Cerita PPL; The Seventh Meeting in X.5

Cerita PPL; The Seventh Meeting in X.5

PPL Guru 7

Kamis, 07 Februari 2013

Hari ini adalah kali ke-7 untukku menunaikan kewajiban sebagai praktikan PPL. Jadwalku sekarang adalah jam ke 3-4 di kelas AKSEL (X5), barulah jam ke 7-8 di kelas GENSIXTEN (X6). Hari itu aku ingin berangkat lebih awal, inginnya sih sekitar setengah jam sebelum jam setengah 9. Namun aku malah berangkat pukul 8 lewat. Tak ayal, aku tiba di sekolah tepat sepuluh menit sebelum masuk kelas. Phew!
-_-‘

Tiba di sekolah, aku telah disambut deretan rekan2 PPL yang sedang piket, baru tiba untuk mengajar (sepertiku) maupun baru keluar kelas jam 1-2. Kami, seperti biasa, mengobrolkan banyak hal. Klasik saja, seputar PPL dan ‘cucu-cucu topik’ seputar itu. Namun tak lama, aku memilih untuk menghampiri guru pamongku yang sangat aku hormati, Bu Hj.Iin. Kami diskusi ini-itu seputar RPP, anak2 dan pelaksanaan KBM. Makin lama, aku makin merasakan ilmu yang tumbuh dari bimbingan beliau. Alhamdulillaah…

Di akhir ‘sesi diskusi singkat’ kami, beliau membisikkan suatu hal,
“Perhatikan anak yang terlibat ‘gap’, gimana pengaruhnya dengan kegiatan di kelas. Jangan mudah percaya sama mereka. Kamu mesti lebih teliti.”

Aku keluar kantor, menuju rekan2 PPL lagi. Selama di sana aku tak mendengar bunyi bel (entah terlalu konsentrasi dengan obrolanku bersama guru pamong atau bagaimana), namun kata teman2ku, “Cepat ihk udah masuk jam 3-4.”

Benar saja, jam memang telah menunjukkan pukul setengah 9 lewat. Bersama seorang teman dengan arah kelas yang sama, kami keluar. Barulah di sebuah persimpangan, kami berpisah. Aku masuk ke kelas X5, atau yang memiliki ‘nickname’ sebagai AKSEL (Anak Kelas Sepuluh Lima). Menurutku ada ‘beban’ tersendiri dengan nama tersebut. Pertama kali mendengarnya saja, aku sudah menyimpulkan bahwa anggota kelas AKSEL mestilah ‘cepat’sesuai dengan namanya, entah dalam menerima materi, mengerjakan tugas, ‘acting out’ ke depan kelas, dsb. Namun kenyataannya, tidaklah secepat makna namanya. Heuheu…

Tapi diluar dari nama tersebut, kelas ini cukup kreatif. Bukti kecilnya adalah nama ‘AKSEL’ yang ditulis besar dengan cukup indah pada tembok belakang. Memasukki kelas ini pula, ada sesuatu yang sejuk menyapa. Sebelum KBM, seperti yang sudah2, aku menulis agenda dan meng-cek siapa siswa/i yang tidak hadir. Sangat sayang sekali, ada dua orang tak hadir tanpa keterangan serta seorang lagi yang sakit. Hm, namun aku percaya anggota kelas ini cukup baik dan ber-etika.

Sebelum melanjutkan materi, aku menanyakan PR mereka. Sebenarnya aku sempat ber-suudzon kalau kelas X5 ini mayoritas tidak mengerjakan PR, mengingat aku menginformasikan PR-nya telat (efek minggu lalu, aku ‘sempat dikecewakan’ oleh mereka). Namun prasangkaku meleset.
homework
Aku membentuk tim independent yang terdiri dari 4 orang, dari satu barisan satu orang. Tugasnya adalah memeriksa PR teman2-nya; Memeriksa apakah PR tersebut dikerjakan/tidak, bukan memeriksa benar/salahnya. Mereka bersorak menyambut ‘kebijakan’ sekaligus strategiku untuk memeriksa PR. Hari itu tim independen-nya terdiri dari Agung, Isnaenul, Ina dan Tati. Kemudian masing2 melaporkan hasilnya. Semuanya ‘aman’, kecuali barisan Agung, ada beberapa yang pengerjaan PR-nya belum tuntas. Setelah berpikir sejenak,

“Ya udah Teteh maafkan, asal ada usaha untuk mengerjakannya.”

Selanjutnya kami membaca dan mengisi pertanyaan dari sebuah note sederhana. Berikut contohnya yang aku ambil dari buku English for A Betterl Life:

Dear, Vita…
I enjoyed reading your story. You managed to organize the plots very nicely; the flow of the story is very good. Your language choice is extraordinary, and this demonstrates your strong command of English. I found that many ideas are well expressed.
Keep up the good work, Vita.

Mr. K. Wilson

Mereka membaca dan menyembulkan banyak pertanyaan seputar ‘difficult words’-nya. Ada pertanyaan yang menyadarkanku untuk meluruskan sesuatu,

“Miss, ‘command’ sih apa? Perintah?”

Aku segera ‘meluruskan’, “ ‘Command’ bisa menjadi perintah atau penguasaan. Namun dalam hal ini adalah penguasaan.”

Setelah itu ada 5 pertanyaan yang mesti dijawab berdasarkan note tersebut. Namun sebelumnya, aku berseru,

“Pertanyaan nomor berapa yang ingin kamu hadiahkan buatku?”

Mereka bersorak dan menyerukan nomor secara acak,

“4, Miss!”

“Gak bakal nyesel nih ngasih pertanyaan nomor itu?” godaku.

Mereka bersorak sambil celingukan, sebagian besar menelisik teks dan pertanyaannya dengan muka serius namun menggemaskan,

“2, Miss!”

“3, Miss!”

Aku ambil suara terbanyak, yaitu 3. Kujawab saja pertanyaan itu dan mereka segera menyalin jawabanku di buku masing2. Selanjutnya, kataku,

“Silakan satu barisan bertanggung jawab atas satu nomor pertanyaan. Barisan Rezza CS nomor 1, barisan Neng CS no 2, barisan Anwar CS nomor 4 dan barisan Shofi CS no 5. 5 menit, selesai!”

Mereka segera berembuk, membuka-buka kamus dan memikirkan jawabannya. Namun belum juga 5 menit, ada yang nyeletuk,

“Udah, Miss!”

Sementara yang lain belum, aku menghormatinya. Setelah selesai, aku ‘memotong’ kegiatan KBM. Aku menceritakan tentang seseorang yang sekitar dua minggu kemarin ‘hot’ dibicarakan di dumay, yakni tentang plagiarism. Aku ceritakan bagaimana orang tersebut sangat dipuja-puja, dianggap kakak/ guru/ senior dan karya2-nya dielu-elukan orang. Tetapi, begitu diketahui bahwa ada karyanya yang merupakan hasil plagiat, orang2 balik menginjak, mencemooh bahkan tak mengakui karyanya (saking hilangnya rasa percaya).

plagrarism

“Dalam dunia pendidikan dan kesusastraan, plagiarism itu dianggap sebagai aksi criminal. Pelakunya dianggap jahat karena telah ‘memperkosa’ hak milik dan kreasi orang lain,” tuturku, sementara mereka sangat mempampangkan perhatiannya. Kelas jadi senyap.

“Syah2 aja kamu pake Mbah Google, Tante Wiki, Om Yahoo, alfa link atau kamus manual ketika pelajaran saya. Entah untuk nyari makna kata atau materi pembelajaran. Yang gak boleh itu, meng-copas sesuatu, lalu mengakuinya sebagai ciptaan sendiri. Misalnya nih, dalam pembuata kalimaaat…” belum juga aku melanjutkan kata2, kelas riuh,

“Wah… Ada yang tersinggung, Miss!”

Aku senyum2. Bukan bermaksud menyinggung, namun lebih pada menanamkan prinsip bahwa plagiarism itu adalah hal negative.

“Boleh sih copas…” ucapku lagi ‘memborgol’ perhatian mereka yang langsung diam, menunggu lanjutanku,

“Asal sebutkan sumbernya. Karya siapa, blog apa, buku apa, dst.”
Well, tak mau makin melenceng, aku dan mereka pun membahas soal bersama. Jawaban mereka semuanya, sebenarnya benar, hanya saja struktur maupun grammar-nya saja yang perlu aku koreksi.

Selanjutnya, kami membaca sekaligus menerjemahkan teks berjudul “Puss in Boots”.

Aku sangat paham, melihat teks-nya yang panjang, mood sudah kendor duluan. Akupun menerapkan strategi. Setiap orang wajib membaca teks tersebut secara estafet. Jika Kosasih kebagian kalimat 1, maka kewajibannya hanya menerjemahkan kalimat 1, lanjut ke Ghozwan. Lizza, Imel, Evy, Lela, dst sampai selesai. Barulah mereka berembuk untuk menyatukan arti dan isi teks.

‘Acara’ menerjemahkan yang menurutku cukup meringankan tugas mereka, nyatanya berlangsung cukup lama. Aku menduga mereka tidak sungguh2, namun begitu aku keliling untuk menyerap keluhan mereka, ternyata permasalahannya adalah seputar cara ‘translating’ mereka yang ‘word by word’. Aku perhatikan juga salah satu murid cemerlangku, Fiona, selalu dikerubungi teman-temannya. Dia memang potensial. Terlihat dari aktivitasnya yang merangkak naik, penguasaan vocab-nya yang banyak serta pronunciation-nya yang lumayan bagus. Kelas X5 ini cukup mengandalkannya, ternyata.

Mereka kebanyakan terjebak dengan kata yang memiliki arti lebih dari satu, tak bisa memutuskan arti yang sesuai konteksnya, bingung dengan verb yang memang berubah wujud, idiom, dsb. Jadilah aku me-mediasi mereka untuk itu. Contoh kecilnya, kata: ‘bow’ yang mereka artikan sebagai ‘busur panah’, padahal dalam konteks cerita bermakna ‘menunduk’. Lalu, ‘A great deal of land’, mereka artikan ‘sebuah persetujuan pulau hebat/bagus’. Padahal maknanya lebih ke ‘banyak tanah/ladang’, dst.

Di bawah teks ada soal A dan B. Soal A terdiri dari 3 soal dan B 10 soal. Melihat waktu yang tidak memungkinkan, aku pun menjadikannya sebagai ‘home work’. Mulanya ada yang komentar,

“1o soal aja ya, Miss?”

“Tanggung, 13 aja!” pungkasku, segera menutup pertemuan. [#RD]

Jika perlu, download RPP Pertemuan ke-tujuh, ya:

RPP7_R2_Puss in Boots

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *