”

“Menggambar, Bu!”

Yep! Aku menggambar saja bis sekolah, perahu nelayan dan SDN Kubang jero. Mereka begitu antusias dan merapi2kan kerjaannya. Begitu. Aku bolak-balik kelas 3 dan 4. Pas pulang, 30 menit kemudian Paketu (panggilan untuk ketua kelompok) datang dari acara ospek. Lalu, disusul DPL. Membahas vertikultur. Beliau pulang, anak2 mendengarkan musik, tidur, leha2. Aku sendiri diam diluar dan lalu dipanggil2 ibu2 dan Dhea (anak adiknya Pak Maskat),

“Burok, Teh! Ageh liat!” (Burok, Teh! Cepet lihat!)

Aku menurut. Terlihat arak2an anak sunat dgn berbagai atributnya. Ada barongsai, kuda2/gajah2an, bencong, cewe2 yang jadi kuda lumping, dst. Ramai. Pedagang keliling pun banyak.

Sementara di rumah, Teh Nena tengah galau karena pacarnya. Pas ashar, ada tahu gejrot dan arak2an burok yang keliling balik. Kembali Ayohan mentraktirku (termasuk membayariku yang patungan 5 rb). Tiba magrib. Usai sholat dan mengaji, aku mengobrol dengan Anti, Dhea, Edah, Teh Enah, dkk. Tentang Kubang Jero dan Kuningan. Pulang2 isya, bimbel. Mengajar bagi gapit lagi, kalian 10 dan 11 dengan cara cepat.

Usai bimbel, kami makan2, tepatnya ayam bakar. Sementara Si bapak dan keluarganya bakar2 ikan yang dari Waled. Habis itu, kami tepar! :0 [#RD]

*Catatan 18 Oktober 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *