Cerpen; Karena Cinta

Cerpen; Karena Cinta

cerpen karena cinta

Karena cinta selalu memberi peluang untuk memaklumi, atau bahkan membela semua kekuranganmu. Karena cinta juga yang selalu membuatku merasa wajib untuk membahagiakanmu, walau hakku untuk senyum malah terkurung. Terserah! Kau katakan aku gila atau apa, sebab cinta memang tak berakal dan tak bisa dirumuskan. Dia juga tak bisa dihitung maupun diprediksi. Buktinya aku. Sekuat dan sekeras apapun aku menarik perhatianmu, tak berarti kau akan membalasnya. Kau tetap kau. Kau tetap tak merespon apapun yang kuusahakan, dari dulu kuliah sampai sekarang.

Entah itu beruntung atau buntung, aku tidak termakan sikapmu dan sikap orang-orang di sekitarku yang mencibir bahwa, perbuatanku adalah kesia-siaan belaka. Aku memang cinta kau, meski kau menyakitiku dengan cinta itu. Namun hal itu kujadikan ujian bahwa aku memang mencintaimu, tak lebih. Tak berarti setelah kau menolakku mentah-mentah dan malah menyandingkan jiwamu dengan sahabat alimku, Si Hendra, aku akan membencimu. Tidak! Aku tetap pada pendirian dan perasaanku. Bahkan saat kau menolak sikap berlebihanku untuk membantumu, aku malah makin terjerembab dalam pesonamu,

“Mengangkat belanjaan seperti ini kan hal sepele, Fin? Kenapa sih kamu selalu menolak kebaikan tulusku? Jangan takuti suamimu, dia itu sahabatku,”

“Maaf, Dion. Iya, ini memang hal sepele, makanya aku gak mau ngerepotin kamu…”

“Ah bilang saja kalau aku ini berandal, makanya kepedulianku ini gak kamu hiraukan. Iya, kan? Kau itu orang yang aku cintai, Fin… Hendra juga adalah sahabatku selama kuliah, masa aku dilarang peduli sama kalian?” timpalku dengan nada kesal. Wanita yang memutuskan berjilbab setelah menikah itu, terlihat kaget.

Jawaban penolakan Fini selama ini selalu bening, tanpa menyisakan api yang membakar hati. Namun detik itu, aku telah jengah karena tak diberi kesempatan untuk berbuat baik padanya.

“Bukan begitu, Dion… Justru aku sangat malu, tak seharusnya ketulusan hatimu itu kau berikan hanya padaku, dan… suamiku, berikanlah ia untuk istrimu kelak atau orang-orang terdekatmu, mereka… mereka lebih berhak,”

“Sudah berapa kali aku bilang… Walau kau telah menikah sekalipun, aku tetap cinta dan peduli padamu, apalagi suamimu adalah sahabatku juga,”

“Apa benar kamu peduli, Dion?” tanyanya lembut dan hati-hati. Aku mengernyitkan dahi. Pertanyaannya agak aneh, hingga aku hanya menjawabnya dengan anggukan saja.

“Kalau begitu, kepedulianmu tak harus nampak di depan mataku. Doakan saja kami… Mendoakan seseorang dengan diam-diam, menurutku, adalah kepedulian paling tulus dan tak ternilai harganya. Lakukan itu untukku dan suamiku, ya?!” tuturnya kemudian, sambil melangkah membawa belanjaannya dan menjauhiku. Langkahnya hanya menyisakan desau angin yang paling damai dan sejuk, sedang mulutku hanya terkatup.

Selama sekolah dan kuliah, aku terlampau sering bahkan bosan menyelami hati perempuan. Mereka beragam, dari mulai karakter sampai penampilan. Bisa dikatakan, aku cukup puas telah mempermainkan hati dan tubuh mereka sebagai kesenangan belaka. Namun untuk menjadikan satu diantara mereka sebagai istriku, tidaklah sama dengan permainan dadu. Bagaimanapun, untuk masalah pernikahan yang sakral itu, aku tetap mengharapkan kedalaman hati, bukan cuma paras yang sempurna.

…tak seharusnya ketulusan hatimu itu kau berikan hanya padaku, dan… suamiku, berikanlah ia untuk istrimu kelak atau orang-orang terdekatmu, mereka… mereka lebih berhak…

Kau tahu, kata-katamu tempo hari itu masih bising di pikiranku. Karena cinta, aku mengagumi dan menyayangimu. Dan kuyakin, karena cinta pula kau memberi nasihat seperti itu padaku. Baiklah… kan kujemput dia, calon istriku, dan kan kubahagiakan dia dengan cintaku. [#RD]

***

Kuningan, 19 Juni 2012

Dee Ann Rose

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *