Cerita PPL; The Eighth Meeting

Cerita PPL; The Eighth Meeting

PPL Guru 8

Bel pertanda jam ke 4-5 berbunyi. Aku dan kawan2 se-prodi (Wulan, Teh Anih, Uus dan Tatang) bergegas ke GENSIXTEN (X6). Mereka ikut dengan tujuan ingin melihat bagaimana aku di kelas, sekaligus untuk keperluan dokumentasi.

Dikarenakan renovasi, kelas mereka jadi beralih ke laboratorium bahasa. Entah kenapa, suasananya sangat begitu riuh. Dan seperti mereka yang biasa, suara riuh segera menyapa,

“How are you, Miss?”

“Hello, Miss!”

“Hi, Miss!”

Aku mengangguk-angguk, menggumamkan kata, “Fine!”

Setelah agak tenang, aku menyapa mereka dan disambut riuh. Barangkali karena aku menyapa dengan sebutan ‘Gensixten’, nama lain dari X6. Teman2ku di belakang hanya senyum2. Seperti biasa, aku membentuk tim independen untuk memeriksa Pekerjaan Rumah mereka. Tim tersebut begitu sigap. Dalam waktu yang tak begitu lama, mereka segera melaporkan hasil temuannya.

Sangat memuaskan bagiku sebab rata2 mereka telah mengisi sebagian besar dari jumlah PR.
PR pun aku bahas. Kini suasana kelas lebih senyap sebab ternyata guru pamongku masuk. Jadilah aku serasa ‘diuji’ oleh 5 pengawas. Namun lagi2 aku merasa sangat senang sebab anak2 kelas sangat aktif. Hampir semua dari mereka menudingkan tangannya ke atas,

“Miss!” seru mereka bertalu-talu.

Aku celingukan, sengaja mencari ‘wajah baru’. Selain takut bosan, aku juga tidak ingin terlalu menumpuk poin pada murid2 tertentu. Dan, betapa bingungnya aku ketika ‘wajah2 baru’ yang amat aku nantikan begitu banyak. Jadi deh aku menunjuk mereka secara acak, dengan mempertimbangkan jumlah poin. Salah atau benar, aku sangat mengapresiasi.

Bu Hj.Iin memberi kode padaku untuk menyuruh barisan belakang. Aku pun menunjuk salahsatu dari mereka, sayang jawabannya tidak memuaskan. Mereka pun tidak membawa buku paketnya. Aku Tanya pada guru pamongku apakah tidak semua murid punya, beliau jawab,

“Semua punya.”

Hal itu menjadi bahan renungan. Sebagus-bagusnya keaktifan kelas, memang ada saja beberapa yang ‘nakal’. Wajar, namun tetap mesti dicarikan solusinya. Dan alhamdulillaah sampai PR selesai, antusias mereka tetap berkobar. Aku sangat memanfaatkan itu. Segera saja aku melanjutkan pada pembahasan selanjutnya, yakni tentang pembagian tipe dari dua teks berbeda:

Text 1
Ronald Amundsen lived in Norway. In 1909 he decided to try to become the first man to reach the South Pole. Robert Falcon Scott in Britain was already planning his second attempt, and so a race began.
On 19th October, 1911, Amundsen and four companions set off with four light sleds, each pulled by 13 dogs. Despite the danger, everything went well. Their excitement grew as they approached their goal. Had they been fast enough? Amundsen and his men were the first people to reach the South Pole. They arrived there on 14th December, 1911.
Five weeks later, Scott reached the South Pole, only to discover that Amundsen had been there first.
Source: Explore and Learn People in Place and Time

Text 2
Once upon a time, there was an island where all the feelings lived: Happiness, Sadness, Knowledge and all of the others, including love. One day, it was announced to the feelings that the island would sink, so all constructed boats and left. Except for Love. Love was the only one who stayed. Love wanted to hold out until the last possible moment.

When the island had almost sunk, Love decided to ask for help. Richness was passing by Love in a grand boat. Love said, “Richness, can you take me with you?” Richness answered, “No, I can’t. There is a lot of gold and silver in my boat. There is no place here for you.” Love decided to ask Vanity who was also passing by in a beautiful vessel. “Vanity, please help me!” “I can’t help you, Love. You are all wet and might damage my boat,” Vanity answered. Sadness was close by, so Love asked, “Sadness, let me go with you.” “Oh… Love, I am so sad that I need to be myself!” Happiness passed by Love too, but she was so happy that she didn’t even hear when Love called her.

Suddenly, there was a voice, “Come, Love, I will take you.” It was an elder. So blessed and enjoyed, Love even forgot to ask the elder where they were going. When they arrived at dry land, the elder went her own way. Realizing how much was owed from the elder, Love asked Knowledge, another elder, “Who helped me?” “It was time,” Knowledge answered. “Time?” asked Love. “But why did Time help me?” Knowledge smiled with deep wisdom and answered, “Because only Time is capable of understanding how valuable Love is.”
Source: Http://www.indianchild.com/love_and_time.html (14th June 2006)

Sebelum menentukan jenis teks dan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan teks, terlebih dahulu aku menerjemahkan artinya. Aku manfaatkan semangat api mereka. Kami jadi seperti menerjemahkan bareng. Syukurlah mereka saling mengisi. Yang A menanyakan arti sebuah kata bisa dijawab oleh Si B, temannya. Mungkin tema teks, khususnya yang kedua, memang menarik sehingga mereka begitu berbinar-binar sewaktu aku membahasnya. Tak terasa acara menerjemahkan pun usai. Dalam hati, aku selalu berharap: Semoga mereka paham! Bel istirahat.

Sebelumnya, Bu Hj. Iin pamit keluar. Kini aku dan kawan2 PBI yang celingukan hendak ke mana. Mau ke kantin, tentu bukan pilihan kalau suasananya ramai. Akhirnya kami ke perpustakaan. Ternyata tak banyak yang berubah. Di sana, kami hanya buka-buka buku, melihat judul, membolak-balikkan halaman, menyimpannya dan duduk di kursi perpus lalu mengobrol ‘ngalor-ngidul’. Lima belas menit kemudian, bel berbunyi. Masuk. Namun teman2 PBI yang semuanya memang tidak memiliki jadwal pamitan.

Aku jadi sendirian ke laboratorium. Tiba saatnya menjawab pertanyaan dari 2 teks yang telah dibahas. Dalam tahap pengisian, aku tak membiarkan mereka mandiri dengan sebenarnya. Hehehe… Aku tetap berkeliling dan memastikan mereka berusaha untuk menjawab itu semuanya. Selain itu, aku juga punya kewajiban untuk ‘melayani’ pertanyaan mereka. Dan setelah yakin mereka memang ada usaha untuk mengerjakan, kami membahasnya berbarengan.

Menurut rencana dalam RPP, semestinya aku mengupas 1 teks lagi yakni tentang “The Little Tin Soldier”. Teks yang cukup panjang tersebut mesti disusun terlebih dahulu, diterjemahkan dan ke-10 pertanyaannya mesti dijawab. Namun ‘mood’-ku menurun karena factor capek. Aku amat sangat yakin, anak GENSIXTEN pun demikian. Didukung oleh keterbatasan waktu, akhirnya aku menjadikan teks tersebut sebagai “Home Work”.

Jam ke-6, aku benar2 ‘jobless’. Beruntung saja aku ‘senasib’ dengan beberapa rekan PPL yang kebetulan ‘nganggur’. Kami pun menghabiskan waktu dengan ngobrol, membeli camilan dan saling komentar tentang banyak hal. Memasukki dzuhur, kami sholat berjamaah di Mesjid Attarbiyah. Selalu saja, di mushola kebanggan SMANekad itu aku merasa damai. Rumah Allah Swt itu selalu sesak dan makmur. Alhamdulillaah…

Jam ke 7-8, aku masuk ke AKSEL (Anak Kelas SEpuluh Lima). Menapaki kaki di kelas dengan nama ‘AKSEL’ di tembok belakangnya, aku merasa sejuk. Kelasnya dingin dan terkesan hening. Aku masih membiarkan mereka ‘berseliweran’, toh nanti juga tenang. Benar saja, mereka tenang dengan sendirinya. Setelah kegaduhan kecil mereka reda, aku mulai menyapa mereka,

“Hi, AKSEL!!!”

Mereka menyembulkan senyum yang sangat cantik sambil merespon sapaanku. Sayang, responnya terkesan ‘berantakan’. Ada yang ‘ngeh’ menjawab ‘hello’, ada juga yang menjawab ‘hi’ lagi. Aku memang sengaja biar mereka terpancing perhatiannya. Mereka tertawa-tawa. Begitulah, Dik. Aku lebih nyaman melihat tawa atau senyum mereka dulu sebelum memulai mengajar. Terlebih lagi, mereka kebagian jam terakhir. Aku mesti peka ‘mood’ mereka dan mesti pintar2 mencari celah untuk jadi bahan tawa.

Tiba pada pemeriksaan PR. Kutunjuk lagi tim independent. Sama seperti di kelas X6, tim independen di kelas X5 juga sangat sigap. Dengan segera, mereka melaporkan hasil temuannya. Entah ke berapa kali aku dibuat terenyuh. Tak ada satupun yang tak mengerjakan! Semuanya mengerjakan PR, walau belum beberapa. Aku maklum. Sungguh, hal itu saja telah membuat hatiku sangat senang!

Ditambah lagi dengan jawaban anak2 AKSEL yang lebih akurat. Tugasku untuk mengoreksi hasilnya jadi sedikit berkurang. Aku selalu ‘curiga’ pada Fiona yang memang terlihat sebagai salah satu murid potensial dalam pelajaranku. Sepertinya teman2 Fiona sangat mengandalkan dirinya. Entah untuk menerjemahkan sesuatu, menjawab tugas atau mengerjakan PR.

Selanjutnya aku menerjemahkan dua teks dengan tipe berbeda. Kami seolah menerjemahkannya dengan berbarengan sebab kadang mereka telah tahu arti kosa-katanya. Kerja sama yang bagus, walau kadang2 ‘kaum adam’ ribut. Tetapi aku selalu memaklumi keributan kecil itu. AKSEL ini masih mending, sebab semua siswa/i-nya membawa buku. Ketika aku mendekat ‘kaum adam’ ada yang berkomentar,

“Saya mah mau merhatiin, Miss. Tapi nih Si XXX (nyebutin nama) ngajak ngobrol terus, jadi gak konsen!”

Aku hanya tersenyum kepada Si XXX yang dengan sadarnya segera focus ke buku lagi. Dipikir-pikir, mereka sebenarnya sangat baik dan menghargai keberadaanku. Sikap mereka itulah yang selalu mengurungkan niatku untuk ‘menghardiknya dengan keras’. Aku rasa mereka memiliki semangat belajar yang tinggi kok! Hm, semakin lama aku semakin bersyukur bisa ditempatkan di kelas se-keren ini
Selanjutnya adalah menjawab pertanyaan. Aku tetap berkeliling, ‘menawarkan’ diri sebagai pelayan yang melayani kebutuhan Bahasa Inggris mereka. Kadang mereka meminta ‘service’ menerjemahkan, membenarkan struktur, mengoreksi grammar, dst. Sangat menyenangkan, apalagi sewaktu ‘kaum adam’ tergerak untuk bergabung dengan anak2 perempuan dan ikut mengerjakan soal. Sempat kelas berdengung hebat dan ada murid perempuan yang bilang ‘SSttt’ dengan keras. Aku yang sedang berkeliling sejenak kaget mendapati kelas begitu hening,

“Silakan aja diskusi lagi. Wajar ribut, asal ngeributin soal, yah? Hehehe…”

“Bener, Miss. Ngerjain soalnya santai…” komentar salah satu dari mereka.

Yang lain membalasnya dengan senyum dan dalam hitungan detik, kelas ramai lagi. Aku yang merasa nyaman di kelas AKSEL yakin, mereka pun akan ikut nyaman. Sampai akhirnya pembahasan. Jawaban mereka rata2 sudah benar, hanya sesekali aku koreksi strukturnya. Sedikit sekali. Mereka sepertinya memang paham isi teks, jadi aku tidak terlalu sulit untuk membimbing lebih jauh lagi.

Sama seperti kelas Gensixten, AKSEL pun tak bisa mengejar pembahasan teks “The Little Tin Soldier”. Terpaksa, aku PR-kan. Detik2 jelang pulang, aku mengkondisikan kelas. Tanpa menunggu lama, seseorang segera memimpin doa dan aku pamit keluar. Seperti biasanya AKSEL, mereka berseru-seru,

“Thank you, Miss!”

Aku tersenyum dan bergumam, “You’re welcome.”

Hari ini acara mengajarnya sangat mendamaikan! Alhamdulillaah… [#RD]

Yang membutuhkan RPP-nya, silakan download:

RPP 8_Jenis text and rearrange paragraph

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *