Cerita PPL; The Twelfth Meeting in X.5

Cerita PPL; The Twelfth Meeting

~Episode Remedial Di Kelas X.5~

PPL_Remedial di X5

Kamis, 28 Februari 2013.

Akhir-akhir ini aku diliputi dilemma… Adakah yang membingungkan selain memilih sesuatu yang penting dalam waktu genting?

Hari ini merupakan pertemuanku yang ke-12 dengan sekolah mitra, SMAN 1 Kadugede. Semestinya sih pertemuan ke 12-ku itu kemarin Senin (25 Februari 2013), namun karena TO, maka sekolah diliburkan. Pergi ke sekolah, aku jadi teringat untuk memilih antara X5 dan X6 untuk dijadikan tempat ujian PPL-ku. Phew!

Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, kali ini aku bisa berangkat ke sekolah lebih awal. Dalam perjalanan, aku baru membalas sms adik-adik angkatku kemarin sore. Aku kira sekarang libur, jadinya aku belum memberi kepastian mengenai hal-hal yang mereka tanyakan (khususnya tentang remedial).

Aku pun sampai ke muka sekolah, 30 menit sebelum masuk kelas. Tujuan utamaku adalah meng-print kisi-kisi soal dan soal remedial yang mendadak kubuat. 5 soal essay saja. Seputar membuat dialog ‘expressing complimenting, thanking and responding to thanks’, mengisi kalimat kosong dengan kata kerja yang sesuai (past perfect tense), membuat ‘announcement’, membuat kalimat menggunakan ‘introductory it’ dan membuat ‘note’ singkat dengan situasi yang kutawarkan.

Aku buru-buru ke tempat print langgananku. Di sana telah ada anak sekolah dengan maksud yang sama. Beruntung, mereka hanya meng-print beberapa lembar saja. Giliranku pun tak berlangsung lama. Selesai meng-print, aku bergegas menuju tempat fotokopian, hendak menggandakan soal remedial. Namunlagi-lagi, di sana telah ada beberapa anak sekolah mitra. Lebih banyak. Beberapa diantara mereka menyalamiku. Aku duga mereka adalah anak kelas X.

“Kelas berapa, Neng?”

“Kelas X, Bu.”

“X apa?”

“X9.”

“Sama Bu Anih dong ya Bahasa Inggrisnya?”

“Iya, Bu.”

“Udah ulangan? Gimana, gampang?”

“Udah, Bu. Iiih… susaaah!” mereka bergidik.

Mendengar jawaban mereka, aku cekikikan. Soal ulangan harian kelas X memang aku yang buat. Jadinya aku hanya menyesuaikan materi dengan apa yang aku sampaikan di kelasku saja (X5 dan X6), tanpa tahu pencapaian di kelas lain. Kata Teh Anih sih, kelasnya tertinggal. Heu… Merekapun sadar setelah ,elihat kertas yang tengah aku gulung-gulung,

“Eh, ini ya soalnya, Bu? Iya nih ada nama ininya…” seru mereka sambil menyebutkan beberapa nama yang kusisipkan dalam soal. Nama-nama tersebut tak lain adalah nama siswa/i AKSEL dan GENSIXTEN.

Berkali-kali kulirik jam tangan, memastikan kalau aku belum kebablasan. Sambil mengobrol dengan mereka, aku berusaha sabar menunggu giliran untuk mempotokopi. Sayang, waktu makin menuding angka setengah 9. AKu sudahi saja penantianku.

“Teteh duluan ya, Neng?”

Mereka tersenyum, mengangguk dan merespon, “Mangga, Bu.”

Sesampainya di sekolah, aku disambut kumpulan rekan PPL dan guru-guru. Segera saja kusalami mereka, mengobrol dan bertanya ini-itu kepada rekan PPL dari prodi Biologi yang kebetulan telah selesai ujian PPL.

“Ngajar di mana, Iyang?” Tanya Ninis.

“Di X5, Nis,” jawabku.

“Oh ya? Ninis mau pake kelas itu buat ujian PPL. Kelas yang dipegang Ina. Kebetulan jadwal Ninis gak ada yang cocok, jadinya ‘pinjem’ kelas orang. Gimana anak-anaknya di sana, Iyang?”

“O, gitu? Tenang aja, Kelas yang aku pegang, baik X5 dan X6, bisa dikendalikan. Mereka baik, cukup takdzim, aktif, penuh perhatian, seru, gokil, energik, gitu deh! Khusus kelas X5, mereka itu seperti diam… namun sangat kritis. Tapi aktif kok kalo kita membuka sarana diskusi mah…” tuturku.

“Kasih info aja sama mereka, yah? Udah dikasih tahu, sih. Tapi kasih tahu aja lagi, yah?”

“Sip. Insya Allah nanti aku minta partisipasi mereka,” jawabku. Dalam hati, aku berniat akan memohon partisipasi AKSEL. Aku amat yakin, mereka bisa bersikap sangat baik walau dengan praktikan PPL asing.

Di kantor, aku mengobrol-ngobrol juga dengan guru-guru. Dengan guru pamongku (Bu Hj.Iin), Bu Nyai (wali kelasku semasa kelas XII), dan Pak Suherlan (guru Kimia) seputar hari libur (hadeuuuh), soal-soal ujian dan standarisasinya. Tak lama aku nyeletuk,

“Eh udah masuk belum sih?”

“Eh, udaaah…” jawab guru-guru, hampir kompak.

Pantesan… Ina yang biasanya jalan bareng, telah tiada di tempat kerumunan praktikan PPL. Aku pun bergegas ke kelas AKSEL. Di perjalanan, aku sempat ngobrol dengan anak praktikan Biologi dan dia ‘curhat colongan’ seputar ujian PPL-nya yang full 2 jam. Meski ikut deg-degan, dalam hati aku menenangkan diri.

Sesampainya di kelas AKSEL, aku menyapa mereka. Sambutan berupa senyum membuatku semangat. Dalam hati aku merasa geli, teringat sebuah mimpi tentang kelas ini. Suatu malam aku bermimpi ujian PPL di sebuah kelas, yang kuyakin ruangannya adalah kelas X5. Di kelas tersebut, murid-murid perempuannya sangat nakal dan membuat emosiku menggelegak. Dalam mimpi tersebut, aku marah-marah dan berkata lantang di depan kelas, disaksikan guru pamong dan dosen pembimbing:

“Ini pertemuan paling buruuuk!!!”

Lupakan mimpi, toh kenyataannya sangat terbalik! Kelas X5 tidaklah seperti itu. Tidak samasekali. Aku pun menanyakan kabar dan siswa yang tak hadir.

“3-1, Miss!” ada yang nyeletuk. Beberapa detik kemudian, aku ‘ngeh’ maksudnya.

“4-1 buat Persib lawan PSPS!” jawabku, mengalihkan.

“Barca… Barca…”

“Jangan bicarain El-Classico dulu, ah!” kataku yang disongsong tawa dari mereka.

Ya, hasil duel lawan bebuyutan di ‘Camp Nou’ memang cukup mengagetkan. Real Madrid memboyong 3 goal, sedang Barcelona hanya diberi 1 goal saja. Sampai-sampai menurut berita online, Lionel Messi-nya demam… Eh, malah kepanjangan -_-

Tak lupa, aku menyampaikan amanat Ninis. Sebelum masuk kelas, aku memang sangat memprioritaskan pengumuman dari Ninis itu.

“Ujian PPL teh gimana, Miss? Kita dikasih soal apa gimana?” tanya Khaerul Anwar.

“Bukan. Bu Ninis mau mengajar biasa, tapi pake kelas ini. Bedanya, beliau bakal diawasi sekaligus dievaluasi sama guru pamong dan dosen pembimbingnya. Mohon dibantu, yah?”

“Dibantu, yah? Prok… prok…” celetuk diantara mereka. Tawa pun tersembul lagi.

“Membantunya kayak gimana, Miss?” tanya yang lain.

“Hum… ya kalian perhatikan materinya sewaktu beliau mengajar, aktif kalau ada diskusi, jangan ribut, pokoknya dukung pembelajaran beliau.”

Selanjutnya tanyaku, “Ada PR, kan? Udah mengerjakan, dong?”

Mereka celingukan. Ada yang berwajah polos, manja, tersipu-sipu, pura-pura lupa dan gak tahu serta berbagai ekspresi lainnya,

“PR yang mana, Miss?”

“Hah, PR?”

“Belum, Miss!”

“Susah. Gak paham, Miss!”

“O, yang sunnah itu kan, Miss?”

“Udah dong, Miss!”

Jawaban yang terakhir itu membuat hatiku lega. Memang hukum PR-nya sunnah, namun ternyata ada yang ‘bersedia’ mengerjakannya. Aku menghampiri mereka yang sudah mengerjakan, memang mereka telah mengisi soal ‘fill in the blank’-nya, walau ada yang masih bolong. itu sudah lebih dari cukup.

“Kenapa sunnah? Pertama, waktu itu lagi musim ujian. Teteh gak mau PR Bahasa Inggris jadi alasan otak dan hatimu bête. Kedua, Teteh mau kamu ngerjain PR-nya dengan hati. Kalau kita melibatkan hati, insya Allah bawaanya senang dan ringan.”

Mereka senyum-senyum. Entahlah…

“Kalian cinta sama Bahasa Inggris gak, sih?”

Ada yang hanya tersenyum, melongo, ‘speechless’, lirik kanan-kiri, ada juga yang langsung berseru,

“Kalau sama Miss mah suka.”

“Betul… betul…” timpal yang lain.

“Halah, gombal jaya abadi!” jawabku yang disambut cekikikan oleh mereka, ada juga yang reflex berkata ‘beneran, kok!’

“Teteh pengin kamu cinta sama Bahasa Inggris. Tapi jatuh cintanya pelan-pelan, kok. Jangan sekaligus. Hehe… Bagaimanapun Bahasa Inggris itu penting. Boro-boro nanti, sekarang aja kita udah banyak menggunakan istilah-istilah bahasa tersebut. Sadar atau enggak. Kayak kata ng-like, share, bête, upload, neon, kantin, mixer, dst.”

Mereka mengangguk-angguk, memperhatikan apa yang aku ucapkan. Aku tergelitik untuk melanjutkan,

“Bisa kok pelan-pelan kenal Bahasa Inggris lewat hal yang menyenangkan, kayak lagu. Tapi hati-hati aja, lirik-lirik lagu barat perlu diwaspadai. Pilih-pilih, gitu. Pengin yang joyful sekaligus peaceful mah boleh Maher Zein aja, misalnya.”

Selanjutnya aku mengadakan remedial. Setelah diskusi singkat, mereka mengusulkan,

“Miss… yang diremed di sebelah kanan, yang enggaknya di sebelah kiri?”

Semua setuju. Aku yang memang tidak sempat menggandakan soal, terpaksa menulis di ‘white board’. Sementara itu mereka dengan sigap tukar posisi. Usai menulis ke-5 soal, akupun memerintahkan kepada yang tidak diremed untuk mengerjakan tugas dalam buku paket. Jadilah semuanya khusyuk dalam perkerjaan masing-masing.

Meski sangat percaya dengan mereka, aku tetap berkeliling untuk memastikan mereka paham maksud soal dan mengisinya dengan benar. Aku juga mengelilingi mereka yang tidak diremed, kalau-kalau ada hal yang mereka belum pahami. Terlebih lagi materinya memang baru. Benar saja, mereka bertanya ini-itu.

Sebelumnya aku berniat hendak ‘melarang’ keberadaan kamus. Namun begitu mendengar dan melihat permohonan mereka, bawaannya tak tega. Akupun memperbolehkan adanya kamus. Hanya saja,

“Don’t open your handbook and internet. Don’t copy anything!”

Aku berusaha mengelilingi bangku per-bangkunya. Dari mulai kaum adam yang dipimpin Rezza-Agung sampai barisan perempuan. Aku lebih mencodongkan perhatianku pada mereka yang kena remedial. Sesekali kubetulkan struktur kalimatnya, membantu menerjemahkan kata sesuai konteksnya, menerangkan maksud soalnya, dsb.

Alangkah senangnya hatiku melihat kemajuan mereka. Ide-ide alami mereka keluar. Walau polos, namun itulah incaranku; kejujuran, tanpa plagiarism. Utamanya lagi kaum adam. Mereka mengalami peningkatan sangat signifikan. Lebih serius, lebih mengeksplor ide origional dan berhati-hati. Tak jarang mereka menanyakan banyak hal sebelum menuliskannya secara permanen dalam ‘answer sheet’-nya. Aku begitu senang atas keterbukaan mereka.
2
Sementara mereka yang tidak kena remedial, sama-sama bingung. Maklum, materi baru tersebut belum banyak kuulas. Beberapa diantaranya mencoba menjawab, walau masih kurang memuaskan maksud soal. Dengan hati-hati dan ekstra sabar, aku mencoba sedikit menjelaskan. Sangat terbatas. Ah, melihat mereka tidak membuat kegaduhan pun aku sudah cukup senang!

Di sela-sela belajar kami, ada anak-anak OSIS masuk. Mereka mengumumkan acara ulang tahun SMAN 1 Kadugede. Seputar perlombaan, agenda, penerimaan pendaftaran lomba, dsb. Waktu pelaksanaannya membuatku menenggak ludah kuat-kuat; 31 Maret-02 April 2013. Oh…

Perlahan, satu per satu mulai mengumpulkan hasil kerjanya. Bedanya, kali ini aku memeriksa dahulu sebelum mereka benar-benar yakin mengumpulkannya. Seketika itu aku mengoreksi dan meminta mereka membenarkannya kembali. Ada yang belum, tetap kutunggu sambil duduk di kursi guru. Lama-lama mereka telah mengumpulkannya semua. Ketika membereskan itu,

“Istirahat kan, Miss?”

“Iya… Iya… Silakan.”

Tak lama Fiona menghampiriku. Aku yang hendak keluar, kembali duduk di bangku guru. Dia mengobrolkan ekskul kami, ESA, atau English Student Association.

“Miss… Kalo udah gak PPL di sini, tetap isi ESA dong? Pembina kami selalu sibuk?”

“Nggak, ah. Kalian belajar bersama aja, walau tanpa guru.”

“Iya sih, tapi susah. Apalagi senior kami cuma beberapa orang, mereka juga jarang dateng.”

“Nah, sama senior juga bisa.”

Anak berjilbab itu lagi-lagi mengeluh. Istilahnya kami saling menguatkan pendapat dan alasan. Sampai kemudian, dia mengkonfirmasi suatu hal yang membuatku mengernyitkan dahi. Ada perasaan kaget sekaligus kecewa,

“Sekarang perpisahan ESA kan, Miss?”

“Kata siapa?”

“Mr. Uus.”

Bukan karena ‘perpisahan’-nya, namun karena aku tidak tahu berita tentang hal itu. Memang rekanku, Uus, sempat berdiskusi denganku untuk mengadakan perpisahan ESA. Tetapi aku belum memutuskan waktunya. Dan, aku cukup kaget dengan ‘keputusan sepihak’ ini. Jelas jawabku,

“Oh ya udah atuh. Silakan… Tapi teteh mah gak bisa, ah!”

“Lho? Harus datang atuh, Miss?! Anak-anak gak bakal dateng kalo gitu mah,” Dia mulai melancarkan ‘gombal jaya’ lagi.

Aku sendiri merenung dan tak buru-buru menjawab dengan pasti, selain ‘ya udah gimana nanti.’

Lalu entah bagaimana awalnya, kami mengobrolkan blog. Fio juga rupanya memiliki blog, walau jarang di-update. Isinya seputar kumpulan tugas sekolahnya, cerpen dan catatan harian. Senang hatiku bisa bercengkrama dengan adik berhobi sama; menulis. Aku mendorongnya untuk tetap konsisten menulis. Dia juga menceritakan pengalamannya mengikuti lomba cipta cerpen, membuat cerpen sebanyak 10 halaman dalam semalam, dikoreksi gurunya, dsb.

Tak terasa, tiba-tiba Ninis masuk. O, rupanya tiba bagi Ninis untuk ujian PPL. Aku pun segera beranjak keluar. Tak lupa aku katakan lagi kepada seluruh anak-anak AKSEL untuk berperan dan mendukung ujian PPL-nya Ninis.

Aku keluar. Telah ada Ina di sana. Rupanya dia baru selesai ujian PPL di kelas X6. Katanya,

“Anak-anak lagi ngumpul di ruang OSIS. Gimana?”

“Udeh…” aku mengajaknya duduk dan mengobrol di pelataran kelas X5 dan X7.

Rupanya dia juga setuju. Jujur, aku memang tengah malas berdiskusi tentang hal menyangkut PPL. Mungkin karena capek juga (alasan -_-). Jadinya aku memilih ‘curhat’ dengan Ina. Tentang banyak hal. Heuheu…

Kami juga mengobrol dengan Bu Eri, ke kantin, bercanda dengan ibu kantin, ‘menggoda’ anak-anak cowok kelas XI yang tengah berada di kantin, makan dan mengobrolkan hal-hal menarik ‘seputar wanita’ dengan rekan praktikan dari Bahasa Indonesia. Ketika makan itu, dengan teganya rekan dari Bahasa Indonesiaku nyeletuk,

“Ingin sih punya anak teh, tapi gimana ngurus **k-nya, yah? Aku mah masih jijik…”

Dengan segera aku menyeruput teh manis dinginku, kurespon pertanyaannya, “Dari belajar ngurus keponakan dulu.”

Aku segera bangkit menuju Ibu kantin dan membayar makananku. Tak mau berdiam lama-lama, aku dan Ina menyudahi makan lalu menuju tempat Teh Itha. Kebetulan dari tadi dia meng-sms-ku dan Ina untuk segera menemaninya. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *