Cerita PPL; The Sixteenth Meeting in X.5

Cerita PPL; The Sixteenth Meeting in X.5

waktu berlalu 1

Kamis, 14 Maret 2013

A story will be a history…

Sebelum Kamis ini, aku bertemu dengan guru pamongku, Bu Hj. Iin. Beliau menanyakan bagaimana hasil UTS anak-anak kelas X.5 dan X.6.

“Yang remedialnya lebih banyak dari ulangan harian kemarin euy, Bu!”

“Oh ya udah gak apa-apa, berarti kamu ngawasnya udah benar.”

“Hum… mungkin karena UTS, ya? Jadi terbagi-bagi dengan mata pelajaran lain.”

“Iya juga… Eh, nanti Kamis masuk, kan?”

“Gak libur, Bu? Hehehe…”

“Eee… Libur kata siapa, kamu mah?!”

“Hehehe…”

“Nah nanti Kamis langsung remedial aja, Dian?!”

“O, langsung aja?” tanyaku lagi, ragu-ragu.

Sebenarnya aku agak kasian jika harus langsung memberikan remedial. Bagaimana tidak, mereka baru saja UTS, malah langsung aku berikan soal remedial. Err… Namun mau bagaimana lagi, hal itu adalah ‘perintah’ Bu Hj. Iin. Lagipula, pertemuanku dengan X.5 dan X.6 akan terganggu oleh Ujian Sekolah kelas XII. Aku pun memutuskan akan melaksanakan remedial.

Namun sebelum Kamis pula, anak-anak X.5 meminta sesuatu padaku,
“Nanti Kamis mah foto-foto aja yah, Miss?!”

Memang aku pun merencanakan dokumentasi tersebut. Hanya masalah waktu saja, aku belum menemukan waktu yang tepat. Dan, sepertinya Kamis ini adalah waktu yang semestinya bisa dipakai untuk ‘menjepret’ kenangan KBM di sana (kapan lagi?). Aku memutuskan lagi untuk melakukan remedial, sekaligus berfoto (lagipula tak butuh waktu amat lama untuk berfoto mah). Heu…

Well, tiba hari Kamis…
Aku datang sebelum jam 08.30. Sambil menunggu jam menuding waktu yang tepat, aku memeriksa nilai anak-anak lagi. Hanya 6 orang anak AKSEL dan 10 orang anak Gensixten yang tidak terkena remedial. Dalam hati, aku paling tidak suka memberi kabar kurang baik mengenai nilai dan remedial. Fiyuh! Apalah daya dan upaya, semuanya mesti mereka tahu dengan segera.

Begitu sampai pada jam setengah Sembilan, aku bergegas menuju ke kelas AKSEL. Dalam perjalanan, teman-teman PPL-ku banyak yang sms. Mereka menanyakan kebenaran berkumpul atau tidak hari ini, di mana kumpulnya, waktunya kapan, dst. Kebetulan kemarin aku mengirim sms ke banyak untuk memberitahu bahwa Kamis ini kumpul semua. Hal itu aku lakukan setelah berdiskusi dengan Meli dan Uus (tanpa melibatkan ketua). Ya, rapat praktikan PPL aku rasa sangat perlu. Banyak hal penting yang patut kami diskusikan.

Ada juga Aldy dan Samiaji yang dari kemarin-kemarin meminta wawancara Bahasa Inggris denganku. Aneh juga, aku bukan pembimbing mereka dari praktikan PPL malah diminta jadi narasumber. Hadeuh… Dengan tergopoh-gopoh mereka menyalami dan menyapaku,

“Miss… Maaf, Miss?!”

“Maaf buat apa?”

“Wawancara teh gak jadi euy!?”

“Oh ya gak apa-apa, orang tetehnya juga mau masuk kelas. Emang kenapa kok gak jadi?”

“Kata Mrs. Dina-nya keenakan kalau narasumbernya Miss mah…”

“O, hahaha…”

“Iya. Akhirnya Mrs. Dina minta siswa aja deh yang jadi narasumbernya.”

“O iya atuh sip. Sukses, ya…” kataku akhirnya, sambil melanjutkan langkah kaki ke kelas AKSEL.

“Hehe… Iya thank you, Miss!”

“You’re welcome.”

Begitu sampai di depan kelas AKSEL, aku cukup kaget. Ternyata, sebagian dari mereka tengah duduk-duduk di luar. Kecurigaanku benar. Mereka masih melaksanakan UTS Fisika (terbagi menjadi gelombang 1 dan 2). Padahal jam telah melebihi angka setengah sembilan, namun mereka masih belum selesai ujian. Duh, apa soal-soalnya susah? Lalu, sekarang aku mesti memberi remedial? Ckck, malangnya nasib mereka… -_-‘

Alhasil, aku hanya ikut duduk-duduk berbaur dengan mereka. Sesekali anak-anak kelas lain menyalamiku. Khususnya lagi anak kelas X.4. Aku memang pernah mengawas di kelas yang dibimbing oleh Wulan itu. Sementara anak-anak kelas X.5 hanya mengobrol biasa,

“Aku diremedial gak, Miss?” tanya beberapa diantara mereka.

“Sekarang foto-foto aja yah, Miss?!” pinta Yasmin.

“Kalo sambil remedial juga, gak apa-apa?” tanyaku, berat sebenarnya.

“Hum… bisa, asal poto-poto juga.”

“Harlem shake-an aja yuk, Miss?!” tambah Linda.

“Cocok tuh buat yang kena remedial. Hehe” timpalku, membuat mereka sedikit tertawa. (Hadeuh… dari dulu harlem shake melulu kelas ini! -_-‘)

“Kita udah bikin loh, Miss?!”

“Mana, lihat?”

Mereka memberikan ponsel dan mem-play video harlem shake-nya,
“Akunya jelek, Miss!” Yasmin berseru.

Aku kemudian menontonnya sebentar. Lucu juga partisipan harlem shake-nya hanya beberapa anak saja. Terus, yang menari pertamanya tidak memakai penutup muka apapun. Terlebih lagi, teman-teman yang lain membelakangi kamera. Hehehe… Ada-ada saja nih bocah! 😀

Selang beberapa menit,
“Miss… UTS Fisika-nya udah, Miss!”

Kami semua masuk kelas. Dengan menghirup napas berat, aku mencoba membaca wajah-wajah mereka. Mungkinkah mereka tengah ‘stress’ dengan soal-soal UTS? Apakah mereka bête akan kedatanganku? Atau mungkinkah mereka belum siap melaksanakan remedial? Ah…

Setelah kucoba untuk ‘masuk’ ke dalam diri mereka, akupun menyalami dan menyapa mereka. Jawaban yang kutunggu adalah setelah pertanyaan ‘howdy?’

Mayoritas dari mereka menjawab ‘fine’. Syukurlah… AKu pun mendekat dan memposisikan diri di tengah-tengah kelas. Entah bagaimana awalnya aku untuk bilang ‘sekarang remedial’. Duh, gak tega! Akhirnya aku merangsang semangat mereka dahulu,

“Kalau ada pertanyaan begini…” tanyaku menggantung, mencoba menangkap perhatian mereka dulu.

“Gimana yah caranya supaya seluruh dunia itu wangi minyak wangi kesukaan kita?”

“Menyemprotkannya ke seluruh dunia, Miss!”

“Lumuri aja globe, Miss!”

“Lautnya jadikan minyak wangi aja, Miss!”

“Gimana kalau… kita oleskan saja minyak wangi tersebut di depan hidung kita?”

Ggrrr…

Rupanya mereka sadar telah aku ‘jebak’ dengan pertanyaan tersebut. AKu pun menjelaskan dengan seadanya,

“Jadi, kadang banyak masalah yang bisa dipecah dengan solusi sederhana. Think simple and act bigger, gitulah… Begitupun ketika kamu mendapat nilai UTS yang kecil. Gak perlu berpikir dramatis. Gak perlu men-sugesti diri… Ah saya terpuruk, terjatuh, tersungkur, atau apalah…

Terjatuh sendiri ada beberapa macam; ada yang terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, ada yang terjatuh dan lebih bangkit lagi serta ada yang terjatuh dan tertimpa tangga pula. Hehe… Berpikir sederhana. Cari tahu titik kelemahan dan perbaikilah kelemahan tersebut. Hum… boleh bercerita sebentar?”

“Lama juga boleh, Miss!” Mereka bersorak.

Pada suatu hari, di sebuah SMA terdapat seorang cowok dan cewek kelas XII yang telah berteman dari kelas X. Mereka selalu terlibat kerja sama ketika ‘try out’. Si cewek di ruangan X, si cowok ruangan Y. Nah pada suatu waktu, si cowo sms minta jawaban. Tak lama cewek tersebut membalas. Si cowok yang biasanya segera membalas dengan jawaban lagi, malah seperti mengajak ngobrol. Menanyakan siapa pengawasnya, bagaimana cara ngawasnya, dsb. Sampai selesailah TO tersebut. Lalu ketika si cewek keluar dari kelas, alangkah kagetnya dia…

Teman-teman dari ruangan Y menyorakki dan mengatakan bahwa dari tadi dia itu sms-an sama pengawasnya si cowok. Yang lebih mengagetkan, pengawas tersebut nyatanya adalah wali kelas si cewek. Akhirnyaa mereka pun dipanggil ke kantor dan HP-nya dirazia selama seminggu. Untuk beberapa waktu, hal itu jadi buah bibir anak-anak. Rasa malu yang lumayan lama cukup menjadi hukuman sosial tersendiri.

Dan dari kejadian itu, khusus si cewek berpikir bahwa dia memang salah dan tak ada hal yang patut dilakukan selain memperbaiki diri. Dia ditemani sahabat-sahabat sejatinya pun membuat jadwal belajar dan mengisi kumpulan dengan membahas soal-soal UN. Dan sekarang… cewek tersebut berdiri di hadapan kalian…”

Anak-anak AKSEL melongo beberapa saat, lalu…

Ggrrr…

Mereka ada yang tertawa dan ada juga yang mengekspresikan kesadarannya dengan ‘oh… ternyata!’

“Jadi… sebawah dan sejatuh apapun kalian, selalu ada kesempatan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Dan, hasil UTS kalian… Hanya 6 orang yang tak kena remedial!”

“Hah?”

“Nilai PG terbesar dengan 13 point diraih oleh Jenita Nur Pratiwi. Essay terbesar dengan point sempurna 20, diraih oleh Fiona Artha Adikusuma. Lalu… nilai UTS terbesar sejumlah 88 diraih oleh Jenita Nur Pratiwi. Congratulation!”

Prok… Prok… Prok…

“So, yang tidak diremedial adalah Jenita, Fiona, Neng Fitria, Anisa, Nina dan Evy. Congratulation!”

Karena telah kurasa siap, aku pun memberi soal remedial untuk mereka. Essay semua. Selanjutnya, aku berkeliling untuk memberi semacam bimbingan. Senang rasanya jika disapa atau ditanya-tanya oleh mereka, terlebih lagi oleh ‘kaum adam’. Mungkin mereka tak lagi canggung, sehingga aku merasa menjadi bagian dari mereka. Kalau ‘kaum neng’ sudah dari dulu terbuka dan nyaris tak ada masalah.

Kadang aku merasa bosan dengan hasil jawaban mereka semacam membuat dialog, note, kalimat atau announcement yang itu-itu lagi. Kadang bosan juga dengan kata-kata khas ‘google translate’. Entah mereka kehabisan ide lain, cari jalan pintas, bingung atau bagaimana. Ada juga yang membuat sesuatu yang baru. Dan yang unik serta menggelikan, Elsha, Afni, Yanti dan Tati memakai nama-nama seperti ‘Ekom’, ‘Sueb’, ‘Christin Sumi Maemunah’, ‘Sunirah’, ‘Ahmad Darun’, ‘Ijem’, ‘Juminten’, Minul, dst. Hahaha membuatku hampir tergelak.:D

Adapun Yasmin,
“Mau kapan dipotonya, Miss?!”

“Miss mah… sama X.6 aja poto-potonya banyak?!” Ina memprovokasi.

“Iya, maaf… maaf…” kataku, yang memang tak punya alternative jawaban lain. *damai!

Aku rasa memang mesti hari ini. Aku pun mengundang Teh Itha untuk berpoto. Ketika masih proses remedial, beliau datang. Dengan memanfaatkan waktu yang ada, kami pun melakukan foto-foto. Kubiarkan ‘kaum neng’ dan Teh Itha yang mengatur posisinya. Kadang lambungku ‘rewel’ jika berdiri terlalu lama, maka sesekali aku pun duduk-duduk saja.

Mulanya ‘kaum adam’ sempat malu-malu dan nyaris sulit diatur. Entah karena memang malu atau mungkin ‘anti kamera’, aku tak tahu. Hanya beberapa kali saja aku membujuk mereka, selebihnya menyerah. Menyebalkan memang, namun ah maklum saja masih kelas X. Beruntung ada Teh Itha yang me-menej segalanya. Aku memang enggan untuk mengatur-atur mereka. Toh, mereka sudah SMA, bukan lagi mau berpoto ala anak TK. Heu

Sesi berpoto pun selesai. Proses mengaturnya saja yang lama, hasilnya hanya beberapa. Sedangkan jumlah poto bersama kelas X.6 lebih banyak. Namun bagaimana lagi, toh itu karena mereka sendiri. Heu… Lagipula, rekan-rekan PPL-ku telah ramai meng-sms untuk segera rapat di ruang OSIS. Aku yang mengundang mereka, malah aku yang masih belum datang. Jadinya agak gak enak hati.

“Oke. Cukup, yah? Hasil remedial yang belum dikumpulkan, boleh nanti menyusul,” tutupku.

Aku dan Teh Itha segera menuju ruang OSIS. Di sana, telah ada beberapa rekan PPL lain beserta Pak Jaja. Kami merumuskan banyak hal jelang perayaan ulang tahun Smansaka sekaligus perpisahan PPL. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *