Cerita PPL; The Tenth Meeting ~Episode Ujian~

Cerita PPL; The Tenth Meeting ~Episode Ujian~

Ujian PPL

Senin, 18 Februari 2013

Semestinya sekarang menjadi hari yang menenangkan. Bagaimana tidak, aku tak perlu menyiapkan materi untuk disampaikan ke anak2 SMA kelas X, tepatnya X.5 (AKSEL) dan X.6 (GENSIXTEN) tercinta. Yang aku lakukan hanya membuat kisi-kisi soal dan mengklasifikasikan soal menjadi type A dan B. Yep! Sekarang adalah waktu untuk test. Telah dari Senin sebelumnya aku mewanti-wanti pada mereka, “U j i a n!”

Namun jujur saja, aku pun ikut deg-degan, serasa aku yang akan ujian. Heuheu…

Memang, hasil ujiannya mereka bisa menjadi salahsatu indikasi keberhasilan mengajarku. Maka wajar, aku ikut harap2 cemas. Dan, Senin itu aku masuk ke GENSIXTEN terlebih dahulu. Tepatnya pada jam ke 4-5, sekitar pukul 09.25 (telat 10 menit dari yang semestinya).

Sebelum masuk, aku dan rekan2 PPL melakukan ‘briefing’ di ruang OSIS. Kami membicarakan banyak hal (masalah internal praktikan PPL :D), termasuk ‘meluruskan’ misunderstanding yang ada. Aku yang juga ikut bicara jadinya sedikit ‘mengorupsi’ waktu mengajar, eh, test.

Di kelasnya GENSIXTEN yang ‘mengungsi’ dulu ke laboratorium bahasa, aku telah ditunggu Wulan. Dia memang bersedia menemaniku mengawasi ujian, hum… tepatnya melepas ‘bete’ ketika menunggu mereka mengisi jawaban. Begitu aku masuk ke lab, karakter mengakar ala anak2 GENSIXTEN muncul. Mereka berseru-seru. Seruannya masih sama. Seputar menyapa dan membicarakan sepak bola. Hehe… Tapi ada satu celetukan yang membuatku mengernyit,

“Belum siap ujian, Miss!”

“Soalnya jangan susah2, Miss!”

Aku jadi teringat akan ‘curahan hati’ mereka minggu lalu. Mayoritas merasa cukup kesulitan dalam materi ‘Introductory It’. Maka sebelum ujian dimulai, aku menerangkan materi tersebut kembali. Aku yakin, mereka bukan tak tahu atau tak paham, namun materi tersebut memanglah terlupakan. Usai memastikan tak ada pertanyaan lebih lanjut, aku meminta mereka mengumpulkan tugas membuat ‘note’ serta ‘re-write’ teks naratif dalam buku. Oh ya, aku membolehkan mereka membuka buku panduan serta kamus manual. Ketika aku membereskan dan mengklasifikasikan soal tipe A dan B, aku berkata pada mereka,

“Kapan pun, kalau kalian kebagian jadi petugas upacara bendera, bisa deh meneladani kelas X5. Tapi harus lebih keren, yah?!”

“Siap, Miss!”

“Miss harus paling depan liat kami!” si bawel, ‘Sofhi atau Isabel’, berseru. Dalam hati aku bergumam ‘Kapan aku di barisan belakang, Say?’

“Lha, Teteh gak tahu masih di sini atau nggak?!” kataku yang memang tengah ‘galau’ akan waktu PPL.

“Yaaah…”

“You must look our performance, Miss!” celetuk Sang KM, Dicky.

Aku tidak membahasnya lebih lanjut. Kubagikan saja soal dan mempersilakan mereka menjawabnya. Sambil memberikan paraf dan sedikit catatan dalam buku mereka, sesekali aku berdehem ketika mendapati tingkah mereka yang gelisah. Ada yang ‘mengganggu’ temannya dengan selalu meminjam alat tulis, melirik sana-sini, berdiskusi dst. Namun jika aku berdehem, mereka tersenyum2 malu dan kembali pada posisi normal. Sesekali kusebutkan juga nama ‘perusuh’ itu dan mencontohkan mereka-mereka yang ‘kalem’. Mereka menyembulkan tawa. Bukan apa2, aku hanya ingin melonggarkan ketegangan ala ujian.

Semua pun berjalan lancar. Selain bantuan keberadaan Wulan, rekan PPL-ku yang lain (Angga) sempat masuk dan melihat kondisi anak-anak sebentar. Tak lama kemudian sang ketua PPL juga masuk,

“Katanya kelas X6 ini kebagian jadi petugas upacara Senin depan, kan?”

“Iya,” Aku yang menjawab.

“Boleh nggak kelasnya dipake buat latihan?” pintanya. Dia memang aktif melatih upacara juga.

Aku tidak langsung menjawab. Sementara anak-anak kelas X6 celingukan,

“Lha, lagi ujian, Pak!” jawab mereka.

“Oh…” Ketua PPL baru sadar.

Dia kemudian berkeliling, memeriksa keadaan anak-anak. Sementara aku ‘anteng’ membubuhkan paraf dan catatan dalam buku harian adik-adik didikku. Dari semua murid, ada 1 orang yang belum mengerjakan samasekali. Sedangkan seorang lagi hanya mengerjakan ‘note’-nya saja. Kecewa memang, namun aku hanya memberi catatan ‘ultimatum’ dalam buku mereka. Perjuangan rekan2 mereka mengurungkan niatku untuk marah. Aku selalu takut, kalau aku mengekspresikan emosi, semuanya kena. Heu…

Sempat ada ‘insiden’ kecil ketika Wulan memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan anak-anak kelas yang ia bimbing. Nampaknya mereka tengah mengobrolkan sesuatu. Sampai akhirnya, ada seorang murid Wulan yang teriak-teriak tepat di muka pintu GENSIXTEN. Sontak saja, kelas yang tadinya sunyi jadi bergemuruh, “Huuuh….”

Aku sendiri tak merasa aneh. Murid Wulan (T) memang gemar berbuat ‘onar’. Hehehe… Namun syukurlah anak2 langsung bisa focus lagi menjawab soal-soal ujian. Tak terasa, satu per-satu dari mereka mulai terdiam, merasa lega, membolak-balikkan jawaban dan soal, serta sesekali berseru,

“Udah, Miss!”

“Periksa lagi!” kataku melihat beberapa yang belum terlihat panic.

Dan sampai waktu yang ditentukan, mereka pun mengumpulkan hasil kerjanya. Lalu, ada insiden lagi. Tahu-tahu saat aku hendak keluar, Wulan dan anak-anak bimbingannya menjerit-jerit. Begitu aku di muka pintu, aku pun ikut teriak,

“Tikus!!!”

Syukurlah, anak-anak dengan sigap berusaha menghalau pergerakan hewan pengerat tersebut, meskipun memang dia telah masuk ke lab bahasa. Bagaimanapun, karena kegelianku, aku segera ‘cabut’ saja mengajak Wulan menuju kantor.

Aku terpaksa menganggur dulu selama 1 jam pelajaran. Tak ada hal yang kulakukan selain berbincang dengan rekan2 PPL. Topik perbincangan kami menjurus pada perpisahan PPL. Yah, waktu yang merayap ternyata mengantarkan penyelesaian yang begitu cepat. Tak terasa. Aku juga terlibat perbincangan cukup menarik dengan Pak Didi, guru Fisika. Aku ingat betul bercandaan beliau padaku, yang bisa dikatakan sebagai ‘anak bahasa’. Beliau bilang,

“Nanti mah ada juga pelajaran sastra fisika,” selanjutnya beliau membacakan puisi yang ada kata ‘gaya’, ‘percepatan’, ‘magnet’, dan beberapa istilah fisika lain. Keren! 😀

Perbincangan itu awalnya adalah ‘curhatan’ teman PPL-ku dari prodi ekonomi:

“Gimana ya biar anak-anak mudah diatur? Tadi aku ngambek di kelas, soalnya. Menyebalkan!”

“Wajar. 40 orang dalam kelas berarti 40 pikiran dan karakter,” kata beliau.

“Ya itulah, Pak. Gimana cara ngaturnya?”

“Ya, buat 40 karakter itu menjadi satu. Satu yang focus ke kita,” tutur beliau membuatku bingung.

“Masa pas aku ngajar, ada yang tidur, Pak?” kata temanku lagi.

“Bapak juga pernah gitu. Waktu saya ngajar ada yang tidur. Saya lalu introspeksi diri. Dan, oh ya! Saya juga dulunya pernah tidur. Nah… mungkin anda dulunya gitu waktu sekolah?”

“Hahaha… iya sih, tapi gak sampe tidur…”

Obrolan mengalir begitu saja. Sampai kemudian tiba dalam sebuah topic yang jauh dari pendidikan di kelas,

“Gimana sih caranya mengurangi keegoisan laki-laki, Pak?”

“Laki-laki emang ditakdirkan jadi makhluk egois, kok!?”

“Lho?”

“Hanya 2 persen laki-laki yang gak egois!” kata beliau, yakin.

“Lalu?”

“Egois itu adalah sifat yang gak akan pernah hilang. Mungkin berubah kadarnya, tapi akan tetap nempel dalam hidupnya. Ya selama keegoisan laki-laki gak merusak keharmonisan hubungan, biarkan saja…”

Aku masih kebingungan, sampai kemudian beliau bilang,

“Yang justru perlu diwaspadai dari sifat seorang laki-laki itu adalah nanti setelah menikah. Jadi kalau sebelum menikah sifatnya udah kebuka, ya bersyukurlah. Itulah gambaran kerakternya kelak, jadi kamu punya persiapan khusus untuk menghadapi dan memahami sifat-sifatnya,” beber beliau.

Tak lama aku menyadari bahwa jam istirahat untuk sholat telah usai (kebetulan aku sedang datang bulan). Tanpa menunggu terlalu lama, aku segera beranjak menuju kelas AKSEL.

Begitu memasukki kelas, aku sangat bahagia karena ternyata bangkunya penuh, pertanda murid hadir semua. Melihat rona wajah mereka ‘berbeda’, aku tersenyum dan menyapa,

“Hi, AKSEL???”

“Hi, Miss!”

“Hello, Miss!”

Jawaban mereka pecah menjadi dua. Selanjutnya mereka celingukan dan tertawa-tawa menyadari konsentrasinya ‘kumainkan’.
ujian2

“Well, collect your book, please!”

Sebagian dari mereka bertanya-tanya maksudku. Namun ada juga yang ‘ngeh’ dan segera mengumpulkan buku catatan mereka.

“Boleh buka kamus kan, Miss?” Tanya mereka.

“Boleh, kecuali kamus hp.”

“Boleh lihat buku paket, Miss?”

“Boleh.”

Aku pun membagikan soal sesuai dengan tipenya. Mereka saling berbisik sebentar. Jika dibandingkan, AKSEL ini lebih tenang. Mereka lebih mudah untuk dikondusifkan, tak perlu waktu lama. Usai kertas ujian dibagikan dan merasa yakin akan ‘ketenangan’ mereka, aku pun khidmat memeriksa buku. Sayang sekali, ada 5 orang yang ‘melewatkan’ tugas re-write naratifnya. Aku pun memberi catatan dalam buku masing-masing.

Ketika mengawas yang damai itu, ada Ari dan Shandy (anak kelas XI) memanggil KM untuk berkumpul. Ya, belakangan kudengar mereka akan dibubarkan lebih awal untuk melakukan kegiatan bersih2, mengingat besok SMAN 1 Kadugede akan menjadi tempat diselenggarakannya MTQ se-kabaupaten Kuningan. Namun Rezza meminta pengertian untuk tidak kumpul. Aku pun berbicara kepada Ari dan Shandy agar maklum. Tak perlu penjelasan panjang, mereka memang mafhum akan kondisi tersebut. Kami pun melanjutkan ujian. Sempat Pak Taryo memanggil Rezza kembali. Dan lagi2, Rezza hanya keluar sebentar untuk kemudian segera bergabung ujian. Pak guru LH itupun sangat memaklumi.

“Miss?”

“Yah?”

“Jawabannya boleh diacak? Jadi, aku ngerjain no 3 dulu. Tapi dikasih keterangan, kok?!”

Kelas sangat senyap.

“Asal kamu bahagia, boleh aja…” jawabku sedikit mendengungkan kelas. Jawaban reflex-ku cukup berhasil mengendorkan ketegangan mereka. Semoga.

Usai memberi paraf dan catatan dalam buku masing2, aku keliling. Aku memastikan ‘ujian’ tersebut ‘baik2’ saja. Sesekali aku juga melayani pertanyaan mereka seputar,

“Yang ini maksudnya gimana, Miss?”

“Yang nomor sekian sih gimana, Miss?”

“Bikin kalimat teh sama rumusnya juga gak, Miss?”

“Artinya anu apa, Miss?”

Dst.

Selagi bisa, aku melayaninya. Yang penting aku tidak membocorkan jawaban. Hehehe… Aku juga kadang sekedar menyapa mereka, walau tak bertanya. Maksudku agar mereka tak kikuk denganku. Ditambah lagi aku memang sangat perlu melakukan pendekatan psikologis terhadap mereka,

“Doni!” Aku menepuk salahsatu ‘kaum adam’.

Ketika aku keliling dan mengamati jawaban mereka, aku sedikit tercengang mendapati jawaban Doni banyak yang benar. Padahal dia memiliki riwayat kehadiran yang kurang baik, namun aku selalu yakin dia memiliki ‘sesuatu’ yang mesti diasah. Sikapnya ketika aku mengajarlah yang membuatku yakin, kalau dia memiliki modal untuk berkembang. Di kelas, dia seperti kebanyakan murid laki-laki lain. Namun ketika aku menerangkan, dia cukup focus memperhatikan.

“Iya, Miss?”

“Kamu teh pinter…”

“Hehehe…”

“Cuma kurang rajin kamu mah. Yang rajin, ya?!”

Dia hanya tersenyum-senyum sambil menunduk, apalagi begitu direspon teman2 wanita di belakang bangkunya 😀

Akhirnya satu persatu dari mereka mengumpulkan jawabannya. Dalam hati, aku berniat segera mengoreksi jawaban mereka tersebut. Aku takut, jika diendapkan dahulu, malah akan tertumpuk pekerjaan dan hobiku yang lain. Alhasil, begitu sampai di rumah dan beristirahat sejenak, aku segera mengoreksi kinerja mereka.

Ada yang menyunggingkan senyumku, ada juga yang mengempiskan hatiku. Hasilnya beragam!

Di AKSEL:
• Nilai PG terbesar (19 poin) diraih oleh Lela Faudhilah
• Nilai essay terbesar (20 poin/sempurna) diraih oleh Doni Setiawan
• Nilai ulangan harian terbesar (92.5) diraih oleh Anisa Nurbaeti

Di GENSIXTEN:
• Nilai PG terbesar (19 poin) diraih oleh Audina Virdayanti
• Nilai essay terbesar (18 poin) diraih oleh Desi dan Nia
• Nilai ulangan harian terbesar (90) diraih oleh Desi dan Nia

Selain membubuhkan nilai yang didapat, aku juga memberi catatan pada masing2 kertas jawaban. Entah itu tentang ‘ultimatum’ untuk tidak memberi contoh kalimat yang sama dengan buku paket/kamus, ‘ultimatum’ untuk tidak ‘kompakan’ dalam menjawab, lebih teliti dalam menjawab soal, dsb. Alhamdulillah acara mengoreksi pun selesai pada malam harinya.

Semoga evaluasi ini menjadi pemantik semangat mereka untuk menjadi lebih baik! Aamiin…. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *