Cerita PPL; The First Meeting In Class X.6

Cerita PPL; The First Meeting In Class

PPL2

Senin, 14 Januari 2013…

Jam ke 3-4, aku dan Bu Guru Pamong memasukki kelas X.6. Menurutku, posisi mereka ‘memilukan’. Kelas mereka tak bertetangga dengan kelas lain, melainkan berdekatan dengan kelas yang tengah direnovasi. Sedang di belakangnya terdapat kantin dan WC siswa. Mungkin itulah kelebihannya. 😀
kelas
Begitu kami datang, pandangan khas anak SMA menyambut. Mereka buru-buru masuk ke kelas, menempati bangku masing2. Dan saat kami memasukki kelas, pandangan anak2 SMA tersebut langsung menyergapku.

“Be quiet, please!” Guru pamong menyerukan perintah yang membuat kelas makin senyap.

Aku berdiri di sisi beliau. Tas yang berat dan fotokopian RPP kusimpan di atas meja. Kalau saja aku tak berencana memakai in focus, tentu neti-ku takkan dibawa. Dan sayang, menurut guru pamong, untuk penampilan perdana lebih baik tanpa in focus saja. Aku tunduk.

“May be, in your heart, you ask me about someone who follows me. Yeah, today I’m accompanied by a college student who will teach you. Now, I give her the time to introduce herself. Yes, please…” Guru pamong berbicara demikian sambil mendekatiku, berbisik,

“Ibu mau merevisi RPP-mu di belakang.”

Aku hanya menjawab dengan anggukan. Beliau dengan sigap menuju ke belakang, duduk dan mulai merevisi RPP-ku. Sementara itu, aku berdiri di depan anak2 SMA. Jumlah mereka kurang lebih sekitar 35 orang. Semua pasang mata itu tertuju padaku. Itulah kesempatanku untuk saling menubrukkan pandangan dengan semua penghuni kelas. Hal tersebut sangat efektif meredakan nerveous. Kutarik napas dan tersenyum, mengalirkan ketenangan,

“Assalamu’alaikum wr. wb.”

Mereka menjawabnya.

“Good morning?”

Mereka menjawab lagi.

“How do you do?” kusapa mereka yang memang belum pernah bertemu denganku sebelumnya.

Kali ini tanggapannya kurang kompak. Ada yang mengernyitkan dahi, menjawab ‘I am fine’, melirik sana-sini dan hanya sedikit yang menjawab ‘how do you do’ lagi. Aku tersenyum simpul.

“Today is a nice day because I could meet you. In this first time, perhaps I’m still strange for you and you also are strange for me. Therefore, I would be better if I introduce myself…”

Perkenalan berjalan dengan hangat. Dalam hati, aku menyelundupkan haru. Betapa akupun pernah duduk diantara bangku2 itu, memakai seragam, merangkai mimpi, berinteraksi, belajar dan juga menghadapi mahasiswa/I praktikan PPL yang sering kami ‘uji’. Ops!

Usai Tanya jawab tentang diriku, kini giliranku mengetahui nama dan wajah mereka dengan lebih seksama. Kupanggil mereka berdasarkan urutan absen, menanyakan alamat dan menularkan obrolan Bahasa Inggris singkat. aku percaya, salahsatu criteria guru yang baik adalah mengingat nama siswanya. Dan, itu sangat kuusahakan. Semaksimal mungkin kurekam nama, wajah dan bahkan posisi bangku mereka. Kadang ingatanku tepat, seringpula malah melesat 😀

Perkenalan usai. Sambil berpuran-pura menyimpan daftar absen ke meja guru, aku sebenarnya ingin melihat RPP yang telah kufotokopi. Baru kusadari betapa pentingnya RPP, yakni sebagai pedoman mengajar kita. Namun apa yang terjadi? RPP-ku raib! Beberapa detik aku dirundung panic. Namun aku tak mesti kalah dengan ketiadaan pedoman tersebut. Secara spontan kulakukan kegiatan awal, menstimulus anak2 sebelum sampai pada materi utama tentang ‘expressing complimenting, thanking and responding to thanks’. Kugunakan ‘Syahrini’ dan ‘Persib Bandung’ sebagai objek. Syukurlah, mereka antusias. Kelaspun jadi ramai dan tawa berderai-derai.

Aku tak mau menyia-nyiakan semangat mereka. Di sela-selanya, kugelontorkan saja materi. Kucontohkan berbagai contoh expressing yang dipelajari. Begitulah, kelas ramai lalu senyap, namun kuusahakan untuk tetap hidup. Sesekali kulirik guru pamong. Beliau pun sesekali saja memperhatikanku, selebihnya hanya pada RPP-ku. Kekakuan khas penampilan perdana lama2 cair juga. Mungkin karena sambutan kelas X6 yang hangat, aku ‘amnesia’ akan keberadaan guru pamong. Lepas begitu saja, apa adanya, seolah-olah tak ada yang tengah mengawasiku. Tak lama, sang guru pamong pamit meninggalkan kelas. Jadilah aku sendiri di sana.

Anak2 pun mulai menunjukkan karakter mereka yang sebenarnya. Yang tadinya terkesan kalem, mulai gaduh. Namun aku selalu mendekati si biang gaduh tersebut, menyuruhny menghapus board, menjadikannya sebagai objek contoh, memuji mereka dengan sedikit gombal ketika mereka menjawab pertanyaan atau berbuat kebajikan, dsb. Sungguh, hal tersebut efektif meredam ‘kebisingan’ mereka.

Ketika mengaplikasikan expressing tersebut dalam dialog, aku berkeliling. Selain memastikan bahwa semua mengerjakan, akupun ingin ‘melayani’ sekiranya ada pertanyaan. Untuk lebih memastikan bahwa mereka semua membuat dialog, kubuat ultimatum,

“Tiap barisan akan mewakilkan pasangan dialog untuk maju ke depan. Namun untuk menentukan pasangan mana yang maju, caranya yaitu dengan diundi. Jadi kalian mesti siap2, ya?!”

Aku keliling lagi, menyapa dengan memanggil nama2 mereka; kadang benar, seringnya asbun 😀 Bukan apa2, aku hanya mengincar intimasi dan… keterbukaan! Yep, aku mengharapkan mereka terbuka untuk bertanya atau mengutarakan unek-uneknya. Alhamdulillah, siswa/I yang kalem perlahan hangat dan bertanya ini-itu.
intimacy
Bel istirahat pertama berbunyi, namun,

“Lanjut aja, Miss! Istirahatnya nanti!”

Aku melihat sekeliling, semuanya nampak sepakat. Pembuatan dialog pun selesai. Aku ingat kata dosen pembimbingku, Pak Sofyan yang kubanggakan, mengajari ‘expressing’ mesti diaplikasikan. Hal tsb bisa dilakukan dengan menampilkan ‘sample’. Masing2 barisan menerima undian, ada yang blank, ada yang bertuliskan ‘you are free’ ada juga yang bertuliskan ‘congratulation! you come forward ’. Suasana jadi riuh rendah. 4 pasang dari 4 barisan telah maju. Semuanya maju dengan sukarela. Niatku sendiri, kalau ada yang ‘groginya parah’, tidak akan kubiarkan maju. Namun semua diluar dugaan, mereka melenggang ke depan. Dan yang membuatku bangga, Dicky (KM) serta Danny (yang notabene seorang ‘trouble maker’) mampu berdialog tanpa teks. Ketiga pasangan lain juga, meski memakai teks, namun naskah mereka sudah cukup panjang dan tidak melulu menggunakan expressing yang biasa. Kupuji-puji mereka yang memang cepat menangkap materinya.

Beberapa menit jelang bel ke-5, aku menghentikan pelajaran. Kuucapkan terima kasih atas sambutan mereka. Tak lupa, kuberikan tugas. Kebetulan aku menerapkan ‘kesepakatan’ bagi siapa saja yang melanggar atau tidak mengerjakan PR. Kesepakatannya yaitu memilih 1 diantara 3 hukuman; Membuat 25 kalimat, membuat 3 puisi dan menyanyikan 1 lagu berbahasa Inggris di depan kelas. Mereka menyambut kesepakatan itu dengan mata menyala.

Kututup, dan berharap kehangatan itu tetap ada di setiap pertemua berikutnya. Amiin…

Berikut RPP perdanaku yang bisa teman-teman download sebagai referensi :

RPP1_Expressing compliment, thanking and responding to thanks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *