Cerita PPL; The Second Meeting

Cerita PPL; The Second Meeting

PPL Guru 1

Kamis, 17 January 2013

Hari ini adalah hari kedua aku mengajar sebagai praktikan PPL di SMA mitra; SMAN 1 Kadugede. Jadwalnya masih sama, yakni jam ke 3-4 dan 7-8. Hanya saja sekarang aku mesti ke kelas X.6 terlebih dahulu, baru ke kelas X.5. Aku menuju kelas X.6 ditemani guru pamong.

Memasukki kelas, seperti Senin lalu, suasananya segar (mungkin pengaruh cat birunya juga). Namun sekarang ada nuansa semangat dalam mata mereka. Jika kemarin Senin aku agak ogah ‘stay’ di kelas tersebut (pengaruh jam terakhir juga), sekarang malah ada magnet tersendiri untuk menelusuri keunggulan kelas yang dipimpin Rezza itu. Seperti biasa, aku menyapa dan mengabsen mereka. Caraku untuk mengabsen tidak lagi sama seperti minggu lalu. Aku hanya menanyakan siapa yang tak hadir, tanpa menyebutkan satu-persatu nama mereka.
tautan hati
Kali ini mereka juga lebih ‘berani’ menatapku langsung. Aku rasa ‘chemistry’ dan adaptasi antara kami sudah mulai terbentuk. Sebelum melaju ke materi selanjutnya, aku melakukan ‘review’ dulu. Benar dugaanku, mereka tak mampu menjawab ‘expressing2’ Senin lalu tanpa buku. Selalu saja mereka mengandalkan catatan manakala kutanya. Namun tak apa, dengan review, setidaknya ingatan mereka kembali pulih. Aku pun berusaha mengundang pemakluman bahwa mereka tidak hanya mempelajari Bahasa Inggris saja, namun dengan yang lainnya.

Selanjutnya kubahas PR, yakni tentang materi dan kalimat dalam bentuk past perfect. Demi meyakinkan kalau mereka mengerjakan PR, aku keliling. Berdegup dadaku mendapati mereka mengerjakan PR semua, malah lengkap, diluar yang kuharap. Aku hanya menyuruh menuliskan materi atau rumus past perfect untuk kemudian membuatkan 1 contoh kalimatnya. Nyatanya, mereka menulis materi dan membuat rata2 5 kalimat (lengkap dengan bentuk negative dan interrogative-nya). Memang sih, ada beberapa kalimat yang sama. Aku memutuskan untuk masih memaafkan.

Kutawarkan pada mereka untuk menuliskan contoh kalimatnya di depan. Satu persatu aku mengevalusi ‘sample’ yang maju. Hingga sang KM, Rezza, menuliskan 4 contoh kalimat. Dua pertama benar, dan dua terakhir mengundang banyak pertanyaan. Guru Pamong sangat memelototkan perhatiannya. Aku pun berkomentar kalau kalimat 3 dan 4 kurang tepat.

Selanjutnya, karena skill-nya masih listening, aku melakukan monolog teks narrative berjudul “Sangkuriang”. Bukan apa2, ada misi yang kupikul. Aku sengaja tidak mengusung cerita ‘Snow White’, ‘Cinderella’, ‘Romeo and Juliet’, dst. Aku lebih mengusung cerita2 khas daerah. Benar saja, cerita Sangkuriang pun banyak yang tak tahu urutannya. Dan sesuai permintaan mereka, aku bercerita dalam Bahasa Inggris, lengkap dengan menerjemahkan bagian2 yang membuat mereka melongo. Beginilah:

Read the following text then answer the questions below!
The Story of Sangkuriang and Tangkuban Perahu Mountain (West Java Story)

Once, there was a kingdom in Priangan Land. There lived a happy family. They were a father in form of dog (cursed by the king after his relationship with his lovely daughter), his name is Tumang, a mother which was called Dayang Sumbi, and a child which was called Sangkuriang.

One day, Dayang Sumbi asked her son to go hunting with his lovely dog, Tumang. After hunting all day, Sangkuriang began desperate and worried because he didn’t see any deer to be hunted. Then he thought to shot his own dog. Then he took the dog’s liver and carried home.
Soon, Dayang Sumbi found out that it was not deer liver but Tumang’s, his own dog. So, she was very angry and hit Sangkuriang’s head. In that incident, Sangkuriang got wounded and scar then ran away from their home.

Years went by, Sangkuriang had travel many places and finally arrived at a village. He met a beautiful woman and felt in love with her. When they were discussing their wedding plans, the woman looked at the wound in Sangkuriang’s head. It matched to her son’s wound which had left several years earlier. Soon she realized that she felt in love with her own son.

She couldn’t marry him but how to say it. Then, she found the way. She needed a lake and a boat for celebrating their wedding day. Sangkuriang had to make them in one night. He built a lake. With a dawn just moment away and the boat was almost complete, Dayang Sumbi stopped it. Then, she lit up the eastern horizon with flashes of light. It made the cock crowed for a new day.

Sangkuriang failed to marry her. He was very angry and kicked the boat. It felt over and became the mountain of Tangkuban Perahu Bandung.

(source: understandingtext.blogspot.com)

1) Where was the kingdom?
2) Who was Tumang?
3) Why was the father a dog?
4) Why did Sangkuriang think to shot his own dog?
5) How was Dayang Sumbi’s response when finding Tumang’s liver?
6) Where did Sangkuriang arrive after travelling many places?
7) When did Dayang Sumbi realize that she felt in love with her own son?
8) What was Dayang Sumbi’s way to stop their wedding?
9) How was Sangkuriang’s response when he failed to marry Dayang Sumbi?
10) What is the social function of the text?

Setelah itu, aku memberi 10 pertanyaan yang mesti mereka jawab. Tiba2, terdapat ide untuk menuliskan sesiapa yang aktif di kelas. Kuabsen lagi siswa yang Senin kemaren maju untuk berdialog. Mereka nampak antusias. Ya, aku menerapkan system poin keaktifan.

“Nanti mau disetor ke guru pamong,” kataku.

Sebenarnya, tanpa system poin pun, partisipasi mereka terbilang sangat bagus. Namun demi menjunjung ‘apresiasi’, kuaplikasikan saja system tersebut. Respon mereka pun positif sekali. Selagi aktif, meski salah, kutulis saja nama mereka sebagai partisipan. Bel istirahat berbunyi. Jam mengajarku terpotong. Tanggapan mereka beragam, ada yang berseru, “Lanjut aja, Miss!”

Begitu melihat ada siswi yang bilang ‘lapar’, aku memutuskan untuk istirahat sebentar. Dalam hati, sungguh aku ingin menyiram tenggorokan!

15 belas menit (lebih malah) berlalu. Kini giliran mereka yang membacakan isi cerita Bahasa Inggris tentang Sangkuriang, satu paragraph satu orang, di depan kelas. Selain ingin meng-test keberanian, akupun ingin tahu ‘pronunciation’ mereka seperti apa. Sesuai dugaan, yang mengacungkan tangan adalah orang yang itu2 saja. Aku tidak dulu mempersilakan ‘wajah2 lama’ untuk maju, kuberi kesempatan pada yang lain untuk ambil bagian. Cara ini efektif. Banyak siswa yang mulanya terlihat ragu, namun akhirnya bersedia maju.

Yang paling mengejutkan, ada muridku, yang laki2, Si Trouble Maker, mengajukan diri. Tanpa menunggu apapun, aku mempersilakannya. Sungguh, ada rasa bangga yang sangat menghibur hati. Kuperhatikan guru pamongpun tersenyum. Kupuji2 keberaniannya di hadapan kelas. Kelaspun ramai. Mereka saling bersahutan,

“Wow!”

“Maju euy!”

“Tumben!”

Yang lain lebih memilih tepuk tangan sesuai dengan instruksiku, “Give applause!”
berani
Dengan terbata-bata ia membaca paragraph cerita. Selama mereka membaca, aku tak memotongnya. Barulah setelah selesai, aku mengoreksi cara bacanya yang keliru. Sebisa mungkin kuusahakan agar keberanian mereka kuapresiasi. Sulit, tapi aku menampilkan kesan agar mereka tak kapok untuk maju. Dalam hal ini, pemilihan kata dan intonasi sangatlah berperan. KBM belum selesai, namun guru pamong telah pamit keluar. Dan tak terasa, suara bel datang.

Begitu ke kantor, Guru Pamong mengoreksi RPP dan penampilanku lagi. Namun sekarang, RPP-nya tidak terlalu banyak coretan. Hanya saja, ada sesuatu yang paling beliau tekankan, yaitu ketika membahas PR ‘past perfect’,

“Ketika pekerjaan anak di depan ada yang meragukan anak lain, maka tawarkan kepada mereka; Siapa yang bilang benar? Siapa yang bilang salah? Dan, alasannya kenapa? Jangan dulu kamu tentuin yang 1 salah, yang 2 benar, dst, yah?” papar beliau. Aku menggut2. Aku rasa hal itu memang keren!

Aku bergabung dengan rekan praktikan PPL lain. Seperti biasa, meski temanya masih itu2 saja, namun semuanya berjalan menarik. Tentang tanggapan siswa, RPP, guru pamong, permainan dalam mengajar, improvisasi, cara menghadapi siswa bandel, dst. Begitulah, cara menungguku untuk kembali mengajar tidak berlangsung menyebalkan, selalu ada isi. Kadang Pak Hepi juga menemani untuk sekedar mengobrolkan ‘masa lalu’, khususnya ‘rahasia2’ yang ternyata masih beliau ingat sekaligus tutup rapat. He he he (The secret is save with you, Sir! :D). Belum lagi guru2 atau petugas TU yang tengah istirahat. Selalu banyak Tanya yang ingin kusampaikan, semisal guru yang sudah tak terlihat di sekolah, Pak Satpam yang berganti, petugas TU yang belum terlihat datang, Ibu kantin, letak kelas, laboratorium, dst.

Bel jam ke 7-8 tiba, aku kembali mengajar. Dan demi menyamaratakan materi, kutetapkan metode yang sama terhadap mereka, kelas X.5. Kelas tersebut, kalau sudah siang memang agak ‘bandel’. Namun mereka aktif dan terbuka. Entah murid laki2 atau perempuannya selalu berpartisipasi. Oh ya, sayangnya, baik kelas X.5 dan X.6, belum kulihat kekompakannya. Meski demikian, aku selalu yakin ada potensi baik yang belum digali dari mereka.

Sungguh, mengajar kedua ini berlangsung melelahkan, sekaligus menyenangkan. [#RD]

Ada yang memerlukan contoh RPP-nya? Silakan:

RPP2_Expressing and narrative text monolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *