“Boleh Nanya, Enggak?”

“Boleh Nanya, Enggak?”

boleh nanya gak

Kamis, 23 Mei 2013

Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak yang menghubungiku lalu kemudian bertanya, “Boleh nanya, gak?” 😀

Dari sekian yang bertanya “boleh nanya, gak?”, ada yang sedikit mengusik hati. Pertanyaan itu muncul di tengah-tengah chat fesbuk. Memang, saling sapa dan serasa akrab di fesbuk itu bukan hal biasa kan, Sob? “Ketemuan” di komentar, saling like, grup, halaman, ajakan bermain, undangan, dst membuat beberapa diantara kita seolah-olah telah kenal lama.

Tetapi ada sebuah akun asing yang tiba-tiba menyapa, mengobrol ringan lalu bertanya pada ranah ‘pribadi’. Dia menanyakan hubunganku dengan seorang laki-laki, yang katanya merupakan hubungan ‘khusus’. Melihat poto profilnya (kartun), sempat terbersit dalam hatiku, jangan-jangan dia itu akun kloningan si cowok itu sendiri untuk mengerjaiku. Ya, kecurigaanku hanya sampai di situ, tak lebih.

Aku seperti diinterogasi. Lagi-lagi, hal ini bukanlah sesuatu yang baru. Aku sangat sering menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang banyak dan sedikit-sedikit, dengan topik berbeda. Sambil membalas sapaan lain, sebisa mungkin aku memberi keterangan yang jujur. Hanya dengan menjawab jujur itulah, aku pikir, tak akan ada kesalahpahaman nantinya.

Apa mau dikata, meski (menurutku) telah jujur, namun ia terus bertanya-tanya memastikan apakah jawabanku benar atau mengada-ada. Mulanya aku sedikit ‘ilfil’ dan ingin menyudahi percakapan saja. Bagaimana tidak, dia bertanya dan aku menjawab. Lalu setelah aku mengatakan apa yang ia tanya, ia malah meragukannya.

Terjadi diskusi kecil dalam hatiku. Mungkin dia memiliki kepentingan, sehingga dia patut mendapatkan keteranganku. Aku juga berusaha memaklumi keraguannya, sebagaimana keraguan yang terbersit dalam hatiku sejak pertama kali ia bertanya. Akhirnya, aku hanya menjawab seperlunya. Tak terlalu terbuka, apalagi ikut-ikutan ‘kepo’. Bisa dikatakan, dialog itu hanya sebatas tanya lalu jawab. Sudah.

Semakin obrolan memanjang, rasa penasaranku terpancing. Kini obrolan kami memasuki pola ‘tanya darinya-jawab dariku-tanya lagi dariku-jawab lagi darinya’, dst. Ada hikmahnya juga. Ternyata memang ada kesalahpahaman diantara kami. Beruntung, komunikasi itu pada ujungnya berbuah rasa maklum dari masing-masing. Kami menyudahi obrolan dengan rasa puas, tanpa menggantung-gantungkan kata tanya lebih lanjut.

Andai saja tak ada kalimat ‘boleh nanya, gak?’, mungkin kesalahpahaman itu akan berlarut-larut. Insitiatifnya selain bisa meluruskan pandangan, juga bisa meremukkan kecurigaan. Langkahnya itu menasehatiku untuk jangan sungkan bertanya, menginterview atau melakukan kroscek terhadap apa yang kita ragukan kebenarannya. [#RD]

Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *