Cerita PPL; The Fifth Meeting

Cerita PPL; The Fifth Meeting  

PPL Guru 2

Kamis, 31 Januari 2013

Untuk hari Kamis ini, sesuai rencana, aku akan meng-test ‘narrative monologue’. Sehari sebelumnya, tepatnya Rabu malam, baik dari kelas X5 dan X6 meng-sms, menanyakan ini-itu,

“Boleh bawa teks gak, Miss?”

“Yang dihapalin itu dialog-nya apa teks-nya aja, Miss?”

“Kalo gak sesuai dengan teks banget gimana, Miss?”

Sms-an itu sempat memanjang. Dan aku sangat senang, meski mereka masih kelas X, namun untuk sms-an denganku tidak banyak menyingkat kata. Mereka bisa menempatkan sesuatu sesuai konteksnya, ternyata. Dari sms-an itu pula, aku jadi kasian. Awalnya aku berharap mereka telling story-nya tanpa teks. Namun dari sms-an itu, kesimpulanku, mental mereka mestilah sedikit terusik karena test ini. Kutanyakan saja,

“Ada PR lain, gak?”

Ternyata ada. Aku jadi semakin berpikir, bagaimana yah metode untuk meng-test mereka? Agar mereka tetap enjoy, gitu?

Entah kenapa, aku yang mau meng-test mereka pun tak kalah deg-degan. Hari Kamis itu, jam 3-4, aku masuk ke kelas X5 terlebih dahulu. Beberapa menit jelang masuk, aku menemukan ide agar acara test-nya tidak membikin tegang. Begitu masuk, aku bilang dulu, ingin tahu responnya,

“Sekarang test telling story. Di depan. Dan, seharusnya test sekarang itu tanpa teks…”

“Haaah???” Mereka terkejut.

“Kenapa? Deg-degan, yah?”

“Iya, Miss!” roman muka mereka beragam. Ada yang lesu, memerah, was-was, dan tampang galau lainnya.

Aku memanggil 3 orang diantara mereka secara acak dan tanpa melihat absen (sedikit demi sedikit aku mulai hapal wajah dan nama mereka). Semua sempat terlonjak-lonjak. Terkejut. Kasian juga, aku memainkan jantung mereka dulu. Hehehe… Setelah ketiga anak itu maju, kuajukan pertanyaan,

“Menurut kalian, bentuk tesnya mau kayak gimana?”

Baik mereka maupun anak2 yang masih duduk, celingukan merasa bingung. Usai diskusi, akhirnya kuputuskan,

“Kalian tetap bercerita di depan kelas. Boleh bawa teks, asal perhatikan ‘eye contact’. Terus silakan pilih, mau menghadap teman2 atau menghadap Teteh aja. Setuju???”

“Setuju!” seru mereka sumringah.

“Milih aja, Miss. Gimana kita,” Lina beropini.

Aku mengangguk, “Sip! Boleh banget…”

Melihat ekspresi mereka membaik, aku sedikit lebih tenang. Kupanggil mereka 3 orang – 3 orang, hompimpah dan suit untuk menentukan siapa yang jadi urutan 1, 2 dan 3. Mereka tidak terlalu menyusahkan. Semuanya lancar. Hanya saja ada yang teks-nya lupa tak terbawa, sehingga terpaksa membaca teks dari HP (hasil browsing).

Satu per satu bercerita. Aku tidak langsung menilainya dengan angka. Di sisi nama mereka, aku berkomentar dahulu tentang bagaimana kelancaran mereka (fluency), apakah maknanya jelas (meaning), apakah pengucapannya bagus (pronunciation), apakah intonasinya pas (intonation) dan apakah ekspresinya mengena (expression).

Setiap mereka maju, aku menawarkan, “Mau menghadap teman2 atau teteh aja?”

Mereka semua menjawab nomor 2. Mereka juga membawa dan melihat teks. Ada yang focus pada teks, ada juga sesekali memainkan matanya. Malah ada yang membacanya dengan sangat ragu dan terpatah-patah. Aku jadi ‘suudzon’, jangan2 anak ini baru membaca teks waktu itu juga. Kecuali Lina Yasmin, dia memilih bercerita di depan anak2. Warga kelas pun bersorak. Aku lalu berjalan ke belakang untuk memperhatikan dia.
tell a story with a picture
Lina membawakan cerita tanpa teks, namun dengan bantuan gambar. Kreatif sekali. Hal itu menjadi poin lebih untuk dia. Tentu Lina lebih banyak berjuang untuk mempersiapkan tes ketimbang teman2nya yang lain. Sayang, ada part yang membuat Lina sedikit mengalami keraguan. Namun over all, dia bagus!

Syukurlah, semuanya terbagi waktu test, hanya 2 orang yang sedang sakit yang belum sempat di-test. Usai test, aku meminta mereka mengumpulkan buku catatan. Lupa, aku ingin mengetes apakah mereka suka mencatat atau tidak.

Kalau boleh jujur, ekspektasiku belum terjawab. Padahal aku berharap hasil atau penampilan lebih dari kelas X5 ini. Aku tak tahu, ada beberapa orang yang menurut sorotanku akan mampu menampilkan yang terbaik, namun ternyata kurang memuaskan. Dalam hati saja, aku berusaha memaklumi,

“Oh, mungkin mereka butuh lebih banyak waktu.”

Jam ke 7-8 tiba. Aku menuju kelas X6. Di kelas ini, belum juga acara KBM-nya dimulai, mereka selalu mengundang tawa. Ekspresi wajah mereka mungkin yang selalu senyum2. Tak lupa, mereka selalu menyapaku duluan sebelum ucapan salam, semisal, “How are you, Miss???”

Aku sedikit ‘menjahili’ mereka, “Fine, thank you. Come on, Iyan! Maju dan tell story-nya!”

Anak2 yang lain mengekspresikan kekagetan. Sementara yang kupanggil dan duduk di bangku belakang itu cengengesan saja, “Hah? Kan sesama Bobotoh Persib, Miss…”

Kuyakin dia tahu, aku hanya bercanda. Singkat cerita, aku menerapkan pola yang sama dengan kelas X5. Di kelas X6 ini tak ada yang baca teks dari HP. Semuanya menulis dan begitu yang dipanggil maju, sekalian juga aku paraf buku catatannya. Berbeda dengan kelas X5, aku justeru merasakan hasil yang cukup memuaskan di kelas X6 ini. Hanya saja, tak ada yang seperti Lina Yasmin di kelas X tersebut.

Memang ada beberapa anak yang tidak membaca teks, atau membaca teks namun lihai memainkan kontak matanya. Baru di kelas ini pula, mereka memainkan intonasi dan ekspresi. Malah sang KM, memainkan gesture yang menarik. Sehingga pembacaan ceritanya tidak begitu datar. Dialog menyeru, keluh kesah, marah dsb tergambar jelas. Sama seperti di kelas X5, aku tidak buru2 mencatatkan nilainya, melainkan semacam komentar atas penampilan mereka.

Alhamdulillah, semuanya lancar. Memang sempat ada siswa yang mengaku belum siap tiap kali kupanggil. Namun lama2 dia maju juga. Sebenarnya, serupa dengan kelas X5, aku pun masih perlu menggali ‘potensi’ mereka. Ada beberapa anak yang kelihatan gemilang, Begitu aku hendak menutup pelajaran, ada yang bertanya,

“Penilaiannya gimana, Miss? Komentarnya?”

“Nanti, yah? Hari Senin….” pungkasku.

Dalam hati, aku semakin bertekad untuk teliti memberikan evaluasi, sekaligus menggali apa kekurangan dan kelebihan mereka. [#RD]

RPP-nya, Bro-Sist:

RPP5_Story Telling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *