Cerita PPL; The Ninth Meeting in X.5

Cerita PPL; The Ninth Meeting in X.5

PPL 9

Kamis, 14 Februari 2013

Kebiasaan buruk. Aku yang semula ingin datang ke sekolah lebih awal, lagi2 mesti gigit jari. Entah apa, yang jelas aku selalu tiba ‘mepet’ pada waktunya. Dalam anganku, aku ingin bersantai di kantor terlebih dahulu. Ya, minimal mengobrol lama dengan rekan2 PPL atau sekedar mendinginkan keringat yang tentu tak akan nyaman dibawa ke dalam kelas. Hehehe…

Tapi ya sudahlah, yang paling sangat penting adalah tidak sampai kesiangan dari waktu untuk mengajar. Jelang masuk kelas, aku segera menemui Bu Hj.Iin untuk menyetorkan RPP. Beliau bertanya,

“Eh udah writing 2, yah?”

“Iya, Bu.”

“Ya udah, pas bel langsung masuk aja, yah? Di…”

“X5,” jawabku menyunggingkan senyum. Kali aku lebih ingat jadwal beliau. Hehehe

“Jadi ulangannya?”

“Senin.”

“Pilih yang berapa soal?”

“20 multiple choices dan 5 essay aja, Bu.”

Setelah berdiskusi dengan guru pamongku itu, beliau memang memberi 2 alternatif jumlah soal. Tentu aku memilih yang 20 PG dan 5 essay daripada 30 PG semua. Bukan apa2, semua itu kulakukan demi anak2 kelas X5 dan X6 juga. Dengan soal essay, setidaknya pekerjaan mereka memperoleh ‘upah’ walaupun sekedar upah menulis. Kalau PG dan jawabannya salah, no excuse! Hum… Kalau boleh pake istilah Teteh Adele mah, “I wish nothing but the best for you.” 😀

Jam ke 3-4, tepatnya pukul 08.30, aku segera berjalan menuju ruangan AKSEL. Masing2 dari mereka tengah asyik dengan kegiatan masing2, termasuk music yang menderu2. Aku abaikan. Aku hanya duduk, menanti semua suara reda sendiri. Tak butuh waktu lama, kelas memang langsung kondusif. Ya, AKSEL memang tipikal yang gampang kalem. Heuheu… Melihat mereka tenang, aku segera menuju tengah2 kelas dan mengucapkan salam. Jawaban mereka kurang bersemangat, kurasa. Kusapa saja mereka,

“Hi, AKSEL!!!”

Mereka berubah riuh dengan gurat2 senyum yang lebar, “Hello, Miss!!!”
Kami pun saling tanya kabar kondisi masing2. Aku selalu terngiang wejangan dari Dosen Pembimbingku, Pak Sofyan,

“Seburuk apapun kondisi kita, jangan diekspos jika kita berhadapan dengan public. Katakan saja ‘fine’ dan berubahlah menjadi ceria agar mereka juga ketularan ceria.”

Usai memastikan bahwa mereka siap berkonsetrasi dengan pelajaranku, aku hendak mengisi buku agenda kelas. Tetapi tiba2 sang KM, Rezza, mengacungkan tangan,

“Miss…”

“Ya?”

“Hm, Miss. kata OSIS… hm, kami diminta latihan upacara pada jam ke 3-4. Hum…”

Glek!!!

Bagaimana ya perasaanku? Semangat yang kupangku dan sedang berada di puncak, tiba2 melorot bahkan mungkin terguling2. Aku memandang ke sekitar kelas. Aku benar2 terdiam. Lama. Buku agenda pun masih kosong sebab mendadak aku lupa akan mengisi apa di kelas ini. Aku serasa ‘diusir’ dengan halus. ‘Kenapa tidak dari tadi sebelum aku masuk?’ rutukku dalam hati (saja).

Dengan amat sangat berat aku tahan ekspresi kesalku. Sambil tetap terdiam, aku mencoba mengundang banyak alasan untuk memaafkan mereka (kata hatiku mereka memang butuh latihan untuk upacara besok Senin, mereka itu ‘disuruh’ loh untuk latihan, waktu pulang sering hujan jadi tak mungkin dipakai latihan, mungkin jam2 lain lebih penting sebab ada ulangan atau apa, mungkin mereka memang tengah ‘bad mood’ belajar Bahasa Inggris, bla… bla… bla…)

Aku berhenti diam. Usai mengembuskan napas berat, aku berkata ‘diplomatis’ pada Rezza,

“Pergi ke Bu Hj.Iin dulu. Bicarakan masalah ini sama beliau, saya gak berhak memutuskan…”

Punggung Rezza dan Agung hilang di balik pintu. Dan, aku tak bisa menahan apa yang mengganjal dalam hati. Kukatakan saja pada kelas,

“Kalau kalian ragu untuk belajar Bahasa Inggris, ke sayanya juga ragu lagi.”

Mereka terdiam, mungkin merasakan ada suatu rasa negative dalam nada bicaraku. Kasian, mereka tidaklah bersalah, namun secara tak sadar ‘I’ve blamed them’. Heuheu… Sebenarnya minggu yang lalu, saat melihat ‘kaum adam’ ada kemauan dan bergerak untuk mengerjakan soal, AKSEL sangat membuatku betah dan nyaman. Tetapi ‘insiden’ kecil ini sungguh membuat seleraku turun. Phew! -__-‘

Demi menunggu Rezza, aku memberi sedikit materi seputar ‘note’ dalam situasi yang berbeda. Sebelumnya, aku mengeluarkan ‘surat usang’ (Kamis, 27 September 2013) dari anak2 SDN Kubang Jero, Banjarharjo-Brebes-Jawa Tengah. Aku membacakan surat singkat tersebut sebagai salah satu contoh ‘note’.

“Jadi simple aja. Polos, sesuai kata2 kalian. Gak perlu copas2…” tuturku menjelaskan maksud mencontohkan surat tersebut.
Lalu, mengulang apa yang dulu sudah diajarkan dan akan muncul dalam ulangan. Jujur saja, aku sangat tidak nyaman ketika menjelaskan. Bahkan di kelas ini, aku belum sempat memberi contoh note dari diriku sendiri. Sampai akhirnya Rezza tiba dan menyampaikan hasilnya,

“Kata Ibu 1 jam saja, Miss.”

Aku mengangguk. Entah kenapa, aku jadi ingin cepat2 keluar dari kelas itu. Namun sebelum keluar, aku ingin terlebih dahulu (sesuai rencana memang) membuat refleksi diri dulu. Aku membagikan kertas kosong pada mereka semua. Mereka sempat bertanya2, dan setelah semuanya terbagi, aku menyampaikan tujuannya,

“Nanti saya ada sekitar 20 pertanyaan, tolong jawab dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, yah?”

Mereka tertawa. Sambil melihat2 jam, aku mulai membacakan pertanyaan yang awalnya dalam Bahasa Inggris, namun aku terjemahkan:

1. Apakah kamu mengerti part ‘Expressing complimenting, thanking and respond to thanks’?
2. Apakah kamu mengerti part ‘Past Perfect’?
3. Apakah kamu mengerti part ‘Narrative’?
4. Apakah kamu mengerti part ‘Announcement’?
5. Apakah kamu mengerti part ‘Introductory It’?
6. Apakah kamu mengerti part ‘Notes’?
7. Apakah kamu menikmati pelajaran Bahasa Inggris dengan saya?
8. Apakah kamu mendapat kosa-kata baru?
9. Apakah kamu jadi lebih berani untuk mengacungkan tangan dan mencoba menjawab pertanyaan?
10. Part mana yang paling kamu suka?
11. Part mana yang paling kamu tak suka?
12. Apakah kamu menikmati saat harus mengerjakan PR Bahasa Inggris?
13. Apakah saya terlalu banyak memberikan PR?
14. Apakah kamu tidak mengerti samasekali terhadap semua part?
15. Apa yang membuatmu sungkan untuk bertanya atau menyapa saya?
16. Menurutmu, apakah saya terlihat menguasai materi?
17. Bagaimana dengan cara komunikasi saya? Menurutmu, komunikatif apa tidak?
18. Apakah saya membuat Bahasa Inggris terlihat lebih sulit?
19. Apakah saya seseorang yang plih kasih?
20. Apakah kamu suka cara saya mengajar di kelasmu?

Selanjutnya aku bebaskan mereka untuk menulis pesan dan kesan. Hal itu dimaksudkan selain sebagai refleksi pemahaman mereka akan Bahasa Inggris juga dimaksudkan untuk mengetahui respon atau penilaian mereka terhadap kinerja aku selama PPL. Di tengah2 proses menulis itu, aku meminta mereka untuk menyelesaikannya lebih cepat mengingat mereka mesti latihan upacara. Aku takut gara2 aku, acara latihan upacara mereka jadi kacau. Terlebih lagi rencanaku untuk memberi materi di AKSEL memang telah runtuh. Aku blank, tak ada yang bisa disampaikan, selain ingin segera k e l u a r.

Penantianku lumayan lama. Aku jadi tak enak. Mau diburu-buru, takut lagi asyik nulis. Mau ditunggu2, takut dikira menghambat latihan upacaranya. Sampai akhirnya, mereka pun mengumpulkan kertas tersebut.

“Kasih nama nggak, Miss?”

“Up to you. Terserah…”

Semua kertas telah terkumpul dan aku langsung membereskan buku serta absensi mereka. Aku ingin cepat2 cabut dari kelas. Namun kata Rezza,

“Tanggung, Miss. Lanjut aja. Biar nanti aja latihan upacaranya.”

Ya amplooop! Keadaannya cukup menyulitkan. Ya maksudku, ternyata memang sulit kalau mengajar dalam suasana gamang.

“Pas jam 5-6 aja, Za!” usul yang lain sambil menyebutkan mata pelajarannya.

Mau bagaimana lagi. Ini memang resiko. AKSEL memang telah memberi ujian cukup sulit hari ini. Hati yang kesal terpaksa berkompromi dengan keadaan. Aku sudah tak berselera membahas isi buku, bahkan PR sekalipun! Maka jalan satu2nya hanya membicarakan ujian nanti. Murid2 perempuan yang memang sangat antusias menanyakan kisi2 soalnya. Aku pun menjabarkan materi2 yang akan jadi bahan ujian. Ah, kalau saja tak ada mereka, rontoklah sudah kesabaranku. -__-‘

Perlahan, mereka pun menanyakan materi2 yang sekiranya belum mereka kuasai. Bukan, bukan belum dikuasai. Tepatnya sih, terlupakan. Aku pun dengan segenap kesabaran mengingatkan mereka akan materi2 yang pernah didiskusikan termasuk teks2 yang pernah dikupas bersama. Rata2nya menanyakan tentang materi ‘Introductory It’. Aku pun ada ‘kerjaan’ untuk mengisi waktu.

Kuulas lagi materi tersebut dengan tak lupa memberi beberapa contoh, serta mencatut nama2 mereka. Hal itu kulakukan selain menghibur, juga agar mudah diingat. Mereka ada yang mengangguk-angguk, ada yang masih melongo, ada yang segera mendokumentasikannya lewat catatan dan ada pula yang mengernyitkan dahi. Mungkin lagi ‘loading’. Aku berhenti sejenak, sampai kemudian ada lagi pertanyaan terkait bagian yang dirasa belum jelas. Aku menjelaskannya lagi dengan senang hati.

Jam istirahat hampir tiba. Aku memutuskan untuk menyudahi kegiatan belajar-mengajar di AKSEL. Ada rasa tak enak. Semuanya teraduk. Aku tak enak sebab latihan upacara mereka terganggu, tak enak sebab aku tak membahas teks ‘the little tin soldier’ dalam buku (sesuai RPP), tak enak sebab hanya mengulas materi2 tempo lalu yang terlupakan oleh mereka dan tak enak sebab insiden yang mengusik psikologis itu harus berimbas pada semuanya. Aku sangat mengakui kalau AKSEL itu kelas yang sangat menghargai keberadaanku. Mereka aktif, patuh, antusias, punya semangat belajar, menyenangkan, dan punya potensi tersendiri. Baik AKSEL maupun GENSIXTEN seperti ‘intan yang masih tersimpan dalam kerang’. Mereka indah dan keren, hanya saja belum terolah dan ter-eksplor.

Usai mengajar, aku membaca 34 (tidak sekolah satu orang) hasil refleksi diri AKSEL sesaat. Baru ketika di rumah, aku agak lama dan cukup serius mengamatinya. Dan, berikut hasil analisisnya:

1. 31 anak AKSEL paham tentang ‘Expressing Thanking and Complimenting’.
2. 11 anak AKSEL paham materi ‘Past Perfect’, 19 lumayan paham.
3. 20 anak AKSEL paham materi ‘Narrative Text’.
4. 28 anak AKSEL paham materi ‘Announcement’.
5. 16 anak AKSEL lumayan paham ‘Introductory It’, 16 lainnya tidak paham.
6. 19 anak AKESL paham materi ‘Note’, 18 lumayan paham.
7. Semua anak AKSEL enjoy belajar Bahasa Inggris dengan aku.
8. 23 anak AKSEL mendapat ‘vocabulary’ baru.
9. 27 anak AKSEL menjadi lebih berani mengacungkan tangan dan mencoba menjawab soal2.
10. 18 anak AKSEL sangat suka materi ‘Narrative’. Yang lainnya bikin kalimat, announcement, dan expressing thanking and complimenting.
11. 16 anak AKSEL tidak suka materi ‘Introductory It’ dan ‘Past Perfect’. Yang lainnya ada yang menjawab narrative, menjawab soal2 dari teks, note, announcement, expressing thanking and complimenting dan ada juga yang menjawab ‘gak ada yang gak suka’.
12. 23 anak AKSEL lumayan enjoy mengerjakan PR Bahasa Inggris. Yang lainnya menjawab sedikit enjoy dan tidak enjoy.
13. 20 anak AKSEL menganggapku tidak terlalu menekan dalam pengerjaan PR. Yang lain menjawab lumayan, gak terlalu dan iya.
14. 29 anak AKSEL mengerti semua materi yang aku ajarkan. Yang lain menjawab ada sebagian yang kurang paham.
15. 22 anak AKSEL merasa takut salah ketika menanyakan materi padaku.
16. 30 anak AKSEL bilang, aku menguasai materi. Yang lainnya bilang ‘cukup’.
17. Semua anak AKSEL bilang, komunikasiku dengan kelas itu bagus.
18. 21 anak AKSEL menganggap aku tidak membuat pelajaran Bahasa Inggris terlihat sulit. Yang lainnya bilang ‘sedikit’ dan gak tahu.
19. 25 anak AKSEL bilang, aku tidak pilih kasih. Yang lainnya bilang lumayan, biasa aja dan iya.
20. 33 anak AKSEL bilang mereka suka cara mengajarku, sedang 1 lainnya bilang ‘cukup’.

Adapun untuk pesan dan kesannya, kelas yang dipimpin Rezza ini sangat banyak memberi masukan. Aku beruntung mendapatkan masukan tersebut, sebab memang ada beberapa yang tidak aku sadari:

“Jangan memberi tugas atau PR terlalu banyak.”
Materi atau latihan berdasarkan RPP kadang tidak tersampaikan semua di kelas, sehingga aku mesti menugaskannya kepada mereka. Hehehe

“Ketika menerangkan, jangan terlalu cepat, yah?”
Durasi menjadi alasan kecepatanku dalam mengajar. Mungkin aku ‘terlalu taat’ RPP, jadinya apa yang dituliskan di sana mesti benar2 aku sampaikan sesuai ketentuan waktunya. Heuheu… Padahal aku siasati dengan penawaran begini, “Jika belum paham, boleh hubungi saya.” ^_^

“Lebih sensitive lagi yah, Miss? Misalnya dalam pemeriksaan PR.”
Ya, keputusanku untuk membentuk tim independen dalam pemeriksaan PR, memang cukup sukses menyiasati waktu dan menanamkan rasa tanggung jawab, namun kelemahannya; Aku jadi tidak tahu, apakah ada indikasi ‘menyontek’ dalam pengerjaan PR tersebut atau tidak.

“Miss, jangan lupain AKSEL, yah? Terutama nama-namanya. Tapi gak apa2 sih, sebab kadang2 jadi lucu!”
Insya Allah, aku tak pernah punya niat melupakan mereka. Memang sih, aku selalu ‘keseleo lidah’ ketika memanggil nama mereka. Tapi sebisa mungkin akan selalu kuingat 😀

“Maafin AKSEL, terutama ‘kaum adam’ yang ngeyel dan bikin jengkel.”
Tentu!!! w o l e s 😀

“Kalau Miss bicara dalam Bahasa Inggris, sebenarnya kadang gak bisa dimengerti…”
Hum… Mesti mempertimbangkan ‘translation method’ nih -_-‘

“Miss jangan terlalu baik, sekali-kali tegur kita!”
Insya Allah… tapi wajah unyu2 sekaligus ‘pusing’ kalian suka bikin aku kasian, Dik. Heuheu

“Miss, jangan ingatnya sama X6 aja. Kadang ngebanding-bandingin juga?!”
Hey, X5 dan X6 itu s a m a; sama-sama istimewa di hati saya

Well, meski kadang ada komentar OOT (out of topic), semacam kata mutiara, namun tetap kubaca juga. Selama baik, dari manapun itu, kuserap saja. AKSEL juga menjadi kelas dengan kata2 pujian terbanyak dan beragam. Hhh, ya pokoknya aku mengucapkan ‘terima kasih’ atas semua pujiannya, ‘Aamiin’ atas semua doa2-nya dan ‘terima kasih banyak’ atas semua masukannya.

You’re so precious! ^_^ [#RD]

RPP: RPP 9_Write note and finding interesting story

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *