Cerpen; Pada Ibu dan Nurmala

Cerpen; Pada Ibu dan Nurmala

cerpen pada ibu dan nurmala

Sengaja tak kusampaikan kabar pada Nurmala. Sudah terbayang bagaimana respon ibu dan adik remajaku satu-satunya, Nurmala, melihat kedatanganku yang mendadak. Mereka pasti akan banyak bertanya-tanya sambil memasang wajah penasaran sekaligus ceria.

“Belum bulan puasa atau hari lebaran, kok udah pulang?”

“Gak ada apa-apa, ‘kan?”

Aku telah sangat siap menghadapi berondongan kalimat tanya itu. Setelah kujelaskan dengan dada berdegup saking bahagianya, akan kutumpahkan semua oleh-oleh dan menikmati apa yang kubawa itu dengan nuansa bahagia bersama mereka. Lebaran dulu aku membawa dua stel baju muslim untuk ibu dan sebuah netbook second beserta modemnya untuk Nurmala. Sedangkan sekarang, aku hanya membawa makanan dan dua kerudung.

Di hari mengejutkan ini, aku begitu rela menikmati eloknya senja dibalik kaca bus saja, berhimpitan dengan waktu cukup panjang, merasukkan bebauan tak sedap ke dalam lubang hidung yang tak mancung, turun dengan tergesa dan sekuat mungkin menyibak tirai gerimis yang tengah rapat-rapatnya. Jangankan berjuang untuk pulang, lembur dan mencari pendapatan sampingan pun gencar kulakukan. Bagaimanapun, prioritas hidupku hanyalah mereka.

“Assalamu’alaikum…” dadaku berdesir ketika melafalkan salam itu, “Assalamu’alaikum…” kuulangi ucapan salam lengkap dengan ketukan pintu.

Tubuhku semakin bergetar saja begitu menyadari derap langkah dari dalam. Barangkali mereka berdua tengah bercengkrama atau menikmati tayangan televisi, lalu ibu meminta Nurmala untuk membukakan pintu. Tak apa, kedatanganku hanya menganggu sebentar. Selanjutnya, pasti akan tercipta kebersamaan yang lebih istimewa.

“Wa’alaikumussalaam…” suara bergetar yang datang sesaat setelah pintu terkuak itu, mampu meluruhkan seluruh peluhku.

“Ibu…” Aku segera menyalaminya. Kucium punggung tangannya yang mengeriput. Ada sensasi damai dan tentram yang seketika merayapi hati.

“Aeni? Makin kurus saja kamu. Eh, hm, kok pulangnya awal?” tanya Ibu sambil tergopoh menuju dapur dengan raut hasil campuran antara senang, cemas, panik dan terkejut.

“Nanti aku jelasin, Bu.” jawabku sambil memperhatikan gerakan jalan ibu. Tubuh dan langkahnya semakin ringkih saja.

“Nurmala mana, Bu?” tanyaku sedikit keras, sebab ruang tamu tempatku duduk dan dapur terpenggal sebuah buffet usang. Sengaja juga kukeraskan suara agar adik yang paling kusayangi itu menghampiriku. Saking sayangnya, aku selalu berusaha keras mengabulkan apa yang ia minta dan aku pun nyaris tak pernah memarahinya ketika salah.

“Ada! biasa lagi main sama si pesbuk,” seru ibu, agak lantang juga. Terdengar suara denting gelas dan tutup termos yang dibuka setelahnya. Geli juga aku mendengar jawaban ibu.

“Nurmala… Nurmala…” panggilku dengan sedikit menggoda sembari menyandarkan diri di atas kursi. Tak lupa kubuka hijab yang sedari tadi terus melindungi. Perjalanan Jakarta-Cirebon yang melemaskan dan menggerahkan tubuh, mendorong hati untuk memanjakan diri.

Aku mengedarkan pandangan. Kursi, buffet, lantai, tembok, lampu dan nuansa rumah selalu saja menggugah rindu dan masa lalu. Masih melayang-layang dalam ingatan, bagaimana aku menghabiskan masa kecil yang manja dan ceria bersama adik serta kedua orang tua.

Sayang, keceriaan itu fana. Jelas-jemelas dalam ingatanku ketika suatu hari kepergian Bapak merenggut senyum kami bertiga. Ketika aku kelas 3 SMP dan Nurmala masih berumur 5 tahun, kecelakaan parah menimpa bus Jakarta-Cirebon yang Bapak tumpangi.

“Sampaikan pada Ibu. Bapak pulang sekarang, Aeni…” begitu ucapan terakhir beliau lewat telpon warnet. Padahal waktu itu belum saatnya bapak mudik. Namun beliau bilang, bos pemilik Rumah Makan yang sekarang menjadi majikanku sendiri bermurah hati memberi bonus libur dua hari. Ternyata beliau pulang dalam arti sesungguhnya – kembali pada Sang Pencipta. Aku tak pernah menceritakan hal ini, kecuali pada Nurmala. Aku dan gadis pendiam itu tak bosan meneteskan airmata meski kuceritakan dengan berulang-ulang.

“Ini tehnya diminum dulu, Aeni…” suara Ibu memporak-porandakan ingatanku. Beliau ikut duduk di kursi, berhadapan denganku, “Ayo cerita sama ibu. Ada apa?”

“Gak apa-apa kok, Bu. Si bos mau mengkhitan cucunya, jadi para pelayan Rumah Makan diliburkan dua hari deh!” timpalku sambil tersenyum, lalu menyeruput teh tubruk buatan ibu.

Sesungguhnya kedatanganku juga sekaligus ingin berdiskusi dengan ibu untuk berhenti kerja. Dilema, memang. Bosku baik dan gajiku cukup besar, namun kebersamaanku dengan ibu tak sanggup lebih lama lagi terpenggal. Kurasa, uang hasil ‘cubitan’ dari gaji telah cukup dijadikan modal membuka warung kecil-kecilan di rumah. Rencananya jika ibu setuju, esok pagi pun aku akan segera pergi menghadap bos, mohon pamit dan membawa segala barang pribadiku dari Jakarta.
Ibu mengangguk-angguk, “Oh ya, kamu mau makan apa? Nanti ibu masakin. Di meja cuma ada tahu goreng sama sambal kecap. Ibu sih udah makan tadi – biasa – sendirian.”

“Sendirian?”

“Iya, Nurmala ‘kan makannya di kamar. Semenjak ada komputer yang di-cas itu, dia emang gak suka makan atau nonton tipi bareng ibu lagi. Serasa tinggal sendirian di rumah.”

“Masak sih, Bu? Ng… maksud aku, gak apa-apa lauknya yang ada aja, Bu,” Kuseruput lebih banyak lagi teh manis buatan Ibu, lalu bangkit dari posisi duduk, “Keburu manghrib, aku mau mandi, tapi mau ke kamar Nurmala dulu, Bu.”

“Jadi, dari tadi belum keluar? Hmm… emang akhir-akhir ini Nurmala sering gak nyahut kalau dipanggil. Mudah-mudahan telinganya baik-baik aja,” kata Ibu dengan nada dan raut cukup serius. Aku hanya menggeleng-geleng. Tanpa menunggu lama, aku segera ke kamar adikku itu.

Posisi Nurmala tengah membelakangi pintu. Nampaknya ia sedang asyik berhadapan dengan layar netbook. Jari-jemarinya sibuk mengetik dan wajahnya nampak ekspresif. Sesekali gerai rambut si gadis yang telah menjadi siswi kelas X di sebuah SMA itu terguncang-guncang. Ternyata ia tengah memasang earphone. Mungkin karena alat itu pula, ibu mengira telinga Nurmala ‘ada apa-apa’. Aku tersenyum geli melihatnya, entah ia sedang mendengar lagu jenis apa.

Diam-diam kulihat layar itu memampangkan jejaring sosial fesbuk, bergantian dengan twitter. Meski aku tak paham betul, namun anak bos tempatku bekerja pernah memamerkannya. Semula ia hanya meminta pendapatku tentang laptop barunya, namun lama-lama ia pun mengenalkan sekilas tentang dunia maya. Bahkan aku sempat dibuatkan sebuah akun olehnya. Hanya saja, jangankan aktif, cara log-in dan password-nya pun sudah kulupa.

“Hey…” sapaku sambil menepuk-nepuk bahunya. Gadis itu menoleh dan terkesiap. Ia tak bisa menyembunyikan raut terkejutnya. Kikuk sekali dia ketika harus mencopot earphone dan menyalamiku,
“Kak Aeni? Kapan dateng? Sehat, Kak?”

“Dari tadi Kakak udah di sini…” jawabku menahan rasa kecewa.

“O… berarti Kakak tahu dong aktivitas aku di dunia maya? Haduuuh, jadi malu. Nih liat. Kak!” Nurmala mendadak cerewet dan dengan antusias memperlihatkan media sosial itu. Ia berdiri dan memintaku yang duduk berhadapan dengan netbook. Rasanya aku tengah menghadapi orang lain, bukan adikku yang dulu.

Aku tak tahu bagaimana cara Nurmala menggunakannya, tiba-tiba di hadapanku terpampang poto-potonya. Bergiliran ia meng-klik kotak-kotak dengan nama beragam; I and Friends, I am cute, Narsis Abis, So Sweet, dst. Bola mataku hampir keluar menatap Nurmala yang lugu dengan pose-posenya yang ‘berani’. Ia menanggalkan hijab dan bergaya aneh; menjulurkan lidah, tatapan yang menggoda, memonyong-monyongkan bibir, dsb.

“Cantik, sih…” gumamku sembari memelintirkan otak, memikirkan kata-kata tepat untuk menyatakan ketidaksetujuanku atas keberaniannya itu.

“Hehehe iya, Kak. Emang banyak banget akun yang nge-fans sama kecantikan Nurmala. Cowok-cowok malah banyak yang nembak, terus yang cewek-ceweknya juga banyak yang minta saran kenapa Nurmala bisa secantik itu. Pokoknya asyik deh, Kak. Udah kayak selebritis aja banyak yang ngagumin. Hehehe.”

“Mm… Tapi… emang sekarang, hm… Nurmala gak pake kerudung, ya?” tanyaku hati-hati.

“Hus! Kakak…” Nurmala menegakkan telunjuk tepat di depan bibirnya, “Ibu bisa marah dong! Kalau sekolah tetep pake kerudung lah, tapi kalau di dunia maya ‘kan gak ketauan. Hihihi.”

Cekikikan Nurmala berbarengan dengan kumandang adzan. Suara lembutnya berubah seperti hantaman halilintar. Ia berdentum tepat di ulu hatiku. Di dalam benakku mulai tumbuh gumpalan rasa bersalah. Dahulu tujuanku membelikannya netbook dan modem hanya untuk memudahkan sekolahnya. Kata orang, alat-alat itu bisa menunjang efektivitas belajar anak.

Kedatangan ibu membuatku dan Nurmala menyudahi semuanya. Kami lalu membongkar tas berisi oleh-oleh. Aku tak lagi peduli dengan respon girang mereka. Pose poto, cekikikan dan tingkah narsis Nurmala menjadi kabut yang mengganggu kejernihan pikiranku. Tak lama, kubiarkan ibu dan Nurmala ke kamar mandi dan wudhu duluan. Mereka sholat maghrib di kamar masing-masing, sedang aku memilih menyantap makanan sesuai saran ibu.

Meski hanya berlangsung beberapa menit, namun sambutan adikku itu sungguh menggoncangkan jiwa. Bahkan ketika aku selesai mandi dan hendak sholat, Nurmala telah kembali berhadapan dengan layar netbook-nya. Lagi, ia cekikikan. Kontras dengan ibu, aku baru menyadari semburat kehampaan yang terpahat di wajahnya.

“Gimana cara mainnya nih, Nurmala?” tanyaku berat, sekadar mencairkan keterkejutan atas polah adikku saja.

“Sini, Kak! kita mulai dari log-in, pake akun punya Nurmala aja ya, Kak?”

Sesungguhnya aku mengepalkan kekecewaan dan kemarahan, namun tak kuasa terluapkan. Aku memang tak terbiasa memarahi Nurmala. Dan bagaimanapun, adikku itu merupakan remaja labil. Terlebih, apa yang merubah dirinya tak lepas dari perananku. Ia begitu terbakar api semangat untuk menunjukkan cara memainkan fesbuk. Ia jelaskan cara masuknya, menerangkan apa itu update status, cara me-like, berkomentar, berbagi, dst.

Terbaca olehku status-status Nurmala yang padahal kata-katanya bikin pening kepala; metz sowre, fren…, dingind beudh ea…, kakaq dteng gak bilang2 dech!, dst. Namun, status-statusnya itu memiliki respon jempol dan komentar yang cukup banyak. Memang mengasyikan. Waktupun menjalar dengan cepat. Usai sholat isya, kami kembali melanjutkan aktivitas di dunia maya. Bahkan sampai Nurmala tertidur, aku masih penasaran menelusuri pergaulan maya-nya.

Pemberitahuannya sibuk. Banyak sekali yang men-tag status, foto, mengajak chat, mencolek, dst. Ternyata selama ini keberadaan ‘dunia lain’ itu memisahkan adikku dan ibu. Di tengah euphoria fatamorgana Nurmala, beliau malah larut dalam kesepian yang menyesakkan. Hatiku makin nyeri. Entah bagaimana caranya aku menyampaikan teguran keras untuk adikku itu. Sebelum mematikan netbook, aku nekad menulis di kolom status atas nama akun Nurmala:

Mulai detik ini Nurmala gak akan menghabiskan waktu dengan dunia Nurmala sendiri. Nurmala sayang sama Ibu. Nurmala gak bakal ngebiarin ibu sendiri dan merasa sepi lagi.

Kuhampiri ibu di kamarnya. Beliau tengah meringkuk dibalik kain batu yang menutupi setengah badannya. Sungguh, aku tak kuasa menatap lama-lama mata keriput yang sedang terkatup itu. Dengan berjingkat-jingkat kuhampiri beliau, kucium keningnya dan kaca-kaca dalam mataku pun remuk. Menatap rona hampanya, aku rasa tak perlu diskusi untuk segera berangkat ke Jakarta dengan bus malam. Keputusanku telah utuh. Sebelum berangkat, kutulis sebuah pesan di atas selembar kertas dan menggeletakkannya tepat di tepi pembaringan ibu:
Sampaikan pada Nurmala. Kak Aeni pulang sekarang, Bu. [#RD]

Darul Ma’i, 18 Mei 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *