Cerita PPL; The Sixth Meeting

Cerita PPL; The Sixth Meeting

PPL Guru 5

Senin, 04 Februari 2013

Usai upacara dengan Amanat Kebebasan, aku dan rekan2 PPL berkumpul untuk ‘briefing’ terlebih dahulu. Seperti biasa, sang ketua PPL mengevaluasi kinerja kami. Syukurlah, selama ini tak ada masalah dalam KBM dari semua prodi. Sehingga, topic utamanya adalah seputar jadwal piket dan ekstrakurikuler.

Jelang pergantian jam ke 4-5, aku menemui guru pamong terlebih dahulu. Selain menyetor RPP, aku juga berdiskusi seputar materi yang akan disampaikan, yakni tentang ‘Introductory It’. Seperti biasa, Bu Hj. Iin selalu member banyak pengajaran padaku.

“Kalau udah bel, langsung masuk aja,” kata beliau sesaat sebelum bel.

Akupun bergabung dulu dengan rekan2 sesama prodi PBI. Kutawarkan pada mereka untuk ikut masuk ke kelas. Namun baik Tatang, Uus dan Teh Anih, semuanya enggan,

“Takut Guru Pamong-mu masuk…” timpal mereka.

Setelah agak lama, akhirnya aku ‘berhasil’ merayu T’Anih. Beliaupun mau menemaniku masuk kelas. Kebetulan hari Senin itu, pada jam 4-5 itu di kelas X6 dahulu. Kami berdua pun menyusuri jalan menuju kelas yang dekat dengan kantin serta WC siswa tersebut. Begitu aku masuk, kebiasaan kelas X6 adalah menyapaku terlebih dahulu,

“Good morning, Miss. How are you, today?”

“Good morning, class. I’m really fine because I can meet with you again,” kataku sedikit gombal, namun cukup sukses menciptakan senyum mereka.

Sebetulnya, sebelum masuk kelas pun aku agak was2. Bagaimana tidak, menurut RPP aku akan mengajar cukup banyak hari ini. Namun melihat efektivitas kelas, sepertinya tak akan sampai tepat waktu. Alhasil. wallaahu a’lam. Pokoknya jalani seadanya. Lebih baik sedikit, namun bisa mereka pahami ketimbang banyak dan bikin mual otak. Heu…

Seperti biasa, aku melakukan ‘small talk’ terlebih dahulu. Hal tersebut cukup efektif untuk ‘melonggarkan’ rasa sungkan mereka. Tak jarang, dari basa-basi tersebut ada letupan tawa. Itu sangat penting untuk me-refresh otak mereka dari pelajaran sebelumnya (kebetulan Matematika). Apalagi mereka merangsangku duluan,

“Miss, Persib kan maen?”

“Iya sama Persiram, sayangnya 2-2. Cuma 1 point. Oh ya, Barcelona juga 1-1 lawan Valencia. Lumayan.”

Hehehe…

Tak lupa, aku sedikit mengevaluasi hasil test monolog narrative mereka Kamis lalu,

“Dalam speaking, pertimbangkan fluency, meaning, pronunciation, intonation and expression. Kemarin kelihatan, ada yang latihan dan ada juga yang mendadak. Contoh kecilnya yaitu patah2 ketika membaca cerita. Jadi, baik kelas X5 dan X6, yang sesuai KKM (75) hanya 12 orang.”

“Haaah???” respon mereka.

Aku pun mengumumkan 12 besar di kelas X6. Kelas cukup bergemuruh. Yang terbesar yaitu atas nama Nia Indrayani. Ada alasan tertentu kenapa point tertinggi disematkan padanya. Selain tanpa teks, pengucapannya juga bagus. Sayang, point-nya beda 2 dengan yang terbesar di kelas X5. Dia kurang dalam ekspresi. Terlepas dari semua itu, dia cukup potensial. Belakangan kutahu, dialah juara parallel di kelas X. Hm, pantesan…

Sadar akan materi, aku pun segera menyuruh untuk membuka halaman buku tertentu. Di sana 2 kolom. Kolom A berisi 8 kata asing dengan kolom B sebagai pengertiannya. Perintah dalam buku adalah menjodohkan dan membikin kalimat dari masing2 kata.

Setelah mempertimbangkan waktu dan mood mereka, aku menugaskan satu barisan 2 kata saja untuk dikerjakan. Sebelumnya, masing2 barisan mesti melafalkan semua kata berulang-ulang sampai benar. Mereka patuh. Tiap barisan melafalkan ke-8 kata tersebut sampai benar. Selanjutnya yaitu membuat kalimat. Mereka tampak khusyuk menciptakan kalimat. Kutengok, beberapa diantara mereka memakai alfa link, kamus manual dan kamus elektronik. Aku memang telah men-syah-kan keberadaan kamus manual maupun elektronik. Kecuali satu; ‘meng-copy paste’ contoh2 kalimat dalam internet. Terlebih akhir-akhir ini, di dumay sedang ‘hot’ masalah plagiarism. Maka terselip misiku untuk memberantas kriminalitas literasi tersebut.
plagiarism
Bel istirahat tiba. Jam-ku terpotong. Aku yang (seperti biasa) kehausan, meminta istirahat,

“Mau dites narrative, Miss,” pinta Rifka dan Dewi yang Kamis kemarin kebetulan sakit.

Aku melayani mereka, sementara itu masih saja ada anak yang izin, “Boleh keluar, Miss?”

“Bolehlah, kan istirahat?”

Kuperhatikan yang lain juga mayoritasnya di kelas, “Hey, ayo istirahat, pada keluar…”

“Ih Miss ngusir!”

“Ngerjain dulu, Miss!”

“Kan menghargai, Miss!” kata teman2 yang tes susulan.

Setelah selesai menyimak Dewi dan Rifka, aku menuju T’Anih. Dia rupanya bête juga di belakang, tanpa pekerjaan. Akhirnya kami berdua ke koperasi siswa dan membeli camilan. Tak lupa, m i n u m. T’Anih pamit pulang dan tak akan ikut pada jam berikutnya. Dan tak terasa, bel yang mengakhiri waktu istirahat berbunyi.

Dengan bergegas, aku menuju kelas. Tiap barisan menunaikan tugasnya untuk menuliskan kalimat. Empat orang maju tiap barisan. Yang dua men-dikte, yang dua lagi menulis. Setelah semuanya rampung,

“Silakan, siapa yang mau komen?”

Komentar dari mereka pun cukup deras keluar. Seperti biasa, yang kusorot terlebih dahulu adalah pemakaian tanda baca dan huruf capital. Selanjutnya barulah pada struktur. Bukan apa2, ‘bad habit’ ketika menghilangkan tanda baca adalah suatu penyakit. Hal tersebut akan menjadi kebiasaan dalam menulis apapun, nantinya. Ketika KBM, aku selalu terngiang akan pesan Pak Sofyan, dosen pembimbingku,

“Sebagai guru bahasa, kita tak hanya mengajarkan aturan dan teori bahasa, melainkan cara berbahasa juga.”

Sesi membuat kalimat selesai, aku hendak melanjutkan materi. Tetapi demi membuat mereka bergairah, aku meminta mereka menyayikan yel-yel kelas. Belakangan kutahu, nama beken kelas tersebut adalah “Gensixten”. Jadilah mereka bersorak menyanyikan yel-yel yang kata mereka ‘banyak’, namun yang kudengar sebatas “lalala yeyeye”. Akhirnya aku lanjut pada materi ‘introductory it’ (Referensi: English for A Better Life)

‘It’ can refer to something. We call it personal pronoun. It also can refer to nothing. We usually use it to introduce the subject/object. We call it Introductory It. In this pattern, ‘it’ has no meaning. ‘It’ is use only to fill the subject position in the sentence.

a. Introductory ‘It’ as a subject
• It is interesting to swim in Darmaloka.
• It is fun to see Opera Van Java.

b. Introductory ‘It’ as an object
• We find it hard to explain the matter.
• He makes it clear that he agrees.

Selanjutnya yaitu latihan mengidentifikasi 10 kalimat; Apakah termasuk ‘it’ personal pronoun atau ‘introductory it’. Tampang mereka berubah serius. Kutawarkan pada mereka untuk mengisi, barulah ketika salah, aku mengoreksi. Hm, sebenarnya ada 2 latihan lagi, yakni mengubah kalimat menjadi ‘introductory it’ dan membuat kalimat dengan kata2 tertentu secara kelompok. Aku hanya menugaskan yang pertama. Hm, meski tidak memenuhi RPP secara utuh, namun ini masih mending. Alhamdulillaah….

Demi menunggu jam 7-8, aku mengobrol dengan rekan PPL dari ekonomi dan Biologi. Kebetulan mereka tengah piket. Aku yang ‘nganggur’ selama satu jam, memanfaatkan kebersamaan untuk memangkas waktu menunggu. Dalam obrolan yang mula2 seputar anak SMA, melenceng ke ‘pos’, lalu malah menggosip :p Tak pelak, obrolan kami pun menimbulkan derai tawa.

“Efek jam terakhir!” kataku.

“Hahaha lumayan, refreshing. Bete banget di kursi piket ini!” timpal mereka.

Bel belum berbunyi, namun waktu telah memasukki jam ke 7-8. Aku pun segera menuju kelas X5. Di kelas tersebut, ‘hawa’-nya cukup kalem. Kelas mereka yang biru segera menyerbu. Aku menyapa mereka, mereka pun balik menyapaku.

Sama seperti di kelas X6, aku terlebih dahulu mengumumkan hasil teks narrative. Di kelas X5-lah, nilai tertinggi sekaligus terendahnya berada. Ya, yang tertinggi atas nama Lina Yasmin. 88, beda dua point dengan Nia; 86. Aku menjelaskan juga tentang 5 kriteria penilaian untuk speaking. Mereka memperhatikan,

“Siapa tahu, someday, Mrs. Iin akan melakukan tes speaking dengan teks yang berbeda lagi,” tuturku.

Setelah mengevaluasi hasil minggu lalu, selanjutnya pada kolom 8 kata yang menyuruh menjodohkan dengan makna, sekaligus membuatkan kalimatnya. Aku menerapkan pola yang sama seperti kelas X6. Ketika berkeliling untuk meng-cek pembuatan kalimat, aku agak ‘kecewa’ mendapati siswa laki-lakinya browsing. Sempat aku ber-suudzon kalo mereka tengah mencari contoh kalimat di internet. Namun syak itu segera kutepis. Mereka sendiri bilang,

“Buka kamus, Miss.”

Aku lebih senang dengan beberapa murid perempuan yang membuat kalimat lugu atau natural. Mereka terkesan lebih peka, sebab mencari ide dari lingkungan sendiri tanpa harus memperpusing diri dengan istilah2 tinggi. Di sela-sela kegiatan keliling, petugas piket dai prodi ekonomi sms ada pihak kampus yang ingin tahu nama guru pamong. Aku mengirim balasan, namun tak terkirim. Aku lupa, masa tenggang. Beliau sms lagi sampai dua kali. Takut memang ;urgent’, akhirnya aku menyusul ke kantor. Tak lupa, kutinggal pesan;

“Nanti Teteh ke sini, siap2 barisan 1 menulis kalimat nomor 1 dan 2, terus deh seterusnya, ya….”

Aku bergegas ke kantor dan meminta maklum. Kujawab pula siapa guru pamongku dan kawan2 prodi PBI. Setelah urusan tersebut selesai, aku balik lagi ke kelas X5. Ternyata white board-nya masih kosong. Oh, mungkin belum siap. Aku mengacung-acungkan board marker,

“Ayo, tulis kalau udah selesai…”

Yang disuruh adalah sekelompok anak laki2. Mereka malah saling dorong, ‘wasting time’,

“Punya kamu aja!” seru mereka bergantian.

Lama aku menunggu, kesabaranku pun usai. Tanpa menunggu lagi, aku melempar spidol ke barisan 2, 3 dan 4. Mereka menuliskan kalimat-kalimatnya. Di sela2 menulis barisan lain, anak2 laki2 itu menwarkan diri,

“Iya Miss mau nulis.”

Aku mempersilakan, tapi baru satu. Ketika hendak menulis kalimat yang kedua, lagi2 mereka saling andalkan. Dalam hati, aku menenangkan diri,

“Kalem aja, mereka mungkin masih bermental anak kecil.”

Namun daripada membuang waktu, akupun melanjutkan mengoreksi kalimat. Kalimat pertama yang dibuat barisan anak laki2 tersebut terkesan ‘gak jelas’. Lagi2 aku curiga mereka hanya ‘copas’ saja. Hal tersebut mengingatkanku akan aksi plagiarism yang marak terjadi. Jujur, sangat kusayangkan! Bagaimana tidak, siapa guru bahasanya yang menugaskan membuat kalimat oleh satu barisan? Dengan waktu yang cukup lama pula?

Jadinya, aku hanya focus mengoreksi kinerja murid perempuan. Beruntung wajah dan binar mata mereka ‘menyelamatkan’ kekonyolan teman2 laki2 mereka. Aku jadi ada banyak alasan untuk mengurungkan emosi. Dalam hati, aku juga coba membela mereka,

“Mungkin membuat 2 kalimat oleh 1 barisan itu masih sangat susah bagi mereka.”

Hal itu cukup untuk menyirami hati. Aku kembali berusaha tersenyum di hadapan mereka. Hatiku memang remuk, namun melihat mereka terdiam dan menyadari ‘kekonyolan’ itu, puing2 hatiku menyatu. Ada mantera cukup dahsyat yang membuatku selalu ‘memaafkan’ apapun kekurangan mereka,

“Dalam pandangan mereka, mungkin aku adalah satu orang yang mentransferkan ilmu pengetahuan. Namun dari mataku, mereka adalah 30-40 orang mentransferkan banyak hal.“
siswonugroho_com-kekuatan-personal-branding-yang-mampu-membuat-anda-menjadi-orang-yang-luar-biasa-sebuah-pelajaran-berharga-dari-purdie-e-chandra-tung-desem-waringin-dan-donald-trump-300x235
Baru hari itu kututup pelajaran dengan sedikit perasaan sebal, sampai akhirnya sebelum aku keluar, beberapa diantara siswa/i berujar,

“Thank you, Miss.”

“Makasih banyak, Miss.”

Kata2 itu, entah kenapa, sangat menyentuh hati. Aku tak bisa apa2, selain merespon, “You’re welcome.”

Sambil menunggu seorang rekan PPL, aku sejenak mengobrol dengan anak kelas XI IPA 1, Vera. Konsentrasiku tak utuh ketika mengobrol dengannya. Setelah selesai, aku pulang. Turun hujan. Dengan nekad, aku merobos tirai2 air tersebut. Hari itu, perasaanku diaduk-aduk. [#RD]

RPP untuk pertemuan ke-enam:

RPP6_Note

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *