Cerita PPL; The Twelfth in X.6

Cerita PPL; The Twelfth in X.6

~Episode Remedial Di Kelas X.6~

PPL_Remedial di x6

Apa yang lebih mendamaikan dari KBM jam terakhir?

Sholat. Usai sholat dzuhur berjamaah dengan adik-adik, rekan-rekan PPL lain serta guru-guru, ada aliran kekuatan dan ketenangan yang tak didapat dari manapun. Hawa panas dan pakaianku yang bermotif salur warna hitam sedikit terkalahkan oleh kedamaian alami itu. Sambil menunggu masuk kelas, aku berkerumun dulu dengan teman-teman PPL di ‘saung sosro’ (nama lainnya mah ‘gazebo’). Tak lama berselang, aku digaet Teh Itha,

“Hayuk ah ke kelas…”

Karena satu arah, kami berjalan bersama. Di depan kelas X6 (laboratorium bahasa), aku meminta Teh Itha duduk dahulu, mengobrol. Kami pun ditemani Vera, siswa XI IPA 1. Selain menunggu masuk, akupun merangsang anak-anak X6 agar cepat masuk. Hanya beberapa menit, aku pun memutuskan untuk masuk. Vera dan Teh Itha pun bubar dan kembali ke kelas masing-masing.

Di kelasnya Gensixten, aku tidak buru-buru menyapa. Kubiarkan mereka tenang, meski kebiasaan mereka menyapa duluan,

“How are you, Miss?”

“Persib menang, Miss!”

“Barca kalah, hidup Intermilan!”

Tak berlangsung lama aku meladeni seruan-seruan itu. Aku pun segera mengucapkan salam dan menyapa mereka. Sebelum masuk materi, mereka ada yang bertanya,

“Kalau Miss kapan ujian PPL-nya? Tadi Biologi mah udah?!”

“Belum tahu. Masih bingung mau pilih kelas mana?” kataku jujur.

Memilih antara kelas X5 dan X6 adalah suatu hal yang salah dan tak gampang kulakukan. Jika perlu, ujian PPL di kedua kelas itupun tak apa. Bagaimana lagi, aku mesti memutuskan salahsatu dan ‘merelakan’ yang satu lagi.

“Di sini aja ujiannya, Miss?!”

“Nanti Teteh pikir-pikir dulu.”

Aku melangkah mendekati mereka, “Ada PR, kan?”

Tanggapan mereka serupa dengan anak-anak kelas AKSEL. Ada yang celingukan, menampakkan wajah polos, manja, tersipu-sipu, pura-pura lupa dan gak tahu serta berbagai ekspresi lainnya;

“PR yang mana, Miss?”

“Belum, Miss?”

“Sunnah kan, Miss?”

“Ih, PR?”

“I don’t know about the homework, Miss!”

“Karena gak ngerti, gak dikerjain deh!”

“Udah dong, Miss!” Eliani dan Mikaela mengacungkan buku paketnya.

Kekecewaanku mendapati tak ada yang mengerjakan PR terobati sudah. Kelas ini memang lebih parah, di mana mayoritas tidak mengerjakannya. Yah… mungkin karena hukumnya itu; s u n a h. Aku pun beranjak menuju Eli dan Mikel. Kusaksikan buku paket mereka memang telah terisi. Ada rasa bangga dan haru menyelelimuti hatiku.

“Kenapa sunnah? Pertama, waktu itu lagi musim ujian. Teteh gak mau PR Bahasa Inggris jadi alasan otak dan hatimu bête. Kedua, Teteh mau kamu ngerjain PR-nya dengan hati. Kalau kita melibatkan hati, insya Allah bawaanya senang dan ringan.”

Mereka mengangguk-angguk. Sekilas aku mendengar, “Ih pengertian…”

Aku melanjutkan, “Berarti… Eli dan Mikel udah mulai tumbuh rasa cinta terhadap Bahasa Inggris.”

“Uuu…”

“Cinta kok, Miss?!”

“Tahu gitu mah, aku teh kerjain aja PR-nya!?”

Aku tersenyum geli menyaksikan polah lucu mereka. Selanjutnya aku mengeluarkan kata lagi. Kata-kata itu membuat kelas begitu sepi,

“Yang tidak mengerjakan PR-nya…”

Mereka menunggu.

“Tidak apa-apa.”

Terdengar hembusan lega dari mereka. Kecuali Eli dan Mikel, mereka menimpali, “Yaaah…”

“Selain Eli dan Mikel, berarti kamu belum melibatkan hati ketika mengerjakan everything about English. Gak apa-apa. Jatuh cinta sama Bahasa Inggrisnya pelan-pelan aja. Walau sebetulnya istilah-istilah bahasa tersebut telah sangat akrab di telinga dan pergaulan kita. Kayak follow, kantin, update, kepo, sandal, corner kick, score, dst.”

Sebagian dari mereka menambahkan banyak kata. Tak lupa, seperti ke AKSEL, aku pun menghimbau mereka untuk berhati-hati mencerna lirik lagu barat. Tidak semuanya mesti kita terima dan tidak semuanya juga mesti kita buang. Di kelas ini juga, ada beberapa yang menyebutkan penyanyi serta judul lagu yang ‘berbahaya’ itu. Syukurlah jika mareka telah lebih tahu. Selanjutnya terdengar olehku obrolan yang cukup nyaring,

“Eh ada kan nyanyian yang ‘easy come easy go’. Enak ih lagunya…”

“Oh lagu grenade, ya?”

“Apaan artinya?”

“Granat.”

Dalam hati aku tersenyum. Rupanya mereka tengah membicarakan Grenade-nya Bruno Mars. Hehe… Aku jadi teringat lagu hit-nya bertajuk ‘Locked out of Heaven’ dinyanyikan seorang kontestan X-Factor bernama Alex. Ketika menontonnya, aku sempat bertanya-tanya mengenai bagian liriknya yang menurutku sedikit jorok. Ternyata kontestan tersebut mengganti kata tersebut. Terdengar lebih indah. Syukurlah. Heu…

Kemudian, aku pun mengadakan remedial test. 5 soal essay saja. Seputar membuat dialog ‘expressing complimenting, thanking and responding to thanks’, mengisi kalimat kosong dengan kata kerja yang sesuai (past perfect tense), membuat ‘announcement’, membuat kalimat menggunakan ‘introductory it’ dan membuat ‘note’ singkat dengan situasi yang kutawarkan.

Kuperlakukan Gensixten serupa dengan AKSEL. Walau demikian, kelas ini sangat panas dan pengap. Beruntunglah anak laki-lakinya selalu sigap menyalakan kipas. Sesekali kudekati kipas tersebut untuk sedikit mendinginkan keringat dan hawa panas. Aku jadi teringat hawa sewaktu KKN. Heuheu…

Kebanggaanku pada anak-anak AKSEL berlaku juga untuk anak Gensixten. Mereka membuat kalimat, catatan dan pengumuman dengan kata-katanya sendiri. Jujur saja, hal itu lebih membuatku senang ketimbang menyaksikan nilai super besar kepada mereka dari hasil ‘copy paste’. Hanya saja, kondisi kelas yang tersekat-sekat membuatku kelelahan untuk menjangkau semuanya.

Di sela-sela Tanya-jawab antara mereka dan aku, sengaja aku ‘mengerjai’ mereka yang mengajukan jawaban ‘ini benar atau salah, Miss?’. Sebisa mungkin aku mencari-cari kesalahan mereka agar mereka berusaha untuk menampilkan jawaban yang kuinginkan. Sampai-sampai ada yang entah berapa belas kali bolak-balik mengkonsultasikan jawabannya padaku. Bukan apa-apa, hal itu akan mendongkrak nilai mereka sendiri, kan?

Niat baikku itu tercium oleh murid laki-laki. Kata mereka,

“Jangan dulu dikumpulin sebelum dianggap benar mah, Bro!”

Perlahan namun pasti, mereka pun mengumpulkan hasil kerjanya. Di sela-sela membereskan jawaban itu, ada yang bertanya lagi,

“Emang ini pertemuan terakhir, Miss?”

“Iya,” Aku menjawab sekena-nya.

“Hah??? belum berpotooo!”

“Miss bohong!!!” timpal teman-temannya.

“Hehehe, iya nggak, kok. Kalian boleh pulang,” kataku lagi.

Tak lama, tangan-tangan muda itu menyalami dan berpamitan pulang. Di sela-sela kondisi tak kondusif itu, Fio dan Jennita AKSEL menghampiriku,

“ESA kan, Miss?”

“Iya. Teteh mah izin.”

“Ih?! Tadi Fio udah bilang ke Pak Tatang. Katanya ‘yaudah sok aja kumpulin dulu anak-anaknya’, gitu.”

Aku terdiam. Sementara anak-anak Gensixten lain masih lalu-lalang menyalami dan bertanya ‘cukup aneh’ padaku,

“Gak ada PR nih, Miss?”

“Nggak, ah.”

“Yah….”

“Besok ikut acara kelas atuh, Miss?!”

“Di mana?”

“Di Kasturi-Cikijing.”

“Acara pa?”

“Acara kelas gitu deh, Miss!”

Belum juga kujawab, aku segera menyadari keberadaan Fiona dan Jennita. Mereka pun masih menunggu jawabanku.

“Kalau Miss gak dateng, kita juga gak bakal masuk!” ‘ancam’ Nia dan Siska Gensixten.

“Teteh gak bisa, ah,” jawabku lagi sambil sms ke Tatang dan Uus. Uus menjawab dia masih ada perlu. sedang Tatang ada di saung sosro.

“Teteh mau ke saung sosro dulu.”

“Saung Sosro?”

“Gazebo,” ralatku.

“Oh yaudah, Fio koordinir dulu anak-anaknya. Nanti kalo udah siap, Fio nyamper yah, Miss?”

Setibanya di sana, aku tak tahan bicara pada Tatang,

“Kok aku gak diajak diskusi mau masuk ESA? Aku gak bakal masuk, ah!”

“Eh saya juga gak tahu. Dikira kamu dan Uus yang merencanakan semua ini?!”

Hum, u u s! -_-

“Yang lain, mana?”

“Udah pulang. Uus-nya juga masih ada perlu.”

“Ya udah deh nanti aja!”

Belum juga beranjak, Fio dan Jennita terlihat berjalan menuju kami. Jilbab dan rambut mereka dimain-mainkan angin.

“Hayuk, Miss! Anak-anak udah siap?! Hehehe…”

Aku dan Tatang saling pandang.

“Gak jadi ah, Fio. Ini terlalu mendadak. Gak mau,” timpalku tanpa perasaan.

“Gimana, ya?” tanya Tatang pada daun yang bergoyang.

“Yaaah… Miss…” mereka menunjukkan wajah kecewa.

“Gak jadi deh kejutannya! Eh, keceplosan!” seru Jennita, lalu buru-buru membekap mulutnya. Sementara Fio melotot gemes terhadap teman sekelasnya itu.

Aku mengerutkan alis, kugumamkan sesuatu dalam hati, “Benarkah?”

Sayang, rasa egois dan kekecewaanku tetap tak kalah. Yah, misunderstanding atau miscommunication kadang jadi hal paling menyebalkan. Terlebih orang yang bersangkutan tak datang. Heu… Dan yang terutama, kurang afdhol rasanya jika melakukan perpisahan tanpa personel PBI yang lengkap. Akhirnya aku mau tak mau memberi keputusan berat itu. Syukurlah, mereka nampak sangat paham walau memahatkan raut kekecewaan.

Phew! Energiku memang selalu terkuras ketika masuk kelas. Kebetulan Wulan menungguku pulang. Maka begitu aku sampai rumah, aku tak buru-buru ganti pakaian. Sambil menunggu Wulan, aku memeriksa hasil remedial adik-adik angkatku. Alhamdulillaah… Nilai mereka paling kecil adalah 75. Sedang yang terbesar ada yang mencapai 100 (2 orang dari kelas AKSEL). Sementara dari Gensixten paling besar itu bernilai 95 sebanyak 3 orang.

Selain nilai yang merangkak, aku pun telah sangat puas dengan kejujuran yang mereka perlihatkan. Well done, Dear! [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *