Cerita PPL; The Fourth Meeting

Cerita PPL; The Fourth Meeting

PPL Guru 4Senin, 28 Januari 2013

Tak bosan, aku berkejaran dengan waktu untuk sampai ke sekolah tepat waktu. Makin ke sini, yang timbul untuk mengikuti upacara bendera bukan lagi tekanan, melainkan kesadaran. Terlepas dari tugas sebagai praktikan PPL, upacara bendera memang cukup berhasil mendisiplinkan diri. (Kamis kemarin libur maulid Nabi Muhammad SAW).

Detik demi detik, peserta PPL telah berkumpul. Guru-guru pun mulai berdatangan. Namun ada desas-desus ‘upacaranya gak jadi’. Benar saja, semakin siang, tak ada aba2 untuk pergi ke lapangan upacara dan melaksanakannya. Gundukan pasir dan koral yang menutupi sebagian lapangan upacara, membuat prosesi upacara berpotensi terganggu. Alhasil, yang paling menelan kekecewaan adalah rekan2 praktikan PPL-ku yang tak punya jadwal. Namun, tak lepas kekagumanku dengan kedatangan mereka untuk melaksanakan upacara.

Kami pun hanya melaksanakan ‘briefing’ rutin. Ya, seputar keluhan/masalah PPL, piket, ekskul dan hal2 internal lain. Selebihnya, kami hanya mengobrolkan banyak hal, semisal anak2 SMA atau karakter kelas masing2. Semua itu juga bermanfaat bagiku, untuk menunggu jadwal masuk pada jam ke 4-5 di kelas X6.

Tibalah jam mengajar. Pertemuan ke-empat. Usai melapor ke guru pamong, aku menuju kelas yang dipimpin Dicky. Melalui RPP-ku, aku merencanakan untuk menyampaikan materi tentang ‘announcement’…

“Tadi gak upacara, yah?” Aku berbasa-basi.

Mereka merespon dengan jawaban beragam. Selanjutnya aku bertanya juga, “Emang kalau upacaranya jadi, bagian mana sih yang paling kamu tunggu?”

Ada yang berseru lantang, “Upacara selesai, barisan dibubarkan, Miss!”

Grrr…

Aku pun tertawa mendengarnya. “Tentu saja, Dear,” kataku dalam hati. Setelah itu, aku terus merangsang mereka, “What else?”

Sip! Ada yang nyeletuk, “Pengumuman, Miss!”

Aku pun menuliskannya di white board, “In English apa?

Mereka terdiam, lirik sana-sini. Aku tersenyum lalu menuliskan ‘announcement’ perlahan. Sebelum selesai pun mereka telah bersorak ‘announcement’. Sebisa mungkin kurangsang mereka sendiri untuk menyebutkan elemen2 dalam ‘announcement’, semacam title/ type of event-nya, date and time-nya, contact person-nya, requirements-nya, dst. Lalu kuminta mereka menyebutkan karakter khusus dari ‘announcement’, seperti to the point, ringkas/singkat/padat, informative, dst.

Kali ini jawaban mereka cukup lancar dan bersemangat. Belakangan kutahu, mereka pernah mempelajarinya. Hal itu sangat memudahkan bagiku ketika mesti membuat contoh ‘announcement’. Ujung2nya, kusuruh mereka membuat pengumuman. Kebetulan ada 3 pilihan:

a. Kepala Sekolah memberitahu siswa bahwa akan ada pertukaran pelajaran Indonesia-Prancis tahun depan. Siswa yang berminat, silakan penuhi persyaratan dan hubungi sekolah.
b. Pembawa acara TV memberitahu pemirsa kalau akan ada acara TV terbaru, yaitu film legenda. Ditayangkan tiap Jumat, pukul 14.00 p.m sampai 14.30 p.m
c. Raja mengumumkan kepada rakyatnya kalau pangeran akan menikah dengan seorang puteri cantik.

Aku berkeliling, memastikan mereka (minimal) telah memilih 1 diantara 3 pilihan tersebut. Rata2 pilihannya nomor 2 dan 3. Tentu nomor 1 itu dianggap sulit, padahal aku sangat merekomendasikan nomor 1. Akhirnya ada pasangan bangku, Rifka dan Resmi yang memilih nomor 1. Good choice!

Bel istirahat tiba. Tanpa meminta kesepakatan mereka, aku meminta istirahat saja (tidak membablaskannya). Selain aku sendiri kehausan, aku pun takut diantara mereka ada yang berkehendak menyumpal energy. Meski begitu, sebagian besar mereka tetap di dalam, menggeluti pembuatan ‘announcement’-nya.

Di kantor, aku mengobrol sambil meng-upgrade energy dulu. Istirahat pertama cukup singkat, 15-20 menit saja. Tak terasa, bel masuk berbunyi lagi, memanggil guru untuk masuk lagi. Kali ini aku mengajak Wulan yang telah selesai mengajar jam 2-3. Kebetulan dia tak memiliki jadwal lagi. Diapun mau. Kelas X6 menyambut. Kupersilakan Wulan duduk di bangku belakang.

Tibalah acara untuk menampilkan sample ‘announcement’ per-bangku. Aku tidak buru-buru menyuruh mereka, melainkan menawarkan siapa yang hendak maju ke depan dan menampilkan announcement buatan mereka.

Respon mereka sangat ramai. Hampir semua bangku menudingkan jarinya ke atas. Aku sampai bingung. Namun incaran utamaku adalah anak2 yang jarang berpartisipasi. Dan, kini partisipannya membludak. Aku pun menunjuk mereka secara acak, tentu dengan mempertimbangkan intensitas partisipasi mereka. Usai penampilan perdana, belum juga aku mengatakan ‘next’, mereka telah mengajukan diri, lengkap dengan seruan-seruan yang membuat kelas makin ‘panas’.

“Siapa yang mau komen untuk penampilan perdana tadi?” tanyaku.

Mereka tertawa, mungkin tidak menyangka kalau acara mengacungkan tangannya tidak aku gubris. Sejenak, mereka saling lirik. Lalu ada segelintir orang yang berkomentar entah itu terlalu cepat, pengucapannya kurang jelas, dst. Lalu, aku berseru, “Next!”

Kelas ramai lagi. Seperti sebelumnya, aku mengincar ‘wajah2’ baru untuk maju. Sementara khusus bagi Rifka dan Resmi yang telah memilih point 1 (point yang dianggap sulit) aku persilakan maju. Kupuji-puji ‘keberaniannya’ untuk keluar ari ‘comfort zone’. Pasangan demi pasangan bangku maju. Ada yang antusias, ada juga yang membopong kekecewaan sebab acungan tangannya ‘kuabaikan’. Beberapa anak yang memang sangat aktif tak jarang mesti gigit jari atau menjadi bahan olokan teman-temannya,

“Kasian Miss dari tadi ngacungin jari terus. Hahaha…” kata mereka.

Sementara yang diolok-olok ikut-ikutan tertawa, tanpa tersinggung. Mereka malah sempat berkomentar sambil memelas menggemaskan,

“Miss udah gak sayang lagi sama kita! Huhuhu…”

Ck ck ck… Lama sekali mereka mengocok perutku. Kulihat Wulan saja geleng-geleng kepala. Setelah merasa cukup, aku menghentikan penampilan ‘announcement’. Aku mengalihkan pembelajaran pada materi pembuatan dialog dalam teks narrative yang telah kutugaskan per kelompok. Namun sebelum itu, perhatianku tertuju kepada salah seorang yang aktif di kelas, yang hari itu cukup diam. Aku menenangkan kelas. Kelas pun diam dan menunggu-nunggu apa yang hendak kusampaikan,
emo cenyum
“Kayaknya lagi ada yang galau nih!” kataku menyedot perhatian mereka. Lagi2, semua saling lirik,

“Siapa, Miss?” mereka saling lirik.

Aku mengedarkan pandangan, lalu pandanganku berhenti pada seseorang yang duduk di bangku paling belakang,
“Ada apa denganmu, Alex? Apa sedang galau?”

Grrr…

Semua tertawa. Dalam pelajaranku, dia memang selalu ‘kena.’ Sambil celingukan, dia menggeleng-geleng, “Ngga, Miss.”

“Ya udah silakan kelompok Alex dan kawan2 maju untuk menyampaikan hasil kerjanya.”

Dengan cepat dan sedikit aneh, Alex maju. Setelah berhadap-hadapan denganku, dia menunduk-nunduk, “Izin ke belakang, Miss…”

Grrr….

Tak ayal, aku pun tertawa. Kurang asin, nih…

Aku membiarkannya keluar, lalu melanjutkan tawaran kepada grup yang ingin maju. Mereka saling berseru kepada rekan kelompok masing2,

“Hey kelompok X… Kita siap, gak?”

“Maju, yuk?!”

Tak lama, Alex ke dalam lagi, “Saya dan kawan2 mau maju, Miss.”

“Iya, Miss!” timpal yang lain, yang ternyata anggota kelompoknya.

“Udah ah gak usah,” Aku menolak, bukan bermaksud membalas, melainkan mempertimbangkan waktu yang makin mepet. Kelas riuh lagi. Kusuruh saja mereka mengumpulkan hasil kerjanya. Tak lupa, kuumumkan tugas mereka untuk Kamis depan,

“Kuasai satu cerita saja, berbentuk narrative. Hapalkan ceritanya dan Kamis depan retell di depan kelas, ya…”

Kelas senyap. Aku mencairkannya dengan senyum, “Tenang… Gak akan menegangkan, kok!” Padahal dalam hati, aku berpikir keras untuk memilih metode test Kamis depan, supaya anak2 tidak terlalu tegang. Selang beberapa menit, aku mohon undur diri. Ketika aku sedang membereskan buku, ada yang bilang sambil tertawa,

“Hari ini menghibur sekali!”

Aku tersenyum. Begitu keluar, Wulan geleng2 kepala atas situasi kelas yang begitu ramai 😀

Urutan pembelajaran serupa kuterapkan di kelas X5. Bedanya, di kelas tersebut tidak seramai kelas sebelumnya. Mungkin karena factor jam terakhir juga.

Suasana kelasnya memang dingin, sejuk dan menurutku ‘auranya’ (cieh, aura) memang bagus, hanya saja anak2nya agak ‘diam’. Namun aku percaya mereka cukup kritis dan menyimpan sesuatu yang belum tergali. Di kelas ini aku lebih banyak mengumpan agar kelas hidup, semisal memberi tebakan atau cerita. Ohya, sayangnya di kelas ini tak ada yang memilih soal no 1 (sebagaimana di kelas X6).

Yah, kesimpulannya memang masing2 kelas memiliki karakter yang berbeda. Namun, baik kelas X5 dan X6, keduanya memberi banyak pelajaran yang amat berharga. [#RD]

RPP-nya nih!

RPP4_Announcement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *