Cerita PPL; The Thirteenth Meeting in X.6

Cerita PPL; The Thirteenth Meeting in X.6

PPL PPL

Jam 4-5…

Sebelum masuk ke kelas yang ‘mengungsi’ ke laboratorium bahasa itu, aku dan Tatang menuju ke kelas X7 untuk menyampaikan tugas dari Pak Taryo. Kebetulan guru PLH tersebut masih di Cilacap. Terlebih lagi begitu aku melintas ke X6, masih ada Bu Maya (guru Matematika). Beliau sempat menyapaku,

“Duh, mau masuk, yah? Sebentar yah, Dian?”

“Oh silakan, Bu. Diannya juga mau ke kelas lain dulu.”

“Oh ya atuh…”

Kelas-kelas lain telah rapi belajar, sementara kelas X5 tidak efektif. Beberapa diantaranya (sebagian ‘kaum neng’) masih diluar, ‘memanfaatkan’ waktu. Mereka menyalami kami. Sesampainya di depan X7, lagi-lagi gurunya masih ada (Bu Eri). Aku dan Tatang pun duduk dulu di pelataran kelas tersebut. Tak lama, Fiona dan Sofhi menghampiri,

“Besok ESA terakhir. Jadi ya, Miss?”

“Insya Allah.”

“Janji udah terkunci. Gak bisa dibuka lagi, Miss!”

Aku dan Tatang hanya tersenyum. Selanjutnya banyak hal yang kami bicarakan. Sesekali aku melihat jam tangan. Rupanya waktu merambat dengan cepat. Aku telah begitu telat masuk ke kelas Gensixten. Namun biarlah, takut masih ada Bu Maya. Terlebih Tatang selalu menahanku. Dia ingin menyampaikan amanat ke kelas X7 dahulu. Tak lama, Bu Eri pun keluar. Tatang segera masuk. Aku sendiri langsung beranjak menuju kelas X6, kebetulan kulihat ada ‘kaum jenny’-nya yang keluar.

“Miss, masuk aja ke kelas X5!” pinta Fiona.

Aku mengangkat bahu, “Nggak, ah. Pelajaran apa, emang?”

“Ih Miss mah… Fisika, Miss. Tapi isi Bahasa Inggris aja.”

“Gak, ah.”

“Ih Miss mah.”

“Teteh mesti masuk Gensixten dulu, nanti siang deh ke AKSEL.”

“Miss!” Mereka memanggil-manggil.

Aku terus saja berjalan menuju laboratorium didampingi BU Eri yang langsung merangkulku, “Ah ada-ada aja!”

“Ibu minta semua data anak PPL yah, Dian?”

“Siap, Bu. Dari mulai ketua gitu, tah?”

“Perjurusan aja.”

“O, oke, Bu!” jawabku mantap sambil melonggarkan rangkulannya dan membelokkan diri ke lab.

Begitu masuk tempatnya Gensixten, mereka (ah, seperti biasanya) langsung bersahutan,

“How are you, Miss?”

“Morning, Miss!”

“El-classico Persib vs Persija 3-1, Miss!”

Begitu mereka tenang sendiri, barulah aku ‘masuk’ menyalami dan menyapa mereka. Kuutarakan suasana hatiku yang senang bisa melihat mereka menjadi petugas upacara,

“Aaa… Jangan dibahas, Miss!”

“Ada kesalahan teknis, Miss!”

“Maluuu, Miss…”

Ya amplop bocah! ‘kecelakaan’ itu tidak sepenuhnya salah kalian. Baik X5 dan X6 membawakan upacara dengan keren (setidaknya menurutku). Bagaimanapun menjadi petugas upacara mengajarkan kedisiplinan, tenggung jawab dan mengasah mental. Mereka telah melalui itu semua. Dan itu, membanggakan!

Selanjutnya aku membicarakan ujian PPL,
“Awalnya dosen Teteh, Pak Sofyan, meminta kami untuk mengajar di kelas lain antara tanggal 25 sampai dengan 28 Maret 2013. Misal, Teteh kan pegang X5 dan X6, namun ketika ujian mah dialihkan ke X1, X9 atau kelas XI. Tapi guru pamongnya, Bu Hj.Iin, justru merekomendasikan Teteh antara X5 dan X6 saja. Jadi deh mesti diantara kalian,…” belum juga selesai, mereka berseru-seru,

“Di sini aja, Miss!!!”

“Galau deh kalau disuruh antara X5 dan X6,” kataku jujur. Memang suliiit!

“Akhirnya…” kataku menggantungkan pembicaraan, mereka nampak menunggu keputusan.

“Teteh serahkan sama Pak Sofyan. Yang jelas Insya Allah Teteh akan mengmbil hari Senin tanggal 25 Maret 2013. Jamnya antara 4-5 dan 7-8. Kalau Pak Sofyan memilih jam 4-5 berarti ujiannya di Gensixten. Kalau jam 7-8, berarti di AKSEL. Gitu…”

“Yah, Miss mah…”

Setelah reda, aku pun mengumumkan hasil remedial. AKu sengaja membuat mereka terkejut dulu,
“Kenapa dengan Gensixten? Malah gak ada satupun dari kalian yang dapet 60!”

Aku cukup berhasil membuat mereka terkejut. Tak tega berlama-lama, aku pun bilang,
“Semuanya di atas 75!!!”

Mereka melongo sepersekian detik, lalu bersorak kegirangan. Senang rasanya melihat ekspresi mereka selepas itu.

“Selamat ya kepada yang nilainya terbesar. Mereka ada 3 orang. Mereka adalah Cindy, Rifka dan Mikel!”

Suara tepuk tangan membahana, menyambut pengumuman bahagia tersebut. Kebiasaannku memang, mengumumkan sebuah prestasi. Sekecil apapun itu. Selanjutnya aku pun membagikan hasil remedial. Kecuali Riman dan Helmi. Mereka berdua cengengesan belum melakukan remedial. Keduanya memang tidak hadir minggu sebelumnya. Baik Helmi dan Riman, mereka memiliki keinginan kuat untuk menjadi semakin baik. Dari pesan-kesan yang mereka tulis lah, aku bisa menyimpulkan. Ternyata mereka memiliki sisi dalam yang anggun. Begitulah mungkin, jika terbuka semuanya tidak berujung dalam prasangka dan kesalahpalahaman. Terlebih mereka telah menjadi adik-adikku yang cukup dekat. Khusus Helmi, dia selalu mengingatkanku akan sosok adik bungsuku, Beben.

Aku meminta keduanya untuk memperhatikan pelajaran terlebih dahulu. Aku mengulas lagi tentang “Adjective Clause”. Kali ini lebih detail dengan contoh-contoh yang kubuat akrab. Maksudnya istilah dan situasinya itu lebih familiar bagi mereka. 4 jenis adjective clauses aku terangkan; ‘to modify place, time, people dan possession’. Sesekali kutawarkan kepada mereka, barangkali ada yang hendak mereka tanyakan.

“Istirahatnya pakai saja, Miss!” ada yang mengusulkan, dari ‘kaum Jhon’.

Aku menunggu kalau-kalau ada yang mau istirahat, aku akan mengikuti yang mau istirahat saja. Aku sendiri cukup kehausan.

“Istirahat aja, Miss,” beberapa orang ‘kaum Jenny’ meminta.

Aku setuju untuk istirahat dahulu. Namun lama-lama, mereka semua berubah pikiran. Semuanya serempak ingin membablaskan waktu istirahat. AKu pun melanjutkan materi. Tak lupa aku juga mengutarakan niatku untuk berfoto dengan mereka. Khusus Gensixten, dari minggu-minggu sebelumnya mereka telah meminta salahsatu bentuk dokumentasi tersebut. Dan aku rasa, minggu-minggu berikutnya aku memang akan ‘break’ dahulu. Jadwalku ke depan Alhamdulillah diistirahatkan karena adanya UTS dan ujian praktik kelas XII. Terlebih lagi mereka Hadir Semua. Respon mereka bagus. Mereka bersorak. So cheerful!

Sebelumnya aku memang telah meminta Uus untuk menjadi fotografernya. Dan sambil menunggu Uus serta memanfaatkan waktu, aku pun membahas latihan soal dalam buku. Begitu kutawarkan secara terbuka mengenai beberapa soal tersebut, tangan-tangan telah menuding-nuding ke udara,

“Saya, Miss!”

“Nomor 2-nya aja atuh, Miss!”

“Saya nomor 3-nya, Miss!”

“Miss saya Miss. Pegel, nih!”

Ini yang paling aku suka dari mereka; antusiasme!

Perlahan namun pasti, soal-soal pun berhasil kami urai bersamaan. Ketika membahas soal-soal tersebutlah, Uus datang. Aku menguatarakan kedatangannya kepada anak-anak. Kami pun berfoto. Aku sempat kikuk untuk bergaya bagaimana. Maklum, aku tengah dalam posisi sebagai guru. Jika bersama teman, tentu semuanya berjalan leluasa. Namun tidad demikian dengan adik-adik didikku. Sedikit ‘menjaga image’ gitulah. Hehehe… Aku dan Uus sempat kesulitan menata posisi berfoto, sebab memang tidak begitu laus keadaannya.

“Di luar aja, Miss!”

Aku tidak terlalu merekomendasikan usul tersebut, karena takut menimbulkan kegaduhan bagi yang lain. Akhirnya kamipun menyelesaikan sesi berfoto. Dalam hati, aku memang belum puas mengingat kondisi lab yang sempit sehingga ada beberapa adikku yang tidak terlihat jelas. Padahal aku begitu ingin melihat semua wajah mereka di kamera. Ya, semuanya. Toh tak ada yang tak kuhapal! 😀

“Thank you, Miss!” kata mereka bergantian.

“Makasih banyak, Miss!”

“Ya, sama-sama.”

Setelah mengucapkan ‘terima kasih’ kepada Uus dan menawarkannya padanya untuk ikut berfoto, dia bilang ‘anti kamera’. Ya sudah, kami bergegas ke kantor. [#RD]

Download RPP-nya:

RPP 11_Adjective Clause

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *