Cerita PPL; The Last Meeting in X.6

Cerita PPL; The Last Meeting in X.6

~Edisi Ujian PPL di X.6~

ujian PPL 1

Senin, 25 Maret 2013.

Ini adalah dunia nyata. Bukan pertandingan sepak bola. Tak ada injury time jika masanya telah tiba.

Seyogyanya itulah yang siswa/i SMA kelas X-XI pikirkan. Waktu libur mereka (di atas perjuangan kelas XII) telah usai. Hehe… Begitupun aku. Hari ini, mau tak mau, aku mesti berangkat ke sekolah mitra. Sesuai agenda, aku akan melaksanakan ujian PPL. Entah kapan dan di kelas mana…

Jadwalku jam 4-5 di kelas X.6 dan jam 7-8 di kelas X.5. Sementara keputusan dari Pak Sofyan (dosen pembimbingku, yang sangat kubanggakan) tempo lalu,

“Jam berapapun dan kelas manapun mesti siap!”

“Sip, Pak!” responku yang memang tak keberatan (selama masih di kelas X.5 dan X.6, apa masalahnya?)

“Tapi kayaknya Bapak siang deh ke sekolahnya,” sambung beliau.

Pikiranku langsung menuju ke kelas X.5 (jam ke 7-8). Tak ayal, aku pun dengan sesegera mungkin mengkonfirmasikan ujian kepada kelas X.6 dan terlebih lagi X.5. Ah, awalnya tak masalah. Namun begitu mempelajari materi yang akan dibahas, ternyata skillnya ‘speaking’. Menurutku, kelas X.5 akan kurang aktif bila harus belajar dengan keterampilan oral tersebut. Mereka cenderung menonjol dalam skill ‘listening’ dan ‘writing’. Namun bagaimanapun, inilah tantangan!

Oh ya, Senin ini aku tak ikut upacara bendera. Huhu…

Aku berangkat sekitar pukul 08.15. Itupun karena telah dikirim pesan oleh rekanku sesama PBI. Sesampainya di sekolah, aku ditemani beberapa rekan dari biologi dan ekonomi. Kami duduk melingkar di kursi yang terbuat dari beton yang diteduhi payung besar (ber-merk minuman teh). Posisinya di pinggir taman, tengah-tengah antara mushola dan ruang guru. Kalau zamanku dulu namanya ‘saung sosro’. Sekarang sih simpel aja, gazebo. Hehe

Topik pembicaraan kami mengenai ujian dan pelaporan PPL. Mereka membuka-buka dan mengomentari kertas laporan PPL-ku. Sekaligus memberi masukan dan dukungan bagiku (terlebih lagi rekan Biologi yang memang telah ujian duluan). Rasanya semua sepakat; kami ingin cepat menuntaskan semua kewajiban PPL dan beralih pada kewajiban lain, yang telah melambai-lambai (baca; skripsi). Itulah kenapa, aku memilih jadwal awal (Senin, bukan Kamis).

Lama-lama aku sadar, rekan-rekan PBI-ku (Tatang, Uus dan Teh Anih) tengah sibuk mempersiapkan sesuatu. Aku menghampiri mereka yang rupanya tengah berada di koperasi siswa. Ternyata mereka sibuk mempersiapkan makanan kecil untuk disajikan pada dosen pembimbing dan guru pamong yang mengawas ujian.

“Eh Dian… Siap ujian sekarang, kan?”

“Insya Allah. Eh, emang Wulan lagi ujian sekarang?” tanyaku yang baru ingat kalau Wulan ada jadwal mengajar jam 2-3.

“Iya, sekarang.”

“Katanya Pak Sofyan cuma bisa siang?” tanyaku dalam hati.

“Yuk sekarang mah bantu masukkin makanan ke dus snack,” kata Teh Anih.

Aku menurutinya, namun berkali-kali aku mesti menerima arahan,

“Makanan itu mah udah disajikan tadi, Dian.”

Sambil membantu Teh Anih mempersiapkan makanan kecil untuk disajikan ketika aku ujian PPL, pikiranku lumayan ramai. Jadwalku jam 09.15 dan waktu itu hampir menuding angka 9. O, berarti ujian PPL-ku jadi di kelas X.6. Wah, hal ini cukup surprising! Heuheu

Di satu sisi, aku cukup senang sebab kelas X.6 memang cocok dengan pembelajaran untuk skill speaking. Di sisi lain, aku baru tahu perubahan tersebut detik itu juga. Jadinya cukup menghentak degup dada. Tak lama,

“Pak Sofyan sama Bu Hj. Iin udah keluar dari kelas Wulan, Dian,” kata Tatang.

“Ya udah daku ke kantor dulu, yah?” Aku pamit ke kantor sambil menenteng tas berisi laporan PPL dan RPP.

Sesampainya di kantor, aku langsung menghampiri Pak Sofyan yang kebetulan memang tengah duduk mengobrol dengan Bu Hj. Iin, Pak Nana dan Bu Dina (guru Bahasa Inggris kelas XI). Sesegera mungkin aku menyalami guru-guru baikku tersebut,

“Siap yah, Dian?” tanya Pak Sofyan.

“Yah siap gak siap, Pak.”

“Bapak mah pengin 2 jam full ah ngawas Dian mah. Hehehe…”

“Boleh, Pak. Gak aneh dipelototin Bapak mah!” jawabku yang memang telah sering ditempa oleh beliau sebelum masuk ke sekolah mitra.

“Hahaha… Sama Ibu juga gak aneh kan, Dian?” Tanya Bu Hj. Iin.

“Apalagi Ibu, tahu keseharian Dian. Hehehe…”

“Kamu mengajarnya full English, gak?” Tanya Pak Sofyan lagi.

“Nggak. Di-mix aja, Pak. Agak sulit juga kalau full English. Daripada ngomong dan dimengerti sendiri, mending campur. Hehehe…” paparku polos.

Amanat kampus yang seolah-olah mesti mengharuskan kami full English sepertinya sulit diterapkan. Terlebih lagi dalam menerangkan materi dan memberi instruksi. Karena perlu pemahaman, maka perlu diterjemahkan. Sebab anak-anak selalu bertanya balik mengenai maksudnya. Jadi intinya, teori penggunaan full English sebagai pengantar di kelas itu, pada praktiknya kurang efektif.

“Ya.. ya.. ya.. tapi gak full Indonesia juga, kan?”

“Enggak juga, Pak.”

“Eh, sekarang teh jadwalnya di X.6 ya, Dian?” Bu Hj. Iin mengalihkan topic pembicaraan.

“Iya, Bu.”

“Di lab bahasa dong?”

“Iya, Bu. Kenapa, mau dipindah kelas aja, Bu?”

“Iya, takut kurang kondusif di sana mah. Gimana, Pak?” Bu Hj. Iin bertanya lagi pada Pak Sofyan.

“Gak masalah, Bu. Yang penting liat gimana pembawaan Dian di kelas. Hehe… Mau out door juga boleh. Hayuk-hayuk saja…” jawab beliau, bijak.

“Materinya kurang cocok kalau out door, Pak. -_-‘”

Selanjutnya obrolan kami memanjang, bahkan sampai pada lomba debat Bahasa Inggris. Ternyata guru-guruku ini tengah memboikot perlombaan debat di salah-satu universitas, perlombaan yang diikuti pertama kali oleh angkatanku dan ehm, berhasil memenangkan juara 3. Duh, hawa masa lalu SMA tiba-tiba saja menyeruak. Hehehe

Yang cukup mengagetkan, ternyata Pak Sofyan yang mengajar di salah-satu SMA di Kuningan masih ingat aku sewaktu jadi peserta debat dulu. Heuheu…

Obrolan ringan itu sesekali dikeruhkan oleh sebuah masalah internal (yang tak bisa aku beberkan di sini). Masalah itu selalu saja membuatku sebal. Bagaimanapun ‘mood’ yang jelek itu gampang merambat. Lama-lama, jarum jam yang terus berputar sampai pula pada angka 09.15,

“Hayuklah kita ke kelas, Dian!” ajak Pak Sofyan.

Aku, Pak Sofyan dan Bu Hj. Iin pun berjalan menuju lab bahasa. Kami berjalan beriringan lewat lapangan basket. Sementara di belakangku, ada barisan rekan-rekan PBI yang baik dan setia.

“Kamu udah ngajar di sekolah belum, Dian?” tanya Pak Sofyan.

“Belum, Pak.”

“Kenapa? Padahal masuk aja ke sekolah ini. Iya kan, Bu?” kata beliau lagi, namun beralih pertanyaan pada guru pamongku.

“Hu’uh kalau aja di sininya belum penuh, kemungkinan bisa masuk,” tutur Bu Hj.

“Hum… Belum coba ke sekolah-sekolah dekat tempat tinggalmu?”

“Nggak. Belum, Pak,” jawabku yang memang belum tertarik mencari jodoh untuk mengajar di sebuah sekolah.

Aku jadi teringat perkataan temannya kakakku. Beliau yang telah mengajar pernah berpesan,

“Kalau bisa sih, kuliah saja dulu yang serius dan focus. Jangan dulu mengajar atau jadi honorer. Nanti nasibnya sama kayak aa. Selain capek banget, income gak sesuai, kuliah pun jadi terpinggirkan.”

Ah, wallaahu a’lam. Ada untungnya cita-citaku lebih dari dua, jadi bisa membidik pada yang lain. Hehehe…

Masih beberapa langkah ke lab, hatiku tak enak. Kulihat pintu lab dikunci rapat. Benar saja, kelas X.6 tak ada di sana.

“Lho, X.6 pindah kemana?” Bu Hj. Iin bertanya-tanya kepada siswa/i yang melintas.

Aku sendiri segera mengirim pesan pada KM dan beberapa anak kelas X.6. Rekan-rekan PBI-ku yang semula cekikikan mulai ikut uring-uringan mencari informasi. Sementara Pak Sofyan santai saja duduk-duduk di muka lab bahasa.

Informasi yang kami terima seolah berbarengan. Anak-anak X.6 membalas sms (balasan sms mereka cukup lucu. Ada yang bilang: Di kelas yang dulunya XI IPA 2, di kelas baru yang deket tangga, dst. Mana kutahu? :D), Bu Hj. Iin dapat info dari guru lain dan rekan-rekan PBI-ku berhasil menemukan kelas persinggahan kelas X.6. Kami pun memutar haluan dan segera memasukki kelas baru tersebut. Kelas yang luas dan berbau cat. Sayang, di sebelah kelas itu, terdengar para pegawai tengah merenovasi kelas. Cukup bising.

Sedikit kaget, ternyata sebagian besar anak-anak kelas X.6 berada di luar. Sementara Bu Hj. Iin dan Pak Sofyan telah masuk dan duduk di kelas. Beruntung ada Novi ‘Issabel’ yang baik dan gesit menyusul teman-temannya. Mereka pun datang dengan segera dan memenuhi bangku yang masih kosong. Dicky dan Septiandi sempat terlihat menyesal,

“Haduh, malu-maluin. Maaf ya, Miss,” kata mereka di depan pintu yang segera kumaklumi.

Setelah mereka lengkap dan terlihat siap, aku membuka pelajaran. Seperti biasa, aku mengucapkan salam dan menyapa mereka. Bahkan dengan reflex, aku memanggil mereka dengan sebutan “Gensixten”. Sambutan mereka riuh. Ah, seperti biasa.

“Long time no see. So, how is your vacation? Is it nice? Interesting? Or, boring?” kataku, berbasa-basi.

“Boring, Miss!”

“Lumayan, Miss!”

“Kurang lama, Miss!”

“Eh… Bagaimanapun, otak dan badanmu udah mendapat hak istirahat. Sekarang tinggal kamu kembali ke kewajibanmu belajar. Hm, ada berita apa selama liburan?”

“Indonesia vs Arab, 2-1, Miss!”

“Harga bawang naik, Miss!”

Mereka berseru-seru dan tak kutangkap semua.

“Wah berita-beritanya cukup mengejutkan, yah? Emang berita seperti apa yang bisa membuat kita terkejut?”

“Berita orang meninggal, Miss!”

“Berita jadi kontestan X-Factor, Miss!”

Mereka berseru-seru lagi. Syukurlah, rangsanganku disambut dengan antusias dan aktif sekali.

“Ok, now stand up, please!”

Mereka menurutinya.

“Misalkan saya ngasih tahu kamu sebuah berita mengejutkan, kamunya tanggapi menggunakan expressing surprising lengkap dengan ekspresinya, ya?”

“Siap, Miss!”

“Do you know, Ricky Jo died yesterday!”

“Really?”

“What?”

Mereka menyerukan kata dan nada terkejut. Rupa-rupa warnanya. Ekspresi yang bagus. Hehe…

“You know? Indonesia hits Arab Saudi!”

“Wow!”

“That’s surprising!”

“I can’t believe that!”

“It’s impossible!”

Kali ini seruan mereka makin beragam. Senang sekali mendengarnya. Setelah mereka saling menertawakan ekspresi masing-masing, akupun menyuruh mereka duduk. Sungguh, itu adalah ide mendadak yang entah datang dari mana. Heuheu…

“Kalau Indonesia memang menang melawan Arab, apa yang kita ucapkan sama para pemainnya?”

“Congratulation!”

“Jadi congratulating itu cuma buat prestasi aja, gitu?”

“Buat hari-hari besar juga, atau ulang tahun.”

Selanjutnya aku menyampaikan tujuan pembelajaran hari itu. Tujuannya tak lain adalah membuat dan mempraktekkan dialog berkaitan dengan expressing surprising dan congratulating.

“Making dialogue is something interesting because it is one of our daily activities. Hm, dari mulai bangun tidur, kita udah bikin dialog. Misalnya dialog dengan….”

“Hati!” potong Septian yang segera ditanggapi riuh oleh teman-temannya. Haha, good answer! 😀

“Lalu di sekolah, you’ll make dialogue with your friends. About lesson, relationship, actress, etc. Now, let’s study about making dialogue! Mau tentang expressing surprising apa congratulating?”

“Surprise, Miss!”

“Ok. Maunya tentang apa?”

Mereka menyeru-nyerukan jawabannya. Apa yang kudengar hampir sering kucontohkan. Sampai akhirnya tercetus jawaban dari Alex,

“Usep jadi milyader, Miss!”

Aku pun membimbing mereka untuk membuat dialog dengan tokoh Alex dan Usep. Setelah jejak pendapat, kutuliskan apa yang mereka ucapkan di papan tulis. Jadilah sebuah dialog sederhana hasil kreasi mereka,

“Now, who wants to be Alex and Usep?”

Dicky dan Septiandi yang menjadi Alex dan Usep. Mereka lalu menjadi sample untuk membacakan dialog tersebut. Cukup apik. Setelah mendapat contoh dialog dan ekspresi, aku pun menugaskan masing-masing pasangan bangku untuk membuat dialog berdasarkan 2 situasi yang mereka pilih sendiri.

“Seperti biasa, nanti akan ada kertas yang mesti kalian pilih. Kertas itu berisi maju-tidaknya pasangan bangku kalian. So, semuanya wajib bikin dialog itu, ya?”

“Iya, Miss!”

Ketika membuat dialog itu, aku berkeliling. Alhamdulillaah, sebagian besar telah bergerak dan mencoba menyelesaikan dialog. Meski begitu, ada juga pasangan bangku yang bahkan tidak membawa buku. Aku sedikit kecewa, namun salah-satu dari mereka dengan sigap meminjam buku kepada temannya. Ya, sedikit mengobati kekecewaan itu. Ckckck…

Dalam situasi sehari-hari, anak-anak kelas X.6 memang ramai, terlebih lagi kalau sedang membuat dialog seperti ini. Aku yang sedang berusaha menyambangi semua bangku, memang mengabaikan mereka yang diskusinya agak bising. Selama mereka menyelesaikan pekerjaan membuat dialog, bagiku tak masalah. Daripada menegangkan dan hening. Namun berbeda dengan dosen dan guru pamongku, mereka berkomentar pelan,

“Semestinya kamu memberi warning, Dian.”

Setelah merasa waktunya cukup, aku pun mengacak barisan 1. Cindy dan Nia yang maju dan membacakan hasil kerjanya. Sangat bagus!

“Gimana komentar kalian?” tanyaku pada kelas.

“Kurang ekspresif, Miss!”

“Suaranya kurang clear, Miss!”

Kata Nia dan Cindy menanggapi itu, “Boleh diulangi, Miss?”

Tentu dengan senang hati, aku mempersilakannya. Penampilan mereka yang kedua lebih bagus. Selanjutnya barisan yang kedua. Pasangan Dikha dan Novi sempat kecewa sebab mereka tidak kebagian kertas bertuliskan “Congratulation! You come forward.” Rifki dan Yayat-lah yang maju. Dengan sangat mudah, kedua anak laki-laki itu maju. Ketika penampilan dialog yang kedua itulah, Pak Sofyan dan Bu Hj. Iin mohon undur diri,

“Bye…” kata Pak Sofyan pada anak-anak yang langsung disambut dengan ‘bye’ lagi.

“Kok udah keluar, Pak? Bu?” kataku ‘meratap’.

“Udahlah cukup, Dian,” jawab mereka.

Begitu keduanya keluar, anak-anak serempak berseru,

“Udah lega, Miss?”

“Maaf kami mengecewakan, Miss!”

“Kenapa udah pada keluar, Miss? Kitanya gak bagus, ya?”

Aku sendiri tidak terlalu menanggapi nilai berwujud abjad nanti. Yang terpenting sekarang adalah… Aku mesti mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf kepada mereka yang sebesar-besarnya. Bagaimanapun, hari ini kemungkinan besar menjadi hari terakhirku mengajar. Ya, meski nanti Kamis ada jadwal, namun lebih baik kusudahi saja. Bagaimanapun, aku ingin mengembalikan pembelajaran yang efektif dan kondusif kepada guru aslinya. Sekaligus, aku ingin lebih fokus pada tugas-tugas akhirku yang lain.

Raut wajah dan respon mereka… Ya, entahlah mereka ‘gombal’ atau tidak, yang jelas memang sedih menanggapi kata-kata perpisahanku. Kepada Ully, Siska, Novy “Isabel”, Dhika, Septiandi, Iyan, Alex, Usep, Dea, Dewi, Rifka, Resmi, Nia, Cindy, Desi, Audina, Dani, Dicky, Sona, Ina, Ayu, Erlin, Eliani, Mikel, Riman, Helmi, Yayat, Rifki, Rita, Dena dan Nurul. Aku sungguh mengucap ‘terima kasih’ dan ‘maaf’ yang sangat dalam.

“Yah…”

“Gak ada yang ngomongin bola lagi, Miss!”

“Gak ada yang bercanda lagi.”

“Kami juga minta maaf, Miss!”

“Poto-poto lagi dong, Miss! Yang kemaren kurang banyak!”

“Mumpung di kelas baru, Miss!” (aku tak terlalu merespon ajakan poto-poto. Selain tidak membawa kamera, aku agak sedikit ‘bad mood’ untuk dipotret. Hehe…)

(dan berbagai komentar lain yang tak dapat aku sebutkan terbuka di sini).

Aku hanya berharap semoga apa yang kusampaikan dapat bermanfaat. Tak lupa kuserahkan pula apresiasiku berwujud kumcer “Selepas Hati Pergi” kepada Nia. Selain nilai, poin keaktifan dan partisipasi di kelas juga sangat menunjang haknya untuk menerima buku sederhana itu.

Maka dengan langkah lega, aku mengucapkan salam perpisahan. Bye. Teteh pamit, Dik. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *