Cerita PPL; The Fourteenth Meeting in X.5

Cerita PPL; The Fourteenth Meeting in X.5

PPL SMA

Kamis, 07 Maret 2013

Hari ini, jujur, adalah “an unpredictable meeting”!

Telah jauh-jauh hari aku tahu informasi bahwa Ujian Tengah Semester (UTS) akan dilaksanakan pada 07 s/d 14 Maret 2013. Dalam pikiranku telah ter-set bahwa aku akan libur mengajar. Namun, rekan PPL-ku menyebut kalau aku mesti tetap berangkat ke sekolah. Hum…

Seperti biasa, aku datang beberapa saat saja sebelum masuk kelas AKSEL pada jam ke 3-4. Di kantor, aku menyalami beberapa guru dan rekan-rekan PPL lain. Kami mengobrol beberapa saat. Meski demikian, mataku tak henti mencari sosok guru pamongku; Bu Hj. Iin. Aku merasa, aku perlu mengobrol dengan beliau. Kangen gitu lah…

Di sela-sela menunggu jam masuk, datanglah orang yang kutunggu. Tanpa ba-bi-bu, aku menghampiri dan menyalami beliau. Lalu, kusetorkan RPP dan kisi-kisi soal sekalian kutanyakan mengenai UTS,

“Nanti Senin aja UTS-nya. Jadi Dian tinggal mengawasi aja,” tutur beliau.

“Soalnya, Bu?”

“Nanti ibu deh yang bikin. Tapi kalau mau dari Dian juga boleh…”

Aku tersenyum, “Emang dari bab berapa, Bu?”

“Semua bab 4 dan sebagian bab 5.”

“Oh, kan ulangan harian kemarin Dian yang bikin dari bab 4. Takut soalnya mirip gitu, Bu. Hehe,” AKu beralasan.

“Ya udah deh ibu ada kok buku kumpulan soalnya. Kalau kelasnya disatukan kemungkinan soalnya antara 15-20 butir. Kalau dua jam, sekitar 30-an soal.”

“Sip atuh, Bu.”

“Sekarang mengajar, kan? Di…”

“X5, Bu,” jawabku sambil menengok jam dan menyadari satu hal; t e l a t!

Setelah mengakhiri obrolan, aku langsung menelusuri jalan menuju kelas X5. Begitu sampai kelas, aku lihat anak-anak tengah berkumpul membentuk kubu-kubu. Mungkin tugas atau PR, pikirku. Mulanya aku diamkan. Begitu selesai memposisikan diri masing-masing dan tenang, barulah aku menyalami dan menyapa mereka. Aku jelaskan pula bahwa hari ini adalah ‘unpredictable meeting’, sebab aku memang mengira tak akan masuk lagi ke kelas tersebut. Mereka tersenyum-senyum, mengira kalau aku juga ‘memburu’ waktu libur. Aku pun menjelaskan bahwa waktuku memang bukan cuma PPL saja. Tadinya aku hendak menyampaikan keinginanku untuk menyegerakan PPL, namun terhitung sulit menjelaskannya kepada mereka.

Akhirnya aku jadi teringat ada anak kelas XI yang bertanya apa kesibukanku setelah PPL. Aku pun sekalian menjelaskan kepada mereka,

“Kalau dalam narrative mah, pasca PPL itu adalah konflik intinya. Atau, kalau dalam sinetron mah klimaksnya.”

Jadi PPL itu bukan melulu masalah betah gak betah, namun PPL hanya menjadi salahsatu proses pendidikan yang mesti dijalani dengan sebaik mungkin. Khusus di SMAN 1 Kadugede… Apa yang kurang? Guru-gurunya super baik, guru pamongnya akrab, murid-muridny pengertian, ibu kantinnya sudah kenal (apa hubungannya? -_-‘), kondisinya nyaman, walau ya… ada perbedaan pandangan dengan rekan-rekan PPL-nya. Wajar…

Mereka mengangguk-angguk paham. Dan entah dari mana awalnya, aku yang memang tengah ada kegalauan mengenai ‘trouble’ perkuliahan, malah curhat colongan kepada mereka. Lucunya, mereka mendengarkanku dengan seksama. Tak tega melihat tampang serius mereka, aku belotkan ‘intonasi’ curhatku ala-ala infotainment Silet dan Investigasi-nya Trans. Tawa mereka pun meledak. 😀

“Udah, ah… Ada PR, kan?” tanyaku, langsung disambut dengan anggukan dan seruan ‘iya’ dengan kompak.

Aku pun mengacung-acungkan spidol untuk merangsang mereka maju. AKSEL… AKSEL… Mereka antusias menawarkan diri untuk mengerjakan PR yang hanya 4 butir tersebut. Aku pun mempersilakan mereka maju dan menuliskan hasil kerjanya di ‘white board’.

Sambil menunggu ‘relawan-relawan’ PR maju, Neng maju dan menyodorkan hasil PR-nya,
“Bener gak, Miss?”

Aku pun segera memeriksa dan mengoreksi pekerjaannya. Lama-lama, teman-teman Neng yang lain mengikuti. Dhea, Jenita, Elsa, Shofi, Rizkia, Anisa, Imel, Lela, Liza, Linda, Novi, Yanti, Isnaenul, Afni, Nina, Fiona, Evi, Ina, Lina, Agung, Adam, Ghozwan, Kosasih, Doni, Khaerul Anwar, dkk maju mendesakki tempat dudukku.

“Yang saya, Miss!”

“Saya juga, Miss!”

“Tanda tangan dong, Miss! Lagi ngoleksi, nih!”

“Pake ‘emoticon’, Miss!” (Aku selalu menggunakan smile ^_^ sebagai ‘emoticon’ khasnya. Hehehe)

“Saya dulu, Miss!”

“Buku saya kok jadi di bawah, Miss?!”

“Coret-coret aja yang salahnya, Miss!”

Memang kelas jadi ramai, namun jauh dalam hatiku, aku merasa senang. Ternyata ada inisiatif dari mereka untuk memeriksakan hasil pekerjaan sendiri. Biasanya yang kulakukan adalah memeriksa ‘sample’-nya saja (mengingat durasi juga). Hehe…

Aha!!!

Akupun meminta mereka untuk mengumpulkan bukunya di atas meja. Kulakukan hal itu dengan maksud agar mereka tidak berkerumun di tempat dudukku, sekalian kumanfaatkan waktu juga. Mereka dengan begitu cepat kembali ke bangku masing-masing. Setelah semuanya duduk dengan damai, akupun membahas ke-empat ‘sample’ yang terpampang nyata di papan tulis. Hehe

Beberapa hal kecil saja yang aku koreksi, selebihnya aku merasa bangga sebab mereka ‘keluar’ dari kebiasaan; mengutip kalimat dari kamus. Membaca kalimat-kalimat yang mereka ciptakan memang berbeda. Mereka menggunakan kata dan pola yang simple, familiar dan asli. Good job, Dear!!!

Selanjutnya, aku yang akan memeriksa PR segera memerintahkan mereka untuk membuka halaman 115-116. Kebetulan di dalamnya ada 4 dialog berkenaan dengan materi. Takut mereka jenuh dan ‘mual’, akupun hanya membagi-bagi dialog tersebut dengan cara berhitung. Jadi, 1 bangku 1 dialog.

“Semua aja ngerjainnya, Miss?” pinta Fiona, serius.

“Semua?”

“Iya biar paham semua dialognya.”

“Oke, sunnah semuanya. Tapi yang udah dibagi itu wajib, yah?”

Mereka antusias dan segera mengerjakannya. ‘Kaum Adam’ yang masih tak menghilangkan rusuhnya pun terlihat berusaha mengerjakan. Aku memang pernah menyampaikan kata-kata yang ‘kuanut’ semasa SMA; santai asal tercapai atau keep calm atau woles. Hehe… Ah, pemandangan yang indah! ^_^

AKu pun jadi khusyuk memeriksa PR mereka. Dalam hati, aku senyum-senyum sendiri. Contoh-contoh kalimat seperti inilah yang kuharapkan; o r i g i o n a l. Ke-origionalan itu terlihat dari pemakaian kosakata, pola dan isi yang sederhana dan apa-adanya dari mereka. Namun kesederhanaan itulah yang menjadikan hasil kerja mereka ‘wah’ dalam pandanganku. Diam-diam, I’m really proud of them!
simplicity
Karena tengah memeriksa PR mereka, aku jadi tak melakukan ‘keliling’ ke setiap bangku. Dan, di sela-sela pengerjaan PR itu, Lina menghampiri dan berbisik,

“Evi kan ulang tahun, Miss?”

“Terus mau digimanain?”

“Gimana Miss aja…”

Aku mengernyitkan dahi. Di satu sisi, aku memang ‘dikejar’ materi, posisiku sebagai guru mesti menjaga ‘image’ dan di sisi lain aku ingin memberi kesan. Umumnya, jika seorang anak berkompromi mengenai anak yang ulang tahun kepada guru, maka guru tersebut akan ‘mengerjai’ sang anak dengan memarahi atau membuat malu yang bersangkutan.

Celah sih tentu ada. Terlebih lagi buku hasil PR Evi ada di tanganku dan sedikit aku koreksi. Aku juga bisa menyuruh dia mengerjakan soal dalam dialog ke depan dan membesar-besarkan kesalahannya. Namun mengingat ‘image’ yang mesti kujaga serta pola tersebut sudah ketebak, rencana itu urung kulakukan.

Selanjutnya, aku meminta pasangan bangku yang siap menunjukkan jawabannya di papan tulis. Lagi-lagi, mereka amat antusias. Sampai-sampai dalam waktu cukup singkat, papan tulis telah penuh dengan jawaban dari masing-masing dialog. Setelah mengoreksi hasilnya, aku mempersilakan mereka untuk memindahkan jawaban tersebut.

Meski agak malas, untung semangat mereka menular padaku. Aku pun melanjutkan materi pada ‘Observation Result’. Aku membacakan teks singkat tersebut dan memberi peluang pada mereka untuk menanyakan kosa-kata yang dianggap sulit. Mereka menanggapinya dengan cukup semangat. Aku juga membahas kosa-kata yang berkaitan dengan teks. Cukup cepat kusampaikan hal tersebut, mengingat waktu hampir menuding jam istirahat.

Aku lalu membagikan buku hasil PR mereka. Sebelumnya, dalam buku catatan Evi kutulis ucapan dan doa ‘ulang tahun’. Ya, aku tak bisa menjahili dia, melainkan memberi doa yang tulus untuk kehidupannya. Setelah semua memegang buku masing-masing, aku berkata,
doa
“Yang di bukunya terdapat catatan, berarti dia istimewa.”

Mereka saling lirik dan membuka buku masing-masing. Ada yang mengernyitkan dahi dan tengok kanan-kiri,

“Lho, kok di buku saya mah gak ada apa-apanya, Miss?”

“Yah, Miss mah…”

“Catatan apa sih, Miss?”

Sementara Evi, tentu saja dia hanya senyum-senyum. Akhirnya aku pun memberitahu maksudku. Kuucapkan selamat dan doa bagi Evi. Anak-anak yang lain pun ‘ngeh’ dan memberi tepuk tangan.

“Ulang tahun memang perayaan yang dilematis. Ada rasa syukur sebab kita telah diberi kepercayaan oleh Allah dan ada juga rasa kehilangan. Ya, saat ulang tahun itu sebetulnya ada sesuatu yang berkurang…”

Mereka nampak memahami.

“Nah, harapan kamu apa, Vi? Biar nanti kita aamiin-kan?!”

“Pengin lebih baik dari tahun sebelumnya, Miss.”

“Aamiin…”

Selanjutnya aku memberi PR berupa sebuah teks dengan 10 pertanyaan. Namun karena takut memberatkan dalam keadaan UTS, aku pun membagi soal. Satu barisan, dua soal. Mereka nampak senang,

“Maaf ya Cuma bisa ngasih 2 soal PR?!” godaku.

Mereka menyambutnya dengan tawa dan rasa geli, “Gak apa-apa atuh, Miss!” 😀

Ya, tak terasa jam telah menunjukkan waktu istirahat. Aku pun mempersilakan mereka untuk beristirahat. Telah menjadi kebiasaan, mereka pun berujar,

“Thank you, Miss.”

“You’re welcome.”

Aku keluar agak buru-buru sebab Teh Itha (rekan dari ekonomi) telah mengirim pesan. [#RD]

RPP: RPP 12_Sing2 Waterfall

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *