Cerita PPL; The Seventh Meeting in X.6

Cerita PPL; The Seventh Meeting in X.6

PPL Guru 6

Istirahat. Aku sudah membayangkan, ba’da istirahat aku mesti menunggu 2 jam pelajaran lagi. Ya, jam 5-6, aku jadi ‘pengangguran’. Jadilah di kantor, aku memangkas waktu dengan mengobrol bersama rekan2 PPL. Tak lama, Bu Hj.Iin menepuk pundakku,

“Nanti jam 5-6 masuk ke kelas X1, yah?”

Kelas tersebut dipegang oleh rekan PPL-ku yang lain. Aku yang menduga dia tak datang, tentu tak bisa menolak permintaan guru pamongku itu. Beruntung, dia datang. Aku tak jadi mengelupaskan tenaga. Maka, demi mengisi dua jam pelajaran, aku berdiam di kopsis dengan rekan PPL prodi yang sama, yaitu Pak Uus. Kami bergabung dengan Pak Komar (petugas Kopsis), mengobrolkan hal seputar kuliah, tugas akhir dan masa2 SMA dulu. Beliau ternyata masih ingat bahwa aku adalah mantan siswa di SMA ‘hijau’ tersebut.

Tak lama, datang rekan PPL-ku yang lain yang perempuan. Mereka bergabung. Salah satu diantaranya berbisik padaku sambil cekikikan,

“Hey, ayo menggosip lagi! Hihihi…”

“Hahaha…” aku tertawa sambil menenggak air mineral, hampir tersedak.

Berkumpul dengan rekan2, khususnya kaum hawa, memang tak kekeringan topic. Adaaa saja yang kami obrolkan. Sambung-menyambung seolah tak putus2. Sampai akhirnya,

“Ke mushola, yuk?” ajak salahsatu dari mereka.

Kami pun beranjak menuju mushola. Kebetulan tempat ibadah itu belum disesakki jamaahnya. Kami pun leluasa untuk wudhu, memilih mukena dan merapikan diri. Selang beberapa menit, adzan berkumandang. Anak2, sang laskar pelajar, mulai menyesakki mushola. Di dalam hatiku, aku merasa terharu dan bangga. Betapa nilai religius memang harus tertancap dalam hati mereka. Alhamdulillah, damai sekali berada diantara jamaah yang masih sangat muda.

Usai sholat, aku sejenak bergabung lagi dengan rekan2 PPL. Sesekali kurapikan juga kerudung yang dirasa tak nyaman. Barulah ketika jam masuk, aku menuju kelas X6. Tak lupa, kutawarkan diri pada rekan2 PPL dari prodi yang sama,

“Mau ikut ke kelas, gak?”

Uus berminat, sementara yang lain ada jadwal mengajar. Diapun membuntutiku menuju GENSIXTEN. Dengan ‘menyeberangi’ lapangan basket serta belok kiri, kami tiba di kelas yang cukup gaduh akibat renovasi kelas sebelahnya. Kebiasaan mereka yang mengakar, muncul. Ya, menyapaku terlebih dahulu,

“Hi, Miss.”

“How are you, Miss?”

Aku mengangguk-angguk, menyelipkan kata ‘fine’ di dalamnya. Setelah kukuasai kelas, aku pun mengucap salam, menyapa kelas. Kelas lumayan bergemuruh lagi, khas mereka. Aku jadi sempat celingukan mau ngapain. Dan, hu’uh!

“Ada PR, yah?”

Mereka saling lirik, “Hah? Gak ada, Miss!”

Aku geleng2. Dalam hati, “Gak mungkin! Se-pelupa-nya aku, aku masih ingat kalau PR telah disosialisasikan di kelas.”

Kuedarkan mata, melihat mereka. Ada yang senyum2. Sepertinya kelompok yang senyum2 itu sudah mengerjakan PR. Dan yang lain malah sibuk gak jelas. Ekspektasiku pada kelas ini hancur sudah. Aku pun bertanya, “Kenapa dengan kelas ini?”
Alasan
“Lagi galau, Miss.”

“Banyak ulangan, Miss. Ada Matematika, Indonesia, …”

“Aku mah gak tahu ada PR, Miss,” ada yang bilang dengan nada lugu.

“Alasan klasik aja, Miss. M a l a s,” ada yang menjawab jujur. ‘Malas?’ Alamak!

“Gak ngerti, Miss,” alasan yang satu ini ‘mengurungkan’ amarahku.

Aku berkata jujur, “Padahal saya suudzon-nya sama kelas X5. Saya kira mereka yang gak bakal ngerjain PR, ternyata kelas ini. Ya ampuuun!”

Mereka saling lirik dengan wajah merasa salah. Emang bersalah! -__-‘

Aku menerapkan pembentukan tim independent seperti di kelas X5. Anggota-anggotanya adalah Rifka, Rita, Dessy dan Alexius Cikal. Anggota terakhir, yang nyeletuk jujur itu, ternyata baru mengerjakan beberapa soal. O, masih mending, gumamku.

Selain sebagai strategi memeriksa PR, pembentukan tim independent menjadi media untuk mengasah kepercayaan , tanggung jawab dan kejujuran. Masing2 anggota melaporkan temuannya. Ternyata yang mereka katakan ‘belum mengerjakan PR’ adalah ‘belum sepenuhnya mengisi PR’. Menurut anggota tim independent, mayoritas dari anggota kelas baru mengisi beberapa dari jumlah PR. Aku memutuskan,

“Yang ngerjain 3, 4 apalagi 5 soal mah masih dimaafkan. Mau benar atau salah. Yang baru 1 atau 2, poinnya saya pangkas,” Aku memutuskan, sambil menyebutkan nama2 yang pengerjaan PR-nya baru 1-2 soal atau bahkan yang belum sama sekali.

“Haaah???” respon mereka, sedikit kecewa. Ah, tak apa!

Mengherankan, memang. Ada apa dengan kelas X6? Aku menaruh kepercayaan pada mereka, namun hari ini mereka mengecewakan kepercayaan itu. Dalam hati, aku mesti menelusurinya lewat KM-nya, Dicky. Terlebih jawaban mereka ‘kurang benar’ semua (kontras dengan kelas X5). Aku jadi bertanya-tanya, ‘Mereka udah paham belum, sih?”
dissapointed1
Di tengah2 KBM, Uus mohon undur diri. Dia memang sedang tak enak badan, sebenarnya. Lagipula, pasti bikin bête. Heuheu

Aku melanjutkan pada pembacaan dan pemahaman note. Kuterapkan juga pengisian 5 soalnya, seperti di kelas X5. Tak lupa, aku pun ‘menyisipkan’ pesan tentang ‘negative-nya plagiarism’. Kelas X6 yang jarang senyap ini, berputar drastis. Mereka begitu khidmat mendengar ceritaku tentang plagiarism yang sempat ‘memanas’ di dumay. Sampai akhirnya aku tersadar akan materi,

“Yuk, lanjut ke materi!”

“Yaaah….” Mereka riuh-rendah.

“Gak asik, Miss. Lagi seru-serunya malah dipotong materi. Huuh…”

Aku mengabaikan mereka. Bagaimanapun, d u r a s i! 😀
Selanjutnya, membaca dan memahami teks berjudul “Puss in Boots”. Aku menerapkan strategi yang sama dengan kelas X5. Bedanya, cara mereka ‘men-translate’ cukup cepat. Aku pun sempat membahas hasil terjemahan mereka. Dan tentu saja, aku sendiri yang me-retell cerita tersebut, sekitar 10 menit sebelum bel pulang.

Ya, aku menceritakan kisah ‘Puss in Boots’ dengan bahasaku sendiri. Lagi2, mereka mendengarkanyya dengan khidmat. Begitu sampai ke klimaks, bel pulang memanggil.

“Yaaah…” mereka berseru.

Aku berkesempatan menarik napas, saking capek dan jenuhnya, “Time is over, yah?”

“Tanggung, Miss!”

“Lanjutkan, Miss!”

Yaelah… Aku pun melanjutkannya. Memang sih, agak ‘gregetan’ juga kalau sebuah cerita itu terpotong. Alhasil, aku menuntaskan rasa penasaran mereka. Khusus di bagian akhir, mereka seolah hapal ending-nya,

“Finally, they lived happily ever after! Yeee…” koor mereka sumringah.

“Phew!” aku mengembuskan napas berat.

“Ihk seru yah ceritanya…” komen satu diantara mereka.

Kataku dalam hati saja, “Seru, sih. Tapi aku yang haus. Hehehe…”

Hari itu berlangsung melelahkan (seperti biasa), sekaligus cukup memberiku banyak renungan. Makin ke sini, aku makin meyakinkan diri, “Masih banyak yang belum aku tahu dan pahami.” [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *