CERPEN; Gembala Gombal & Ajeng Too Tweet

CERPEN;  Gembala Gombal & Ajeng Too Tweet

cerpen gembala gombal dan ajeng too tweet

Peringatan: Ini adalah cerpen lebay aku yang ‘terpaksa’ di-publish, cuz sayang juga kalau cuma ngringkuk di FD. hehehe… Maaf kalau rada-rada jayus, too crrepy, krispi kek atau bahkan, asemmm..!

***

Dalam sebuah kamar bernuansa pink dengan selimut biru dan seprei merah masih berantakan, seorang gadis berusia sekitar 15 tahun menggerutu melihat hand phone yang tentu tanpa dosa tersebut. Sementara poster Lionel Messi yang sedang tersenyum dianggapnya seolah mengejek. Begitulah si gadis yang bernama Ajeng menerjemahkan, “Barca menang di tengah tangisanku, Yayang Messi,” ucapnya sambil mendelik lesu.

 

“Oh,” Ia memegang matanya yang membengkak karena sembab, “Gara-gara kamu, Mr. Gombal!” dengusnya mengingat apa yang harus ia terima semalam, ketika ia membuka fesbuk lewat HP sambil menonton laga El Classico*.

Rela tak rela, Ajeng harus tercengang! Layar HP-nya memberitahu status terkini mengenai akun fesbuk yang telah melambungkan hatinya: Gembala Gombal. Karena akun itu pula Ajeng menjadi pecandu laga Barcelona, dimana Messi yang begitu rupawan dapat ia lihat. Dan karena status terbarunya itulah, niat untuk membuka obrolan maya dengan topik El Classico pun urung.

Dini hari tadi akun tersebut telah membanting perasaan Ajeng. Gadis remaja itu menyadari pipinya mendidihkan emosi. Ia tak terpengaruh oleh riuhnya penonton di dalam televisi begitu Messi mencetak gol. Juga oleh postingan teman-teman maya lain di grup Remaja Pecinta Barca. Padahal semua itu menggiurkan untuk dikomentari. Tapi yang ia lakukan malah sesenggukan dalam sebal- Status hubungan Gembala Gombal menjadi pacaran! Meski tak menyebutkan dengan siapa ia berpacaran, tetap saja status hubungan itu cukup menyengat nuraninya.

“Pantesan!” lagi-lagi ia melirik layar HP yang padam. Memang seminggu ini ia menjadi pendiam, tanpa message alert tone yang rutin berdengung tiap pagi, “Rupanya rayuan dusta!” Ajeng mencengkram Hp-nya sebal. Meski kegalauan akan hilangnya Sang Gembala Gombal telah terjawab, tapi tetap saja ada yang hilang dari pagi-pagi biasanya.

“Selamat malam, Neng!” begitu isi SMS dari Gembala Gombal suatu pagi. Ajeng akan membalas dengan girang dan berpura-pura bodoh, “Lho kok malem, Aa? Kan sekarang teh udah pagi ?”.

Tak lama Hp-nya memberi jawaban, “Iya ta? Habis Aa ngerasa masih mimpi bisa kenal dan SMSan sama Neng!”. Deu… seketika pipi Ajeng merona menyaingi langit timur yang kemerahan. Ia tersenyum tersipu, speecless.

Bahkan SMSan yang dimulai dari chattingan cukup lama itu, akan berlanjut. Seperti pada suatu pagi yang lain, Si Gembala Gombal mengirim rayuan panasnya, “Neng, udah sarapan apa belum?”

Ajeng menjawab antusias, mengharapkan gombalan khasnya, “Belum, A.”

“Sama atuh! Tapi, Aa mah udah gak butuh sarapan tuh! Hehe…”

“Lho, kenapa emang?” balas Ajeng cepat, menyiapkan hati yang menurut dugaannya akan segera mengapung. Ada jeda sekitar lima menit, lalu Hp-nya berbunyi,

“SMS-an dengan Neng saja udah cukup membuat Aa bertenaga!”. Benar saja, Ajeng mengawang mengikuti kepak sayap burung, ikut berdendang dengan mereka yang sama-sama girang. Dan, ketika ia tak sanggup me-reply, Hpnya akan bising lagi. Masih dengan antusias yang membara, Ajeng akan menanggapi SMS tersebut,

“Neng, belum berangkat sekolah kan? Jangan dulu deh… Nanti agak siangan dikit, ya…?!”

Ajeng melebarkan senyum, detak jantungnya tak karuan menerima pertanyaan yang ujung-ujungnya pasti akan menyenangkan, “Hah??? Emang kenapa, Aa?”

“Gak. Aa teh takut sinar fajar bakal ngelabrak Neng…”

Senyum Ajeng semakin genit penuh respon, “Ngelabrak? Kenapa gitu?”

“Iya! Karena Neng udah mendahuluinya menyinari jagat raya ini. Khususnya menyinari hati Aa nih! Hehehe…”.

Puh! Puh! Puh! Berkali-kali Ajeng tak lolos dari sesak dada yang mengasyikkan, tentunya. Langkahnya menuju sekolah terasa ringan begitu ia keluar. Persis seperti helaian kertas yang gontai dilimbungkan angin. Rambutnya tergerai-gerai dikipasi alam yang ikut senang. Rok abunya menjuntai pasrah seiring gerak Ajeng yang semakin semangat.

Semua gombalan Gembala Gombal masih terputar jelas dalam pikiran. Ia tak peduli nama aslinya. Panggilannya “Aa” karena akun tersebut berasal dari provinsi yang sama. Dia dari Kondangan Jaya, Karawang dan si Gembala Gombal dari Kolongsari, Tasikmalaya. Berkali-kali mereka hendak ketemuan, namun ada saja alasan Si Aa untuk memenggalnya. Belum ada momen yang romantis, ia bilang.

Dan pagi itu, Ajeng merasa dirinya harus segera dibaringkan pada sebuah tandu, sebab tiadanya gombalan si Aa telah mencederai hatinya.
***
Di sekolah, seperti biasa, suasana begitu gaduh jika guru mata pelajaran tidak masuk. Ajeng dan teman-temannya mencontoh warna pelangi untuk mengisi waktu luang. Ada yang ke kantin, mengobrol, kejar-kejaran, mencoret-coret kertas atau memijit-mijit HP, seperti yang Ajeng pilih.

“Nah,” matanya membelalak melihat sebuah grup bernama Romantic Pink. Mirip nama minyak wangi sih, kebetulan adminnya merupakan sepasang kekasih. Cowoknya hobi memposting gombalan yang menghipnotis, sedangkan si cewek yang juga penyuka pink lebih sering memposting puisi-puisi romantis. Di sana pula Ajeng dan Gembala Gombal saling berjabat maya dan menautkan harapan. Grup itu ibarat mouse komputer, sebab di sanalah Ajeng dan Gembala Gombal merasa klik!

“Pokoknya… Aku teh… harus…” Ajeng memotong-motong kalimat amarahnya sambil mengklik info grup dan menggeserkan tombol ke bawah, “Keluar!” dengan mantap ia memijit option keluar untuk pertanyaan, “Yakin anda ingin keluar dari grup Romantic Pink?”. Entah, postingan kata manis itu tiba-tiba berubah seperti penyakit maag, bikin perih!

“Dasar penggembala gombal!” sungutnya mengempaskan napas berat, “Lebay! Semuanya dusta belaka!”

Ia menelusuri grup lain yang juga semakin menghangatkan hubungannya dengan Gembala Gombal; Remaja Pecinta Barca. Namun ia begitu ragu untuk menyatakan keluar dari grup tersebut, toh di sana banyak teman-teman fesbuk yang ia anggap kakak. Lagipula tak ada postingan kata-kata gombal, selain ditujukan untuk klub sepak bola Barcelona.

Apalagi ia pun mulai menyenangi paras pemain-pemainnya, terutama Lionel Messi dan Cesc Fabregas. Ia memutuskan bertahan menjadi anggota, meski pengetahuannya tentang admin grup tak sebaik Romantic Pink. Sepertinya grup fans klub sepakbola tersebut diatur secara berjamaah dan cukup kompak. Hanya itu yang ia tahu dan yakini.

“Sepi…” gumamnya melihat keterangan waktu postingan-postingan yang ada. Oh, mungkin para admin dan anggota-anggota yang lain tengah belajar, ia pikir. Padahal Ajeng begitu mengharapkan ocehan-ocehan mereka, setidaknya mengalihkan perasaannya yang seperti biskuit digigit, patah terbelah dengan mudah. Walau sebetulnya yang sering menanggapi kiriman Ajeng itu Gembala Gombal sendiri.

Pernah suatu kali Ajeng mengirim postingan tentang kegantengan Messi, tiba-tiba datang Gembala Gombal, yang memang selalu menjadi komentator pertama. Dia bilang, “Eh Si Neng… Kok akhir-akhir ini jadi mirip pluit wasit sepak bola sih? Hehehe…”

Ajeng menghilangkan kebiasaannya mengernyitkan dahi, sebab itu bukan lagi pertama kalinya lagi ia dirayu, “Ah masa, Aa? Emang kenapa?”

“Gak nyadar ya, Neng? Karena Aa itu bisa patuh sama Neng… kayak pemain bola yang patuh sama suara pluit wasit itu loh! Hehehe…”

“Ah… Aa kayak titisan Engkong Google aja!” Tiba-tiba ide tersebut menyeruak dan itu membuatnya tertawa geli. Mungkin Gembala Gombal sedang berpikir sehingga baru menit ke sepuluh dia mengomentari lagi, “Kok Google, Neng?”

Ajeng cekikikan sambil mengetik jawabannya, “Iya, soalnya Aa itu tahu semua tentangku dan paham apa yang aku mau! Haha…”.

Kemudian Gembala Gombal menanggapinya dengan pertanyaan lagi, “Ah bisa aja Si Neng… Pasti punya banyak blush on, yah? Hehehe…”. Gadis itu kehilangan akal untuk menerka maksudnya, Ia pun menyerah, “Kok tahu?”

“Ya iyalah! soalnya Neng udah bikin pipi Aa merah karena malu dan seneng… bangettt!”.

Dug! Gerak nadi Ajeng tak beraturan. Ia tiba-tiba merasa begitu senang dan tersenyum lagi, lebih mekar, tapi tidak meresponnya dan hanya membubuhkan simbol like. Ia baru menyadari kalau setiap postingannya selalu digombalin Gembala Gombal, sedang akun-akun yang lain sebatas menengahi atau menulis, “Ciee… Ciee…”, “Prikitiw!”, “Gembala Gombal loves Ajeng Too Tweet”, dan semacamnya. Mereka menyangka dia dan Gembala Gombal pacaran mungkin, Ajeng menyimpulkan.

Namun hari itu Ajeng berjanji tidak akan memulai interaksi dengan akun yang seperti supir tabrak lari tersebut. Bila kuat, ia pun takkan merespon gombalan melenakannya itu. Lalu setelah tercenung agak lama, Ajeng mengklik wall, dan mengetik apa yang tengah berlayar dalam samudera kepalanya. Diam-diam ia mengharapkan ada yang tersindir,

Telah terjadi rayuan maut di sekitar hati Ajeng Too Tweet. Kejadian tersebut telah merenggut perasaannya secara beruntun. Dan, perlu lima belas batang coklat untuk mengganti rugi sakit hatinya!

Klik! Ajeng men-cap jempol postingan yang berisi situasi hatinya sendiri. Ia harap kakak-kakaknya di grup yang cukup “macho” tersebut menanggapinya, meski ia sendiri ragu. Ia lalu memutuskan sign out begitu bel pergantian jam pelajaran terdengar seperti auman. Tak lama teman-temannya masuk dengan gusar. Di belakang mereka nampak laki-laki tegap berjalan mantap.

“Aarghhh…” Ajeng mendesah penuh derita. Ia seperti tertimpa durinya durian runtuh, sudah patah hati ditambah lagi dengan kedatangan guru killer, pengajar matematika.
***
“Kuajak kau melayang tinggi… dan kuhempaskan ke bumi…” Ajeng menyanyikan sebuah lagu yang menurutnya sesuai keadaan jiwa, “Kumainkan sesuka hati… lalu kau kutinggal pergi…” Ia sengaja menaikkan volume suaranya, sampai akhirnya tersadar suara pintu kamarnya diketuk tak sabar.

Ia pun keluar dari kamar begitu Ibunya bilang ada seorang teman menunggu di teras. Langkahnya dirasuki rasa malas yang amat parah. Dia menduga-duga kalau orang tersebut adalah teman sekolah yang akan mengajaknya kerja kelompok. Itu tidak sesuai dengan mood¬-nya yang kini kacau.

“Benarkah ini alamat jalan Kondangan Jaya No. 15, Karawang?” tanya seseorang tersebut. Ajeng melongo. Wajahnya yang hampir mirip Cesc Fabregas itu ibarat bandul Rommy Rafael; menghipnotis!

Ia hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata dan mengangguk. Bahkan kesadarannya hampir lenyap ketika sosok berperawakan jangkung tersebut berkata, “Ini dari Kolongsari, Tasikmalaya. Atas nama Gembala Gombal, admin Remaja Pecinta Barca…,” Ia menyodorkan 15 coklat batangan.

“Hah, Gembala Gombal???” Ajeng terkejut senang, tapi bingung.

“Iya, dia…” kata remaja lelaki itu lirih, meminta simpati, “Dia telah tenang di sisi bidadariNya,” ucapnya lagi sambil menundukkan kepala. Ajeng hampir terisak. Segerombol penyesalan menggerayangi hatinya.

Anak lelaki tersebut mendongak “Kamulah bidadari itu, Neng!”, ia menahan tawa menyaksikan Ajeng menganga, “Mmm… Maafin Aa, ya? Maksud status fesbuk Aa teh udah berpacaran dengan Neng, tapi lupa ngasih tahu soalnya lagi gak punya pulsa. Eh keburu salah faham!”.

Belum juga mulutnya terkatup, Ajeng serasa diguyur air di tengah padang pasir, “Aa? Kita… ng… pacaran?”, Ia tak bisa menopang hatinya yang ingin terbang. Refleks, Ajeng menggenggam tangan kanan laki-laki itu. Sang Gembala Gombal yang tak lagi “maya” itu terhenyak sejenak. Ia tersenyum lega menatap binar mata Ajeng, lalu ia menghalau pegangan gadis tersebut, lembut. [#RD]

***

Kuningan, 12 Juni 2012

Dee Ann Rose

Catatan:
*Laga antara dua klub sepak bola raksasa asal Spanyol; Barcelona FC VS Real Madrid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *