Cerita PPL; The Third Meeting

Cerita PPL; The Third Meeting

PPL Guru 3

Senin, 21 Januari 2013

Kedua kalinya selama menjadi praktikan PPL, aku melaksanakan upacara bendera. Kali ini suasana agak bersahabat. Aku sedikit bisa menyesuaikan ‘lagi’ untuk langsung bertatapan dengan mentari.

Jalannya upacara begitu khidmat. Berbeda dari minggu lalu, kali ini petugas oubade lebih lantang. Aku yang berdiri paling depan memicingkan mata, “Kok petugas oubadenya banyak?”

Kulihat juga seorang muridku, anak kelas X.5 di deretan petugas. Dan o ternyata mereka tidak hanya siswa/i kelas X.2, melainkan lengkap dengan bala bantuannya. Tak apa2 lah, nyanyian Indonesia Raya, Mengheningkan Cipta dan Lagu Wajib ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ berlangsung syahdu.

Adapun tema amanat Pembina upacara yaitu ‘Cinta Lingkungan’. Guru Mapel Sosiologi mengingatkan momentum di mana SMAN 1 Kadugede pernah memahatkan nama, menjadi juara, khususnya dalam ranah lingkungan hidup. Mau sombong dulu, ah… 😀

Berikut daftar prestasi SMAN 1 Kadugede (khususnya dalam bidang yang ‘beraroma’ lingkungan dan alam):
– Tahun 1989, menjadi juara 2 Lomba Lintas Alam Putra Tingkat Kabupaten Kuningan.
– Tahun 1989, menjadi Juara Umum Lomba Lintas Modern Tingkat Kabupaten Kuningan.
– Tahun 1992, menjadi harapan Lomba Lintas Alam Putri Tingkat Priangan.
– Tahun 1994, menjadi juara 2 lomba Siliwangi Ardilaya Hiking Putra tingkat Provinsi Jawa Barat.
– Tahun 1994, menjadi juara 2 lomba Siliwangi Ardilaya Hiking Putri tingkat Provinsi Jawa Barat.
– Tahun 2003, menjadi juara 2 Lomba Hiking Relly Tingkat Kabupaten Kuningan.
– Tahun 2004, menjadi juara 2 Lomba K3 Tingkat Kabupaten Kuningan.
– Tahun 2004, menjadi juara 1 Lomba K3 dan Gapura Tingkat Kabupaten Kuningan.
– Tahun 2004, menjadi juara 2 LLA Budaya hijau Tingkat Kabupaten Kuningan.
– Tahun 2005, menjadi juara 1 Lomba Sekolah Berbudaya Tingkat Provinsi Jawa Barat.
– Tahun 2008, menjadi juara 1 Lomba Sismakala Tingkat Kabupaten Kuningan.
– Tahun 2010, menjadi nominator Lomba Sekolah Lingkungan Hidup Tingkat Nasional.
– Tahun 2010, menjadi juara 1 Lomba Pecinta Alam Sismakala Tingkat Kabupaten Kuningan.
– Tahun 2010, menjadi juara 2 Olimpiade Kebumian Tingkat Provinsi Jawa Barat.
– Tahun 2010, menjadi juara 1 Lomba Lintas Alam Tingkat Provinsi Jawa Barat.
– Tahun 2012, menjadi juara 1 Lomba Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional.
(Sumber: SMAN 1 Kadugede)

Pembina upacara hanya menyebut segelintir prestasi SMA, khususnya prestasi tahun 2005 tentang juara 1 Lomba Sekolah Berbudaya Tingkat Provinsi Jawa Barat dan tahun 2012 kemarin menjadi juara 1 Lomba Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional. Wuih… Peserta upacara makin senyap.
lingk
“Semoga karakter kita yang cinta lingkungan tidak hanya karena tekanan atau tuntutan apapun, melainkan karena kesadaran. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang juga, kapan lagi?” rangkum beliau.

Pada akhir upacara bendera, Pak Guru Mapel Lingkungan Hidup memberi pengumuman tentang juara kelas terbersih, kelas terkotor dan ekskul terbersih. Masing2 pemenang menerima bendera kemenangan. Suasana riuh. Padahal, aku mendambakan salah satu kelas yang kupegang (X.5 dan X.6 masuk dalam kategori kelas berprestasi), namun mayoritas pemenang adalah kelas XI dan XII. Ah tak apa… juara ekskul terbersih, Rismaka, menjadi penentram jiwa. Heu…

Senin jam ke 4-5, the third meeting, aku masuk kelas X.6 terlebih dahulu. Seperti biasa, aku me-review materi yang telah lalu; tentang expressing complimenting, thanking, respond to thanks dan narrative teks. Kasian, susah payah mereka mengingat-ingat materi tersebut. Syukurlah, sebagian besar benar. Hanya beberapa yang aku koreksi.

Usai review, aku memberi contoh2 situasi pra-pembuatan dialog memuji dan berterima kasih. Contohnya begini:
Jim knew that Caroline got an achievement on music festival.
Jim : Good morning, Caroline!
Caroline : Good morning, Jim!
Jim : I heard that you got an achievement. Is it right?
Caroline : I became the best drummer on a music festival last week.
Jim : Really? Good job! I’m sure that you are a talented girl.
Caroline : Thanks a lot, Jim!
Jim : Don’t mention it.

Aku pun menulis 4 situasi berbeda untuk mereka. Ada yang memuji masakan, memuji prestasi, memuji jaket baru dan memuji hadiah sepatu sebagai oleh2. Aku gunakan system menghitung ketika menentukan situasi mana yang mesti dibuatkan dialognya. Seperti biasa juga, kugunakan ‘timing’ untuk mendisiplinkan kinerja mereka. Seru juga…

Tanpa memaksa atau membujuk, aku persilakan pasangan bangku mereka untuk maju. Syukurlah, semuanya malah berebut maju. Sample demi sample maju dan dikoreksi oleh teman2nya sendiri. Part tersebut sangat berpotensi mengundang gelak tawa. Aku sengaja 😀

Setelah itu, aku melakukan story telling lagi. Teksnya:
storyteller
The Princess’ Worn Out Shoes

It was a mystery. Every evening, the king’s beautiful daughter was locked in her room, and every morning her shoes were worn out from dancing too much.

The king offered a great reward to whoever could solve this mystery. Many people tried, but in vain; then along came a young man who had a magic cloak that could make him invisible. He had been given this by his godmother, a good witch.

When evening came, the young man put on his magic cloak and hid beside the bed of the sleeping girl. In the night, he saw the princess rise from her bed like a sleep-walker and enter a secret passage which opened up in the wall. Without hesitation, the man followed her.

They crossed a mysterious underground garden. At the end of a long avenue, there stood a castle, gleaming with lights, and there the princess was awaited by the Prince of the Night. A great ball began at once.

The invisible young man hurried back to the king and told him of all that he had seen. When the princess returned at dawn, she found her father waiting, together with the young man and his godmother. The good witch took away the spell that made the princess dance all night and cast another one on her, which caused her to fall in love with her brave godson.

(source: 366 and Fairy Tales on English for Better Life Book)

Sewaktu aku membacakan cerita, mereka terdiam dan menyimak. Sesekali diantara mereka yang bertanya arti beberapa kata sulit. Aku sampai memotong cerita dan melayaninya dulu. Usai semua itu, aku meminta partisipasi mereka untuk membuat dialog dari beberapa adegan. Seperti adegan raja yang bingung dengan misteri sepatu puterinya, adegan sang pemuda menawarkan diri untuk menguak misteri, adegan pembacaan mantera sang ibu angkat, dst.

Akupun meminta mereka menunjukkan hasil pekerjaan rumah (berkelompok), yakni mencari dan menguasai 1 saja tentang teks narrative. Syukurlah, tak ada yang sampai lalai. Mereka semua mengerjakannya.

Kupersilakannya satu per satu dari grup untuk maju ke depan. Kuminta mereka menceritakan isinya secara sambung-menyambung. Kutanyakan partisipannya, setting-nya, konfliknya, penyelesaiannya dan ending-nya. Terlihat, ada kelompok yang menguasai cerita dengan rata, ada juga yang tidak. Tak lupa, aku mengomentarinya.

Bel berbunyi, pelajaran usai. Kulakukan metode dan urutan yang sama di kelas X.5 pada jam ke 7-8. Jam yang sulit; Mood dan energiku terkuras. Butuh trik2 ketika mengajar pada jam tersebut. Aku pun sering menyembulkan joke, berlaku super sabar, mengadakan permainan asah konsentrasi, atau ‘memanfaatkan’ salah satu dari mereka untuk menghadirkan tawa.

Semuanya berjalan, sebagaimana mestinya. Alhamdulillaah… [#RD]

Jika perlu, silakan download RPP-nya:

RPP3_Expressing, narrative text and making dialogue

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *