Cerita PPL; The Thirteenth Meeting in X.5

Cerita PPL; The Thirteenth Meeting in X.5

PPL PPL 1

Jam 7-8…

Di kantor, Uus dan Teh Anih yang memang piket berseru padaku,
“Mau masuk kan, Dian? Jam 7-8…”

“Iya. Kenapa?” tanyaku ‘watados’, alias wajah tanpa dosa.

“Eh udah masuuuk!”

Aku celingukan. Sebelumnya aku mengobrol dengan Ibu Sun dari prodi Bahasa Indonesia. Niatnya kami akan berjalan bersamaan menuju kelas masing-masing. Namun rupanya beliau telah terlebih dahulu masuk ketika kutinggal.
Aku pun segera berjalan menuju kelas AKSEL. Di tengah perjalanan itu, (lagi-lagi) ada siswa kelas X lain yang memintaku masuk dan mengajar di sana. Tentu aku tolak. Hehe… Bagaimanapun, tujuanku kali ini adalah hanya AKSEL.

Di pelataran kelas, nampak Rizkia, Imel, Lizza, Novi, Linda, Ina, Evi dan Lela (seingatku). Mereka tengah duduk-duduk bersantai. Begitu melihatku, mereka menampakkan gelagat akan mengerjaiku. Terdengar mereka berbisik,

“Ssst… kita jangan bergerak.”

Spontan. Aku pun balik mengerjai mereka dengan segera masuk kelas dan hendak menutup pintu rapat-rapat,

“Aaaaaaaaaaaaaa…” seru mereka, nyaris membobol perhatian siswa/i yang mendengarnya. 😀

AKSEL…
Hum… Kelas ini memang memiliki karakter berbeda dengan Gensixten, namun dalam hatiku posisi mereka sama; i s t i m e w a. Se-bete apapun aku, jika kelas yang aku masukki menampakkan wajah ceria, senyum dan mimik siap untuk belajar, maka mood itu membaik dan bahkan energiku terpompa seketika. Seperti itulah gambaran AKSEL hari ini. Faktor jam 7-8 memang ada, namun pengaruhnya tidak terlampau besar jika mereka tersenyum.

“Maaf Miss tadi bercanda,” kata Novi sambil senyam-senyum.

“Gak apa-apa,” responku yang memang tidak mempermasalahkan hal itu. Yah jika mereka bahagia melakukannya, silakan saja. Hehehe…

Di AKSEL, aku juga menjelaskan mengenai ujian PPL-ku. Khususnya tentang betapa susahnya aku memilih salahsatu diantara mereka,

“Dari tanggal 25 sampai 30 Maret itu, Insya Allah Teteh mengambil yang awal, 25 Maret. Eh, bukannya pengin cepet-cepet berpisah dari kalian. Tapi, hum…”

“Tapi apa, hayooo???” goda mereka, membuatku makin sulit menjelaskan.

Aku memang tengah ditunggu tugas-tugas lain yang lebih dahsyat dari PPL. Masih ada sidang komprehensif, bimbingan maupun penyusunan skripsi. Mau tak mau, mereka akan menjadi prioritasku nanti usai PPL. Bagaimanapun PPL juga telah menguras banyak hal. Terlalu beragam hal yang kukorbankan demi PPL. Heu… Namun tujuanku tidak lagi ‘abjad’, melainkan manfaat (khususnya bagi adik-adik didikku yang telah mengajarkan banyak hal, menguji mental, menguji pengendalian diri, dsb).

“Yang jelas, keputusan terakhir Teteh serahkan saja sama dosennya. Kalau beliau bisanya jam ke 4-5, berarti di kelas Gensixten. Kalau bisanya jam 7-8, berarti di kelas AKSEL,…”

“Aamiin ya robbal ‘alamiin…” ada yang berseru.

“Tapi kemungkinan besar memang kelas AKSEL ini.”

“Aamiin ya robbal ‘alamiin…”

“Masih kemungkinan…”

“Kemungkinan!” Mereka meniruku.

Tak lama, Fiona menghampiriku. Dia memang telah meminta izin untuk tak ikut pelajaran. Kebetulan dia menjadi OSIS dan ditugaskan jaga stand pendaftaran pada jam 7-8. Aku segera memberinya izin.

“Miss-nya mau menugaskan apa?” tanya Fiona sambil menenteng buku paket Bahasa Inggris.

Aku pun menjawabnya.

Sebenarnya hari ini pikiranku tengah seperti akar serabut. Banyak dan menusuk-nusuk. Ada urusan keluarga, rencana ke kampus untuk sosialisasi (SP, SK skripsi, sidang komprehensif, pembimbing dan penyusunan skripsi) serta factor jam 7-8 yang mempercepat datangnya rasa penat.

Selanjutnya aku juga mengumumkan hasil remedial. Sama seperti di Gensixten, aku pun mengerjai mereka dulu. Setelah sempat kaget, aku pun mengumumkan hasil sebenarnya. Di AKSEL ini malah nilai terbesarnya itu 100. Mereka yang meraihnya adalah Sofhi Siti Sofia dan Lina Yasmin Triyastuti. Kelas AKSEL ini pencapaiannya cukup besar dan pesat. Aku berani memberi poin lebih sebab ‘keaslian’ pekerjaan mereka. Originalitas memang menjadi hal pokok yang berusaha aku tanamkan. Syukur Alhamdulillah, mereka mulai menyadari betapa pentingnya hal itu. Heu…

“Nilai rata-rata kami dan X6 sih berapa, Miss?”

Aku lupa menghitungnya, saking senang akan tidak adanya tindakan plagiarism, “Pokoknya nilai terbesar sampai 100 itu cuma ada di kelas ini!”

Aku pun melanjutkan materi ‘Adjective Clause’. Tantanganku memang, mengenalkan materi yang memiliki ‘pattern’ tertentu terhadap mereka di jam-jam akhir. Di sini aku menjelaskannya dengan lebih lambat, tetap memakai contoh yang akrab dengan lingkungan mereka dan memberi jeda lebih lama untuk mereka bertanya.
adj clause
Beda dari Gensixten, mereka selalu bertanya ketika ada yang tidak mereka paham. Syukur alhamdulillaah… bahkan ‘kaum adam’ pun tak segan bertanya mengenai bagian yang mereka tak paham. Kulihat mereka juga segera menuliskan apa yang kubahas. Hal sederhana itu saja bisa menciptakan rasa bahagia. Heu… Sesekali kujelaskan pula ‘possesion’-nya. Ada yang masih ‘kagok’ membedakan possession dengan object.

Namun AKSEL tetaplah AKSEL… Sebagian ‘kaum adam’-nya kambuh. Mereka mulai rusuh. Hum… mungkin factor mood yang berangsur buruk serta konsentrasi yang terkikis juga. Mereka selalu membuat keributan ketika aku menerangkan kepada teman mereka yang bertanya. Keributan mereka pun menular ke beberapa ‘kaum neng’.

“Tampar aja yang ributnya, Miss!” celetuk salahsatu dari mereka.

“Maunya sih begitu…” kataku reflex, tapi tentu tak serius. Just kidding! -_-‘

Mereka tertawa. Seperti biasa, aku selalu senang akan tampang ceria mereka. Namun lama-lama, hawa dalam hatiku memburuk seiring dengan kelas yang makin berdengung, sedang energiku seperti terkuras. Ingin mengingatkan mereka, namun terlampau lelah. Tadinya aku tak akan menyampaikan niat untuk berfoto, sebab ada tiga orang tidak hadir di kelas. Namun aku sampaikan juga, sebab memang belum ada 1 pun dokumentasi di AKSEL ini. Entahlah, bahkan rekan-rekan PBI-ku belum ada yang mengunjungi kelas ini. Mungkin karena tak ada waktu yang tepat juga.

Berbeda, mereka tidak terlalu antusias. Mungkin factor capek. Atau. akunya saja yang tidak cerdik menangkap rona wajah mereka. Jadilah aku juga tidak bersemangat untuk mengambil gambarnya. Akupun memutuskan untuk memberi tugas dulu pada mereka dan keluar untuk sholat dzuhur. Sekalian mendinginkan hati, pikirku.

Usai sholat, aku sedikit berbincang dengan Teh Anih, Uus, Fiona dan seorang siswi kelas XI (mereka tengah ditugaskan menunggu stand pendaftaran lomba). Pak Uus sempat menanyakan apakah kelas X5 mau dipoto atau enggak. Dilemma, jawabanku tak pasti. Antara ya dan tidak. Akhirnya, tidak. Nanti saja. Mungkin nanti jika suasana hatiku dan anak-anak tengah dalam kondisi baik.

AKu kembali ke kelas dan sempat melihat beberapa anak AKSEL, khususnya ‘kaum neng’ yang di luar segera berburu masuk. Phew!

Sesampainya di sana, suasana masih cukup ribut. Perasaanku yang tengah gamang oleh ini-itu diuji pula oleh ‘kerusuhan’ AKSEL. Beberapa diantara mereka ‘rusuh’, entah serius atau tidak mengerjakan tugasnya. Aku tiba-tiba sangat malas untuk keliling, memeriksa sekaligus menawarkan jasa pada mereka. Sedangkan hanya sebagian kecil saja yang meminta untuk diperiksa serta menanyakan hal-hal yang kurang mereka paham. Alhasil aku memilih duduk dulu, mengendorkan emosi.

Setelah menghirup napas dalam dan meredakan ‘panas’nya suasana, aku melangkah ke depan dan menawarkan kepada siapa saja yang ingin mengisi soal. Seperti biasa, kuacung-acungkan spidol untuk merangsang mereka maju. Ckckck… factor jam 7-8 memang, yang berminat dan mengacungkan tangan hanya sedikit. Beberapa saja yang menudingkan tangannya ke atas, berseru ‘Saya, Miss!’, ‘Saya nomor sekian, Miss,’ dst. Duh!

Alhasil aku pun menunjuk acak segelintir anak yang menawarkan diri tersebut; Afni, Shofi, Nina, Rizkia, Jennita, Novi, dan seperti biasa… partisipasi ‘kaum adam’nya minim sekali. Padahal besar harapanku pada mereka. Seringkali aku segera mengapresiasi itikad baik ‘kaum adam’ untuk menulis, mengerjakan soal dan berbaur dengan beberapa ‘kaum neng’, duduk di depan dan bertanya. Malah ‘kaum neng’nya mungkin merasa tersisihkan,

“Cieh, kaum adam melulu…” kata mereka.

Mau bagaimana lagi, ‘kaum neng’nya sudah cukup bagus!

Fiyuh! Salahku memang. Aku tak mampu mengendalikan kesabaran yang sejak dari tadi aku genggam. Emosiku mungkin telah menumpuk dan mencapai puncaknya. Aku segera duduk di kursi dan mengabaikan kerusuhan yang AKSEL ciptakan. Mungkin beberapa diantara ‘kaum neng’ ngeh akan sikapku. Mereka menginstruksikan teman-temannya untuk diam. Namun, ah… Aku hanya manusia biasa. Jengah dan lelah juga. Akhirnya,
patient
“Udahlah, silakan pimpin do’a aja!”

Mereka, ada yang celingukan dan menampakkan roman aneh atau mungkin penasaran atas keputusanku.

“Kan belum beres-beres, Miss?!”

Aku tak menjawabnya. Lama-lama salahsatu diantara mereka memimpin doa, dan suasananya pun masih tidak rapi juga. Phew!!!

Segera saja aku beranjak dan membuka pintu. Kupercepat jalanku, ingin segera berlalu. Rupanya aku masih gagal total mengendalikan mereka dan emosiku sendiri. Aku marah, khususnya terhadap diriku sendiri yang masih ‘bodoh’ memahami situasi. Aku bahkan melampiaskan kekesalan kepada semuanya, walau sebenarnya ‘biang rusuh’ itu hanya beberapa. Kasian yang tidak bersalah, namun mesti terciprat akibatnya. Entahlah, ya ya ya factor jam siang dan kelelahan, memang. Namun apapun alasannya, aku harus tetap belajar untuk menaklukan itu. Walau… sussaah!

Sesampainya di kantor, aku langsung meminta Teh Anih untuk segera ke kampus bersama. Ingin rasanya aku alihkan perasaan campur adukku terhadap hal lain. Aku memang bersalah…. [#RD]

Download RPP:

RPP 11_Adjective Clause

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *