Cerita PPL; The First Meeting in X.5

Cerita PPL; The First Meeting in X.5

ppl 4Masih di hari Senin, 14 Januari 2013…

Beberapa menit sebelum jam ke 7-8…

Bu guru pamong memintaku untuk menghadap ke kantor. Aku menuruti. Di sana beliau memaparkan hasil revisi RPP. Banyak sekali yang beliau komentari, mulai dari kesesuaian kegiatan mengajar dengan RPP, karakter yang diharapkan, contoh instrument yang mesti dibarengi dengan contoh jawabannya, rubrik penilaian, dan yang terpenting yaitu kegiatan awal-tengah-akhir. Sewaktu menerima wejangan tersebut, aku hanya manggut-manggut. Sesekali saja kuutarakan Tanya. Mau bagaimana, aku memang sedang belajar pada ahlinya; Ya, seseorang yang kaya ilmu dan pengalaman di bidang pendidikan.
evaluasi
“O, Alhamdulillaah… Aku akan banyak belajar dengan beliau!” kugumamkan itu.

“Nah, nanti kamu revisinya pas mau pelaporan aja, gak usah terburu2,” Guru pamongku menyerahkan RPP hasil revisi.

“Ya, Bu. Sangat bermanfaat!” aku menerimanya.

“Nanti tunggu aja bel ke 7-8. Kamu langsung masuk aja, yah? Kebetulan kelas X.5 udah ibu kasih materi tentang expressing complimenting, thanking dan responding to thanks-nya.”

“Iya, Bu. Oh ya! Ada komentar gak Bu tentang penampilan Dian sewaktu di X.6?”

“Hm, udah yang penting komunikatif. Terus pertahankan cara penanaman konsepnya.”

Aku mengernyit.

“Itu, yang pake contoh Syahrini. Bagus tuh…”

“O…” Aku hanya mengulum senyum.

“Oh ya, ini fotokopian RPP-mu. Tadi ibu ngambil RPP-nya dua. Tapi Cuma satu kok yang dicoret2 mah. Maaf ya gak sengaja ibu ambil,” tutur beliau lagi sambil memberikan fotokopian RPP yang kukira raib. RPP tersebut masih bersih. Aku hanya melongo sambil menggulung-gulung gemas.

Hanya beberapa menit, bel berbunyi. Dan dengan segera, aku menuju kelas X.5. Dari X.6, ke kiri, melewati kantin, dan beberapa kelas lain. Sampailah aku ke kelas itu.

Entah kenapa, mungkin karena warna catnya yang biru, ada nuansa segar begitu aku memasukki kelas. Seperti biasa, kususuri pandangan mereka. Wajar, tatapan mereka penuh tanda Tanya. Aku tersenyum, terlebih lagi begitu mendapati seorang siswa yang kukenal (kebetulan bertetangga :D).

Sama seperti di kelas X.6, aku memperkenalkan diri. Tak lupa, kuutarakan kekagumanku akan nuansa kelasnya yang segar. Mereka nampak senang. Namun berbeda dengan di kelas X.6, di kelas tersebut kujelaskan betapa belajar di jam terkahir memang membosankan. Sehingga aku mengajak mereka untuk santai, tanpa perlu menegangkan otak. Lagi2, mereka nampak senang. Aku ingat perkataan dosen pembimbingku, Pak Sofyan, kalau rasa jenuh dari pembelajaran Bahasa Inggris lebih disebabkan karena siswa/i-nya tidak dilibatkan ketika KBM. Maka aku bertekad untuk selalu melibatkan mereka. He he

Perkenalanku dengan mereka rampung, giliran perkenalan diri mereka yang mulai. Kelas X6 ini memiliki karakter yang kaya. Kurasa ada banyak potensi juga di sana. Dan seperti yang sudah2, ada saja siswa/I yang dijadikan ‘tumbal’ sebagai objek atau bahan contoh. Yang sering menjadi incaranku masih sama; para ‘trouble maker’. Aku hanya ingin memanfaatkan energy gak mau diem mereka dengan sesuatu yang lebih berarti. Heu…

Satu persatu nama, wajah dan posisi bangku menjejali memoriku. Namun sayang, aku begitu sering menukar nama kelas antara X.5 dan X.6. P a y a h!

Mengingat kata Bu Guru Pamong, kelas X.5 telah diberi materi expressing-nya, aku hanya melakukan review dulu. Kuterapkan juga contoh Syahrini dan ‘Persib Bandung’ sebagai pembuka. Selebihnya hanya pertanyaan2 singkat yang langsung menjurus ke materi, semisal; Orang seneng dipuji apanya? Bagaimana rasanya kalau dipuji? Biasanya mengucapkan apa ketika menerima pujian? Apa saja respon dalam berterima kasih? Dst.

Setelah itu, membuat dialog. Seperti ‘treatment’ yang sudah kuberikan di kelas X.6, aku pun melakukan hal yanga sama di kelas X.5. Aku mengelilingi mereka, menampung pertanyaan, menyatakan bahwa yang maju ke depan adalah hasil undian, dst. Sebisa mungkin durasiku di tiap bangku itu proporsional. Tidak ada yang terlalu lama, tidak ada juga yang terlalu sebentar. Malah yang kutaksir pintar hanya sebentar saja kutemani.

Tiba giliran mereka maju ke depan. Barisan 1, yang kena kebetulan laki2. Awalnya agak susah, namun lama2 mereka bersedia juga. Aku tetap dalam prinsip, bahwa mereka maju ke depan lebih karena dorongan diri-sendiri, bukan orang lain. Barisan kedua oke, lalu barisan ketiga mengenai bangku perempuan pemalu. Wajah pasangan sebangku itu merah terbakar karena malu. Daripada kasian, aku menawarkan mereka untuk melempar. Beruntung, ada teman yang bersedia. Di tengah proses tersebut, guru pamongku datang.

“Sini sebentar!” beliau melongokkan kepala dari pintu. Aku medekatinya.

“Ya, Bu?”

“Dari tadi ibu dengerin kamu di luar.”

“Lho kok di luar, Bu?”

“Di dalam gak ada kursi kosong. Hehe… Silakan lanjutkan!” kata beliau lagi sambil keluar.
belajar
Aku melanjutkan penampilan anak2. Aku jelaskan pada mereka kalau anak kelas X.5 ada yang maju tanpa teks. Mereka nampak berusaha menghapal, namun mungkin karena panjang, mereka tetap bawa teks. Dan aku sangat menghargai usaha mereka itu. Dalam hati, aku tak akan menuntut mereka untuk wajib pintar Bahasa Inggris, namun menuntut mereka untuk berusaha mempelajari Bahasa Inggris. Bagaimanapun, keragamana minat dan bakat mereka tak boleh kita bingungkan. Heuheu…

Semua ‘sample’ telah maju. Aku me-review lagi ingatan mereka mengenai expressing2 tersebut. Tak lama, bel pulang berbunyi. Kuberikan mereka ‘home work’ dan menjelaskan kesepakatan bagi siapapun yang melanggar pengerjaan PR; Membuat 25 kalimat, 3 puisi atau menyanyi Bahasa Inggris di depan kelas.

Mereka bersorak. Ramai. Aku lalu mengucapkan terima kasih dan salam keselamatan untuk pertemuan perdana tersebut. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *