Cerpen: Oh, Galang! Oh, Gibran! Oh, Gilang!

Cerpen: Oh, Galang! Oh, Gibran! Oh, Gilang!

cerita lucu tentang cinta, humor pacaran, cerita lucu untuk pacarOh, hari Minggu. Hari yang manggalaukan hatiku. Seusai mendandani rumah, aku mesti pergi ke rumah si kembar Galang dan Gilang. Sebab, ibu dari kedua bocah SD itu sudah memberi uang bulanan yang berlipat untuk membayarku. Aku diwajibkan memberi les privat Bahasa Inggris dan Matematika kepada mereka.

Di sisi lain, aku bagai nasi yang ikut numpang pada piring terbang saat berjalan menuju rumah mereka. Bagaimana tidak, aku teramat beruntung, walau dengan cara buntung. Bukan karena uangnya yang bisa dipakai memangsa kuliner, atau karena pelajaran mudah mereka yang baru setingkat kelas 2 SD. Namun, karena kakak mereka itu, Gibran. Kata orang-orang yang memakai kacamata hitam, wajah Gibran mirip Morgan. Sementara kata Galang dan Gibran, kakak mereka tak ubahnya seperti lampu taman. Tak apa. Yang penting dia sudah seperti lampu di gelapnya hatiku; terus terang, terang terus!

Tapi ya itu tadi, galau. Orang yang menganggukki tawaran untuk memberi les privat kepada mereka haruslah berhati tembok dan berjiwa nekad. Mereka memang tidak nakal, hanya saja hiper bertanya. Kalau saja kita tidak memiliki kemampuan menghirup udara yang baik dan benar, siap-siap saja sesak.

“Kak Cha, kenapa sih mesti belajar Bahasa Inggris? Kan gak pernah dipake? Aku aja waktu ngomong sama nenek, how are you, neneknya malah batuk-batuk?” tanya si cikal, Galang, suatu hari. Aku jawab saja Bahasa Inggris bakal berguna kalau nanti mereka sudah besar.

“Kak Cha, emang buat apa matematika ada? Mau ngerjain anak-anak kayak kita, ya? Kita kan pusing… cita-cita kita kan mau jadi polisi? Ya gak usah bawa matematika dong?! Kita kan udah hapal lagu chaiya-chaiya?!” Gilang yang kecerewetannya melebihi sang kakak ikut-ikutan bikin kepala pening. Urat dahiku cenat-cenut hampir putus. Aku pun menjawab kalau belajar menghitung bisa berguna waktu mereka menghitung uang jajan dan kembaliannya.

Jika wajah mereka menyiratkan kepuasan, itu pertanda aku aman sentosa. Namun jika sebaliknya, maka pilihannya ada 2; terus mengorek hal yang sama atau bertanya hal baru (masih sama-sama bertanya!). seperti waktu itu,

“Kak Cha, buat apa sih Tuhan nyiptain bau ketek? Ngerepotin idung orang aja?!” Galang memulai.

Gilang sendiri membekap lubang hidungnya, lalu memaksakan berbicara, “Kak Cha belum mandi, ya?”

Hatiku seperti tertohok paku payung. Pertanyaan pendek, namun menusuk, jleb! Gara-gara telat bangun, aku bela-belain tidak mandi demi menemui si kembar. Lagipula aku tidak mau citraku anjlok di depan Gibran, seperti anjloknya harga tomat sewaktu panen. Meski sebetulnya aku hanya bisa rampok-rampok pandang dengan Gibran, sebab waktuku habis terkuras oleh Galang dan Gilang.

“Eh, Ng… kalau bau ketek gak ada, ya kasian dong sama perusahaan deodorant, Sayang?” jawabku lembut, tapi tercekat menahan malu. Entah ilham dari mana jawaban itu muncul. Dewi fortuna memang tengah mengipasi hatiku. Mereka mengangguk-mengangguk.

Sekarang aku pun menuju rumah mereka lagi. Kelokan demi kelokan aku lewati, pangkalan ojek aku seberangi, dan sampailah aku di beranda rumah si kembar.

Tok !Tok! Tok!
Assalamu’alaikum…

Tak lama. Pintu terbuka. Mengenaskan. Aku menyaksikan mata si kembar remang-remang. Tak ada pijar semangat. Mereka menuntunku menuju ruang tamu dengan gontai, mirip kura-kura yang memutuskan puasa. Pemandangan yang aneh. Bahkan ketika mengambil buku, perjalanan mereka menuju laci meja di kamar seperti bekicot encok. Bahkan begitu duduk mendampingiku yang telah siap dengan laptop serta modem pun, mereka bagai kerupuk diguyur air. Lembek.

“Hai Gischa…” Gibran memanggil nama lengkapku. Rona wajahnya begitu berbinar, “Semangat ngajarnya, ya?! Sebentar lagi adik-adik unyuku bakal jadi pejantan tangguh!” Gibran mengerling manis di hadapan si kembar. Mereka mendelik sambil mendengus, kurang setuju.

“Kenapa sih Galang sama Gilang kayak bête gitu?”

“Lho, emang belum tahu? Rencananya mereka bakal disunat, Cha,” terang Gibran.

“Oh…” aku memonyongkan bibir, “Sunat itu baik lho buat kebersihan, terus ntar kalian bakal dapet uang banyak, kan nanti bisa beli buku sama alat-alat sekolah yang baru, mainan juga bisa,” ucapku sebijak mungkin di hadapan Gibran

Wajah mereka berubah antusias, ”Asyik! Kita bakal dapet koin bergambar bunga melati yang banyak!” seru Gilang menggambarkan uang lima ratusan.

”Aku juga mau!” Galang tak mau kalah.

Aku mengeluarkan uang seribuan yang memang nominalnya lebih besar, “Uang ini juga bakal banyak lho!?”

Mereka bergidik, kompak, “Hiiiy… gambarnya bawa-bawa golok!” kata Galang. Gibran tertawa. ”Kata Kak Gibran, kita disunat pake golok! Hiiiy… kita takut, Kak Cha!” Gilang setengah memekik.

Aku menggeleng. Tega banget Gibran bikin trauma adik-adiknya. Gibran mengusap ubun-ubun si kembar, “Kakak bercanda kok?! Oh iya,” Gibran menoleh padaku. Tampan nian, “Pas kalian dikhitan, kakak bakal kenalin pacar kakak ke kalian sama ke kamu, Cha,” ia mengedip-ngedip sumringah. Lalu dengan langkah tanpa dosa, ia keluar rumah dan hanya menyisakan punggungnya yang lebar makin menjauh. Rupanya dia tidak menyadari kalau usahaku untuk mendekatinya begitu berat, melebihi angkat besi berkilo-kilo itu. Kini, dengan ringannya ia membalas itu semua. Menyakitkan!

Aku langsung membuka new tab pada laptopku yang tengah mengakses google. Segera aku menulis alamat email dan password fesbuk. Tanpa sungkan aku menulis status,

Baru saja jatuh cinta, sudah mau patah hati lagi!

Si kembar menatap mataku yang mulai lembab. Sorot mata mereka mulai menunjukkan rasa penasaran.sebelum aku dikeroyok dengan pertanyaan mereka, segera saja aku izin pergi ke kamar mandi. Di sana aku menangis sejadi-jadinya. Ingin rasanya aku menyetel lagu boy atau girl band dan ikut berjingkrak-jingkrak seperti mereka. Siapa tahu bakal lega!

Setelah agak reda, aku keluar. Di hadapanku, si kembar menatap iba. Aku hanyut dalam mata mereka yang lugu dan tenang. Galang mengusap tanganku, “Kak Cha, sakit enggak pas jatuh dari cinta? Bagian mana yang lecet dan mesti dikasih obat merah?”. Aku melongo kurang faham. Aku memang tidak bisa menyembunyikan mata yang sembab, sehingga wajar saja mereka seperti mengerti kalau guru lesnya sedang sedih.

“Kak Cha, kalau patah hati rasanya sakit banget ya? Ampe nangis kayak gitu? Perlu diperban dong? “ Gilang menggeserkan laptop. Di depan mataku, layar itu menunjukkan tulisan statusku yang telah bergambar 20 jempol mungil. Oh, jadi mereka membaca statusku. Aku ingin tertawa karena kepolosan mereka, namun malah jadi senyum yang pahit, sebab bayangan Gibran begitu mencengkram pikiran.

Mereka berdua makin mendekat, lalu merangkulku. Tiba-tiba pundakku berguncang. Lelehan hangat bisa aku rasakan menjalari kulit wajahku. Mereka sesenggukkan,”Kami mau disunat, Kak Cha…” ucap Galang memelas.

”Kita bernasib sama kayak kakak. Kalau kakak menulis, baru saja jatuh cinta, sudah mau patah hati lagi, maka kita mah baru saja tumbuh, sudah mau dipotong lagi…” sang adik, Gilang, semakin erat mengeratkan pelukannya. Aku mengelus-elus kepala mereka. Hatiku menggeleng-geleng. Trauma yang diselipkan Gibran ternyata serius. [#RD]

***

Kuningan, Awal Maret 2012
Dee Ann Rose

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *