Cerita PPL; The Eleventh Meeting in X.6

Cerita PPL; The Eleventh Meeting in X.6

Cerita PPL Ekspresi Terkejut 2

Sambil menunggu jam ke 7-8, aku mengobrol dengan rekan-rekan PPL-ku. Hal yang sedang ‘in’ menjadi topic adalah seputar ujian PPL. Namun tiba-tiba Teh Itha mengajakku ke saung sosro untuk mengobrol. Aku pun nurut. Kami mengobrolkan hal-hal yang menjadi ‘tema khusus’. Hehehe… Selanjutnya kata Teh Itha,

“Kamu ada jam di mana?”

“X.6, Teh…”

“Ih kan ada yah X6 yang manggil ‘miss’ ke aku? Keceplosan mungkin, terus kata temennya teh ‘bukan miss eta mah; ibu…’ Tapi sering, waktu di kelas suka kedengarannya teh ‘miss’ aja. Saya teh ngomong ‘kalian mah ingetnya teh miss-miss aja’. Heu…”

Aku agak geli mendengar curahan hati dengan dialeknya yang khas itu,
“Iya nanti aku bilang, Teteh.”

“Oh ya, jangan lupa juga besok hasil diskusi ASEAN-nya kumpulkan sebelum ulangan gitu, ya?”

“Iya nanti aku bilang, Teteh,” jawabku (lagi).

Jam 7-8 tiba. Aku bersama rekan2 PPL yang ‘satu arah’ jalan bersama menuju kelas tujuan masing-masing. Setibanya di kelas GENSIXTEN, aku membiarkan mereka reda sendiri dengan kedatanganku. Walaupun demikian, X6 ya X6, mereka langsung ramai berseru-seru seputar menyapaku, menyebutkan nama Persib dan (tentu) liga champion serta tak jauh ‘hasil ulangan harian’. Aku tak langsung menggubrisnya. Setelah tenang, barulah aku mengucapkan salam, menyapa dan bertukar kabar dengan mereka.

Tak lama, HP bergetar. Aku hanya melihat untuk mengetahui siapa yang menghubungiku. O, ‘Teh Itha’. Dan, aku segera ingat untuk memberitahukan amanat serta ‘curahan hati’ beliau pada X6. Selanjutnya,

“Nilai Pilihan Ganda terbesar, 19 poin, adalah Audina Virdayanti. Selamat!”

Kelas ikut bersorak.

“Nilai essay terbesar, 18 poin, adalah Desi dan Nia. Selamat!”

Kelas bergemuruh lagi.

“Um, nilai essay yang sempurna ada di kelas AKSEL. Poinnya 20. Dia adalah Doni Setiawan!”

Tak jauh berbeda dengan AKSEL-nya sendiri, terlihat ekspresi terkejut dari GENSIXTEN. Terutama anak laki-laki yang tentu telah hapal Doni itu siapa. Aku jelaskan pula, kenapa aku ‘berani’ memberi point sempurna padanya. Penjelasannya sama dengan apa yang kusampaikan di AKSEL.

“Nilai ulangan harian terbesar di GENSIXTEN adalah… Nia! Poinnya sama dengan Anisa, 92,5.”

“Nia lagi… Nia lagi…” celetuk mereka.

“Dan, di kelas ini selain Nia, Desi dan Audina. Semuanya tak ada yang memenuhi KKM!”

“Hah???”

“Apa?”

Aku menyaksikan ekspresi terkejut yang beragam dari mereka. Kemudian kataku,

“Teteh hanya acting. Sesuai dengan materi kita hari ini…” aku segera balik kanan menuliskan judul ‘Expressing Surprise, Disbelief and Congratulating’”

“Ah… Miss mah iseng bangeeet!”

“Super Trap!”

“Jebakan Betmen!”

Aku lalu menyambungkannya dengan materi. Ya, sama seperti apa yang tadi aku terapkan di AKSEL. Aku tanyakan pula hal/berita/kabar apa yang sering membuat mereka terkejut,

“Kabar orang meninggal!”

“Kabar bahagia!”

“Menang mobil dari Ale-Ale!” -_-‘

Selanjutnya aku mengupas isi buku. Aku berusaha lebih peka terhadap kondisi mereka, mengingat jam pelajaran ke 7-8 itu bermodal sisa-sisa tenaga. Dilematis. Maka, aku selingi dengan cerita maupun guyonan-guyonan mendadak. Sampai kemudian, murid laki-laki nyeletuk,

“Poto-poto atuh, Miss!”

Mendengar itu, aku sedikit heran. Kenapa? Ya, aku memang cukup mementingkan dokumentasi sebagai kenang-kenangan (termasuk bercerita dalam blog ini :D). Namun entahlah, aku merasa belum perlu untuk berfoto. Lagipula, di AKSEL saja aku mengisi kelas dengan materi, masa di GENSIXTEN tidak? Um, istilahnya aku hanya mau memperlakukan mereka dengan seimbang. Lagipula, materi akan lebih bermanfaat buat mereka. Heuheu…

Dengan sedikit memaksakan, aku melanjutkan materi. Semuanya hampir sama dengan apa yang kuberikan di AKSEL. Seputar menjodohkan gambar dengan deksripsinya, menyebutkan nama-nama bencana alam sesuai dengan gambar dan mengelaborasi deskripsi dari pantai Randu Sanga-Brebes. Kurasa-rasa ada yang lain dengan kelas ini,

“Mengejutkan, yah? GENSIXTEN jadi tenang. Hehehe…”

“Galau sama hasil ujian, Miss!” ada yang menjawab.

“Nanti pasti dibagikan, nanti ya…”

Aku jadi tertarik untuk bercerita sesuatu,

“Kemarin-kemarin Teteh ketemuan sama teman-teman sekelas di kampus. Yang jadi topic panas adalah seputar PPL,” aku membuka cerita yang memang kudapatkan dari seorang teman di kelas.

Waktu itu teman-temanku memang saling cerita

“Pengin cepat selesai.”

“Gak betah.”

Dan malah seorang teman ada yang bertanya sama aku begini, “Tahu nggak, benda apa yang wajib aku bawa pas masuk ke kelas?”

“Spidol? Tas?”

“Bukan.”

“Apa atuh?”

“S a p u!”

Anak-anak tertawa. Ya, memang temanku itu selalu membawa sapu ke kelas untuk menangkan murid-muridnya. Aku jujur pada adik-adikku tersebut bahwa aku bersyukur bisa ditempatkan di kelas seperti AKSEL dan GENSIXTEN. Mereka tersenyum-senyum merona. Oh ya, sama seperti di AKSEL, aku juga meluruskan grammar dan struktur bahasa yang mereka gunakan ketika menulis pesan-kesan. Mereka cukup antusias, bahkan kulihat ada yang mencatatnya dengan segera. Kuajuka pula beberapa pertanyaan sederhana seputar ‘tenses’ dasar. Mereka ada yang melongo, ragu-ragu bahkan ‘speechless’. Aku amat yakin, mereka bukan tak tahu, namun sedikit melupakan dan tak menerapkan materi tersebut.

Kelas GENSIXTEN yang sekarang sangat tenang. Aku bertanya lagi, kalau-kalau mereka bête. Kata mereka,

“Enak yah Miss kalau suasananya seperti ini?”

“Bangeeet!”

Aku, mau tak mau, mesti mengejar target menuju penjelasan ‘Adjective Clause’. Dan lagi-lagi ada yang nyeletuk,

“Cerita lagi atuh, Miss?!”

Aku berjalan ke tengah-tengah kelas. Ya, aku menceritakan sekelumit masa SMA-ku. Sebab, kalau mau menceritakannya semua tentu tak mungkin. Aku menekankan pentingnya ‘time-management’ dalam belajar,
Challenge1

“Memang sih otak kita udah kayak martabak. Satu, tapi dibagi-bagi!”

Grrr…

“Namun nikmati saja semuanya. Jangan menganggap semua tugas, ulangan, pelajaran, ekskul, OSIS dan seterusnya sebagai beban. Syukuri saja… Siapa tahu diluar sana ada yang cemburu sama kalian. Pengin berseragam kayak kalian, pengin ngerjain tugas kayak kalian, pengin punya ekskul kayak kalian…”

“Bener, Miss!”

“Orang lain mah pada putus sekolah ya, Miss?!”

“Nah waktu kelas X ini mungkin kalian masih semangat belajar, yah?…”

“Nggak, Miss,” anak laki-laki paling belakang memotong sambil senyum-senyum.

“Nah, apalagi kelas XI ntar. Yang bijak mengatur waktu, yah? Jaga pergaulan juga. Lebih baik dekat dengan 1 sahabat yang membawa ke arah lurus, daripada dekat dengan 100 teman yang menyesatkan,” tuturku, teringat masa dulu yang (ups!) pernah bolos. Bukan bolos sekolah, namun pelajaran. Heu… Bukan berarti teman2 SMA-ku buruk, namun semua dari kami belum sadar akan pentingnya pendidikan.

“Nanti pas kelas XII, barulah kerasa akibatnya. Nyesel. Terus jangan meng-under estimate jurusan apapun. Semuanya punya spesialisasi masing-masing,” kataku lagi yang amat mereka perhatikan.

“Miss?” sapa seseorang di belakang.

“Iya?”

“Saya mah kok malas aja belajar Bahasa Inggris teh, Miss. Kosakatanya teh gak hapal melulu…” dari dalam hatiku, aku begitu senang mendengar ‘curhat colongan’ tersebut. Nuansa kelas seperti ruangan konsultasi aja. Heu…

“Um… Mungkin kamunya kurang menyukai Bahasa Inggris, ya? Sukai dulu, biar bawaannya enjoy dan menyenangkan…”

“Ih maksudnya bukan gak suka sama Miss, tapi… er…”

“Pelajaran apapun, kalau tidak melibatkan hati, bawaannya bakal berat. Jadi susah juga masuk ke otaknya teh. Tapi kamu gak wajib menguasai seluruh pelajaran, kok. Yang wajib itu adalah berusaha untuk menaklukan semuanya aja,” beberku.

Suasananya terasa lain. Seperti bukan GENSIXTEN. Tapi tak apa, aku suka. Kulanjutkan lagi dalam pembahasan ‘Adjective Clause’. Aku menerapkan apa yang telah aku terapkan si AKSEL. Kugunakan versi Bahasa Indonesia dulu serta menggunakan subjek ‘NOAH’. Baik di AKSEL maupun GENSIXTEN, aku baru menjelaskan sampai ‘keterangan tempat dan waktu’ saja, belum ke possession. Kurasa, lebih baik sedikit asal mereka paham (semoga). Terlebih lagi jam terakhir, aku mesti hati-hati memainkan ritme energy mereka.

Sampai akhirnya aku membagikan hasil ujian. Lagi-lagi, aku memutuskan untuk tidak mengumumkan satu persatu nilai mereka. Begitu kubagikan, ekpresi penerimaan mereka beragam. Wajar.

“Ini semua demi kebaikanmu, agar kamu lebih tegar belajar. Nilai kecil hanyalah kegagalan kecil yang boleh jadi melahirkan kesuksesan lebih besar.”

Terlebih lagi anak laki-laki (AKSEL maupun GENSIXTEN) yang kertas jawabannya kuberi catatan ‘rahasia’. Hehehe… Begitu mereka membuka kertas jawaban, kata mereka sambil menahan tawa:

“Miss melecehkanku!”

“Miss tahu aja!”

“Kita putus ah, Miss!”

Aku mendekati mereka dan mereka hanya tersenyum-senyum sambil menunduk-nunduk tersipu, “Hehehe, Miss.”

Setelah semua kembali dalam posisi normal, aku berseru, “PR!”

Kelas senyap dan menanti apa yang akan aku bilang, “Yang pertama… Jangan lupakan materi sekarang!”

“Pasti, Miss!”

“Yang kedua halaman 114 bagian B…”

Sebagian langsung membuka buku dan menandainya, “Yang kedua, PR-nya gak wajib. Silakan mau dikerjakan atau enggak.”

Sama saja seperti AKSEL, mereka saling lirik,

“Lho kok?”

“Hih???”

Aku tak menghiraukan mereka. Segera saja aku menyuruh salahsatu dari mereka untuk memimpin doa dan… pulang! Aku langsung keluar. Teteh Itha meng-sms-ku untuk menemaninya mengawas ulangan,

“Gak musim. Hayuk pulang!” jawabku. Hehehe

Namun aku tetap menunggu dengan rekan PPL dari Biologi. Anak-anak SMA lalu-lalang, termasuk anak-anak AKSEL dan GENSIXTEN yang menyalamiku, bahkan sampai berkali-kali. Lalu sambil pulang, mereka melambaikan tangan. Khusus untuk yang laki-lakinya ‘dadah’ sambil tersenyum tersipu, mungkin masih ingat catatan yang kuberikan di masing2 kertas jawaban 😀

Sampai akhirnya aku dan rekan2 pulang. Begitu di gerbang, ada beberapa anak kelas X-XI menyalamiku. Wajah mereka ada yang asing, ada juga yang familiar (kebanyakannya karena OSIS atau aktifis ekskul). Lalu, ada seorang anak kelas X (bukan dari X5 dan X6) menyalamiku,

“Miss… Miss…”

“Iya?”

“Kok gak ngajar di kelas X1? Ngajar dong!” Aku sedikit aneh mendengarnya. Heu…

“Hehehe, kan udah ada bagiannya…”

“Aku I**s, Miss,” katanya sambil menyebutkan nama.

“Oh iya iya, I**s. Mari pulang…” kataku menyudahi pertemuan singkat itu, sebab memang aku tengah ditunggu rekan2 PPL-ku yang ingin pulang.

Cuaca cukup panas dan lelah dari mengajar pun mendorongku untuk cepat2 ingin membasuh badan. Kata Teteh Itha,

“Itha kangen SMAN 1 Kadugede…”

“Baru juga ngajar, Teteh…” aku merespon sambil geleng-geleng kepala. Ckckck… [#RD]

RPP-nya:

RPP 10_Expressing surprising, disbelieving and congratulating

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *