Bergaul dengan Orang-orang Sholeh yang Gaul

Bergaul dengan Orang-orang Sholeh yang Gaul

Islamic Metal

Rabu, 22 Mei 2013

Hampir semua tahu nyanyian Opick “tombo ati” ya, Sob. Salah satu “tombo ati” (obat hati) dalam lagunya itu adalah “bergaul dengan orang-orang sholeh”. So, yang hatinya sedang “sakit”, salah-satu cara itu cukup efektif. 😀

Selain keluarga, pergaulan pun emang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter dan kehidupan. Orang bilang, kalau ingin kenal seseorang bisa dengan mengenali sahabatnya dulu. Sejatinya, sahabat atau orang terdekat itu merupakan cerminan kita.

Semasa SMA, seseorang yang kukenal sebagai sosok “brutal” dalam berpakaian, bertingkah dan berkata-kata pernah menjawab ajakanku (padahal mengajak dengan nada bercanda) untuk sholat dzuhur,

“Aku sholatnya di rumah aja.”

“Waduh, emang suka sholat?” tanyaku keheranan dan tak menganggap serius apa yang ia katakan.

“Eh gegabah! Ya suka lah…”

“Masa sih? Kok belum pernah liat sholat di mushola sekolah?” tanyaku polos namun serius (sombong beudh gue! -_-‘).

“Emang mesti ditunjukkin, yah? Habisnya mushola suka penuh, males ngantri mukenanya lama-lama. Lagipula pas pulang ke rumah, masih ada waktu kok. Bisa luang lagi waktunya,…” tuturnya.

Ciyus! Percakapan singkat itu sangat berpengaruh dalam hidup dan pikiranku. Dari sanalah, aku menyimpulkan; Siapapun orangnya, seburuk apapun penampilan, tingkah laku dan tutur katanya, SIAPA TAHU dia lebih mulia darimu. Jangan terburu-buru men-judge diri sendiri sebagai pribadi yang lebih baik.

Ilham dari sekelumit dialog itu cepat masuk ke hati. Selain maknanya dalam, caranya pun ‘unik’. Tuhan seolah mengutus temanku itu untuk sedikit ‘mengubah’-ku. Mungkin inilah salah-satu cara Tuhan membimbing hambanya. Tidak melulu dengan ceramah, khutbah, kultum, pengajian, dst. Pengalaman yang serasa sepele itu bisa jadi malah merombak segalanya.

Makin ke sini, aku semakin sadar banyak sahabat-sahabatku yang (sengaja-tidak sengaja) sangat memerdulikan agama. Banyak diantara mereka yang dengan terbuka menasehatiku, mengirimkan hadist-hadist, potongan kata-kata islami, mengajak mengaji, dst dengan bahasa yang sangat serius dan religius. Kalau sedang khilaf, aku hanya menampungnya lewat telinga kanan lalu melemparnya lagi lewat telinga kanan. -_-‘

Kebetulan semasa SMA aku pernah menjabat sebagai sekretaris Rohis. Posisi yang aneh! -_-‘ Padahal aku dijuluki biang onar atau provokator di balik ‘kerusuhan’ kegiatan keagamaan. Aku gak pernah ikut malam bina iman-takwa, sering ‘meloloskan diri’ dari latihan, keputrian, mengabaikan siraman rohani dari para guru agama, malah mengompori teman-teman lain untuk melakukan hal-hal serupa. Malah, sahabat perempuan yang menjadi atasanku di Rohis (N) pernah bilang dengan gamblang,

“Hal yang bikin aku gak suka sama kamu, waktu aku pinta kamu untuk dateng dalam kegiatan keagamaan, kamu menjawab dengan singkat ‘gak’. Pas aku tanya ‘kenapa? ada urusan lain?’, kamu jawab lagi dengan entengnya ‘gak, malas aja.’ Deg! kamu tau, mendengar jawaban kamu itu hatiku sakit. Inilah penyakit hati kamu, menganggap sepele suatu kewajiban.” (teguran ini masih tersimpan rapi dalam catatan SMA-ku :’0)

Astaghfirullaahal ‘adziim. Kalau boleh mendramatisir, entahlah apa maksud Tuhan menumpahkan amanah dan kewajiban yang berat itu padaku. Yang jelas, posisi cukup vital di Rohis itu sedikit membebani mentalku. Cap anak Rohis mesti aku emban dengan kehati-hatian berpakaian dan bersikap. Selain itu, aku pun jadi lebih kenal dan dekat dengan mereka yang memang agamis.

Penampilan dan kelakuan mereka sangat terjaga. Tiap mengobrol, temanya mestilah tentang ajakan kebaikan dan larangan keburukan. Tidak, cara itu sama-sekali tidak salah, hanya kadang pribadi kitanya yang labil. Kadang menelusupkannya ke hati, kadang juga malah menganggapnya sebagai angin lalu. Padahal, sosok-sosok seperti itulah yang sangat kita butuhkan dalam kehidupan.

Banyak pula yang secara tidak langsung ‘memapahku’ ke arah kebaikan dengan cara lain. Tutur kata ala teman ke teman, keceplosan kata-kata super dan aksi nyata menjadi daya tarik bagi hati untuk mengabadikannya. Mereka itu ‘gila’, asyik, gaul namun tunduk ketika waktu sholat tiba, jujur, solider, peduli urusan akhirat, dst.

Aku tentu takkan pernah lupa sahabat terbaikku, Rina Rahayu, yang dengan sabar mengajakku mengaji, membangunkanku untuk sholat, memberi ‘ceplosan’ nasehat sewaktu saling curhat , segera mengqodho puasa, dsb. Meski sambil jitak-menjitak, saling mengejek, berlari-larian, tertawa dan bertingkah nyeleneh, selalu saja terselip hal-hal yang membuatku berpikir dan berubah menjadi lebih baik.

Ya, berada di tengah-tengah sahabat yang paham etika bergaul dan mentaati agama itu memang sangat nyaman. Mereka hadir tidak sebatas mewarnai hidup, menemani dalam suka-duka dan menyemangati, tapi juga menyelamatkan diri dari hal-hal buruk di dunia dan akhirat.

Terima kasih, Allah. Semoga Engkau senantiasa memberikan perlindungan, kebaikan dan kasih sayang pada semua sahabat-sahabatku (yang tak tersebut satu-persatu). Aamiin… [#RD]

Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *