Cerpen; Menulislah Jika Harus Menulis

Cerpen; Menulislah Jika Harus Menulis

cerpen menulislah jika harus menulis 1

“Menulislah jika harus menulis. Tapi memang, jangan percaya akan kemampuan menulismu, jangan! Jangan percaya, tapi yakin….”

Dewi menekuri kata-kata ibunya, beberapa hari yang lalu. Sosok yang selalu membuat basah tintanya, nyatanya memang penasihat ulung. Ulung dalam arti tidak menjelaskan sesuatu dengan sejelas-jelasnya dan tidak merangsekkan pendapatnya untuk dipatuhi, namun menyisakan spasi untuk lawan bicara membuat persepsi sendiri. 

Pengaduannya tentang teman-teman dan seorang dosen yang samasekali tidak mendukung hobi menulisnya, hanya berbalas saran yang padat, yang perlu ia cairkan sendiri. Sama halnya sewaktu ia mengeluh tentang figur ayah yang telah direnggut kembali pemiliknya, padahal ia begitu ingin tumbuh dengan usapan kasar pula, bukan hanya dengan papahan lembut ibunya.

“Kita ini tamu di dunia, dan tiap tamu akan pulang ke asalnya,” begitu saja ibu menampik kegelisahannya karena berstatus yatim. Seringkali ia terkunci, tak dapat lagi menderakkan suara untuk memperpanjang perdebatan dengan ibu. Perkataannya seolah-olah menampar kesadaran bahwa, ia dan ibunya juga akan pergi ke asalnya, menyusul sang ayah dan berkumpul dalam keabadian.

Mahasiswi tingkat dua dari SMA biasa itu mencari-cari lagi arti percaya dan yakin. Selama pencariannya ia sangat berharap kedua istilah itu berbeda konteksnya. Ia bertanya pada orang-orang, pada teman-teman, khususnya. Mereka ada yang tercenung saja, ada yang menjawab sekenanya, ada yang memang berpikir terlebih dahulu dan tak jarang pula malah berdebat kusir satu sama lain.

“… Makanya Islam itu memilih istilah iman atau yakin daripada percaya, pada Allah, malaikat, Rasul, kitab dan qodho qodarnya,” tutur Akhi Farhan, mantan ketua Rohis di SMA-nya dulu.

Mendengar itu, sumringah hati Dewi. Ia merasa telah dapat menyimpulkan sendiri. Telah diputuskan. Ia, mesti mengembangkan kemampuan menulisnya. Tak hanya mengucapkannya pada orang-orang, bahwa ia suka dan mempercayai bakatnya itu. Misalnya ia terlalu menggembar-gemborkan hobinya yang ia anggap terkeren, sambil mencoret-coret buku teman-temannya, dinding atau bangku kampus. Itu tak cukup. Ia mesti lebih banyak beraksi nyata, menulis! Dan, diadaptasinya sebuah jargon yang cukup melegenda, talk less write more….

Untuk merealisasikannya, ia memanfaatkan fasilitas yang ada; Personal Computer. Dewi tiba-tiba teringat banyak hal tentang motivasi menulis, khususnya tentang publikasi tulisan. Misalnya tentang anjuran untuk tidak mengendapkan tulisan sebagai koleksi pribadi. Sebagaimana yang orang tahu, tulisan seorang penulis bisa menjumpalitkan pemikiran seseorang. Kalau tulisannya baik, ia bisa memperbaiki seseorang. Lagipula, tak akan mendapatkan sesuatu apabila tulisan itu dikandangkan melulu. Tak ada apresiasi, tak ada refleksi.

Tulisan-tulisannya yang ia tawan dalam buku-buku pelajaran dibuka-buka kembali. Kadang ia membaca ulang, tersenyum-senyum dan merevisinya menjadi tulisan digital dengan sedikit tambahan atau penghilangan. Emosinya tercampur aduk saat ia harus membaca kesedihan, kebahagiaan, kecemasan dan bahkan dilematis dalam satu waktu. Namun tanpa ia sangka, ia begitu bahagia. Ada kepuasan yang menjalari inti hatinya, menyadari betapa tulisannya mampu mempermainkan perasaannya sendiri. Sesuai keyakinannya, tulisan memang seringkali hidup dan menghidupkan!

Ia menemukan satu tulisan yang dibuat sewaktu ibunya tengah terbaring demam. Perempuan tegar itu nyatanya ambruk juga, tak dapat menggurui anak-anak didiknya di sebuah SD. Dan entahlah, ia begitu ingin menebar luaskan tulisannya tersebut lewat status fesbuk yang lama tak ia buka,

Kalau ibuku sedang tidur, aku selalu menatap dan memperhatikan apakah dadanya masih naik-turun bernapas atau tidak. Aku mengamati dan membaca pijar ketulusan dalam wajah seorang ibu. Betul kata orang, ibu itu pembohong! Dia sering bilang tidak capek dalam pengabdiannya, nyatanya saat dia terlelap, wajahnya menyiratkan kepenatan yang amat sangat. Ah, moga-moga saja aku sempat mengurus dan membahagiakannya. Atau setidaknya, melengkungkan senyumnya walau sekejap. Ibu, maaf….

Statusnya tak begitu ramai. Hanya satu-dua jempol kecil. Bahkan teman-temannya pun enggan menyematkan tanda like apabila statusnya nyastra seperti itu. Namun ada satu orang teman maya bernama akun Tari Les, berkomentar, “I like dis :-)!”

Bukannya apa-apa, teman-temannya merasa kasihan dengan Dewi yang begitu menggebu menjadi penulis. Beberapa temannya mengatakan Dewi terlalu ambisius di tengah identitas dirinya yang seorang mahasiswa biasa. Mereka ingin Dewi tak begitu menghabiskan waktunya dengan menulis, membaca karya penulis dan membual menjadi penulis terkenal. Melihat Dewi fokus pada kuliahnya saja sudah sangat menyenangkan untuk dilihat. Mereka pun sepakat untuk tidak memberi dorongan menulis padanya, terlebih lagi semenjak sebuah kejadian di suatu siang.

Hari itu, salah satu dosennya yang bergelar M.Pd, merasa tak nyaman dengan keadaan bangku kuliah yang penuh coretan. Ada yang menulis nama samaran, ungkapan perasaan, cerita mini, puisi atau apapun.

“Emangnya dengan menulis seperti ini, orang-orang akan menganggap kamu keren, apa?” ucapnya tanpa bidikan, sedikit mencemooh sebuah puisi berjudul ‘Ibu’ pada bangku jajaran satu.

Teman-teman dekat Dewi tahu, itu adalah tulisan Dewi. Benar saja, mereka melihat Dewi tertunduk sedalam-dalamnya, hampir terisak. Sedang airmatanya telah menggelantung, menggenduti pelupuk matanya. Beruntung teman-temannya tidak ramai, sehingga dosen pun tidak tercuri perhatiannya.

“Buang-buang waktu nulis kayak gini. Kecuali kalau kalian itu Dee Lestari, Gunawan Muhammad, Sitok Srengenge, Andrea Hirata atau Habiburrahman… Tulisan mereka barulah berharga dan berpengaruh. Tulisan orang-orang biasa hanya obat jenuh belaka, pengisi waktu! Toh takkan berefek apa-apa!”

Teman-temannya amat yakin kalau kata-kata itu berhasil menyengat Dewi, menyedot semangat meluap-luapnya, menjadi serbuk rasa malu dan kekecewaan tiada kira. Dapat mereka baca, wajah Dewi gelisah sepanjang kuliah. Tanpa teman-temannya tahu, Dewi tengah mempertahankan benteng hatinya, kalau ia membuat tulisan bukan karena obat jenuh belaka. Dia mencoba tulus memahat apa yang ia rasa, dengar, baca dan bayangkan. Sosok Dewi yang agak meletup-letup itu berubah senyap, seolah menyibukkan obrolannya dengan diri sendiri. Namun tak ada satupun temannya yang berani membuka obrolan, seperti biasanya, menanggapi pendapat atau apa-apa yang ditransferkan dosen.

Hari demi hari, ketetapannya lumayan stabil setelah menelan wejangan singkat ibunya. Ia menulis dan menyebarkannya lewat akun fesbuk yang ditautkannya pada twitter baru. Untuk membuat pembacanya tidak bosan, ia menulis beragam warna perasaan. Baginya, menulis status tidak melulu harus sejalan dengan apa yang kini tengah ia rasakan. Ia menulisnya berdasarkan imajinasi liar, apalagi saat kehidupannya statis tanpa ada suatu rasa yang dramatis.

Ia memposting motivasi, perasaan kehilangan, keterpurukan, keceriaan, kritikan, dan yang paling sering yaitu menuliskan hal apapun tentang ibu. Objek yang satu itu memang takkan mampu mengerontangkan ide seseorang. Makin lama, ia seperti memperoleh jempol langganan dari teman-teman mayanya. Bahkan ia telah mulai kenal dan bergabung dengan grup-grup kepenulisan. Ia seperti menemukan cermin ajaib yang menunjukkan jiwa-jiwa yang hobinya seirama.

Dewi mengikuti banyak even-even menulis di dunia maya walau tak pernah juara, bertegur sapa dan saling menyambung silaturahim dengan sesama penulis, atau dengan orang-orang biasa yang memiliki hobi menulis. Begitu antusiasnya Dewi saat ia menjumpai akun-akun para penulis yang dulu namanya hanya ia baca lewat cover buku saja. Kini ia tak hanya membaca tulisan-tulisan lain mereka, namun juga terhubung. Ya, lewat dunia maya itu segala hal jauh bisa dipersuakan dengan mudah.

Namun apa yang ia ekspekstasikan tak mengulurkan kenyataan. Tak jarang ia mesti gigit jari saat beberapa penulis mem-pending-kan permintaan pertemanannya, menempatkannya hanya sebagai pelanggan saja tanpa ada konfirmasi, padahal kuota pertemanannya belumlah menyentuh angka batas. Ada juga yang tak membalas sapaannya di kronologi atau dinding mereka, selain jempol mungil sebagai utusan mereka. Bahkan komentarnya seolah menjadi angin lewat, berhembus lalu dianggap hilang.

Dan bagaimanapun, teman-teman Dewi adalah orang-orang yang menemani sebagian besar waktunya. Dari mereka ia mendengar dan belajar banyak hal. Tak melulu tentang pergaulan dan pelajaran, namun ideologi-ideologi yang tersisip di dalamnya, termasuk tentang menulis,

“Penulis populer itu sama dengan penyanyi. Mereka bilang I love you sama fansnya saat nyanyi saja. Kalau udah diluar, memangnya mereka sudi posisi nyaman itu jadi diduduki salah satu fans mereka, hah?! Kecuali…” ungkap seorang teman Dewi begitu ia bercerita tentang pongahnya salah seorang penulis ternama, menggantung.

“Kecuali apa?”

“Yaa… kecuali kamu punya hal luar yang menjual. Misalnya cerita sedih tentang keluargamu, keadaan tak sempurna dari tubuhmu, pengalaman tragismu, atau apalah gitu!?”

“Ya tidak selamanya dengan sensasional seperti itu, ah. Lagipula segala sesuatu telah memiliki generasi penerusnya, kan? Dengan usahaku, aku pingin banget jadi penerus para penulis! Aku akan memberi corak berbeda dalam dunia kepenulisan nantinya,”

“Hey, seorang penerus itu tantangannya besar loh kalau berbeda dan tidak sesuai tradisi?! Penulis senior pasti menetapkannya sebagai penulis kacangan yang laris-manis saja, kalau memang karyanya komersil dan banyak diminati,”

“Terus kita mesti menjadi ekor mereka gitu? Apa bedanya dengan menjadi sebutir pasir yang nyelip di tengah padang pasir? Kalau ia hilang, siapa yang akan kehilangan? Bahkan mungkin kepergiannya takkan meninggalkan kenangan, saking tak jauh bedanya ia dengan yang sudah-sudah….”

Teman Dewi bungkam. Ia manatap Dewi yang bagai sumbu disulut ujungnya oleh api mulutnya sendiri. Dia memaklumi Dewi semarah itu. memang dia tidak memiliki pertahanan lain selain merontokkan mental Dewi yang masih dilema. Gampang keras, namun tak jarang cepat gamang,

“Fokus saja sama kuliah, Dew,” ucap temannya, melemahkan nada bicara.

“Aku hanya ingin menjadi kenangan lewat tulisanku kelak. Apa salah?”

“Bukan salah dan benarnya, Dew. Apa kamu tidak capek? Maksudku, jika kamu kurang total, maka kamu hanya akan membuang energi potensialmu sendiri. Dan kamu takkan bisa total, sebab kamu masih punya prioritas. Kamu kuliah dan akan menjadi seorang guru, bukan penulis.”

“Kamu benar, aku mesti total. Benar, kuliah adalah prioritas. Tapi aku cinta menulis, aku gak bisa membencinya,”

“Aku gak ngajarin kamu untuk benci menulis, aku cuma pingin cintamu disalurkan sama hal-hal yang lebih prioritas, lebih menunggu jamahanmu. Ingat loh, kamu udah bayar mahal pendidikan S1 ini. Pendidikan sejauh ini tak dialami semua orang, Dew!”

Pengaruh teman dalam obrolannya itu mengusik ketetapannya. Terlebih lagi, keacuhan seorang penulis terkenal pun mengguncang mental bajanya. Ia bimbang. Naasnya lagi, Dewi kurang berhasil berpikir bijak dan mencari kemungkinan positif dari perlakuan yang ia terima. Ia berubah menjadi sosok yang menganggap bahwa penulis senior tak menghargai penulis junior sepertinya. Kalaupun ada yang menanggapinya, itu pun hanya berstatus ala kadar. Komentar hasil pemikirannya yang agak lama dan ia tulis dengan hati-hati, hanya berbalas patahan kata yang teramat singkat. Ungkapan dosen tentang tulisan seorang biasa tak berpengaruh apa-apa kembali berdengung. Baru akhir-akhir itu ia merasa apa yang dituliskannya itu percuma. Maka iapun menjadi kurang produktif. Pena dan kertasnya mandul. Alhasil postingan statusnya pun terhenti untuk sementara waktu.

Hari demi hari beranjak, menelantarkan cerita-cerita yang mulai usang. Dewi kadang sulit percaya kalau seharian penuh ia tidak menulis, walau hanya pada draft ponsel, tentang cerita-cerita yang ia dengar ketika menanti angkot, obrolan sopir dan kernet, celoteh para pedagang pasar tradisional, keriangan anak-anak, berisiknya tingkah remaja, curhat teman-temannya, kata-kata colongan dari dosennya, atau apapun itu. Ia cukup berhasil dialihkan suasana, tapi sementara saja. Dalam hening, kecemasan itu sering menegaskan wujudnya.

Suatu malam, dalam jengahnya himpitan tugas kuliah, ia membuka akun fesbuknya. Nampak nominal notifications menggelantung. Ada seseorang yang mengirim sesuatu ke kronologinya. Dengan segera ia mengklik pemberitahuan tersebut,

Tari Les
Mbak Dewi ke mana saja? Saya menantikan postingan-postingan indah Mbak loh!? Apalagi yang tentang Ibu itu. Beruntung saya sempat dipertemukan dengan status-status Mbak. Berkat kata-kata Mbak, saya jadi tak apatis akan mama dan lebih mementingkan kerja. Lewat pesan status Mbak tempo dulu, saya jadi memaksimalkan hati mengurus mama saya sendiri yang telah udzur, tanpa bantuan jasa perawat atau seorang suster pribadi. Kini beliau telah tiada, namun saya berhasil tenang. Ikhlas yang damai, Mbak. Ah kalau tidak begitu, tentu saya akan terpenjara dalam penyesalan yang paling kekal. Terima kasih, Mbak. Semoga engkau sehat-sehat saja. Tetaplah menginspirasi. Salam! 🙂

Bening-bening hangat keluar, tak terelakkan. Hal paling cepat ia lakukan adalah menghamburkan kepalanya dalam dekapan sang Ibu. Wanita kharismatik itu menyambutnya saja tanpa terlebih dahulu bertanya-tanya. Lagipula telah lama mereka tak saling mengeratkan pelukan. Keduanya terjegal kesibukan.

“Karena menulismu dari hati yang sebenarnya, maka pesan itu sampai dengan mudah, Dew.”

Ibu merespon derai airmata Dewi yang membasahi bahu wanita itu, tepat setelah Dewi menyelesaikan cerita tentang status fesbuknya.

“Hati yang sebenarnya?”

Ibunya tersenyum, seolah memang itulah pertanyaan yang ia harapkan dari putrinya, “Entah kenapa, ibu itu lebih mendengarkan nasihat tentang kesabaran dari orang yang memang tengah diuji, daripada dari seorang motivator yang kekayaannya melimpah, Dew. Ibu yakin, karena orang yang tengah diuji itu merasakan betul bagaimana sulitnya bersabar, maka nasihatnya tentang kesabaran bisa begitu menelusup ke sini,” tutur ibunya, sambil menekankan telunjuk kanan pada dada sebelah kirinya.

Dewi hanya mengeratkan dekapannya sekali lagi, lalu ia melonggarkannya. Dia baru sadar kalau fesbuknya masih berstatus on, maka iapun kembali menghadapi laptopnya. Setelah ia membubuhkan tanda suka sekaligus mengomentari kiriman akun Tari Les itu, ada niatnya untuk membuka chatting via fesbuk dengan akun tersebut. Namun urung. Ia takut disebut gede rasa, meski tak dapat ia tolak bahwa hatinya tengah melayang-layang. Betapa yang ia tuliskan mampu mempengaruhi seseorang. Ia memang bukan penulis tersohor, namun nyatanya orang-orang termasuk akun itu membaca tulisannya, bukan nama akunnya. Persepsi akun itu diintervensi isi tulisan Dewi, bukan nama akunnya.

Sebelum ia sign out, ia menulis status:

“Menulislah jika harus menulis….”

Hanya beberapa detik setelah postingan status itu nampak di berandanya, dia keluar. Padahal setelah itu, banyak gambar jempol menghampiri statusnya, termasuk jempolnya akun seorang penulis terkenal yang dulu mencampakkan sapaan Dewi di kronologinya. Bahkan, tersemat angka 1 dalam pemberitahuan inbox-nya. Rupanya dari akun Tari Les.

Dewi sendiri langsung mengetik banyak paragraf dalam laptopnya. Emosinya belum terkontaminasi. Maka, ia merasa harus menulis banyak hal sampai selesai. [#RD]

***

Kuningan, 15 November 2012

Dee Ann Rose

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *