Cerita PPL; The Sixteenth Meeting in X. 6

Cerita PPL; The Sixteenth Meeting in X. 6

waktu berlalu 2

Kamis, 14 Maret 2013

Jam 7-8 itu adalah waktu tepat untuk menguji pelajar sekaligus pengajar…

Usai menunaikan sholat dzuhur, aku menuju kelas Gensixten (X.6). Di sana, anak-anak langsung menyambutku dengan seruan khas. Selalu berhasil menyunggingkan senyumku,

“How are you, Miss?”

“Are you fine, Miss?”

“Barcelona menang agregat lawan Milan, Miss!”

“Persib VS PBR, Miss!”

Setelah agak tenang, aku menyalami dan menyapa mereka. Sama seperti di AKSEL, aku pun ‘mengincar’ jawaban dari pertanyaan ‘how are you’-ku. Aku juga mencoba menelusuri wajah mereka. Siapa tahu mereka tengah sangat bad mood menerima kedatanganku, dan apalagi remedial?! Duh…

Aku berjalan di tengah-tengah mereka,
“Di belakang ada lukisan kita, Miss! Menurut Miss bagus yang mana?” kata Dicky.

Aku lihat ada 3 (atau 4, ya?) lukisan di belakang. Semuanya bagus. Namun memang aku lebih tertarik dengan warna dan konsep lukisan pohon dengan latar belakang matahari senja di belakangnya. Tanpa mengatakannya dengan jujur, aku bertanya,

“Lukisan siapa ini?”

“Kelompok kita, Miss! Yeee! Karya kita terbagus! Yeee!” seru Dicky, Septiandi, dkk.

“Semuanya bagus, kok.”

Akhirnya aku memutuskan untuk memberi rangsangan yang sama seperti di kelas AKSEL,
“Kalau ada pertanyaan begini…” tanyaku menggantung, mencoba menangkap perhatian mereka dulu.

“Gimana yah caranya supaya seluruh dunia itu wangi minyak wangi kesukaan kita?”

“Disiram ke seluruh dunia, Miss!”

“Dari kapal udara tuh Miss, tumpahkan saja minyak wanginya, Miss!”

“Gimana kalau… kita oleskan saja minyak wangi tersebut di depan hidung kita?” jawabku sendiri, akhirnya.

“Nanti kumisnya rontok dong, Miss?!”

Ggrrr…

Rupanya mereka sadar telah aku ‘jebak’ dengan pertanyaan tersebut. AKu pun menjelaskan dengan seadanya,

“Jadi, kadang banyak masalah yang bisa dipecah dengan solusi sederhana. Think simple and act bigger, gitulah… Begitupun ketika kamu mendapat nilai UTS yang kecil. Gak perlu berpikir dramatis. Gak perlu men-sugesti diri… Ah saya terpuruk, terjatuh, tersungkur, atau apalah…

Terjatuh sendiri ada beberapa macam; ada yang terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, ada yang terjatuh dan lebih bangkit lagi serta ada yang terjatuh dan tertimpa tangga pula. Hehe… Berpikir sederhana. Cari tahu titik kelemahan dan perbaikilah kelemahan tersebut. Hum… boleh bercerita sebentar?”

“Lama juga boleh, Miss!” Mereka bersorak.

“Sekarang mah bercerita aja, Miss!”

“Tapi aku mau remedial juga, Miss!”

Mereka tenang dengan sendirinya. Geli juga, kelas se-kocak itu bisa hening dalam waktu singkat. Meski begitu, aku dibuat kecewa juga oleh 2 murid laki-lakiku yang (baru kusadari) tidak ikut pelajaranku. Ini adalah kejadian pertama (dan semoga yang terakhir kalinya). Baik AKSEL maupun Gensixten belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Terpaksa, mereka berdua aku alpa-kan.

Dalam hati, aku memang ingin meluapkan emosi. Di sisi lain, kupikir, tidak adil juga kalau aku marah-marah di kelas sementara targetnya tengah tak ada. Maka diam-diam aku berusaha mendinginkan amarah itu. Beberapa tips untuk meredakan emosi di kelas adalah:

• Ingat-ingat lagi kelebihan kelas!
Siswi/i yang ngeyel mungkin hanya 3-4 orang, mayoritas masih nurut dan taat. Jadi sebelum marah, pikirkan sifat mayoritas anak. Pikirkan juga karakter positif yang dimiliki kelas. Entah itu aktif, takdzim, hangat, ramah, pengertian, dsb. Terlebih lagi, memang ketika menerangkan atau bercerita di kelas ini, aku seperti… didengarkan.
DSC06131
• Sayangi energimu!
Ketika emosi, kadang kita seperti memiliki energy tambahan. Entah itu bisa mengucapkan kata-kata yang bahkan belum kita katakan (misalnya berkata kasar), bisa melakukan perbuatan yang bahkan belum kita perbuat (misalnya menampar, menendang pintu, menggebrak meja, dsb) atau mungkin menangis. Daripada energy yang tengah memuncak itu terkuras menjadi hal negative atau kurang bermanfaat, lebih baik arahkan ke tujuan yang lebih positif dan bermakna. Misalnya berdiskusi, berkeliling, membahas soal, dsb.

• Ingat-ingat bahwa mereka masih anak-anak atau remaja!
Usia-usia pelajar memang masih labil. Se-baik, se-sholeh atau se-sholehah apapun mereka, kadang bisa nekad hanya karena masalah sepele. Misalnya kita mungkin pernah mendapati kasus, ada seorang anak yang pintar dan selalu memerhatikan guru namun mendadak diam dan muram. Selidik punya selidik, ternyata penyebabnya adalah sang pacar yang belum membalas sms, komentar fb atau inbox. Jadi memahami emosi mereka bisa jadi salah satu alternatifnya.

• Introspeksi diri!
Sebelum kasus siswaku yang membolos ini, seorang teman praktikan ekonomi pernah mengeluh di depanku dan Pak Didi.

“Gimana, yah? Murid saya mah suka tidur kalo saya lagi menerangkan di kelas tuh!?”

“Ingat-ingat lagi, waktu kamu sekolah, pernah kayak gitu, gak?” kata Pak Didi.

Rekanku itu diam beberapa jenak, lalu cekikikan. Hadeuh… -_-‘

Sementara teman SMA-ku yang kebetulan bertemu pernah mengobrolkan PPL denganku,
“Kadang aku keceplosan menceritakan pengalaman SMA, euy!”

“Masa? Ya yang negatifnya mah jangan atuh…”

“Maksudnya biar mereka bisa mengambil hikmah dari ceritaku, terus gak meniru yang negative itu…”

“Hati-hati, k a r m a!”

Kata-kata itu betul-betul mendnegung. Dan… kali ini, kedua siswa yang tak ikut pelajaranku itu mengingatkan ‘kenakalanku’, eh tidak, kenakalan ‘kami’ (aku dan kawan-kawan waktu SMA. Hehehe). Ini masih mending hanya 2 orang, sedang aku cs itu pernah satu barisan membolos pelajaran tertentu. Jadinya aku berkata dalam hati “O, beginilah rasa kecewa yang mesti aku telan. Menyakitkan, memang.” :’(

Selanjutnya, aku bercerita:

“Pada suatu hari, di sebuah SMA terdapat seorang cowok dan cewek kelas XII yang telah berteman dari kelas X. Mereka selalu terlibat kerja sama ketika ‘try out’. Si cewek di ruangan X, si cowok ruangan Y. Nah pada suatu waktu, si cowo sms minta jawaban. Tak lama cewek tersebut membalas. Si cowok yang biasanya segera membalas dengan jawaban lagi, malah seperti mengajak ngobrol. Menanyakan siapa pengawasnya, bagaimana cara ngawasnya, dsb. Sampai selesailah TO tersebut. Lalu ketika si cewek keluar dari kelas, alangkah kagetnya dia…

Teman-teman dari ruangan Y menyorakki dan mengatakan bahwa dari tadi dia itu sms-an sama pengawasnya si cowok. Yang lebih mengagetkan, pengawas tersebut nyatanya adalah wali kelas si cewek. Akhirnyaa mereka pun dipanggil ke kantor dan HP-nya dirazia selama seminggu. Untuk beberapa waktu, hal itu jadi buah bibir anak-anak. Rasa malu yang lumayan lama cukup menjadi hukuman sosial tersendiri. Dan dari kejadian itu, khusus si cewek berpikir bahwa dia memang salah dan tak ada hal yang patut dilakukan selain memperbaiki diri. Dia ditemani sahabat-sahabat sejatinya pun membuat jadwal belajar dan mengisi kumpulan dengan membahas soal-soal UN. Dan sekarang… “ kata-kataku terpotong oleh beberapa pertanyaan mereka.

“Cerita ini teh fakta, Miss?”

“Iya. Dan…” jawabku menggantung, “Sekarang cewek tersebut berdiri di hadapan kalian…”

Senyap beberapa detik. Lalu, kelas bergemuruh.

“Jadi??? Hahaha…”

“Wah, masa???”

“Hah? Hahaha…”

“Emang wali kelasnya siapa, Miss?”

“Pak Anu, bukan?”

“Bu Anu, bukan?”

Mereka memang lebih kepo. Aku tidak memberitahu secara gamblang mengenai info lebih rincinya. Hehehe…

“Jadi… sebawah dan sejatuh apapun kalian, selalu ada kesempatan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Dan, hasil UTS kalian… hanya 10 orang yang tidak kena remedial!”

“Waduh?”

“Nilai PG, essay sekaligus nilai UTS terbesarnya diraih dengan nilai sempurna, 100, oleh Nia Indrayani!”

Prok… prok… prok…

“Wah, hebat!”

“Yeee!!!”

“Yang tidak kena remedial adalah Nia, Dicky, Siska, Ully, Desi, Audina, Dhika, Rifka, Septiandi dan Sona! Congratulation!”

Selanjutnya aku memberi soal remedial kepada mereka. Dengan sigap, mereka mempersiapkan kertas dan segera mengerjakannya.

“Yang gak remed gimana, Miss?” Tanya Nia.

“Bikin 10 kalimat adjective clause!”

“Walaaah…”

Ketika berkeliling itu, langit berwarna abu gelap. Tak lama, hujan turun dan langit terbatuk-batuk dengan keras. Beberapa kali kelebatan kilat itu membuatku terkejut-kejut. Aku juga mendapati beberapa anak yang terlihat kurang semangat. Padahal biasanya mereka cukup antusias,

“Lagi gak enak badan, Miss,” kata beberapa diantara mereka.

“Get well soon, Dear,” gumamku dalam hati.

“Lagi ada masalah, Miss,” jawab yang satunya lagi, sambil menyandarkan kepalanya, hampir terisak.

Nampak sekali jiwanya memang tengah terguncang. Mungkin urusan keluarga. Beruntung dia tak kena remedial. Akhirnya kubiarkan dia sendiri dulu untuk menenangkan emosinya.

Selebihnya aku keliling lagi. Agak sulit melakukan mobilitas di laboratorium ini. Ada yang bisa dengan leluasa aku bimbing, ada juga yang posisi duduknya sulit aku jangkau. Jika boleh memilih, lebih baik mereka itu di kelas biasa saja daripada di laboratorium. Heu…

Meski demikian, mereka telah tak segan-segan memanggil-manggilku. Senang rasanya, kali ini tidak hanya anak-anak tertentu yang menyapaku. Mayoritas dari mereka tak lagi merasa sungkan. Meski yang tidak diremedial memanggil-manggil untuk konsultasi kalimatnya denganku, aku lebih memprioritaskan yang kena remedial. Hehe…

Perlahan namun pasti, mereka mulai mengumpulkan hasilnya. Kubiarkan mereka yang telah selesai untuk berkemas dan pulang. Namun karena hujan cukup lebat, beberapa diantaranya hanya ada di muka kelas. Beberapa lainnya mengobrol denganku. Lalu, datanglah salahsatu dari murid laki-lakiku yang tak ikut pelajaran. Dia hendak ikut remedial dan memintaku untuk menunggu. Namun, mau tak mau – tega tak tega, aku mesti tegas (itung-itung pelajaran untuknya),

“Jatahmu udah hangus.”

Akhirnya Teh Itha datang dan kami hanya duduk-duduk di beranda kelas, mengobrolkan banyak hal. Tetehku itu begitu sedih sebab esok harinya (Jumat), sekolah akan dibubarkan dan beliau tak bisa bertemu dengan X.6 untuk memberi ucapan perpisahan. Dalam hati aku bilang,

“Aku juga belum memberi ucapan perpisahan kepada X.5 maupun X.6. Heuheu…”

“Tadi Itha juga memberi ucapan perpisahan sama X.8. Ih, sedih banget!” kata beliau yang hanya aku dengarkan, sambil mengangguk-angguk.

Entah berapa anak yang telah lalu-lalang dan menyalami kami. Khusus anak-anak X5 maupun X6, mereka kadang berhenti dulu untuk sekedar mengobrol dan bercanda dengan kami. Keceriaan mereka cukup berhasil mengalahkan efek hujan yang menghadang jalan pulang. Meski dalam hati aku bergumam,

“Sudahlah, hujan…”

Semuanya… Suka maupun duka tak ubahnya seperti hujan. Selebat apapun, toh akhirnya reda juga. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *