Cerita PPL; The Eleventh Meeting in X.5

Cerita PPL; The Eleventh Meeting in X.5

Cerita PPL Ekspresi Terkejut

Kamis, 21 Februari 2013

“Waktu yang mempertemukan, waktu juga yang memisahkan.”

Kata-kata itu, entah dari mana datangnya, selalu terngiang-ngiang. Mungkin karena PPL-ku memasukki momen-momen terakhir, sehingga ketika aku memasukki ruang kelas AKSEL dan GENSIXTEN, aku selalu berkata dalam hati; Inilah waktu mangajarku terakhir kali.

Ya! Waktu PPL yang ditentukan pihak kampus nyatanya tidak didukung oleh keadaan di SMAN 1 Kadugede. Agenda semacam Try Out (TO), UTS serta ujian-ujian praktek kelas XII menyebabkan Maret-nya akan penuh gangguan. Hal itu menggalaukan!

Well, hari Kamis adalah jadwalku mengajar ke kelas AKSEL dulu pada jam 3-4, tepatnya jam setengah 9. Usai mengobrol dengan rekan2 PPL yang lain, aku segera berjalan menuju kelas. Ketika masih di luar, Rizkia ‘menjemputku’ untuk membawakan tasku (lagi). Memasukki kelas yang nuansanya sejuk itu, aku tidak langsung menyapa. Aku hanya duduk di bangku guru dan membiarkan kegaduhan khas kelas reda lebih dulu. Barulah setelah suasana mendukung, aku mengucapkan salam dan menyapa mereka,

“Hello, AKSEL!”

“Hi, Miss!” jawab mereka, lebih kompak dari sebelum-sebelumnya.

Selanjutnya kami saling tanya kabar. Tak lupa, mereka pun menyerukan hasil pertandingan ‘liga champion’ antara Barcelona dan AC Milan. Kebetulan, aku memegang Barcelona dan ada anak AKSEL yang milanisti. Aku menggunakan topic itu sebagai jalan yang nyambung dengan materi lagi,

“Sometimes, life is full of surprises. Hampir semua komentator atau pemerhati bola mengunggulkan Barca. Namun kita hanya memprediksi, Tuhan pula yang memutuskan. Barca kalah 2-0 di kandang Milan,” kataku (sambil ngelus dada. Heuheu).

Begitulah ‘small talk’ kami. Dan sesuai dugaanku, mereka bertanya,

“Hasil ujian kita gimana, Miss?”

Mendengar pertanyaan itu, aku seperti mendapat ‘ide mendadak’. Kebetulan ide tersebut akan nyambung dengan materi yang akan aku sampaikan hari ini. Kujawab saja mereka dengan kembali bertanya,

“KKM-nya berapa?”

“69.”

“100.” (jawaban ini mendapat dengung ‘huuu’)

“75, Miss!” jawaban terakhir inilah yang aku percayai.

“Semua anggota AKSEL gak ada yang memenuhi KKM!”

Kelas menegang. Terlihat ekspresi ‘kaget’ mereka bermacam-macam. Ada yang membelalakkan mata, memajukan wajah, memonyongkan bibir, ‘speechless’, dst disertai ungkapan seperti,

“Haaaah???”

“Apa?”

“Masa sih?”

“Ya ampun!”

Aku membalas ekpresi mereka dengan senyum, lalu berkata,

“Teteh hanya acting. Sesuai dengan materi kita hari ini…” aku segera balik kanan menuliskan judul ‘Expressing Surprise, Disbelief and Congratulating’.

Sementara itu, di belakangku adik-adik langsung ‘ngeh’ dan tertawa-tawa. Rupanya mereka segera sadar kalau sedang aku ‘kerjain’. Setelah dipertimbangkan, aku memang tidak buru-buru membagikan hasil ujian mereka. Hal tersebut kuyakini akan sedikit mencuri konsentrasi belajar mereka. Maka aku teruskan saja materi,

“Berita atau info apa aja sih yang bikin kamu kaget?”

“Raffi Ahmad ditangkap!”

“Andi Mallangeng ditangkap karena kasus korupsi!”

“Berita orang meninggal!”

“Berita jadi juara!”

Aku mengapresiasi semua jawaban tersebut. Usai membaca dan menerjemahkan ungkapan-ungkapannya bersamaan, aku memberikan sedikit informasi mengenai hasil ujian,

“Ok, Teteh kasih bocoran dikit.”

“Bochor… bochor…” Mereka berseru, menirukan logat iklan cat. Gak apa-apa, mereka jadi tertawa-tawa.

“Well, yang nilai Pilihan Ganda-nya terbesar, 19 poin, diraih oleh Lela Faudhilah dan Afni Nuranifah!”

Mereka tepuk tangan, bersorak.

“Yang nilai essay-nya terbesar, bahkan sempurna 20 poin, diraih oleh…..” Aku menggantungkan kata.

Mereka seperti menahan napas,

“Doni Setiawan!”

Mereka mengerjap-ngerjapkan mata, hening beberapa detik, lalu buyar oleh tepuk tangan dan seruan,

“Hah?”

“Doni? Masa sih?”

“Wah, gak nyangka!”

Aku bilang, “Sesuai materi kita… Sometimes, life is full of surprises…” 😀

Aku menjelaskan pada mereka bahwa Doni berhasil keluar dari bayang-bayang orang lain. Dia tidak meng-copy paste kalimat dari buku maupun kamus, kata-kata dalam note-nya pun natural, sehingga aku ‘berani’ memberi poin penuh padanya. Sedang mayoritas adik-adikku memindahkan kalimat dari buku paket maupun kamus. Alhasil jawabannya memang benar, namun tak tercium kejujuran, maka aku mesti ‘tega’ mengupas poinnya.

The Eleventh Meeting in Aksel

“Dan… yang nilai ulangan harian tertingginya yaitu… seorang perempuan…”

Mereka berseru-seru, meneriakan berbagai nama.

“Dia berpostur tinggi…”

Kelas senyap sejenak, lalu ada yang menyerukan satu nama dan memang benar,

“Iya, selamat buat Anisa Nurbaeti dengan poin 92,5!”

Prok… Prok… Prok…

Aku rasa, kita tidak mesti memberikan segala hal yang mereka inginkan selagi tidak mendidik (semacam memberi nilai tinggi saja). Nilai di atas kertas memang penting, namun aku tak mau mereka men-dewa-kannya. Yang ingin kutekankan dalam pendidikan bukan hanya pengetahuan, namun perubahan. Utamanya perubahan hati, menjadi lebih anggun dan ranum. Anak AKSEL mengangguk-angguk, menerima. Aku sangat yakin mereka bisa memahami apa yang hendak aku ajarkan. Terlebih mereka ini sosok kelas yang kalem, diam namun kritis. 

Selanjutnya aku membahas, tepatnya menjawab latihan-latihan dalam buku paket bersamaan. Ohya, tak lupa aku menyela materi. Aku teringat sesuatu. Ya, ketika menulis pesan dan kesan tempo lalu, aku mendapati banyak kalimat-kalimat singkat dalam Bahasa Inggris yang masih keliru grammar-nya. AKu membahas tersebut sampai yakin kalau mereka paham. Kadang juga aku mengklarifikasi kritik mereka, misalnya;

“Miss itu kalau lagi ngajar ingatnya ke X6 aja…”

“Jujur, dari pertengahan Januari sampai Maret nanti mungkin AKSEL dan GENSIXTEN-lah yang menjadi dua nama paling istimewa. Secara karakter, kalian memang beda. Namun masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Jadi intinya, posisi kalian itu sama di hati saya.”

“Kalau aku mengacungkan tangan untuk menjawab, suka dicuekin sama Miss-nya…”

“Itu berarti poin kamu udah banyak. Teteh pengin poin di kelas ini seimbang, jadinya Teteh lebih mementingkan mereka yang poinnya masih sedikit, gitu.”

Selanjutnya aku kembali ke materi, seputar bencana alam, menjodohkan gambar dengan deskripsinya dan membuat deksripsi mengenai salah satu tempat yang tertera di gambar. Kebetulan ada gambar hutan lindung, pantai, goa, pertambangan batu bara dan air terjun. Sesuai dugaan, mereka me-request ‘pantai’ untuk dijelaskan. Aku pun memakai nama pantai “Randu Sanga”, Brebes-Jawa Tengah. Tetapi mereka sendiri yang secara tidak langsung mengelaborasinya. Teringat Brebes, aku jadi tertarik membicarakan kenangan ketika di Brebes. Hehehe…

Selanjutnya yaitu ‘adjective clause’. Perlu kepekaan ketika mengajarkan ‘pattern’ Bahasa Inggria. Takut kalau-kalau mereka bête, dan pelajaran hanya akan menjadi monster tambahan bagi mood mereka. Aku pun menyiasati dengan contoh yang familiar (misal subjeknya adalah nama band terkenal, kebetulan aku memakai nama ‘NOAH’). Aku juga memberi contoh versi Bahasa Indonesia-nya dulu. Dalam hati aku selalu berharap; Moga-moga mereka paham. Aamiin…

Ketika menerangkan materi itu, aku juga mengobrolkan banyak hal seputar dunia SMA. Terutama, aku ingat bahwa sebentar lagi mereka akan memasukki kelas XI. Menurutku pribadi, di kelas tersebut akan banyak tantangan untuk dilalui. Masa-masa itu adalah masa jenuh belajar, masa mengaktifkan diri dalam intra maupun ekstra kurikuler, masa ‘sok-sok-an’ jadi kakak kelas, masa cari perhatian ke kakak kelas, dst. Tak lupa aku juga mengimbau mereka untuk tidak meng-underestimate jurusan apapun nantinya. Lagi-lagi aku amat sangat yakin, mereka paham.

Jelang istirahat, aku membagikan hasil ujian. Aku lebih memilih untuk tidak mengumumkan nilai mereka satu persatu, kecuali yang besar. Benar saja, ada berbagai ekspresi yang tumpah. Ada yang terkejut, ‘galau’, pasrah, lega dst. Tadinya cara remedial-ku ingin tugas saja, namun kata guru pamongku mesti ada soal khusus remidial. Ya sudah…

“PR-nya…” seruku. Kelas menjadi tenang.

“Yang pertama, jangan lupakan materi hari ini. Yang kedua… kerjakan halaman 114 bagian B. Sunnah, gak wajib. Dikerjakan bagus, gak juga gak apa-apa.”

“Hih?”

“Lho?”

Aku mengulum senyum dan tak menjelaskan ‘mengapa’ keputusanku seperti itu. Biar saja, biar mereka tahu sendiri maksudnya. Hehehe… Usai mengumumkan bahwa aku menerima pengaduan nilai, aku segera keluar menghindari kelas. Tak tega juga aku menyaksikan rona wajah mereka yang nilainya kebetulan kecil. Namun aku meneguhkan hati,

Challenge2
“Ini semua demi kebaikanmu, agar kamu lebih tegar belajar. Nilai kecil hanyalah kegagalan kecil yang boleh jadi melahirkan kesuksesan lebih besar.”

Seperti kebiasaan mereka, tersembul ucapan sederhana yang selalu berhasil membuatku terharu,

“Thank you, Miss!”

“Makasih, Miss!”

“You’re welcome,” jawabku, sambil melangkah agak gontai. [#RD]

Download RPP-nya:

RPP 10_Expressing surprising, disbelieving and congratulating

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *