Cerpen; Hati Intan

Cerpen; Hati Intan

cerpen hati Intan

Langit nampak lengang, birunya ambigu. Tiap mata yang melihatnya mungkin mengira, keluasannya itu adalah ceria, adalah kedamaian tak terkira. Bisa juga orang bilang, hamparannya yang tak dibercakki awan itu terkesan sepi, gersang.

Seperti itu raut wajahmu, Intan. Keceriaan yang memolesi wajahmu luntur perlahan seiring dengan obrolan kita, yang makin dalam. Sahabat yang rapi memasang tawa sebagai topengnya, nyatanya seperti orang asing saja. Semakin ia bercerita, semakin aku sadar bahwa aku belum tahu betul bagaimana dia sebenarnya.

“Dibalik lazuardi yang kalem itu,” ucapnya sambil menengadah, menantang pelototan matahari yang memicingkan matanya sendiri, “Suatu saat akan meledak pekik petir. Bahkan bunyinya akan membuatmu getir!”

Aku menelan ludah. Ngeri rasanya mendengar kalimat itu. Kalau saja aku tidak melihat langsung gerak bibirnya, tentu aku takkan percaya kalau dia yang telah melafalkannya. Sungguh, aku akan merasa baru mengenalnya kemarin senja.

Rasa malu menelusup, betapa aku kurang peka akan bahasa hati yang tak langsung bersuara. Sebagai orang terdekat, idealnya sudah dari dulu aku tahu. Ya, seharusnya aku paham bahwa kedekatannya dengan mantan pacarku, Givan, hanya merantingkan airmata belaka. Ah, belahan jiwa macam apa aku ini?

“Tapi… Tapi, kamu kan selalu tersenyum, Intan? Bukannya itu pertanda…”

Dia mendelik, menyumpal mulutku seketika, “Senyum itu bukan jaminan atas rasa nyaman, Nova. Bisa jadi ia adalah sesuatu yang kamu gunakan untuk menutupi ketakutan atau rasa cemasmu,” tuturnya disandingi kelopak mata yang mengembun. Sesuatu dibalik dadaku berdesir.

“Memang apa yang kamu takutkan? Perasaan dari dulu kamu baik-baik aja?!”

Intan menghela napas, lalu menatapku. Sorot matanya menajam, “Aku takut niat buruk kita ini mewujudkan buah pahitnya, Nova…”

“Apa keinginanku untuk mengetahui bagaimana perasaan Givan sebenarnya itu buruk, Tan? Aku cuma pingin mengetes ucapannya saja untuk kembali merajut kasih denganku. Apa itu terdengar buruk?”

“Apa menurutmu baik kalau kita masuk dalam hati seseorang, lalu setelah saling nyaman, kita pergi tanpa permisi? Seharusnya ada cara lain, yang lebih baik, untuk mengetahui siapa nama dibalik ruang hatinya, Nov,” Intan memberondongkan kata-katanya. Hatiku rapuh.

“Maafkan aku, Tan… Apa kamu telah jatuh cinta sama Givan?” tanyaku, was-was.

“Iya, Nov,” jawabnya lemah, tanpa berani beradu pandang denganku, “Aku mengagumi perjuangannya untuk mencintaiku. Bahkan aku melihat airmata yang ia tumpahkan untuk melupakanmu.”

Aku merasa detik waktu berhenti sejenak. Tak aku kira, permainan yang kurancang ini membuahkan dilemma bagi Intan. Tentu ia akan menderita dengan pilihannya. Dan yang paling kusesali adalah, dia mampu menahannya sejauh 6 bulan ini. Andai aku tidak memergokinya menangis, mungkin penderitaannya makin panjang.

“Kalau begitu, lanjutkan saja hubungan kalian… Toh aku sudah tahu bagaimana isi hati Givan. Aku mundur, Tan…” ucapku, antara rela dan tidak. Walau bagaimanapun, aku mesti mengganjar diriku sendiri. Mungkin itulah hukuman bagiku atas kecerobohan mempermainkan sesuatu bernama ‘perasaan’.

“Tidak,” Intan menggeleng, ada senyum yang ia sembulkan, ”Bagaimana bisa, kamu yang telah memapahku akan cara menikmati sakit hati harus tega kusakiti? Tidak Nova, tidak…”

Aku terhenyak. Putusnya pertautan hati antara aku dan Givan murni karena salahku. Aku yang kurang menghormati rasa percaya, malah menepikan sebagian hati untuk orang lain. Tak berubah kebahagiaan fanaku, sampai akhirnya kudapati orang ketiga itu berkhianat, sepertiku. Di belakangku, ia menyatakan cintanya pada Intan. Beruntung sahabat karibku itu tak tergesa menerimanya.

Terima kasih, Intan. Ah, andai ungkapan itu berwujud sesuatu, aku ingin membawakannya untukmu. [#RD]

***

Kuningan, 18 Juni 2012

Dee Ann Rose

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *