Cerpen; Pelupuk Mata Bapak

Cerpen; Pelupuk Mata Bapak

cerpen pelupuk mata bapak

Entah, pagi itu begitu bersimbah cahaya. Silau, menderang. Mentari yang berselendang oranye di sisi timur, begitu manja menggeraikan sobekan awan gemawannya. Bulatannya yang belum sempurna seolah-olah berusaha meniru pelupuk mata yang jentik bulunya, ingin diperhatikan.

“Tapi, Bapak sudah udzur…” begitu ucap lembut suamiku, Mas Irham, ketika ia duduk dan menggeletakkan tangannya pada meja makan, ”Kasian…” tambahnya lagi dengan nada lebih rendah, lalu terhenti setelah aku menoleh ke arahnya.

Kuusap-usap handuk kecil. Mengeringkan tanganku yang selalu terasa kasar sehabis menjamah sabun colek, usai mencuci gelas dan piring. Sepertinya tatapan mataku melesat tepat pada mulutnya. Ia langsung terkatup. Dan, setelah menghela napas sejenak, “Ya udah ayah berangkat dulu ya, Ma?!. Dengan gontai aku menyambut sodoran tangan beruratnya, menciumnya dengan segenap pengabdian. Lalu perasaan yang sama, kesepian, membelai hatiku ketika dia berlalu ke balik pintu.

Ah Mas Irham, dulu aku merasa kita tidak akan pernah berjodoh. Namun dasar Tuhan, jalanNya yang berliku tetap bermuara juga. Untungnya, muara itu sesuai dengan apa yang aku ajukan dalam tiap-tiap doa. Tak kusangka. Dulu ibuku tak menganugrahi restu. Beliau malah merekomendasikan Firman, duda PNS itu, untuk menjadi suamiku. Memang pekerjaannya itu berhasil membuat ibu tergiur, tepatnya karena dianggap bisa menjamin kebahagiaanku kelak. Berbeda dengan Mas Irham yang seorang pedagang beras. Menurut beliau, pekerjaannya itu sangatlah mengkhawatirkan jika masih kecil-kecilan, tidak sekaligus besar. Tentu penghasilannya itu akan sangat tak menentu.

Namun poin penting yang luput dari pertimbangan ibu yaitu hati. Apalah manfaatnya jika tinggal di rumah berlapis emas, namun hati tidak merasa betah. Terlebih lagi, bersanding dengan PNS yang cerai dengan istrinya gara-gara sifat tempramental itu, kemungkinan besar melebarkan pintu perceraian. Ah andai saja Bapak, lelaki yang kubenci, tidak menganggukkan kepalanya sewaktu Mas Irham melamar, atau beliau memilih mata ibu yang sembab akibat kedatangan Mas Irham, boleh jadi badanku kini dipenuhi tapak-tapak legam.

Beruntunglah, itu hanya menjadi kenangan dalam pikiran. Ya seperti pengalaman bermimpi buruk, lalu sekarang bangun di pagi yang segar. Begitu membahagiakan. Menyunggingkan senyum saat cahaya mentari masih belia lagi berenergi. Di sini, aku dan Mas Irham dinaungi atap rumah tangga yang nyaris sesuai dengan doa orang-orang dalam pesta pernikahan; penuh kasih sayang dan menentramkan. Sifat-sifat Mas Irham, sebelum dan sesudah nikah tidaklah menunjukkan perbedaan. Perhatian, pengertian dan cintanya tidaklah pudar begitu ia memilikiku, seutuhnya. Bahkan saat posisinya jelas-jelas sebagai seorang imam. Tak pernah ia menyuruh-nyuruhku, membagi tugas untuk merasakan lelahnya jadi ibu rumah tangga.

“Ayah senang kembali pulang dan lihat wajah Mama,” ucapnya rutin ketika aku membukakan pintu. Seketika pijar senja di luar ikut menyeruak, seolah-olah mereka mengawal kedatangannya dari pasar, tempatnya mendulang nafkah. Menjadi bos beras yang semakin maju dan berkembang. Miris memang mendengar panggilan itu. Ayah dan Mama. Sedangkan di rumah ini, sudah lima tahun tak ada rengekan bayi. Almarhum Ibu dan lelaki yang kubenci pun merasa jenuh jika bertandang ke sini. Tak ada raga mungil yang bisa mereka timang, atau sekedar menjadi pendengar pada tembang-tembang lawas yang selalu mereka dendangkan.

Lelaki yang kubenci, Bapak, semakin menguatkan hasratnya untuk menikah kembali. Alasannya, memperbanyak keturunan. Beliau begitu cemas beranak tunggal. Apalagi setelah setahun pernikahanku, tak ada tanda-tanda akan kedatangan seseorang. Makhluk mungil yang akan memberangus kesepiannya. Aku hanya mewakili perasaan pada air mata. Pada bulir-bulir bening yang memantulkan kekecewaan besar. Tak sanggup rasanya melihat akad pernikahan Bapakku sendiri empat tahun lalu. Kemudian, menatap kedip lemah ibu di kursi roda yang telah lama menjadi tumpuannya.

“Mas Irham jangan kayak Bapak, ya…” kataku suatu hari sambil melingkarkan tangan pada bahunya yang bidang. Dia meraih tanganku lembut sambil terkekeh dan menggeleng tegas, berulang-ulang. Sungguh! Respon seperti itu saja sangat menjamin rasa percaya. Aku tak lagi gusar menghadapinya. Memang, Mas Irham sosok suami yang ‘takut’ istri. Namun, ketidakberdayaanku untuk menghadiahinya keturunan bisa menjadi alasan teramat kuat untuknya berubah pikiran, menikah lagi. Dan sayangnya, itu wajib menjadi pertimbangan kuatku sebagai seorang istri, untuk memberinya restu.

Pagi perlahan meninggi. Jepretan ingatan tentang Mas Irham memang selalu madu. Namun sejak semalam, sebuah berita agak melonggarkan eratnya dekap hangat kami.

“Bapak sakit keras, Mbak Maya,” ujar seseorang yang aku tebak sebagai anak tiri Bapak. Seketika aku membayangkan raut keriput Bapak. Matanya pasti berubah cekung dengan pipi tirus menopang badannya yang kurus. Urat-uratnya menyembul hijau, mengguratkan cerita hidup yang letih. Yang terparah, bibirnya menggumamkan namaku. Lalu, anak tirinya memutuskan untuk memberi tahu keadaannya itu. Perasaanku datar. Tak sedih, juga tak senang. Toh semenjak ibu meninggal dan Bapak menikah lagi, aku sudah tak peduli. Ia memiliki anak dan istri. Merekalah yang wajib mengurusnya.

“Iya, terima kasih,” jawabku begitu saja sambil memotong obrolan telepon. Mungkin lelaki tersebut hanya rindu padaku, sehingga ia mau aku menengoknya. Maklum, sudah beberapa tahun kami tak bertemu. Aku sendiri menganggapnya telah membuntuti ibu, pulang ke alam keabadian. Namun, Mas Irham, dia malah melekatkan tatapan ibanya padaku. Aku tentu tak sanggup lama-lama beradu pandang dengannya. Segera saja kurebahkan diri pada kasur, menelungkupkan selimut sampai telingaku ikut tertutup. Mas Irham berbisik dua kali yang kujawab dengan gelengan cepat, “Kita tengok Bapak yuk, Ma?!”

Tok… tok… tok…

Pintu diketuk, ah tepatnya digedor tak sabar oleh seseorang. Aku terperanjat. Rupanya tayangan infotainment yang aku tonton, justru berposisi terbalik. Televisi yang malah menontonku melamun, mengingat penggalan-penggalan cerita. Menyeretku pada matahari yang rupanya mulai terik. Dengan cekatan aku bangkit menuju asal suara.

“Bapak, Mbak… Bapak,” ucap seseorang yang menggedor-gedor pintuku, terengah-terengah antara menahan rasa capek dan membendung desakan air mata. Gelagatnya cukup memberikan isyarat bahwa Bapak dalam keadaan yang mengerikan bagi setiap makhluk bernyawa. Memang pikiran itulah yang muncul. Namun, aku segera menepisnya dengan kembali memusatkan perhatianku pada orang yang membawa berita itu, pemuda yang tadi malam suaranya kudengar. Gerakan tangannya yang panik kuterjemahkan sebagai ajakan untuk pergi bersamanya, dengan motor yang ia parkir sembarangan di depan pagar. Aku mengangguk. Lalu berlalu ke dalam, mengganti pakaian.

Sesampainya di rumah petak yang begitu sesak, aku semakin beruntung menyembunyikan mata lewat kacamata gelap yang aku pakai. Berpasang-pasang mata menjaring tiap gerak langkahku saat menuju raga yang tergeletak di tengah rumah. Tatapan mereka lama-kelamaan seperti bersuara. Terasa berdengung-dengung. Bising, mirip umpatan-umpatan orang tua saat mendengar cerita Malin Kundang. Bahkan sampai aku semakin dekat dengan raga yang akrab di mataku, dulu. Orang-orang melingkarinya, mirip lalat yang mengerubungi bolu basi. Hanya saja mereka memegang kitab suci atau semacam buku kumpulan doa yang lebih tipis. Mulut mereka tak henti menggumamkan ayat-ayat.

Hawanya berbeda. Entah, aroma maut terasa begitu menusuk. Makhluk yang bertugas mencerabut nyawa seolah-olah tengah membidikkan tangannya untuk segera membawa hangatnya raga. Kalau saja Bapak tidak dalam keadaan seperti ini. Atau, kalau anak pemuda itu tidak menyusulku, mungkin aku masih tengah menyaksikan infotainment di rumah. Namun, mau tak mau, aku terbawa suasana. Mataku mendidih sedih begitu melihat orang-orang di sekitar sesenggukkan. Mata mereka memerah parah, sepertinya telah terlalu lama menangis. Bacaan ayat-ayatnya pun harus berkelahi dulu dengan usapan air mata dan ingus yang keluar terus.

“Maafkan Bapak, Maya,” sebuah tangan yang tak lagi kencang mengusap pundakku, begitu aku duduk di samping raga itu. Dari balik kacamata gelapku, aku melihat wanita yang kini berpredikat sebagai istri Bapak. Wajahnya sangat jarang mampir di kelopak mataku. Membayangkannya saja sudah ada gelegak benci yang menyeruak. Kini, situasi tersebut tak dapat aku hindari. Posisiku memang tengah dekat dengannya. Nada bicaranya seperti sebuah permohonan yang amat butuh persetujuan.

Tangannya terus menerus diusapkan pada punggung tanganku. Aku hanya mengerjap-ngerjap, berbarengan dengan tetes demi tetes yang hangat merayapi pipi. Sementara orang-orang di sekitar pun seolah-olah tengah menanti responku. Kepalaku sebenarnya pening. Tatapan dan dengung ayat-ayat itu seakan-akan menusuk kepalaku untuk segera membuka suara. Dalam diamku, orang-orang serta istri Bapak itu terus membuka mulutnya, menggerak-gerakkannya menjadi patahan-patahan kata yang bergaung di pendengaran. Satu hal vital yang aku tangkap, bahwa raga tersebut tengah menungguku. Sebelum ia pulang pada rangkulan Tuhan.

Kutatap lekat-lekat wajah pasi itu. Bola matanya terarah padaku. Bibirnya dengan susah payah mengulum senyum. Pelupuk matanya mengedip-ngedip lemah. Mirip kedipan ibu sewaktu ia harus menyaksikan akad nikah Bapak. Aku sangat hanyut dalam wajah pedih ibu. Dan itu membuatku semakin membenci Bapak. Pengabdian serta kasih sayangnya seperti luntur oleh keputusan menyakitkan itu. Sampai sekarang raganya tergeletak di hadapanku pun, aku masih berpikir-pikir untuk memaafkannya. Memang ibu, waktu itu, sangatlah ikhlas merelakan suaminya. Namun aku, masih keberatan. Sampai sekarang.

Oh, mulut keriputnya bergerak-gerak lemah. Suara orang-orang mengacaukan konsentrasiku untuk menerjemahkan apa yang tengah ia sampaikan. Aku membuka kacamata dan mendekatkan bibirku pada telinganya yang pucat. Masih hangat,

“Bapak…,” Ia menarik napasnya, sesak, lalu mengempaskan udara yang baru saja dihirup kuat-kuat. Reflex, aku mengusap lembut tangannya yang dibalut kain. Pelupuk mata itu mulai lembab. Ia antara sedih dan terharu. Lama-lama tatapannya seperti diambil sesuatu. Kosong melompong.

“Setidaknya, Bapak telah menjadi walimu saat menikah dengan Irham, May,” lagi-lagi istrinya Bapak bicara, “Itu yang selalu beliau ucapkan ketika membicarakan jasanya padamu,”

Aku tercenung. Tatapanku yang berputar sejenak ke arah wanita itu, kembali mencengkram pelupuk mata Bapak. Kantung matanya yang tak gemuk seakan menggelayutkan misteri, bahwa ia ingin berbicara sendiri padaku. Sayang, tatapannya tak lagi terarah. Entah apa yang tengah berada di depan pelupuk lelah itu. Kata orang, ada bayangan nasib masa keabadian di depan pelupuk mata orang yang tengah sekarat hebat. Tanpa terasa, aku mengusapkan tangan pada mataku yang telah mencair. Lelehannya menuruni pipiku, deras.

Waktu seakan terus memacu langkah detik per detiknya. Hingga tanpa sadar, senja kembali bersandar. Ia begitu bersimbah cahaya. Silau, keperakan. Matahari bundar di sisi barat, seumpama pelupuk mata seseorang yang mengantuk. Perlahan, tinggal menunggu terpejam. Atau jika dianalogikan, mirip sindiran pada usia manusia yang pudar masa mudanya.

Seolah lupa pada kebencianku, aku mengusap rambut Bapak yang putih. Sambil terus mendekatkan bibirku pada telingnya, aku berbisik selembut dan sehalus mungkin, “Laa ilaaha illallaah… Muhammadurrosuulullaah…”

Ia mengikuti gerak bibirku, walau tanpa suara. Sesekali aku mendongakkan kepala karena pegal. Pelupuk mataku menangkap sosok Mas Irham di tengah orang-orang. Ia mengangguk, lembut. [#RD]

*Cerpen ini pernah diikutkan dalam sebuah lomba bertajuk “ayah” dan masuk nominasi pemenang, namun karena ketidakjelasan informasi dari PJ ybs, maka cerpen ini saya muat saja di sini.

Gambar; Google Image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *