Cerita PPL; The Ninth Meeting in X.6

Cerita PPL; The Ninth Meeting in X.6

ppl 10Dzuhur. Aku sholat berjamaah ditemani Teh Itha dan Mela. Seperti biasa, ada kedamaian menjalar usai ibadah tersebut. Jelang jam ke 7-8, Mela bercerita padaku tentang ‘konflik internal’ dia dan salah satu kelas yang dipegangnya. Rona wajahnya masih menyiratkan rasa yang campur aduk. Sangat kupahami. Well, aku tak akan mempublikasikannya di sini. Yang jelas, diam2 aku bersyukur bisa ditempatkan di kelas X5 dan X6. Meminjam jargon seorang vokalis,

“mereka luar biasa…”

Sekitar jam 12.20-an, Bu Hj. Iin bilang padaku,

“Duh, ibu mau ke Rumah SAkit dulu. Saudara ibu dioperasi sekarang.”

“Oh iya, Bu. Gak apa-apa.”

Aku masuk ke kelas X6, tepatnya ke kelas persinggahan mereka di laboratorium bahasa. Watak mereka memang, mereka berseru-seru menyapaku terlebih dahulu,

“Hello, Miss!”

“How are you, Miss?”

“Persib gimana, Miss?”

“Miss, kemaren aku nonton Persita. Live! Tapi gak disorot ANTV.”

“Persita menang, Miss!”

“Miss, Persib punya pemain baru!”

Aku hanya tersenyum mengangguk-angguk. Kurapikan tas dan bukuku, setelah itu kuberi salam pada mereka. Jawabannya begitu nyaring dan semangat, apalagi ketika aku menyapa mereka dengan sebutan ‘Gensixten’, nama kebanggan mereka.

Tak berlangsung lama ‘small talk’-ku. Mengingat kondisi laboratorium, aku tidak membentuk tim independen di sini. Aku hanya menanyakan bagaimana PR mereka. Aku percaya mereka jujur. Kelas ramai dengan seruan seperti,

“Aku baru 7!”

“Aku belum 1!”

“Aku belum 4!”

“No sekian susah, Miss!”

Aku segera saja membahas PR. Sebenarnya, membahas teks dan jawaban2 pertanyaannya adalah bagian paling menyebalkan. Namun beruntung sekali aku, mereka sungguh bersemangat. Soal2 dalam PR ramai diacungi tangan. Mirip orang2 tengah melelang barang, di mana yang tak dipersilakan merasa kurang senang. Hehehe…

Satu per-satu soal dibahas. Ada yang langsung benar, ada juga yang mesti dikoreksi. Khusus soal2 terakhir, mereka merasa kesulitan. Aku pun membahasnya sekilas, dengan tak lupa menerjemahkan bagian2 yang dirasa perlu. Selanjutnya aku membahas pembuatan ‘note’ dengan situasi berbeda. Sebelumnya, aku mengeluarkan ‘surat usang’ (Kamis, 27 September 2013) dari anak2 SDN Kubang Jero, Banjarharjo-Brebes-Jawa Tengah. Aku membacakan surat singkat tersebut sebagai salah satu contoh ‘note’.

“Jadi simple aja. Polos, sesuai kata2 kalian. Gak perlu copas2…” tuturku menjelaskan maksud mencontohkan surat tersebut (sama seperti ke AKSEL).

Setelah menjelaskan arti katanya, kuminta mereka membuat ‘note’-nya. Namun mereka terlihat masih melongo. Alhasil, aku keluarkan jurus jitu yang ber-resiko,

“Silakan tunjuk situasi mana yang mesti saya kerjakan?”

Setelah saling lirik, mereka berseru-seru,

“Satu!”

“Dua!”

“Tiga!”

“Tiga!”

Ya, ‘tiga’ adalah suara terbanyak. Padahal menurutku, no ‘satu’ lah yang sulit, namun syukur mereka memudahkan 😀 Maka dengan sigap, aku membuat ‘note’ dadakan berdasarkan situasi nomor tiga. Wajah mereka yang semula menyiratkan ‘loading’ berubah seperti ada pencerahan. Mereka pun nampak segera bergerak. Dan seperti biasa, aku ‘bergerilya’.

Ketika berkeliling, aku berusaha menggapai semua sudut. Walau mungkin dianggap sebagai obat nyamuk yang berputar2, atau seperti setrikaan yang maju-mundur, aku tetap berusaha melakukan itu. Aku yakinkan agar mereka mengerjakan pembuatan ‘note’ tersebut sekaligus jaga2, siapa tahu ada yang mau bertanya lebih lanjut. Sesuai dugaanku, mereka selalu menanyakan tentang arti kata sesuatu. Aku jadi teringat rekanku, Uus. Dia selalu menanggapi murid yang bertanya istilah Bahasa Inggris dengan,

“Ada kamus, kan? Buka dan cari aja…” 😀

Mulanya aku setuju, namun mulai ada ketakutan ketika mereka kurang tepat menempatkan kata sesuai konteksnya. Jadi aku tetap mendampingi proses menerjemahkan mereka. Sekalian belajar juga. Dan, sebagian lagi menyodorkan hasil kerjanya, lalu dengan perasaan legowo melihatku ‘mencoret-coret’ bagian mana yang kurang tepat.

Syukurlah, mereka semua bisa dikatakan paham mengenai apa yang mesti dilakukan dalam pembuatan ‘note’, tinggal masalah teknis menulisnya saja. Selanjutnya, aku menerangkan ‘re-writing’ teks narrative. Aku menyediakan alternative pilihan teks:

a. The Princess Worn Out Shoes
b. Puss In Boots
c. The Island of Feeling
d. The Little Tin Soldier
e. Free

Cukup banyak pertanyaan,

“Pilih salah satu, Miss?”

“Kalau lebih dari satu?”

“Dengan kata-kata sendiri?”

“Meng-copy dikit?”

Usai semua itu, aku memberi kertas refleksi diri selayaknya kelas AKSEL. Mereka sangat khusyuk mendengar dan menjawab pertanyaanku. Berikut hasil analisis jawaban dari ke-31 anak GENSIXTEN:

1. 26 anak GENSIXTEN paham materi ‘Expressing Thanking and Complimenting’, yang lainnya lumayan paham.
2. 12 anak GENSIXTEN paham past perfect, 16 lumayan paham.
3. 23 anak GENSIXTEN paham narrative text. Yang lainnya lumayan paham.
4. 23 anak GENSIXTEN paham announcement. Yang lainnya lumayan paham.
5. 18 anak GENSIXTEN lumayan paham ‘Introductory It’, 9 lainnya tidak paham.
6. 25 anak GENSIXTEN paham notes, 6 lainnya lumayan paham.
7. Semua anak GENSIXTEN enjoy belajar Bahasa Inggris dengan aku.
8. 25 anak GENSIXTEN mendapat vocabulary baru, yang lainnya cukup dan tidak.
9. 20 anak GENSIXTEN menjadi lebih berani mengangkat tangan dan mencoba menjawab soal, yang lainnya lumayan, biasa aja dan 1 tidak begitu berani.
10. 19 anak GENSIXTEN paling suka materi ‘narrative text’. Yang lainnya announcement, expressing thanking and complimenting, note, re-write dan ketika membicarakan Persib -_-‘
11. 17 anak GENSIXTEN menyukai semua materi, yang lainnya announcement, introductory it, ketika tak tahu artinya dan gak tahu..
12. 17 anak GENSIXTEN enjoy mengerjakan PR Bahasa Inggris. Yang lainnya lumayan dan tidak terlalu.
13. 16 anak GENSIXTEN bilang, aku tidak terlalu menekan dalam pengerjaan PR. Yang lainnya bilang tidak terlalu dan lumayan.
14. 19 anak GENSIXTEN tidak pahamnya materi ‘Introductory It’. Yang lainnya past perfect, announcement dan gak ada.
15. 9 anak GENSIXTEN merasa takut salah untuk menanyakan materi padaku. Yang lainnya tidak takut, biasa aja, malu, takut dicuekin dan grogi.
16. 30 anak GENSIXTEN bilang, aku menguasai materi. Yang 1, jawabannya OOT. Hehehe
17. Semua anak GENSIXTEN bilang komunikasiku dengan kelas itu bagus.
18. 23 anak GENSIXTEN bilang, aku tidak menjadikan Bahasa Inggris terlihat lebih sulit. Yang lainnya iya, lumayan dan sedikit.
19. 24 anak GENSIXTEN bilang, aku tidak pilih kasih. Yang lainnya sedikit dan iya.
20. 30 anak GENSIXTEN bilang suka dengan caraku mengajar di kelas.

Adapun masukan2 berharga yang datang padaku yaitu:

“Jangan terlalu focus ke materi dan jangan kecepatan, soalnya takut ada yang belum paham pelajarannya.”
Insya Allah, Dik. ‘Tuntutan’ durasi dalam RPP akan sedikit diabaikan kalau begitu. Hehehe

“Tetap semangat ya dalam KBM, walaupun murid2nya sering ngeyel.”
Pasti, insya Allah. Walau sebetulnya, cukup berat 😀

“Jangan terlalu baik kepada siswa yah, Miss?”
Begitu, yah? Oke, insya Allah akan mencoba lebih tegas. Bukan galak, ya? Hehehe

“Jangan sombong dan lupain GENSIXTEN ya, Miss? Tetap semangat, jangan mudah menyerah. Kenang diriku, selalu di hatimu, selalu di jiwamu, simpan di memorimu. Makasih udah ngasih sejjuta keceriaan dalam hari-hariku.”
Hadeuh… :’) Iya, insya Allah. Sebisa mungkin kujepret kalian dalam otak ^_^

“Seru, Miss. Walau kadang ada yang kurang pahamnya?”
Saking serunya, sampai kurang paham? Heuheu… Insya Allah, masukanmu akan sangat saya perhatikan.

“Masalah PR, kadang bikin tegang, Miss.”
Hehehe, sengaja 😀 Tapi insya Allah akan dicarikan solusi agar kalian enjoy ah ^_^

“Maafin GENSIXTEN yang pernah bikin jengkel, ngecewain dan kurang sopan sama Miss.”
Sama-sama. Itu pasti, Dik. Pasti ^_^

RD1

“Seru, tapi kadang sebel juga kalau udah mengacungkan tangan lama2 tapi gak ditunjuk2. Tapi gak apa2, mungkin lain waktu…”
Poinmu udah banyak kali, Dik. Makanya saya kurang berselera menunjukmu ‘lagi’ 😀

Kelas GENSIXTEN paling banyak memberi doa, misalnya:
Smoga skripsinya lancar, Miss
Smoga PPL-nya lancar dan sukses
Semoga sehat selalu
Semoga jadi orang bermanfaat
Mudah2an jadi guru terbaik se-dunia (gak tanggung2 :D)
Mudah2an lulus dengan nilai yang baik.
Moga jadi guru yang dibanggakan murid2nya.
Moga jadi ‘the model teacher’
Moga bukan jadi pertemuan terakhir dan PPL menjadi pengalaman yang menyenangkan
Moga kuliahnya baik dan lancar
Dst.

Alhamdulillah… aku ucapkan ‘terima kasih’ atas semua pujiannya, ‘Aamiin’ atas semua doanya dan ‘terima kasih banyak’ atas semua masukan bermanfaatnya. Tak terasa, kami melewati 2 jam bersama. Sampai akhirnya kami pulang setelah sebelumnya berdoa. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *